
Tak ada yang menarik dari langit-langit kamar itu, selain lampu bulat redup yang tergantung di tengahnya. Tapi entah apa yang membuat Andromeda terus menatapnya tak lepas, seolah ada yang menari-nari di sana.
Piyama tidur telah membalut tubuhnya, siap untuk mengantarya ke alam mimpi. Namun ada yang lain dari biasa dalam dirinya. Dengan kedua telapak tangan dijadikannya penyangga kepala, pria itu mungkin sudah gila. Sesekali tersenyum, juga kadang terkekeh. Yang jelas, tak ada siapa pun di kamar dengan aroma maskulin miliknya itu.
"Wanita itu ...," gumamnya tersenyum kecut. "Dokter apa yang mulutnya berisik seperti itu?" Sesaat merubah posisi tubuhnya jadi menyamping. "Aku yang tampan ini, masa iya dia dorong di gerobak rumput."
....
....
Sampai ....
"Tidak, tidak!" Spontan ia terduduk seraya menggelengkan kepala, berusaha menepis apa yang menguasai pikirnya saat ini. "Kenapa aku jadi mengingat-ingat wanita itu?" ucapnya tak habis pikir. "Tidak, ini tidak benar."
Diturunkannya kedua kakinya ke lantai. Meraih sandal tidurnya lalu berjalan menuju ruang kerjanya yang terletak di sebelah.
Menyalakan lampu ruangan yang masih berada satu lingkup dengan kamar tidurnya itu. Ia mulai duduk mengisi kursi pavoritnya.
Sudah dua hari semenjak kembali dari rumah Liz Nadiah, Andromeda seolah dikejar bayangan gadis itu. Gerak-geriknya, bibir kerucutnya, juga ocehannya, membuat kerja otaknya sedikit melenceng. Tugas-tugasnya bahkan terbengkalai karenanya.
Kali ini ia mencoba fokus.
Dibukanya benda sakti yang terlipat itu. Mencoba mengerjakan yang seharusnya ia kerjakan sebagai pemimpin perusahaan tumbuh-tumbuhan yang tengah digelutinya. Sesaat jemarinya mulai bekerja menyelesaikan gawainya yang tak mungkin ia wakilkan pada Sean, asisten pribadinya.
Namun baru lima menit lamanya Andromeda berkutat, ada yang aneh melingkupi pandangnya. Layar laptop itu tiba-tiba berubah tampilan menjadi nasi goreng kecap buatan Liz Nadiah. "Kenapa nasi goreng itu muncul di laptopku?" Ia mengucek matanya sesaat. Membukanya lalu .... "Sekarang gordeng lusuh kamarnya." Digeleng-gelengkan kepalanya untuk menepis apa pun yang memenuhi pelupuk matanya saat ini.
Namun sepertinya sulit. Bayangan gadis itu dan sekitarnya selama ia berada di rumahnya, semakin lelap menguasai alam pikirnya. "Aaaarrrgghhh!!" Andromeda berteriak frustasi. Mengacak kasar rambutnya, kemudian membenturkan punggungnya ke sandaran kursi. "Ada apa denganku?!" Kedua telapak tangannya merapat menutupi seluruh bagian wajahnya. "Tidak mungkin 'kan aku menyukainya?"
"Tuan Muda! Ada apa?!" Teriakan beriring ketukan di pintu luar kamarnya itu cukup menyentaknya.
Dengan mulut mengembung dan putaran malas matanya, ia beranjak menuju asal ketukan. "Ada apa, Magda?" tanyanya setelah pintu disibaknya.
"Tuan Muda tadi berteriak. Ada apa? Apa Tuan Musa sakit lagi? Apa perlu saya panggil Sean kemari?" Berondongan pertanyaan Magda, asisten rumah tangga Andromeda, dengan wajah cemasnya.
"Tidak, aku tidak apa-apa," sahut ringan Andromeda.
"Tapi tadi Tuan Mu--"
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Magda!" pungkas cepat Andromeda. "Kau kembalilah ke kamarmu."
Sejenak Magda terdiam. Lalu berbunyi sesaat setelahnya. "Ou, baiklah. Jika ada apa-apa, Tuan Muda panggil aku saja."
"Aku tahu itu!"
Sesaat ditatap Magda, pintu yang telah tertutup kembali itu dengan wajah sebal. "Dasar, lelaki aneh. Jelas-jelas aku tadi mendengarnya berteriak," gumamnya kesal, lalu melenggang menuju kamarnya kembali.
...°°°...
Keesokan harinya.
Seperti biasa, satu kali dalam seminggu, Andromeda akan mengontrol perkebunan miliknya. Dan hari ini adalah jatahnya mengontrol perkebunan karet. Ia melajukan mobilnya seorang diri menuju tempat itu, karena Sean lebih dulu ditugaskannya mengurusi lain hal.
