Liz Nadiah

Liz Nadiah
Isi Kotak - Dua Satu Plus


__ADS_3

"Seribu bidadari cantik yang diturunkan langit untukku, tak akan bisa membuatku berpaling, jika bahkan ratu mereka pun ada di depanku."


....


"Ppffftt!!"


Tak seperti bayangan Andromeda yang semula mengira Liz Nadiah akan tersipu dengan wajah semerah chery saat mendengar pujian mahadewinya, ternyata kalimat gombalnya malah membuat istrinya itu terkekeh geli.


Mungkin terdengar receh di telinga Liz Nadiah. Sampai tanpa terasa, telapak tangannya terjulur memukul-mukul ringan bagian atas lengan Andromeda--saking ia merasa lucu dengan apa yang didengarnya. "Sejak kapan kau menjadi pujangga?" tanyanya kini nyaris terbahak.


Namun ....


Bfttt!!


Ledakan tawa wanita itu langsung tertahan karena sesuatu membekap mulutnya tiba-tiba. Matanya seketika melebar menyambut keterkejutannya.


"Itu hukuman karena kau menertawakanku!" desis Andromeda setelah melepas kecupan kilatnya di bibir istrinya itu.


Seperti dibekukan dalam waktu sekejap, Liz Nadiah terdiam membatu. Sepasang matanya nampak bergilir cepat ke sana kemari, namun hanya terjurus khusus pada seraut tampan di hadapannya.


Dengan senyuman gelinya, Andromeda menggeleng-geleng lucu melihat ekspresi kaku Liz Nadiah. "Aku mau mandi," cetus pria itu mengakhiri sesinya.


"Umm ... i-ya!" Liz Nadiah membuang wajah merahnya ke lain arah, setelah berhasil menyadarkan dirinya dari kebekuan yang jelas memperlihatkan sisi amatirnya dalam hal-hal intim semacam itu.


Andromeda terkekeh geli menanggapi, kemudian mulai menegakkan tubuhnya yang semula tertekuk. "Aku punya sesuatu untukmu," katanya seraya meraih sesuatu di atas meja pajangan yang letaknya di dekat pintu. Setelah digenggamnya benda berbentuk kotak itu, Andromeda kembali berjalan mendekati istrinya yang masih bergeming di posisinya. "Pakailah."


"Apa ini?" Liz Nadiah bertanya setelah benda kotak itu diterimanya dari tangan Andromeda.


"Itu hadiah pernikahan kita dari Tirta," ungkap Andromeda. ''Dan aku ingin kau memakainya sekarang."


Liz Nadiah menatapnya gamang. Lalu tertunduk menatap kotak dengan pita biru di bagian sudut tutupnya itu. "Tapi apa ini? Kenapa aku harus memakainya?'


Hanya senyuman tipis yang ditunjukkan Andromeda, namun jika diperhatikan, senyuman itu berisi seringai aneh yang entah bermakna apa. Seperti selipan tatapan nakal--mungkin. "Aku tidak mau tahu. Saat aku keluar dari kamar mandi, kau sudah harus mengenakannya."



Sembari mengasak rambut basahnya, Andromeda berjalan menjauh dari pintu kamar mandi yang baru saja dibukanya dari dalam. Namun ada hal yang tiba-tiba membuat wajah tampan itu mengernyit, bertanya-tanya. "Kenapa dia?" desisnya, tentu kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


Di atas ranjang setinggi 60 sentimeter dengan kasur empuk berseprai jingga tanpa corak itu, Liz Nadiah bergelung dalam selimutnya--tak menyisakan satu senti pun bagian tubuhnya, termasuk kepala.


"Sayang!" Andromeda bergerak cepat menghambur ke arahnya. "Kau kenapa?!" tanyanya dengan raut cemas. Namun ketika tangannya hendak menyingkap bagian atas selimut tebal yang menggelung tubuh istrinya itu ....


"Jangan!" hardik cepat Liz Nadiah tetap menahan ketat selimut itu, tak mengizinkan Andromeda menyibaknya.


Kening Andromeda berkerut dalam. Sampai ia menyadari sesuatu yang kemudian menciptakan senyuman geli di bibirnya. "Baiklah. Kalau begitu aku akan memanggil Momy un ...."


"JANGAN!" Liz Nadiah mengangkat secara cepat tubuhnya dengan raut seperti baru saja melihat setan.


GLUK


Andromeda menelan ludahnya seret. Satu pemandangan paling langka selama hidupnya baru saja tertangkap penglihatan yang entah masih suci atau tidak.


Tunggu! Liz Nadiah memerhatikan.


Tatapan Andromeda itu tidak mengarah pada wajahnya, ia menyadari. Namun ....


