
"Jadi, kita bawa kemana Tuan Adromeda?" Si bapak pencari rumput bertanya, seraya bergilir pandang pada Liz Nadiah dan si pria pencari ikan.
Sejenak hening.
Sepasang mata Liz Nadiah kini mengarah pada Andromeda yang meringkuk di atas sebuah benda kayu beroda milik si bapak pencari rumput. Pria naas itu sudah kehilangan kesadarannya kembali. "Kita bawa ke rumahku saja." Liz Nadiah mencetuskan.
Kedua lelaki berumur itu saling beradu tatap.
"Umm ... aku punya beberapa obat-obatan di rumah!" sergah Liz Nadiah, menyadari tatapan tak sedap kedua pria di hadapannya itu. Seolah ada kecurigaan konyol yang jelas membuatnya tak nyaman. "Aku seorang dokter, Pak!" lanjutnya menambahkan.
"Dokter?" Pria pencari ikan mengernyit keheranan. Matanya menelisik Liz Nadiah dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
"Maap aku tidak suka dengan cara Anda melihatku. Tolong percaya padaku. Kita tidak punya banyak waktu untuk berdebat. Orang ini membutuhkan pertolongan segera!"
"Nona benar, ayo kita dorong."
Tak ada cara dan sarana angkut lain, selain sebuah gerobak rumput milik pria tua itu, untuk membawa Andromeda ke kediaman Liz Nadiah. Dua keranjang bambu besar kosong, yang semula terkait di satu bagian sisi gerobak, telah diturunkan. Lalu ditinggalkan mereka di bawah pohon tempat Liz Nadiah menaruh sepeda usangnya sebelumnya.
Setelah menempuh waktu sekitar 20 menit lamanya, akhirnya mereka sampai di kediaman Liz Nadiah. Beberapa penduduk terlihat mengekor penasaran. Bibir-bibir terdengar ramai berkicau. Pertanyaan penasaran mereka dijawab Liz Nadiah dan kedua pria itu sejujurnya.
"Dibaringkan di kamar saja, Pak. Agar dia nyaman dan hangat." Liz Nadiah menginstruksi.
Dengan perlahan, tubuh tegap itu dibopong kedua pria tua, dibantu dua orang warga desa lainnya, menuju kamar yang tirainya baru saja disibak Liz Nadiah.
"Nona, saya permisi saja. Sepertinya di sini cukup banyak orang yang bisa membantu Nona. Saya harus mengambil ikan yang masih terbengkalai di sungai."
"Bapak juga. Kambing-kambing Bapak harus segera diberi makan."
"Baiklah. Kalau bagitu terima kasih, Pak," ucap Liz Nadiah dengan kedua telapak tangan terkatup di depan dada.
"Sama-sama, Nona. Tolong rawat Tuan Andromeda sampai dia sembuh."
Liz Nadiah mengangguk. "Pasti, Pak."
Namun sesaat setelahnya, gadis itu berseru menghentikan langkah kedua pria tua yang telah mencapai ambang pintu menuju luar. "Tunggu!"
Keduanya menoleh.
"Ada apa, Nona?" Salah satu menyahuti.
"Jika kalian mengenal pria di dalam itu ...." Telunjuk Liz Nadiah mengarah ke belakang melalui pundaknya, di mana Andromeda terbaring. "Apakah kalian bisa menghubungi keluarganya?"
__ADS_1
Mereka semua saling beradu pandang. Lalu menggeleng bersamaan. "Maaf, Nona. Kami tidak tahu di mana rumah Tuan Andromeda. Dia hanya sesekali datang mengontrol perkebunan. Ditambah, para pengurus sudah dua hari tak ada kelihatan. Kecuali pada mandor kecil, mereka orang desa sama seperti kami." Satu warga pria itu menjelaskan.
"Begitu rupanya." Liz Nadiah mendesah menyayangkan.
"Tapi akan saya usahakan, Nona," imbuh bapak pencari rumput.
"Benarkah, Pak? Terima kasih kalau begitu."
.........
Beberapa jam kemudian.
Suhu tubuh Andromeda mulai kembali menghangat. Usai diberikan beberapa penanganan medis oleh Liz Nadiah. Pakaian basah yang semula dikenakan pria itu, telah diganti dengan setelan kaos oblong berpadu sehelai sarung milik salah seorang warga.
Namun tentu saja bukan Liz Nadiah yang menggantinya. Melainkan dua orang pria warga itu sendiri yang kini mulai mengenal sosok Liz Nadiah, melalui obrolan kecil mereka sepanjang berada di rumah itu.
Tanggapan mereka atas Liz Nadiah cukup positif. Mereka juga riuh mendukung, saat gadis hijab itu mengatakan akan mendirikan sebuah klinik kecil di depan rumah. "Kami siap membantu." Begitu mereka menyambut dengan gembira.
