
Pekat menggeser terang dengan damai. Bergilir bekerja sama--aturan terbaik Penguasa Jagat.
"Gantilah bajumu. Kau akan sakit dengan pakaian kuyup seperti itu."
Satu set pakaian diterima Liz Nadiah dari tangan Andromeda.
"Maaf, karena kau menolak memilih sendiri ... jadi aku pilihkan sesuai seleraku," kata Andromeda lagi.
Pria itu telah nampak lebih rapi dengan setelan santainya. Sebuah chinos dengan sweater tanpa kupluk juga sandal jepitnya.
"Tak apa. Terima kasih," ucap Liz Nadiah dengan raut tak enak. "Maaf ... lagi-lagi aku merepotkanmu."
Andromeda tersenyum. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. "Jika kau orangnya, maka aku siap direpotkanmu seumur hidup."
Sekejap, ekspresi sungkan Liz Nadiah berganti tatapan sebal. "Kenapa sekarang kau suka sekali gombal?" Seraya mengangkat diri dari posisinya.
"Karena aku tidak suka gimbal. Makanya aku pilih gombal."
Liz Nadiah mendelik. Ayunan kaki yang baru ia jalankan beberapa langkah itu, dihentikannya sejenak hanya untuk membalas kata Andromeda, tanpa menoleh. "Aku rasa kau akan lebih cocok dengan tampilan kepala botak."
Andromeda yang kini duduk di sofa, terkekeh menanggapi kalimat nyeleneh gadis itu. "Asalkan kau suka, aku rasa aku tidak keberatan menjadi tuyul."
Rasanya tak akan lurus jika terus menanggapi kekonyolan pria itu, maka darinya, Liz Nadiah memilih melenggang cepat menuju ruangan kecil di bagian pojok kiri tempat itu.
Ya, pasangan tanpa status itu kini berada di sebuah butik kecil di bagian utara kota, untuk mencari pakaian ganti. Setelah sebelumnya hujan mengguyur keduanya ketika baru saja keluar dari bangunan tua--tempat eksekusi jahannam milik Diraga Madewa. Mereka terpaksa menembus derasnya hujan menuju tempat di mana mobil Andromeda terparkir--cukup jauh dari tempat itu.
Tak terkecuali Tirta Patih dan pasukannya, yang juga bermandi ria tanpa niat dan kesengajaan.
Mobil Andromeda dan para militer itu terpisah di pertigaan jalan.
Liz Nadiah terlihat lebih nyaman dengan terusan juga hijab berwarna coklat pilihan Andromeda. Ia berjalan seraya memasukkan pakaian basahnya ke dalam kantung plastik yang tadi dimintanya pada pegawai butik.
Andromeda baru saja kembali dari meja kasir, setelah membayar pakaian yang ia pakai berikut yang dikenakan Liz Nadiah.
Dari arah berlawanan, keduanya dipertemukan. Tatapan Andromeda telah terkunci pada sosok yang kini juga menatapnya.
"Umm ... kenapa kau melihatku seperti itu?" Sejenak Liz Nadiah menelisik penampilannya sendiri dari ujung kaki hingga berbelok ke bagian pundaknya. "Apa pakaian ini tidak pantas untukku?" Tatapan pria itu cukup membuatnya kikuk.
"Umm!" Andromeda mengerjap. "Tidak. Tidak seperti itu," elaknya. "Itu sangat pas di badanmu. Hanya saja ...."
Liz Nadiah merengutkan wajahnya. "Hanya apa?"
"Hanya sedikit kurang sempurna."
__ADS_1
"Se-sempurna?"
Apa maksudnya? tanya hati Liz Nadiah seraya kembali mengabsen tampilan dirinya dengan rengutan tak sedap.
"Ya ... kurang sempurna. Karena tangan kita tak bergandengan."
Dasar!
"Gandengan saja kau dengan truk."
Waktu menunjukan pukul 09.00 pm, saat mobil Andromeda mulai memasuki jalanan pedesaan tempat di mana Liz Nadiah tinggal.
Hewan-hewan nocturnal mulai mengambil peran.
Suara-suara katak sawah bersahutan menyemarakan suasana yang cukup hening.
Lampu-lampu yang tergantung di tiang-tiang besi seolah saling berkedip satu sama lain.
Gulir roda mobil Andromeda membawa mereka semakin dekat ke arah rumah Liz Nadiah.
"Ada apa dengan orang-orang itu?" gumam Andromeda, setelah sepasang netranya menangkap sebuah pemandangan janggal. Cahaya kuning yang berkibar-kibar di kejauhan sana. Ditolehnya Liz Nadiah yang terlihat damai dalam pejamnya.
Semakin dekat, Andromeda semakin merasa ada yang tidak beres. Orang-orang desa nampak berlarian kesana- kemari dengan tampang panik.
