
"Terima kasih sudah mengantarku."
Sebait kalimat Liz Nadiah itu sepertinya hanya kesiur angin yang tak bersambut. Samwise malah tepekur dalam diamnya. Namun matanya meliuk ke sana kemari menyapu setiap detail bangunan di depannya.
Keduanya kini berdiri berdampingan usai turun dari dua sayap pintu berbeda--mobil milik Samwise.
"Tuan Sam, kau baik-baik saja?" Pertanyaan Liz Nadiah lagi ketika mulai menyadari ada yang tak beres dengan pria itu.
"Bulan Bintang."
Dua kata yang digumamkan Samwise itu sukses membuat Liz Nadiah terperanjat. Tubuhnya bahkan sampai bergeser sedikit menghadap pria itu. "Tuan Sam ...," panggilnya hati-hati. "Kau ... mengenal Padepokan ini?"
Samwise mulai keluar dari ketertegunannya. Ia mengalihkan pandangnya pada Liz Nadiah yang masih menuntut dengan keingintahuannya. "Nona Nadiah, ada urusan apa kau datang ke tempat ini?" tanyanya dengan raut aneh.
Kernyitan heran terlihat di wajah Liz Nadiah. Wajahnya bergilir menoleh, menatap Samwise, sekilas beralih pada bangunan di depannya, lalu kembali pada pria itu. "Ini adalah tempat tinggal orang tua angkatku," ungkapnya.
"Orang tua angkatmu?" Samwise mengulang memastikan. "Maksudmu ... Gus Ammar?"
Satu lagi kejutan menyembur Liz Nadiah. Sejenak diam, lalu menganggukkan kepalanya kaku. "Ya," akunya. "Kau kenal beliau?"
"Tidak. Hanya tahu saja," ucap Samwise gamang, terlihat seolah menyembunyikan sesuatu. "Ini sudah sangat larut, Nona Nadiah. Sebaiknya kau masuk."
Meskipun masih berjejal tanya ingin dilontarkannya, namun Liz Nadiah tak bisa menyangkal ketidakpantasan situasinya saat ini. Berada di luar bersama seorang lelaki, di lewat tengah malam seperti ini, beresiko menimbulkan fitnah, ia menyadari. "Kau benar." Seraya mengangguk tipis. "Sekali lagi terima kasih, Tuan Sam."
"Panggil Sam saja."
__ADS_1
Liz Nadiah tersenyum. "Baiklah ... Sam. Aku masuk dulu. Kau berhati-hatilah di jalan."
...---...
"MasyaAllah! Nadiah! Benar ini dirimu, Nak?!"
Dengan senyum haru bertetes air mata, Liz Nadiah mengangguk. Menatap seorang pria tua yang baru saja membukakan pintu untuknya. "Iya, Gus, ini aku, Nadiah."
"Ya, Allah! Kemana saja kamu selama ini?"
"Aku kembali ke kampung halaman ibuku, Gus."
Gus Ammar adalah sosok pria tua yang menyelamatkan Liz Nadiah ketika ia nyaris menerima kejahatan dari seorang pria di jalanan sepi malam itu, beberapa tahun silam. Selepas ia diusir dari kediaman sang paman--Jaya Purnama, oleh istrinya--Nirin Hamida. Tak sesuai ayu namanya, wanita itu berperan layaknya monster yang siap merusak kapan saja. Termasuk peristiwa kecelakaan yang kemudian merenggut nyawa pamannya.
Sampai akhirnya kejadian itu membawa Liz Nadiah pada Gus Ammar. Dari pria tua itu, ia bisa melanjutkan kuliah kedokterannya hingga tuntas. Selain itu, juga diajarkan padanya beragam jurus-jurus beladiri yang entah apa namanya.
"Untuk membentengi dirimu."
Tiga kata yang diucapkan Gus Ammar ketika Liz Nadiah mulai menggerakkan jurus demi jurus yang diajarkannya.
....
....
__ADS_1
Menit berselang berganti jam. Pagi mulai menyingsing.
Liz Nadiah terlihat lebih segar dengan gamis payung hitam juga hijab berwarna senada--milik putri Gus Ammar yang saat ini tengah mengenyam pendidikan di Mesir. Sedangkan istrinya telah lama meninggal dunia.
"Masakanmu masih seenak dulu, Nadiah," ucap Gus Ammar seraya menyapu lembut bibirnya menggunakan sehelai tissu.
"Alhamdulillah kalau begitu." Senyum manis Liz Nadiah. Telapak tangannya mulai sibuk membereskan piring-piring kotor yang berselerak di atas meja. Lalu membawanya menuju dapur.
Usai berkutat dengan piring-piring kotor dan membersihkan lainnya, Liz Nadiah berjalan menuju halaman depan dengan sepiring melon yang telah ia bentuk layaknya dadu--tersangga di kedua tangannya.
Dari jarak beberapa meter, langkah Liz Nadiah terlihat melambat. Ditatapnya kaku, Gus Ammar yang tengah mengobrol dengan beberapa pria muda di sebuah gazebo di sudut halaman.
"Nadiah! Kemari, Nak!" Gus Ammar memanggilnya dengan sekilas lambaian tangan.
Hanya anggukkan kecil, Liz Nadiah menanggapi. Dengan pelan ia berjalan menuju sekumpulan pria-pria itu.
Sesampainya, Gus Ammar mulai mengenalkannya pada pria-pria muda yang berjumlah sekitar lima orang itu.
Liz Nadiah hanya mengangguk dengan raut tak nyaman. Wajah-wajah sederhana itu nampak teduh memandangnya. Tak ada kilatan naf.su, tak ada seringai menjijikan yang ditunjukkan pria kebanyakan. Keadaan itu cukup membuatnya segan.
"Nad," suara lembut Gus Ammar. Besok, mereka semua akan bertanding di gedung olahraga milik Walikota. Apa kau mau ikut ke sana?" tanya pria tua itu dengan senyum ke-bapak-annya.
"Ikut saja, Ukhti Nadiah. Mungkin dengan bantuan do'a dan kehadiran Ukhti di sana, kami bisa lebih kuat menghadapi lawan," ujar salah seorang pria yang nampak paling tua di antara kelimanya dengan senyum hangatnya. "Besok adalah pertandingan final. Istri dan anakku juga akan kuajak."
Semua mengangguk setuju.
__ADS_1
Liz Nadiah balas tersenyum. Dalam hatinya ia masih merasa asing dengan orang-orang itu. Karena saat di sana dulu, ia selalu sibuk dengan kuliahnya di siang hari, dan latihan secara khususnya di malam hari selepas isya, lalu tidur, dan begitu seterusnya. Nyaris tak ada waktu untuknya walaupun hanya sekedar melangkah bersilaturrahmi ke Padepokan yang letaknya sedikit ke dalam di belakang rumah utama Gus Ammar.
"Jika kalian semua menghendaki ... aku mau."