Liz Nadiah

Liz Nadiah
Calon Menantu


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Andromeda seraya berjalan kembali ke belakang, saat dilihatnya Liz Nadiah ternyata malah terdiam di tepian teras--tak mengikutinya yang hampir mencapai ambang pintu.


Ada sekilat rasa tak nyaman di wajah teduh Liz Nadiah, seperti sebuah keraguan. Dipandangnya Andromeda yang telah berdiri di hadapannya. "Apakah orang tuamu akan menerimaku?" tanyanya gamang.


Sudah diduganya. Pasti seperti itu. Andromeda tersenyum, mengelus sekilas pashmina hitam yang dikenakan Liz Nadiah. "Aku pastikan itu."


Apakah ayahnya sekonyol dan sesupel Andromeda?


Ibunya lembut atau tidak? Atau ... seperti Nenek Lampir selayaknya tokoh di film-film yang acapkali memasang wajah bengis saat menghadapi calon istri putranya? Terlebih hanya gadis biasa seperti dirinya, pikir Liz Nadiah konyol.


"Kau tidak akan mengetahuinya jika hanya berdiam saja di sini!"


"Emm?"


"Ayo!"


Hanya satu opsi--mengikuti tarikan paksa Andromeda.


Dan lagi ....

__ADS_1


Ini Kanada! Bukan Jombang!


Liz Nadiah tak akan bisa pulang dengan kereta ekonomi atau pun bus antar kota.


Tapi kenapa rasa gugup itu begitu sulit diusir?


....


Sesosok wanita dengan kisar usia 46 tahunan, muncul dari balik pintu yang baru saja disibaknya. Setelah berulang kali bell itu ditekan Andromeda.


Sepasang mata bulat beningnya nampak melebar, menatap Andromeda terperangah. "Oh, Allah! Andro," gumamnya, nampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Matanya mulai terlihat berkaca-kaca. Telapak tangannya terangkat perlahan, mengelus pipi tegas pria yang meskipun sudah menginjak usia 30 tahun, namun tetap saja seperti anak-anak baginya.


Setahun lebih ibu dan anak itu hanya berkomunikasi melalui dunia digital. Kesibukan dunia bisnis Andromeda membuatnya sulit menemukan waktu luang untuk pulang ke negara di mana kedua orang tuanya itu tinggal.


Di belakang tubuh tegap Andromeda yang tengah berpelukan dengan ibunya, Liz Nadiah juga dalam mode terkejut. Semula di kepalanya, bayangan sosok wanita yang telah melahirkan Andromeda itu, adalah sosok emak-emak gaul sosialita dengan rambut merah juga gemerincing perhiasan mengatributi seluruh dirinya.


Namun ternyata ....


"MasyaAllah," gumamnya kagum.

__ADS_1


Sebuah kaftan hitam yang menelan hampir seluruh tubuhnya, lengkap dengan cadar berwarna senada, terlihat elok khas wanita-wanita muslimah syar'i ... begitulah yang dilihat Liz Nadiah pada sosok ibunya Andromeda--Zalisa Imtiyas.


Zalisa adalah wanita keturunan asli negara ini, namun sedikit mewarisi wajah oriental kakek buyutnya yang berasal dari Jepang.


Sedangkan Anderson--suaminya yang tentu saja ayah Andromeda, merupakan pria murni kelahiran Kanada.


"Mom, Andro tak sendiri," kata Andromeda mulai mencerai pelukannya. Sedikit menggeser tubuhnya, memberi jarak pandang untuk ibunya dan Liz Nadiah.


Wanita itu masih mengamati. Membagi pandangnya pada Liz Nadiah, lalu pada Andromeda--meminta maksud dari ucapan putranya. "Siapa dia, Sayang?"


Sedikit tarikan di sudut bibir Andromeda. "Seperti yang Andro janjikan pada Momy." Lantas menempatkan sebelah tangannya merangkul pundak Liz Nadiah. "Dia calon menantu yang selalu Momy tanyakan."


Sesaat menatap Andromeda lalu dialihkannya pada gadis rangkulan putranya itu. "Benarkah?" tanyanya berbinar.


Andromeda mengangguk membenarkan. "Iya, Mom. Dia adalah wanita yang aku cintai."


Lain daripadanya, bukan tak senang dengan pengakuan Andromeda atas dirinya di depan ibu pria itu, hanya saja ... perlakuan Andromeda yang merangkul percaya diri pundaknya, teramat sangat membuatnya tak nyaman.


Dan cukup berkaitan!

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, setelah puas dengan penilaiannya, gerakan Zalisa kemudian membuat Andromeda juga Liz Nadiah terkejut. Wanita paruh baya itu menghentak tubuh putranya cukup keras ke belakang--sedikit menjauhkannya dari Liz Nadiah. "Jangan sentuh sekecil apa pun darinya, sebelum kau menghalalkannya, Anak Nakal!"


__ADS_2