
Satu tahun kemudian ....
Mata sembab berbayang merah, lepas hirup cairan di hidung karena terlalu lama menangis, memperlihatkan kerapuhan Liz Nadiah yang baru saja--lagi-lagi kehilangan.
Tubuh renta Kakek Panca baru saja usai dikebumikan. Liz Nadiah ditemani Andromeda tentu saja, telah menetap kembali di kota asalnya dari enam bulan lalu, setelah mendapat kabar dari Magda, bahwa kesehatan pria renta itu terus menurun seiring waktu bergerak maju.
Berbagai pengobatan dan terapi telah dilakukan sebagai usaha untuk kesembuhan Kakek Panca, namun tetap ... Tuhanlah penentu pasti, di akhir segala lakon.
Kakek Panca dimakamkan di desanya yang tentu adalah desa yang sama di mana Liz Nadiah dilahirkan, juga tumbuh meremaja.
"Sudah, Sayang, Kakek pasti sudah tenang di alam sana," tutur Andromeda menenangkan seraya mengusap bagian lengan istrinya yang kini dirangkulnya. "Kita pulang!"
Namun Liz Nadiah menolak cepat dengan sebuah gelengan. "Tidak! Aku tidak ingin pulang dulu."
Kening Andromeda berkerut tak paham. "Lalu?"
"Setelah menziarahi makam Ayah. Aku ingin melihat rumahku."
Sejenak tercenung menimang-nimang, Andromeda mulai menganggukan kepala sesaat setelah mengambil keputusan. "Baiklah. Tapi aku tidak bisa mengizinkan lama. Aku takut kau kelelahan," katanya seraya mengusap lembut perut Liz Nadiah yang mulai membuncit, karena usia kehamilannya mulai menanjak angka tujuh bulan. "Sean, kau antar Magda pulang. Aku dan Nyonya, pergi ke desa sebentar."
Sean mengangguk patuh. "Baik, Tuan Muda!"
Liz Nadiah mengangguk menyetujui.
Lalu ia dan suaminya mulai berjalan beriringan menuju mobil. Terlihat kemesraan yang hakiki di antara keduanya. Andromeda tak sedikit pun melepaskan rangkulannya di pundak wanita itu, penuh kasih.
Tak lama setelahnya.
Mobil Andromeda telah terhenti di ujung jalan tak jauh dari halaman rumah kecil milik Liz Nadiah yang telah hangus terbakar bertahun lalu--selepas menziarahi makan Shada Yasin di sudut lain desa itu.
Dengan gontai, Liz Nadiah menapakkan kakinya ke depan halaman, lalu terhenti kaku sekitar satu meter dari arah teras.
Dalam kepekatan seisi jiwanya, ia menatap bangunan penuh kenangan yang sama sekali belum terjamah renovasi itu. Masih nampak hitam sisa kobaran api.
Dalam sekejap, ulu hatinya berdesir-desir, lalu berubah menjadi gemuruh menyesakkan. Ia merasakan perih yang tiba-tiba menerjang bersama siluet-siluet kenangan yang mulai berseliweran di kepalanya. Air matanya kembali menderas.
__ADS_1
Andromeda merengkuhnya erat. "Sudahlah. Semua telah berlalu," ucapnya seraya mengecup dalam sisi kepala istrinya yang tertutup hijab.
Sementara Liz Nadiah masih sesenggukan di dadanya, Andromeda mengangkat kepalanya lalu mengedar ke sekeliling. Dalam beberapa detik menelisik, mata Andromeda berubah menyipit--terpicing, seperti ada sesuatu yang tak biasa yang didapatnya.
Benar!
Waktu kebakaran itu telah berlalu lebih dari satu tahun. Seharusnya rumah ini dalam keadaan berantakan. Atau setidaknya, ditumbuhi rumput-rumput liar yang meninggi. Tapi yang didapatnya .... "Sepertinya rumah ini ada yang membersihkan."
Pernyataan berbentuk gumaman itu tentu saja didengar Liz Nadiah. Wanita itu terperanjat lalu mendongak menatap wajah Andromeda dengan kerutan tebal di wajahnya. "Apa katamu?" Ia sama sekali tak menyadari keadaan tak biasa dari sekitaran rumah yang menjadi saksi hampir setengah dari usianya itu.
Andromeda menyentak kepalanya, menunduk menatap Liz Nadiah. Sesaat ia menjauhkan sedikit tubuhnya untuk meraih jarak. "Kau tunggu di sini sebentar. Aku ingin memastikan sesuatu," ujarnya sembari memegang kedua pundak istrinya.
"Kau mau kemana?" Liz Nadiah belum mengerti.
"Aku akan masuk ke dalam rumah. Sebentar saja."
"Untuk apa?" Liz Nadiah mulai gusar.
"Tidak apa-apa. Hanya melihat-lihat saja. Jika kau ikut masuk ke dalam, aku takut ada bagian reruntuhan yang menimpamu."
