
Paludarium seukuran 5x5 meter persegi di sudut halaman belakang rumah besar Andromeda, baru saja rampung sekitar seminggu lalu--menggantikan aquascape sebelumnya, yang tidak cukup memuaskan pandangan Andromeda.
Sangat indah, nyaris menyerupai alam bebas sebenarnya. Andromeda mencintai alam, itu saja.
Ditatap Liz Nadiah dengan senyum-senyum kagum seakan tak pernah bosan, semenjak berhasil diselesaikan oleh ahlinya--kepercayaan Andromeda.
Di depan pintu teras, satu kursi rotan berjumlah empat dengan satu meja di tengahnya, diduduki Andromeda salah satunya. Pria itu nampak sibuk mempekerjakan kesepuluh jarinya, mengotak-atik pekerjaan di laptop pribadinya itu dengan wajah serius.
"Tunda sekejap saja pekerjaanmu." Muana tiba-tiba datang dengan sepiring kue di tangannya. Wanita itu lebih terlihat segar dan ceria setelah dibawa Liz Nadiah ke rumah itu. "Cobalah brownis buatan Ibu." Lalu meletakan piring itu di meja di belakang laptop Andromeda.
Andromeda tersenyum, melihat sekilas makanan berwarna coklat pekat itu, lalu melipat benda pintarnya kemudian digesernya sedikit ke ujung meja. "Pasti, Bu. Aku bahkan sudah menunggu ini semenjak masih dalam pembakaran. Karena aromanya sangat mengganggu," kelakarnya dan mulai dicomotnya satu potong kecil kue buatan Muana itu.
Liz Nadiah melangkah mendekat. "Akhirnya yang kue kutunggu-tunggu datang juga," imbuhnya. "Tapi sayang, Ibu tak membiarkanku membantu," ucapnya dengan bibir sedikit mengerucut. "Padahal aku sangat ingin membuatnya."
Muana yang duduk di samping Andromeda tersenyum. Telapak tangannya terjulur mengelus pundak Liz Nadiah. "Ibu hanya tidak ingin kau kelelahan, Nak. Kau sudah cukup banyak bergerak hari ini."
"Ibu benar, Sayang," kata Andromeda menimpal. "Duduklah. Kau akan pegal jika terus berdiri." Liz Nadiah mengangguk saja.
Namun baru sepertiga derajat tubuhnya membungkuk hendak duduk, Liz Nadiah kembali menegakkan tubuhnya. Bell di pintu utama depan, baru saja berbunyi.
"Siapa itu?" Andromeda bertanya--pada siapa pun.
"Aku tidak tahu," sahut Liz Nadiah menggeleng singkat. "Sebentar aku bukakan." Ia mulai bergerak hendak berjalan.
"Biarkan Magda yang membukanya!" Andromeda mencegah cepat.
"Magda sedang pergi ke minimarket," kata Liz Nadiah. "Sudah, tidak apa-apa. Hanya membuka pintu. Palingan itu paket pakaian bayi yang kupesan semalam."
"Kalau begitu aku temani!"
Liz Nadiah menggeleng lucu. "Baiklah."
Ia dan Andromeda lantas berjalan beriringan menuju pintu depan yang jaraknya memang cukup menjorok jauh.
Dengan segala ke-overprotektifannya, Andromeda tak pernah membiarkan istrinya berjalan sendirian selepas beberapa hal buruk nyaris merenggut nyawa istrinya itu. Terlebih saat ini Liz Nadiah tengah mengandung buah hati mereka.
Desir angin langsung menerobos masuk ke dalam rumah menerpa wajah, sesaat setelah pintu kembar yang menjulang itu dibukakan Andromeda.
Ia dan Liz Nadiah nampak saling beradu pandang, setelah pasang mata mereka menangkap sesosok pria yang tengah berdiri membelakangi di samping pilar besar di kiri teras, dengan sepasang tangan terselip di kedua saku celana.
__ADS_1
"Maaf, Anda cari siapa?" Andromeda bertanya halus. Sedangkan Liz Nadiah masih mengamati pria dengan setelan jeans standar navy blue yang dipasangkan dengan blazer abu yang nampak pas di badannya itu.
Sebelum akhirnya berbalik, sesaat pria itu menunduk menatap lantai kramik di bawah kakinya lalu menegakkan kepalanya dan tersenyum.
Dan kini jelas sudah siapa sebenarnya dia.
"Kau ...." Sebenarnya Andromeda cukup terkejut, namun seperti biasa dirinya, ia hanya menunjukkan ekspresi sewajarnya tanpa membuka mulut lebar-lebar, juga mata dibulat-bulatkan.
Serupa saja. Liz Nadiah menatap lurus dalam ketidakpercayaan pada sosok itu. "Kahfi," gumamnya mendesis.
Zack Shangra menarik tipis sudut bibirnya lagi-lagi, lalu berjalan mendekat dengan tangan tetap terselip di antara lipatan saku celananya. "Apa kabar, Liz?"
DEG
Liz? Dia memanggilku, Liz?!
Kata hati Liz Nadiah tak percaya. Mengapa demikian, karena panggilan itu adalah panggilan kecil Kahfi padanya. Apa itu artinya ...?
Membayangkan itu, Liz Nadiah menutup mulutnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ya, kau benar! Aku sudah mengingat semuanya!" sergah Zack Shangra seolah memahami jelas tatapan wanita itu.