Ia menepikan mobilnya di tempat yang sama, saat dulu ia datang diam-diam ke tempat itu tanpa tujuan pasti.
Demi mengobati rasa penasarannya, Andromeda turun lebih dulu tanpa membangunkan Liz Nadiah yang masih terlelap. "Ada apa, Pak?" Ia mencegat seorang pria tua yang berlari terengah-engah dengan ember di tangannya.
"Rumah Dokter Nadiah kebakaran, Tuan!"
Andromeda membesarkan matanya--terkejut. Tanpa berkata lagi, ia berlari menuju rumah Liz Nadiah yang cukup jauh beberapa meter di depannya.
Dan ....
"Ya Allah, Ya Tuhanku!!" pekik Andromeda dengan tampang tersentak bukan kepalang. Kobaran api telah melahap hampir seluruh bagian rumah sederhana itu. Tak terkecuali klinik kecil yang tersampir di halamannya, yang juga telah terlihat menghitam.
Terlihat para warga berusaha memadamkan api dengan jalan seadanya. "Qinay! Di mana Qinay?!" Andromeda mulai panik kelabakan. Mengedar tubuhnya ke sekeliling mencari keberadaan gadis itu.
"Qinay masih di dalam sepertinya, Tuan!" Seorang ibu memberitahu dengan wajah tegang.
Andromeda lagi-lagi tersentak. "Ya Allah, Qinay!!"
__ADS_1
Tak lama berpikir, pria itu melanting menuju pintu depan rumah yang masih tertutup. Menendangnya sekeras mungkin hingga terbuka, tak peduli lambaian api yang seolah ingin merenggutnya.
"Tuan! Jangan! Itu berbahaya!!"
Beberapa meneriakinya.
Dilihat dari semua sisi, semburan api telah menguasai hampir keseluruhan rumah itu.
"Rumahku!!"
Liz Nadiah telah berdiri di jalanan depan rumahnya. Menutup mulutnya tak percaya. "Kenapa bisa terjadi seperti ini?!" Tangisnya merebak seketika. Namun sesaat kemudian ia sadar akan sesuatu. "Di mana Qinay?!" Tak berbeda dengan Andromeda sebelumnya, Liz Nadiah kini merasakan kepanikan serupa mengingat teman satu-satunya itu.
"Nay masih terjebak di dalam, Nona Nadiah. Dan Tuan Muda Andro masuk ke dalam rumah untuk mencarinya!"
"Apa?!" Informasi itu membuat Liz Nadiah terkejut bukan kepalang. "Andromeda ... tidak!" Ia menggeleng-gelengkan kepalanya cemas. "Itu akan membahayakannya! Kenapa dia begitu bodoh!" serunya frustasi. Isak tangisnya semakin menderas. Memandang kobaran api dengan perasaan hancur. "Qinay ... Andromeda ... tidaaakk ...." Terdengar suaranya melemah karena tercekat.
"Nona tenanglah. Kami sudah menguhubungi petugas pemadam kebakaran." Seorang wanita mengelus pundaknya berusaha menenangkan. Namun tetap tak bisa menghapus walaupun setitik perasaan Liz Nadiah yang terlanjur porak poranda, teriring tiang dan kayu-kayu bagian rumahnya yang turut berjantuhan dilahap api.
Di saat bersamaan--dalam panik dan kesedihan yang semakin merajai, sosok tegap itu muncul dari balik kobaran dengan gerak berlari yang nampak keberatan dan sulit, menghindari sentuhan si jago merah. Ia nampak membopong sosok lain dalam pangkuannya.
"Andro!!" Liz Nadiah menghambur menyongsongnya tanpa babibu. "Qinay!"
Dengan perlahan, tubuh lemah Qinay diturunkan Andromeda--dibaringkan di atas jalanan aspal tanpa alas. "Dia sangat lemah," kata Andromeda dengan napas yang masih terdengar memburu.
Banyak warga mulai mengerumuninya.
Sesaat Liz Nadiah menatap pria itu dengan raut terharu, sekaligus cemas. Lalu menunduk kembali fokus pada Qinay yang sungguh nampak mengenaskan. sebagian pakaian yang dikenakannya hangus disentuh api. Kakinya dipenuhi luka bakar yang serius, pun dengan beberapa anggota tubuhnya yang lain.
Ia ditemukan Andromeda dalam keadaan meringkuk di lorong kecil menuju dapur.
"Nay! Bangun, Nay!!" Liz Nadiah menepuk-nepuk pipinya dengan rasa cemas melebihi apa pun. Namun gadis itu nampak bergeming. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa menanganinya. Seluruh alat dan obat-obatanku sudah terbakar!"
Semua menatapnya dengan berurai air mata.
Andromeda mengangkat tangan Qinay, lalu meraba nadi pergelangan tangan gadis itu--memastikan.
....
....
....
"Dia sudah tidak ada, Nadiah."
__ADS_1