
Wasit telah mencanangkan Andromeda--mengangkat tinggi-tinggi tangan pria itu, sebagai pemenang akhir pertandingan. Yang tentu saja membawa nama besar Bulan Bintang di belakangnya.
"Selamat atas kemenanganmu, Tuan Adromeda." Samwise mengulurkan telapak tangannya ke arah Andromeda. "Kau hebat!" Ia tersenyum. Engah napasnya bahkan masih terdengar belum beraturan, dengan wajah setengah meringis. Ia baru saja bangkit dari jatuhnya usai menerima serangan bertubi-tubi dari Andromeda.
"Terima kasih," Andromeda membalas senyum. "Maaf sedikit menyakitimu."
Samwise terkekeh tipis menanggapi, "Kesakitan yang manis, Tuan Andromeda," katanya. "Senang bertarung denganmu."
Andromeda menerima adu kepal yang sodorkan Samwise. "Ya ... senang juga bertarung denganmu, Tuan Sam," balasnya. "Mungkin gitarmu akan terbengkalai selama beberapa hari ke depan."
Andromeda seorang penikmat musik. Ia cukup tahu--meski tak banyak, kiprah pria yang sebenarnya berkacamata itu.
Lagi-lagi Samwise terkekeh geli. "Kurasa kau benar. Sekepal es batu akan menggantikannya sampai memar-memar di tubuhku menghilang."
"Kalau begitu buat es batu sebanyak mungkin. Atau ... pergilah ke Kanada, di sana sedang turun salju sekarang," Andromeda berkelakar.
Samwise sedikit tergelak kali ini. Namun belum sempat ia menyahut, dengking pengeras suara memenuhi seantero gedung. Pengalungan medali untuk pemenang dan lainnya akan segera dilakukan.
Kedua pria itu saling beradu tatap sesaat usai mendengarkan pengumuman itu.
"Emasmu sudah melambai," kata Samwise pada Andromeda.
"Itu milik Nadiah."
Mendengar nama itu, Samwise tertegun sejenak. Sekilas mengarahkan tatapnya pada Liz Nadiah yang tengah tersenyum bangga menatap kekasihnya. "Kau beruntung mendapatkannya," katanya kembali tersenyum. "Juga dia yang beruntung mendapatkanmu."
Andromeda mengernyit terheran. "Kau mengenalnya?"
Sepulas senyuman tipis diperlihatkan Samwise. "Kenan Lingga, dia sahabatku. Dan darinya, aku mengenal kekasihmu," jawabnya jujur. "Tapi jangan berpikir buruk dulu, Tuan Andro. Kurasa Kenan pun akan berpikir sama denganku. Nona Nadiah, akan bahagia bersama pria setangguh kau!"
..........
Sean terus saja berceloteh sepanjang perjalanan di dalam mobil yang kini dikendarainya. Segala hal dibahasnya. Mulai dari 'kenapa bisa Andromeda mengenali wanita di atas pentas tanding?', kehebatan Liz Nadiah, juga euforia kemenangan akhir yang mereka bawa saat ini ke Padepokan.
Andromeda hanya menggedik bahu menanggapi. Sedangkan Liz Nadiah hanya menjawab sealakadarnya.
__ADS_1
"Tidak bisakah kau diam, Sean?!"
Dengan bibir mengerucut kesal, Sean menghentikan goyangan lidah dan suara berisiknya. "Ya ... baiklaaaahh."
Malam pun tiba.
Setelah melakukan sujud syukur juga sholat isya berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan acara makan malam, bersama seluruh penghuni Padepokan di sebuah ruangan besar--mungkin aula. Setelah itu mereka berpencar. Memilih tempat masing-masing untuk menikmati malam yang cukup cerah ini, tetap dalam tema merayakan kemenangan.
Liz Nadiah dan Andromeda kini bergabung bersama Gus Ammar dan para Pilih Tanding yang tadi bertarung--tentu saja membahas hasil akhir pertandingan. Juga ada Sean yang hanya sibuk menikmati makanan dan minuman yang tersedia di tengah-tengah mereka.