Setapak demi setapak, tungkai kaki Andromeda meniti tanah lalu berlanjut ke atas teras. Diam sesaat di depan kusen yang tak berdaun pintu. Ia melongokan kepalanya ke bagian dalam rumah yang telah hancur.
"Uhuk ... uhuk!"
Mata Andromeda terbelalak melebar. Suara batuk lirih itu terdengar dari dalam rumah. Suara siapa itu? Apakah orang gila? tanya hati Andromeda penasaran.
Sesaat ia menoleh ke belakang, di mana Liz Nadiah masih berdiri gusar menatap ke arahnya.
"Ada apa?" Liz Nadiah bertanya.
"Pssttt." Andromeda menyela cepat, dengan menempatkan telujuknya di bibir--meminta Liz Nadiah untuk tak bersuara terlalu keras. "Aku akan masuk," bisiknya dari kejauhan seraya mengarahkan satu telapak tangannya ke bagian dalam rumah.
Liz Nadiah semakin kebingungan. Apa yang sebenarnya dilakukan Andromeda?
Dan pria itu, kini langkahnya telah mencapai ruang tengah rumah, melewati kepingan-kepingan bangunan yang berserak di bagiannya. Ia lalu merangkak semakin dalam
__ADS_1
Hingga tatapannya jatuh pada kamar paling ujung yang dulu ditinggali Liz Nadiah tanpa alas tidur, ketika ia diselamatkan wanita itu saat hanyut di sungai.
Kamar itu bertirai lusuh!
"Aku harus memastikan, siapa yang ada di dalam sana." Ia melangkahkan kakinya sangat pelan dan sebisa mungkin tanpa suara.
Beberapa detik kemudian, ia telah berdiri di depan pintu kamar bertirai itu. Dengan sedikit keraguan, Andromeda memaksakan telapak tangannya untuk menyibak helai tirai itu dan melihat siapa yang ada di dalam sana. Dan ....
Tiga sesi tangis dengan tema yang berbeda, dilewati Liz Nadiah dalam waktu sehari ini.
Kepergian Kakek Panca, percikan kenangan di rumah kecil sisa lahapan api miliknya, dan juga ....
"Aku mencari Ibu kemana-mana," ujarnya dengan isakan keras yang terdengar begitu pilu di pelukan orang itu. Tak peduli bau lapuk yang menembus sesak hidungnya--bau yang berasal dari tubuh yang didekapnya. "Tapi tak pernah membuahkan hasil."
Di teras kotor depan rumah sisa kebakaran itu, Liz Nadiah dan Andromeda terduduk. Beserta satu lainnya yang baru saja dikeluarkan Andromeda dari dalam rumah, setelah mendapat jawaban, bahwa ia--yang ditanyanya, mengenali jelas siapa Liz Nadiah.
Kulit pucat tak terawat, kerudung lusuh yang seluruh seratnya mulai habis dilalap bintik-bintik noda, juga tubuh kurus yang terlihat nyaris seperti tulang tanpa daging ....
Begitulah gambaran sosok Muana saat ini. Sangat memprihatikan. "Tak apa. Ibu sudah di sini, Nak," ujar lembut Muana seraya mengusap lembut punggung anaknya itu. "Lalu ... apa kau sudah berhasil menemukan ibumu?"
Pertanyaan itu membuat Liz Nadiah terhenyak. Ia menggeleng dengan tangisan derasnya. "Belum, Ibu. Tidak ada setitik pun cahaya yang menuntunku untuk menemukannya."
Muana menghela napas berat. "Bersabarlah, Nak. Suatu hari nanti, Allah pasti mempertemukan kalian." Liz Nadiah mengangguk seraya meng-aminkan ucapan Muana.
"Lalu bagaimana cara Ibu melarikan diri dari Diraga saat penyekapan dan pembantaian itu?" Mulut gatal Andromeda tiba-tiba menyemburkan pertanyaan yang sedari tadi ditahannya.
Mendengar itu, Liz Nadiah mengangkat dirinya dari dekapan Muana, menatap sesaat Andromeda, lalu mengangguk memandang muana. Ia juga sama ingin tahunya tentang kenyataan itu.
Setelah menggilir tatap pada suami istri itu, Muana sejenak terdiam, lalu mulai mengarahkan wajahnya ke suatu arah. Matanya nampak kosong menerawang jauh ke masa mengerikan itu.
Beberapa saat setelahnya, Muana mulai menceritakan pengalamannya setelah dilepaskan oleh seorang pria bermasker juga bersarung tangan hitam, yang sampai detik ini tak pernah ia ketahui siapa orang itu sebenarnya.
Namun ketika Muana memohon untuk pria itu melepaskan juga orang-orang tahanan di dalam sel bawah tanah yang tertawan bersamanya, orang itu menolak keras, dan malah menyuruhnya untuk cepat pergi melalui celah kecil yang pernah dipakai Liz Nadiah untuk melarikan diri.
__ADS_1
...---...