
Sorak-sorai bercampur tepukan ratusan pasang tangan, memenuhi seantero ruangan besar seluas lebih dari tiga ratus meter persegi itu.
"HABISI!! HABISI!! JANGAN BERI AMPUN!!!"
Setidaknya itulah kalimat yang ricuh terdengar saling bersahut balas antara dua kubu berbeda yang mendukung jagoan mereka yang berjuang di panggung megah Mixed Martial Arts atau MMA, masing-masing.
Kristal peluh berjatuhan dari kening hingga ke seluruh bagian tubuh Andromeda. Sorot tajam matanya menunjukkan aura menghabisi yang pekat. Gerak ancang-ancang berputar saling berhadapan antara ia dan lawannya, dengan kepal tinju yang sama-sama dicondongkan, membuat pertarungan itu semakin terlihat menantang.
Andromeda dan lawannya mulai kembali bergumul melakukan gerak serangan bebas yang sengit--sesuai peraturan pertandingan. Sama-sama tak ingin dikalahkan.
Pria legam rival Andromeda itu cukup sulit di tumbangkan. Ronde demi ronde terlewat dengan hasil sebanding. Dan ini adalah ronde penentuan.
....
....
Ini bukan ajang UFC yang terkenal itu, hanya pertandingan persahabatan yang digelar oleh suatu pihak. Dan Andromeda mencoba peruntungannya, tanpa seorang pelatih. Ia seorang pecinta seni beladiri. Yang bahkan hampir dari semua jenisnya telah ia pelajari.
Andromeda turun dari arena dengan kemenangan, setelah berhasil menumbangkan lawannya menggunakan jutsu andalannya. Tepuk tangan dan teriakan para pendukungnya yang bukan hanya dari kalangan pria saja itu, mungkin akan merobek gendang telinganya jika berlarut lama berada di tempat itu.
Jujur saja, jika boleh dipintanya, ia menginginkan pertarungan itu tanpa orang-orang di bawah stage yang sangat berisik dan benar-benar mengganggunya. Ia tak suka keramaian. Tapi ia suka pertandingan itu.
"Anda hebat sekali, Tuan Muda. Tadi itu luar biasa!" Sean terus berkicau dengan ekspresi girang. Ia benar-benar menikmati euforia kemenangan boss-nya itu.
"Kembali ke hotel!" Sesingkat itu Andromeda menyahut, tanpa menggubris celotehan asistennya. Keduanya kini tengah berjalan menapaki koridor masih bagian dari bangunan megah tempat pertandingan itu.
Andromeda melarikan diri dari lautan manusia yang terus-meterus mengejarnya dengan bidikan kamera yang menyilaukan. Seolah menjadi pemicu ledakan berisi jerit histeris para wanita yang dalam sekejap menjadi pemujanya. Entah karena ia pemenang ... atau karena ketampanan melebihi aktor-aktor kelas dunia, yang dianugerahkan Tuhan padanya.
Mungkin kedua-duanya.
Sean hanya mendelik menanggapi balasan Andromeda. Dasar aneh! umpatnya dalam hati. "Tapi perutku lapar, Tuan Muda."
"Cari restoran Korea!" cetus Andromeda. "Aku ingin makan kimchi."
__ADS_1
Tampang dongkol Sean berganti senyuman mengembang. "Oke, Tuan Muda!" Dalam hal makanan, Andromeda memang pantas disembah, menurut Sean. Pria itu selalu bisa memanjakan perutnya dengan makanan berkelas, tanpa perlu merogoh koceknya yang terbatas.
Selang beberapa saat.
Mobil putih yang menyeret Andromeda dengan Sean sebagai supir, santai melaju membelah jalanan di tengah kota besar itu. Jalanan mulai meremang karena tugas matahari telah usai, digantikan lampu-lampu dengan cahaya putih kekuningan yang bergantung di setiap sudut kota.
SEO JIN WOO
Nama yang dicetak tebal dengan huruf kapital keseluruhnya itu, terpampang di bawah sebuah potret seorang pria bermata sipit dengan senyuman lebar di selembar kanopi di depan sebuah restoran. Mungkin orang itu pemiliknya, pikir Sean.
Sean tersenyum menatap gambar yang besarnya melebihi ukuran tubuhnya. "Layani aku dengan baik, Mr.Jin Woo," kicaunya bodoh, seolah pria di gambar itu bisa menyahutnya.
"Jilati saja photo itu sampai kau kenyang," celetuk Andromeda seraya berjalan melewati Sean, memasuki area dalam restoran.
Sean menatap punggung tegap itu dengan bibir mengerucut, namun juga menyusulnya tak lama kemudian.
Andromeda telah santai dengan posisinya di sebuah kursi, bersama ponsel yang saat ini dimainkannya. Makanan telah dipesan Sean dengan jenis yang sama. Mereka tinggal menunggu.
Saat itu Andromeda nampak bangkit dari tempatnya, setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket sport yang dikenakannya. Sebelum pesanan mereka datang.
"Toilet," sahut singkat Andromeda seraya melenggang meninggalkan Sean yang hanya mengangkat sekilas bahunya menanggapi sikap menyebalkan boss-nya itu. Sikap yang dibencinya tapi juga menyenangkannya. Karena meskipun begitu, Andromeda selalu peduli apa pun tentang dirinya, bahkan keluarganya. Hanya cara penyampaiannya saja yang tak lazim.