Setidaknya beban saat mereka sakit dengan perjalanan jauh akan berkurang, jika apa yang dikatakan Liz Nadiah benar-benar terealisasi.
Awalnya Andromeda terkejut, spontan menggerakkan tubuhnya untuk bangkit sesaat setelah kesadarannya kembali. Jelas saja, sebentuk pemandangan aneh menurutnya. Sebuah kamar kecil beratap bilik, ditambah beberapa orang asing dengan pakaian kampungan, berdiri mengelilingi dan menatapnya takjub berbinar.
"Ternyata ia lebih tampan saat matanya terbuka."
Mulut-mulut itu tak henti menebar kekaguman.
"Kalian siapa?" Sesingkat itu kalimat yang ia ucapkan, dengan wajah terkejutnya tentu saja. Lalu dengan ricuh dan logat yang terdengar aneh di telinga Andromeda, para warga itu mulai menjelaskan. Menyebut nama Nadiah sebagai penolongnya.
Sesaat ia mulai penasaran, seperti apa wujud Liz Nadiah yang terus-menerus disebut-sebut oleh orang-orang aneh itu? Namanya cukup cantik.
Hingga muncullah seonggok raga, dengan busana kedodorannya, membelah kerumunan yang cukup menyesaki ruangan kecil itu. Jadi wanita ini yang menolongku. Jelek sekali. Ia membuang wajah ke lain arah.
Dan saat ini ....
Segelas susu hangat didampingi semangkuk bubur panas, baru saja diletakkan Liz Nadiah di meja kecil yang terdapat di samping ranjang di mana Andromeda setengah berbaring. "Makanlah, Tuan. Agar tubuh Anda cepat pulih."
Namun baru saja tapak kakinya mencapai ambang pintu, suara bass itu menggema beriringan dengan suara deru hujan yang baru saja turun. "Tunggu!"
Sesaat memejamkan mata dalam posisi membelakangi, Liz Nadiah kemudian berbalik. "Ada apa, Tuan? Apa Anda butuh sesuatu yang lain?"
__ADS_1
Belum Ada tanda-tanda pria itu akan menjawab. Ia masih asyik menyapu penampilan Liz Nadiah yang mungkin menurutnya ... tak ada menarik-menariknya.
"Tuan, saya sedang bertanya. Dan tolong jaga pandangan Anda."
Andromeda mengerjap salah tingkah. "Uh, hey, apa kau pikir, aku menatapmu karena tertarik, hm?" Lantas tersenyum kecut. "Yang benar saja."
Bukan karena pamrih, mulanya Liz Nadiah menerka, pria itu memanggilnya untuk mengucapkan setidaknya 'terima kasih' padanya. Tetapi ... hh, penguasa perkebunan yang dipuja masyarakat itu, ternyata tak lebih pintar dari para pengamen jalanan yang sering ditemuinya di dalam bus. Mereka bahkan masih mengucapkan salam, dan terima kasih saat kegiatannya telah usai. "Lalu untuk apa Anda memanggilku?" Dengan masih mencoba bersikap biasa saja.
"Ah, itu ...." Adromeda seperti terjebak dalam permainannya sendiri. "Aku hanya ingin tahu. Umm ...." Setelah berpikir sesaat, wajah kikuknya lantas berubah terpulas binar. "Apa kau sedang menyusui?"
Ha?
Tentu saja pertanyaan itu membuat mimik tenang Liz Nadiah menjadi cengang. "Maksud Anda, Tuan?"
"Jawab saja pertanyaanku."
"Bisa ulangi pertanyaan Anda."
Apakah pria itu sedang melecehkannya?
Andromeda mendengus. "Kutanya, apa kau sedang menyusui?"
"Tidak."
"Syukurlah. Berarti susu yang kaubawa itu ... bukan berasal dari perasan ASI-mu."
Sepasang mata Liz Nadiah sontak melebar. "Apa katamu, Tuan? Kaupikir aku tidak waras, hh?"
Andromeda menggedik bahu. "Aku hanya takut saja."
Liz Nadiah mulai meradang. "Lalu, apa kau juga akan bertanya, apakah bubur itu berasal dari dalam ususku, huh?!" Seraya menunjuk mangkuk berisi bubur putih itu di atas meja.
"Kalau iya, lalu apa jawabanmu?"
Kalimat dengan nada enteng itu, membuat Liz Nadiah semakin geram. "Sepertinya aku dan warga desa telah salah menyelamatkan orang. Jika tahu sebodoh itu orang yang telah kami selamatkan, pasti kami biarkan saja dia mati kedinginan di atas batu sungai itu!" Seraya melenggang meninggalkan Andromeda yang tercengang dibuatnya.
"Heyy!! Apa kau tidak tahu siapa aku?!!" Andromeda berseru tak terima.
Mendengar itu, Liz Nadiah menghentikan langkahnya beberapa jarak di depan kamar. "Lalu apa peduliku!!"
__ADS_1