Hampir satu jam lamanya Andromeda berkutat di perkebunan. Memandangi, mengawasi, dan menyapa hangat puluhan pekerjanya yang tengah sibuk menyadap getah dari pohon-pohon karet yang menjulang itu. Ia berjalan dengan tampilan wibawanya yang membius. Sesekali mengorek ponselnya yang baru dibeli Sean dua hari lalu, memastikan sesuatu. Karena ponsel lamanya raib terbawa arus sungai saat pengalaman naas itu menimpanya.
Andromeda merasa cukup puas. Semua dalam keadaan baik-baik saja. Dan saat ini ia tengah sibuk kembali dengan bingkai stirnya. Melalui jalanan pedesaan yang cukup tenang memanjakan penglihatannya. Jalanan itu hanya muat untuk satu badan mobil dan satu buah sepeda motor saja. Hingga saat dua mobil saling bertemu, satu di antaranya harus rela mundur dan mengalah.
Melihat para pengayuh sepeda itu, pikir Andromeda tiba-tiba melayang pada suatu hal. Ia mengingat sepeda tua milik Liz Nadiah.
....
Tidak! Bukan sepedanya! Melainkan ... tentu saja pengayuhnya.
Tak tahu harus bagaimana menyikapi dirinya, kali ini ia bertingkah mengikuti kata hatinya. Di depan pertigaan jalan berikutnya, Andromeda tak memilih jalan yang seharusnya ia lalui untuk kembali ke pusat kota. Namun ....
Mesin mobilnya tak lagi berderu. Kunci kontak telah diputarnya ke posisi off. Mobil itu kini terparkir di tepi jalanan, beberapa jarak dari kediaman Liz Nadiah. Ia bahkan masih tak mengerti, untuk apa ia mendatangi tempat itu lagi. Mungkin benar mengikuti hati, namun itu cukup membuatnya gusar. Bahkan sudah tiga hari belakangan ini, ia tak kenal ketenangan yang seperti biasa dirasakannya.
Pengaruh Liz Nadiah ... benar-benar membuatnya gila.
Dari kejauhan terlihat hiruk pikuk di kediaman gadis itu. Sejauh mata Andromeda mengamati, ia cukup penasaran. Ada apa di sana?
Mematahkan pertanyaannya, ia lantas keluar dari dalam mobil. Berjalan pelan layaknya penguntit, mendekati area rumah Liz Nadiah. Kacamata hitam bertengger manis di hidung mancungnya. Pembawaan diri yang apik, dipulas segala wibawa, terpancar angkuh membentuk diri Andromeda.
Jarak dirinya dan rumah sederhana itu semakin menipis. Hingga tanpa dirasa, sepasang kaki panjangnya telah berpijak di altar kesederhaan halaman rumah Liz Nadiah. Sepertinya rumah ini sedang direnovasi, terka Andromeda melihat tumpukan bahan bangunan, juga beberapa pria dengan pakaian kotor khas butiran pasir dan adukan semen.
__ADS_1
"Tuan Adro!" Seorang pria tua menyapa, mendekat ke arahnya. "Anda ingin bertemu Nona Nadiah?"
Andromeda mengerjap. Membuka kacamata yang lalu dikaitkannya pada sekatan kancing di ujung atas kemejanya. Seulas senyuman juga anggukan tipis diperlihatkannya sebagai sambutan mendasar atas sebuah tatakrama yang diterapkan dalam dirinya. "Ah, iya, Pak."
"Kalo begitu sebentar saya panggilkan."
Eh?
Seketika raut wajahnya berganti terkejut, menyadari apa yang barusan dia ucapkan.
Kenapa ia mengiyakan pertanyaan Bapak itu?
Namun baru saja ia hendak mencegah, pria tua itu telah raib masuk ke dalam rumah Liz Nadiah. Sial!!
Lalu bagaimana kalau ....
..........
..........
Ia menutup keras pintu mobilnya dari dalam, seraya melempar kasar sesuatu ke kursi samping kemudinya.
"Bodoh! Bodoh!" Dijeduk-jedukannya kepalanya pada bingkai stir, seolah menyesali sesuatu.
Ia benar-benar merasa tolol.
Bahkan ketololan yang paling tolol sepanjang dia mampu berdiri.
Tergambar jelas ekspresi keruh Liz Nadiah tadi, saat dirinya mengatakan ..., "Aku ke sini ... umm ... untuk mengambil bajuku yang tertinggal." Meski terasa kaku, namun kalimat itu cukup angkuh diutarakannya. Walaupun jelas itu dibuatnya hanya sebagai alasan di antara kebingungannya, karena datang kembali ke tempat itu.
Alasan paling konyol tentunya!
Diliriknya tote bag yang tergolek di sampingnya. Kantung itu berisi satu set pakaian yang dikenakannya ketika ia hanyut.
Tampilan wajahnya saat ini mungkin melebihi merahnya tomat masak hasil panen di perkebunannya.
Masa iya, seorang Andromeda dengan pembawaan high class, meminta kembali hal yang bahkan tak lagi berguna bagi dirinya?
__ADS_1