Andromeda baru saja menyembul dari dalam salah satu kubikel toilet pria, usai menekan beban kandung kemihnya keluar. Sejenak bercermin, menyisirkan jari-jari tangannya pada rambutnya yang tampak berantakan, ke belakang.
Saat bersamaan, nampak seorang pria baru saja memasuki salah satu kubikel. Andromeda menangkap bayangan pria itu di dalam cermin di hadapannya. Kenapa aku merasa pernah melihatnya? Ia mengernyitkan wajah mencoba mengingat.
Belum sempat Andromeda menemukan jawabannya, pria di dalam toilet sudah lebih dulu keluar. Laju dengan santainya berdiri di depan cermin lain di samping Andromeda, memutar kran wastafel, lalu mencuci wajahnya yang tak nampak kusam sedikit pun.
Tatapan Andromeda membidiknya, namun dengan kepala yang tetap lurus ke depan. Persis seorang penguntit. Dan saat itulah ingatan pria itu mulai bekerja dengan cermat. "Maaf, apakah Anda ...." Cukup ragu Andromeda menyebutkan nama pria yang baru saja diingatnya. ".... Kenan Lingga?"
Kegiatan pria di sampingnya itu pun sontak terhenti. Tetes-tetes air masih ramai memenuhi wajahnya, berjatuhan. Ia menoleh pada Andromeda yang saat ini menatapnya ingin tahu. "Anda ... siapa?" tanyanya heran. "Apakah kita pernah saling kenal sebelumnya?" Tangan kanannya meraih selembar tissu yang lalu diusapkannya ke wajahnya.
Andromeda tersenyum. Ternyata memang dia. Menghadapkan kembali parasnya lurus pada cermin. "Sayangnya tidak. Tapi kita pernah saling bicara," jawab santainya seraya mengingat kejadian itu.
__ADS_1
Ya, pria itu Kenan Lingga. Ia mengernyit mendengar jawaban Andromeda. "Maksud Anda?"
Dengan masih memulas senyumnya, Andromeda menggeser tubuh menghadap lurus pada Kenan Lingga. "Secangkir americano, sepertinya sedap untuk menemani obrolan santai malam ini."
Benar saja, dua cangkir espreso jenis americano baru saja diletakan seorang pelayan pria di atas meja bundar di hadapan Andromeda dan Kenan Lingga.
Di samping keduanya, Sean sudah sibuk menyantap makanannya percaya diri, tanpa peduli dengan keberadaan dua pria yang duduk saling berhadapan di dekatnya. Urusan perut mana peduli dengan sekitar, ajian Sean.
"Jadi, dari mana Anda mengenalku?" Kenan Lingga membuka permbicaraan.
Andromeda kembali tersenyum. "Minumlah dulu, Tuan Kenan. Tidak usah terburu-buru," ucapnya ringan. Mengangkat cangkir kopi di depannya, lalu menyesapnya penuh perasaan. "Tidak baik mengabaikan sesuatu." Kemudian menaruh cangkirnya kembali ke tempat asalnya.
Sean mengullum senyumnya, menatap raut wajah Kenan Lingga yang sepertinya menahan sesuatu. Selamat berjengkel ria, Tuan, hati Sean mengolok pria asing itu.
Satu sesapan kopi menjalar ke mulut Kenan Lingga. Tak cukup manis untuk mengendalikan tempramennya yang sebenarnya lumayan buruk. Namun kali ini berusaha ditahannya demi sebuah penjelasan dari seorang pria, yang tiba-tiba mengaku pernah bercakap dengannya ... bahkan mengenal namanya.
"Anda kenal Nadiah?"
Sesapan kedua gagal mencapai bibir Kenan Lingga. Mata bulatnya semakin bulat menatap Andromeda yang baru saja menyebutkan sebuah nama. Apakah ia tidak salah dengar? "Anda juga kenal Nadiah?"
Dengan santai Andromeda menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. "Sepertinya iya." Dengan nada ringan yang sumpah demi apa pun, tak disukai Kenan Lingga.
"Kapan kita pernah bicara?" Kenan Lingga memasang raut seriusnya. "Dan siapa Tuan ini sebenarnya?"
Sean menghentikan suapannya, tipis mengangkat wajahnya mengamati kedua pria itu bergiliran, melalui ekor matanya.
"Aku Andromeda. Kauingat?" tanya Andromeda dengan tampang nyeleneh.
Entah mengapa wajah Andromeda semakin menyebalkan di mata Kenan Lingga, di saat dirinya dalam zona penasaran seperti saat ini, pria itu malah terlihat seolah mengejeknya. Tidak sopan! Sedangkan mereka baru detik ini saling bertatap.
Kenan Lingga memantik pikirnya untuk bekerja. Dan menegak menatap Andromeda setelah ingatan itu didapatnya tak lama kemudian. "Kau ... yang mengangkat telponku waktu itu?"
__ADS_1
Lagi-lagi Andromeda tersenyum. "Benar. Itu aku ... Tuan Kenan."