"Kau tak takut perutmu meledak?" Sarkas Andromeda bertanya, dengan tatapan yang seperti biasa saat ia menghadapi kekonyolan Sean.
"Itu karena hari ini kau pelit sekali, Tuan Muda," imbuh Sean seraya memasukkan secuil kue kering ke dalam mulutnya. "Dari pagi aku tak kau beri makan."
"Apa katamu? Aku pelit?" Andromeda menatap Sean tajam.
"Hmm." Dan Sean hanya membalas sesingkat itu.
"Kalau begitu ... jangan menangis saat gajimu kupotong tiga perempatnya setiap bulan, untuk mengganti makanan yang kuberikan padamu secara cuma-cuma selama kau bekerja denganku!"
Semua nampak beringsut ketika Sean terbatuk dan menyemburkan seluruh hasil kunyahan di mulutnya. Tangannya nampak berkibas-kibas menggantikan suaranya yang masih tercekat karena tersedak--menolak keras kalimat Andromeda. "Ja-jangaaaann!!"
Kini semua orang tergelak melihat kelakukan konyol bos dan asistennya yang mulai berseteru layaknya Tom & Jerry.
....
Jam menunjukkan pukul 20.45.
Disirami cahaya bulan. Dibelai kesiur angin tipis yang sesekali berlalu. Di gazebo bambu di bagian selatan Padepokan, Andromeda dan Liz Nadiah kini menikmati waktu spesialnya.
Namun tentu tak hanya berdua saja. Karena Gus Ammar pasti tak akan mengizinkan itu.
Sean!
Sama saja tak ada.
Dengan perut kenyang juga rasa lelah yang teramat, asisten konyol itu telah terlelap di bagian pojok di samping Andromeda, dengan wajah tertutup jaket kulit miliknya. Suara dengkurannya bahkan cukup keras terdengar mengotori keheningan.
__ADS_1
"Dasar kerbau!" Andromeda mencebiknya.
"Pssstt. Biarkan dia. Kasihan," kata Liz Nadiah dengan senyum hangatnya.
Tatapan Andromeda kini teralih ke arahnya. "Ya, kau benar. Tapi bukan karena kasihan. Aku senang karena dia tak akan mengganggu waktu berdua kita."
"Kau ini."
Tema tentang Sean bukanlah hal yang menarik untuk dibahas saat ini, menurut Andromeda. Kini wajahnya ia arahkan sepenuhnya pada sosok yang terduduk manis berjarak satu meter di hadapannya. "Kenapa tidak pernah cerita padaku, kau seorang petarung?"
Pertanyaan itu sontak mencuri perhatian Liz Nadiah dari segelas teh yang baru saja akan disesapnya. "Itu bukan ide yang bagus."
Andromeda mengernyit tak mengerti. "Kenapa?"
"Karena aku tak mau kau ajak bertarung," jawab Liz Nadiah sekenanya.
Dan Andromeda malah tergelak ringan menanggapi, "Hey, dengarkan aku ...." Sedikit pria itu mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Liz Nadiah yang malah beringsut karena pergerakannya itu. "Pertarungan kita bukan semacam itu. Bukan dengan seragam beladiri. Bukan dengan teriakan saat menyerang, juga bukan di tempat terbuka," ucapnya dengan suara pelan juga seringainya.
"La-lalu?" Liz Nadiah tergagap.
Andromeda semakin melebarkan senyumnya melihat ekspresi kaku itu. "Kau ingin tahu?"
Dan dengan polosnya Liz Nadiah mengangguk.
Jarak di antara keduanya kini hanya tersisa beberapa jengkal saja.
"Di tempat empuk, tanpa seragam atau pun busana lainnya, juga ...."
Menyadari arah pembicaraan Andromeda, Liz Nadiah melebarkan matanya.
"Dengan suara de--"
"STOOOOPPP!!!"
"Ayam! Ayam! Ayam!!"
Dengan suara ayam milik Sean'lah akhirnya.
__ADS_1