Oh, tidak! Ia menunduk cepat, kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada tak kalah cepat--menutupi bagian intim miliknya yang terekspos hampir tiga perempatnya. Namun tentu terlambat. Andromeda telah melihat semuanya secara jelas.


"Jangan terus pandangi aku seperti itu!" Liz Nadiah menghardik dengan wajah merah juga ringisan tak nyaman. Ia benar-benar tak berani bergerak. Rambut panjangnya terburai menutupi wajahnya yang menunduk begitu dalam.


Setiap lekukan tubuhnya diabsen mata Andromeda dengan penuh minat. Terlebih paha mulus yang tak sengaja tersibak saat wanitanya itu bergerak refleks tadi.


Denyut-denyut hasratnya mulai menyerang sisi kejantanan pria itu, secara perlahan, lalu berangsur meninggi dan semakin kuat.


Godaan yang paling menggoda yang pernah ada!


Namun sesegera mungkin Andromeda mengakhiri tema terpananya. Ia memejamkan mata seraya menarik dan menghela napas untuk menetralkan serangan menakjubkan dalam dirinya.


Liz Nadiah menurunkan tangkupan telapak tangan di wajahnya. Mendongak hati-hati untuk mengambil sejurus pandang ke arah Andromeda yang hingga beberapa saat tak terdengar atau pun terasa pergerakannya.


Kemana dia? tanya hati Liz Nadiah ketika tak didapatinya sosok menawan yang tadi berdiri di depannya. Ia mulai mengedar pandang ke sekeliling.


Tak ada di mana-mana.


Namun ketika baru saja ia ingin beranjak--mungkin untuk mengganti busana mengerikannya, tubuhnya lagi-lagi tertahan. Tahu-tahu Andromeda sudah berada di belakangnya, dengan kedua kaki mulai merayap terbelah di masing-masing sisian tubuhnya--menghimpit.

__ADS_1


Semakin membulatkan matanya, Liz Nadiah menundukan kepalanya melihat ke bagian perut, sepasang tangan Andromeda telah sempurna melingkar di sana dengan kepala mendarat di lekung ceruknya. "Mau kemana?" tanya pria itu dengan suara berat.


"Ak-aku ...."


"Jangan berpikir untuk mengganti pakaianmu. Aku suka melihatmu menggunakannya."


Seolah dihela ke dalam ruang senyap tanpa bisa berteriak, atau bahkan berdesis sekali pun, Liz Nadiah memaku diri seraya menelan salivanya berulang.


Ia benar-benar takut dan juga malu. Situasi ini jelas pertama kali untuknya. Namun tak siapa pun tahu, ke berapa kali bagi Andromeda.


Keringat dingin mulai merangsek menembus pori-pori setiap senti kulit Liz Nadiah. Jantungnya berdebar melebihi cepat. Ia memejamkan matanya untuk sejenak mengambil napas yang mulai tak terkendali. Dan semakin bergemuruh ria ketika kedua telapak tangan Andromeda mulai naik *******-***** lembut dua bukit identik miliknya.


Bersejajar dengan bokongnya--di bagian belakang tubuhnya, sesuatu terasa mengganjal. Liz Nadiah menyadari, itu pasti pusaka kesaktian milik Andromeda yang mulai mengeras.


....


....


Disaksikan suasana redup, disorak-sorak semilir angin yang meresap melalui celah-celah kecil jendela, sepasang manusia nampak saling memiliki dalam balutan nikmat yang saling merengkuh.


Andromeda dan Liz Nadiah!


Ranjang jumbo kualitas terbaik itu nampak bergetar-getar seolah terkena gempa dengan kekuatan dahsyat.


Kain-kain busana yang mereka kenakan sebelumnya, nampak tercecer berlainan tempat di lantai sekitar ruangan.


Seiring gemuruh hujan yang mulai turun meniti deras, suara-suara pengiring kegiatan bersahut-sahutan dari bibir kedua sejoli itu. Penuh perasaan, namun juga cukup menggilai.


Terang saja!


Pasangan pengantin yang telah lebih dari seminggu usia pernikahan mereka namun belum melakukan penyatuan itu, menumpahkan sekaligus hasratnya di saat ini.


Dengan gerak-gerak erotis yang luar biasa penuh semangat, keperkasaan Andromeda mendominasi dalam pergelutan panas yang semakin memanas.


Liz Nadiah bahkan tak lagi menunjukkan kekakuannya setelah terbawa dalam hasratnya sendiri. Ia mampu mengimbangi Andromeda yang tentu tangguh dari segala sisi, termasuk urusan di atas ranjang.


Entah akan sekuat mana mereka bertarung saling mengerang juga saling me remas di atas kenikmatannya masing-masing.-

__ADS_1


__ADS_2