
Kenan Lingga masih beradu dengan perasaannya.
Apakah karena pria yang berada di hadapannya ini, Liz Nadiah sampai membuatnya pulang dalam keadaan hampa--menolaknya?
Dilihat dari luarnya, Kenan Lingga jelas merasa kalah dari Andromeda, walaupun sebenarnya keduanya masih pantas untuk bersaing. Karna Kenan ... juga punya karisma seorang Don Juan, meskipun tak seunggul Andromeda.
Tajam matanya menatap Andromeda penuh tanya. "Tuan ini ... apakah pria yang dicintai Nadiah saat ini?"
Menanggapi pertanyaan itu, Andromeda menarik sedikit sudut bibirnya ... ringan sekali. Mengangkat cangkir kopinya, ditatapnya sesaat, kemudian disesap cairan pekat di dalamnya itu perlahan. "Kalau aku bilang ... iya, bagaimana menurutmu, Tuan Kenan?" Andromeda balik bertanya, sembari menaruh cangkirnya kembali pada alas bundar bercorak tulip pasangannya.
Kening Kenan Lingga berkerut, keruh. Perasaannya semakin tercubit tak menentu. "Tidak bisakah kau menjawab lebih jelas, Tuan Andromeda?"
"Akan aku jelaskan. Tenang saja, Tuan Ke--, umm ... maksudku ... Dokter Kenan."
Kernyitan di paras Kenan Lingga bertambah tebal, semakin memupuk untaian tanya yang isinya jelas--satu tema yang sama. Pria itu juga tahu, bahwa ia seorang dokter. Sampai sejauh mana Liz Nadiah menceritakan tentang dirinya pada Andromeda? Sedekat apa mereka?
Untuk membayangkannya saja pun sudah membuat hatinya serasa terpelintir.
"Aku tidak banyak tahu tentangmu," celetuk Andromeda seolah bisa membaca isi pikiran Kenan. "Hanya ... beberapa saja." Seraya mengangkat bahunya, memperlihatkan, seakan soalan itu tak begitu penting untuknya.
"Aku tidak yakin kau orang yang diperhatikan Nadiah saat ini." Kenan Lingga mengutarakan penilaiannya.
Andromeda masih nampak santai. Telapak tangan kanannya asyik memutar-mutar cangkir kopi di hadapannya. Ada semburat senyum menggelitik yang tak kasat mata ditunjukannya ... mungkin pada kesiur angin.
Memang bukan, kata hatinya membenarkan kalimat Kenan Lingga. Dokter Kenan, sayangnya kau tak sehebat Detektif Conan. Jika tak cukup menghargai pria itu, ingin sekali ia meledakan tawa sekeras-kerasnya.
Sean sedikit menegakkan tubuhnya. Atmosfer di sekitarnya mulai terasa kelam. Sepertinya ia akan sangat tolol, jika tetap berada di sana. Tak ada hati melerai dua ekor singa yang mulai mengaum. Yang mungkin akan saling mencakar, sesaat lagi.
__ADS_1
Bola mata Andromeda mengikuti gerak Sean yang bangun dari tempatnya.
"Aku permisi ke belakang sebentar, Tuan Muda, Tuan Ke ...." Sean tersenyum kikuk. Kerja pikirnya sedikit lambat untuk urusan mengingat nama. Ditambah ia tak begitu memperhatikan percakapan kedua pria keren di hadapnnya itu. Tadi Tuan Muda menyebutnya siapa, ya...? Keman, Senan, Kevan, atau ... Ketek?
"Pergi saja."
Sean mengerjap, mementalkan aksi tebak-tebakan di kepalanya, spontan memandang Andromeda. "Ah, iya," sahutnya kemudian dengan wajah bodohnya. Begitu lebih baik. Aku pergi saja. Lalu tanpa babibu, pria kurus dengan tampang babyface itu melanting meninggalkan tempatnya. Kemana saja, asalkan menghindari mereka, pikir Sean.
Tersisalah Andromeda bersama ... mungkin rivalnya, saling bertatap. Seperti sebelumnya, berbanding terbalik dengan sorot serius Kenan Lingga, Andromeda masih memasang senyuman sintingnya, seolah ada kesenangan tersendiri memainkan dan memelintir tempramen buruk Kenan Lingga.
"Nadiah ... dia wanita yang menarik. Aku suka. Dia merawatku dengan sangat telaten saat aku sakit. Dari caranya aku yakin, dia melakukannya dengan cinta," tutur Andromeda menyelipkan kalimat itu--hanya untuk menggoda Kenan. "Terbukti, alergiku yang biasanya memakan waktu paling tidak seminggu, oleh tangan Nadiah, dua hari aku sudah pulih."