"Apa yang bisa kau buktikan dari ucapanmu itu?!" Andromeda menghardik. Menarik istrinya untuk tetap berada di sisinya.
Zack menundukan wajahnya, bibirnya tetap mempertahankan senyuman yang siapa pun pasti akan merasa, bahwa sikapnya itu terlalu ambigu untuk disimpulkan.
Ia mulai mengangkat kepalanya, mengarah lurus pada Andromeda. "Liz suka sekali memakan telur orak-arik di waktu pagi, dan air kelapa muda yang dipetik Ayah di waktu siang. Saat hujan kami pasti akan keluar menantang langit, saling berciprat air tanpa alas kaki. Lalu pergi ke laut menjemput ayah yang turun dari kapal nelayan saat kebetulan ia melaut di siang hari, bersama dua ibu kami."
Belum habis penjabaran itu, Liz Nadiah telah meniti isak tangisnya. Semua yang dikatakan Zack benar adanya, ia mengakui sebenar-benarnya.
"Dan maafkan aku yang sempat salah paham padamu. Menuduhmu dan ibumu sebagai perusak kebahagiaanku." Suara Zack mulai terdengar berat. "Dan karena itu, aku jadi kehilangan ibuku!" lanjutnya menunduk dalam. Kali ini matanya telah memerah berkaca-kaca, lalu jatuh menggelinding membetuk tetesan yang kemudian mendarat menimpa sepatu hitam mengkilat yang dikenakannya.
Detik ke sekian ratus ini, Liz Nadiah tak bisa lagi menahan dirinya. Ia bergerak cepat, melepaskan diri dari rangkulan Andromeda lalu menghambur memeluk Zack Shangra dengan isak tangisnya yang mengeras.
Walaupun cukup terkejut, Zack Shangra akhirnya menggerakkan kedua tangannya untuk balas memeluk adiknya itu. "Maafkan, aku. Maaf untuk segalanya. Maaf karena menjerumuskanmu dalam bahaya."
Liz Nadiah hanya menggeleng menentang pernyataan itu. Kahfi tidak bersalah! Itu yang dia tekankan.
Andromeda tak bisa berkata atau berlaku apa pun. Ia hanya diam menatap kakak beradik itu penuh perasaan. Bukan saatnya untuk cemburu, bukan masanya untuk membenci. Zack Shangra telah kembali menjadi Kahfi. Kahfi yang hilang, dan Kahfi yang kini secara langsung mengubah perannya menjadi kakak ipar untuknya.
__ADS_1
"Ka-Ka-Kahfi!"
Suara gemetar Muana mengagetkan semua orang. Tahu-tahu wanita itu sudah berdiri di ambang pintu di sisi kiri sedikit ke belakang di balik punggung Andromeda.
Semua tatap sontak mengalih serentak ke arahnya, yang otomatis melerai pelukan Liz Nadiah dan juga Kahfi.
"Ibu...," ucap lemah Liz Nadiah.
Kahfi cukup tersentak dengan panggilan itu. Ia menatap kejut Liz Nadiah kemudian beralih kembali pada Muana. "Ibu ...?" desisnya.
"Ya, Zack! Dia ibu Muana--Ibu kandungmu!" Andromeda mengungkapkan cepat, mengambil alih situasi.
Dengan degup hebat di ujung dadanya karena mendengar pernyataan Andromeda, Kahfi menatap lekat wajah Muana setelah sebelumnya menoleh sekilas Andromeda.
Benar!
Wajah itu ....
....
....
Sesaat kemudian, terayun gontai, Kahfi menuntun tungkai kakinya mendekat ke arah Muana yang kini telah terisak tanpa gerak dalam ketidakpercayaannya. "Buuuu!!" Dari jarak setengah meter, ia telah menerjang keras tubuh Muana untuk dipeluknya. "Aku Kahfi, Bu! Kahfi anakmu! Aku pulang pada Ibu!"
Serasa tercekat, Muana hanya mampu mengangguk kuat dengan tangis yang deras memburai. Ia memeluk putra satu-satunya itu seerat-eratnya. Cukup lama keduanya tenggelam dalam aksi kecup peluk di lautan kerinduan yang menggelora.
"Ibu tahu, Ibu akan melihatmu lagi, Nak!" tutur Muana setelah tenggorokannya cukup merasa lega.
"Iya, Bu. Maafkan aku yang pernah menolak Ibu!" ujar Kahfi di sela isaknya.
"Tidak, Nak. Tidak! Kau adalah dirimu! Dirimu yang mencintai Ibu. Yang dulu kutemui bukan dirimu. Bukan Kahfiku!"
Andromeda telah berpindah posisi. Dirangkulnya pundak Liz Nadiah yang masih sedikit bergetar. Keduanya sama-sama menatap pelepasan kerinduan antara ibu dan anak itu, dalam haru dan bahagia yang mungkin tak akan ada media apa pun yang pas untuk melukiskannya.
Sebelumnya, Andromeda dan Liz Nadiah memang telah menceritakan banyak hal tentang Kahfi Albareeq pada Muana, sebanyak yang mereka tahu--selepas wanita tua itu mereka boyong pulang dari rumah sisa kebakaran itu beberapa waktu lalu.
Hal itu cukup meninggikan kembali harapan Muana untuk bisa bertemu kembali dengan putranya.
Dan sekarang, semua terkabul sudah. Melepas kata rapuh dan menunggu dalam detik saat pasang-pasang mata itu dipertemukan hari ini.
__ADS_1
...🕊️🕊️🕊️...