Cukup mengusik perasaan Kenan Lingga. Benarkah seperti itu? Nadiah bahkan tak pernah menunjukan apa pun padanya. Selain aroma peduli yang mungkin ... sewajarnya saja sebagai teman.
"Nadiah, tinggal dipoles sedikit saja, sepertinya akan cukup pantas bersanding denganku," sambung Andromeda lagi, konyol.
Andromeda terkekeh pelan. "Aku tidak berkata seperti itu," katanya enteng. "Hanya sedikit merasa kalau wanita itu ... terlalu biasa saja."
Gigi di dalam mulut Kenan Lingga bergemeletuk saling beradu. Cukup memantik amarahnya mendengar pernyataan bodoh Andromeda. Bagi Kenan, Liz Nadiah terlalu luar biasa untuk dikatakan biasa.
Bisa-bisanya pria itu ... setelah mengaku teman pria, juga orang yang dicintai Liz Nadiah, sekarang malah dengan enteng mengomentari penampilan wanita yang sangat dikagumi juga dicintai Kenan Lingga itu seolah-olah bukan seleranya. Tolol!
Di pikirnya ia mulai menyimpulkan, bahwa Andromeda bukanlah pria yang baik dan tepat untuk Liz Nadiah.
"Aku tidak peduli siapa kau, Tuan Andromeda. Tapi aku ingatkan, agar kau tak mendekati Nadiah lagi ... satu senti pun!" gertak Kenan Lingga dengan sorot berkilat tegas. "Meskipun aku tak bisa memilikinya, setidaknya tidak akan kubiarkan dia bersama orang sepertimu!"
Andromeda sedikit tersentak mendengar pernyataan terakhir Kenan Lingga, namun masih bisa disembunyikannya di balik topeng senyuman tipis yang menipu. Bukan karena gertakan pria itu, tetapi ... sedikit informasi singkat yang baru saja diucapkan lawan bicaranya. Sekilas menatap pria di hadapannya, menelisik. Jadi pria ini bukan kekasih Nadiah, kemudian tersenyum simpul.
__ADS_1
Andromeda menegakkan tubuhnya, masih dengan senyum percaya dirinya. "Memangnya menurutmu aku orang yang seperti apa?" ia membalas dengan pertanyaan. "Sepertinya kau baru saja ditolak, Dokter." Sarkas ucapnya mengejek. Namun dalam sekejap, ekspresi gilanya itu berangsur memudar, lalu datar. "Jika aku katakan ... aku tidak mau, kau mau apa, Tuan Kenan?"
Di sisi lain, di balik pintu yang mengarah ke taman belakang restoran, dengan sedikit menyembulkan kepalanya ke bagian dalam--mengintip, Sean menepuk keningnya, melihat kelakuan Andromeda. Bukannya makan, boss-nya itu malah sibuk menggoda emosi pria itu. Dasar sinting, umpat Sean dalam hatinya. Apa untungnya coba?
Dengan masih memasang ekspresi geram, Kenan Lingga berujar, "Aku akan memaksanya untuk meninggalkanmu!"
"Dan kau tak akan berhasil, Tuan!" Andromeda menghardik tegas. "Jika kau saja bukan siapa-siapanya, lalu apa hakmu melarangku mendekatinya?"
Sepanjang perjalanan menuju hotel, Andromeda tak hentinya memendar senyum. Kenyataan bahwa Kenan Lingga bukan bagian yang penting dalam hidup Liz Nadiah, cukup membuatnya senang.
Kesempatan selalu ada, meski dalam pusaran air di tengah laut sekali pun. Setidaknya begitu untuk saat ini.
Sean mengela napas lega. Ia menyetir perlahan dengan perasaan cukup tenang. Pulang tanpa membawa lebel troublemaker dari restoran akibat pertemuan konyol Andromeda dengan pria bernama Kenan itu.
Andromeda menariknya keluar setelah mengucapkan--entah kalimat apa, hingga membuat Kenan Lingga tak bersuara sedikit pun, bak kecoa terinjak.
"Tuan Muda, apakah ini artinya ... Anda akan mengejar Nona Nadiah?" Sebait keingintahuan diungkapkan Sean. Sekilas menatap Andromeda yang masih sibuk memainkan ponselnya, tersenyum-senyum.
"Dia bahkan tak lari dariku, Sean. Untuk apa aku mengejarnya."
Sean memutar bola matanya. Salah bertanya lagi.
Harusnya tadi aku bertanya, apa ukuran celana dalammu, Tuan?
"Iya, Anda benar, Tuan Muda," kata Sean akhirnya.
__ADS_1
...***...