
"Aku rindu kamu, Shishi. Akhirnya aku menemukanmu."
Keterkejutan Shinar merambat ke puncak. Sepasang matanya telah lebar membingkai. Apakah ia tak salah dengar? Pria yang memeluknya ini ... memanggilnya Shishi.
Tak ada yang tahu tentang panggilan kecilnya itu, kecuali ....
"Kahfi," gumam Shinar tersentak, manakala pikirnya mengingat sosok lembut berbadan kurus, sahabat kecil yang saat itu selalu berperan sebagai kakak untuknya. Kahfi Albareeq!
Pria itu sontak melepaskan pelukannya. Ia lalu mengangguk cepat, menatap Shinar dengan tatapan bahagia. "Iya, Shishi, ini aku ... Kahfi."
Shinar menutup mulutnya sesaat, lalu menurunkannya kembali. Kini matanya mulai sibuk bergulir mengabsen setiap detail wajah pria itu dengan mata berkaca-kaca. "Kau ... apa kau ... benar-benar Kahfi?"
Dan pria itu kembali mengangguk meyakinkan. "Iya, Shishi, apa kau tidak kenal aku?"
Semua seperti mimpi bagi Shinar.
__ADS_1
Kahfi adalah teman kecilnya saat keduanya masih duduk di bangku asrama sekolah dasar. Dan nama Shishie, pria kecil itulah yang mencetuskannya sebagai nama kesayangan. Keduanya terpisah saat Shinar memutuskan untuk pindah ke kota lain setelah kelulusan.
Dan saat ini ... anak lelaki dengan rambut belah tengah dan kacamata minusnya itu, telah berdiri menjulang di hadapannya. Tak ada satu pun bagian dari wajah itu yang tak Shinar kenali, selain tubuh tinggi dengan pundak bidang dan rahang yang lebih tegas.
Pemandangan yang benar-benar membuat Shinar tak memiliki alasan apa pun untuk tak meyakini. "Kahfi." Itu sungguh adalah Kahfi-nya. Terlalu serupa untuk mengatakan 'tidak'. Tak lagi bisa menahan perasaannya, Shinar berhambur diri memeluk tubuh pria itu erat. Tangisnya telah pecah mengiring pelepasan kerinduan yang tertahan bertahun lamanya.
Pelukan sepasang manusia itu tak lepas dari pandangan Qinay, yang saat ini memasang wajah terharu, masih berdiri di sebelah tumpukan dedaunannya. Sekilas menghapus air matanya dengan tangis senang juga senyuman.
Kahfi melepas pelukannya, lalu beralih menempatkan telapak tangannya di pundak Shinar. "Ikutlah denganku."
"Kemana?" Shinar ingin tahu.
Air mata Shinar semakin menderas. Perasaan senang bercampur lega memenuhi rongga hatinya saat kalimat itu terlontar tegaa dari mulut Kahfi.
Kahfi meraih telapak tangan Shinar, lalu digenggamnnya. Menatap netra gadis itu lekat-lekat. "Shishi ... menikahlah denganku. Kita tinggalkan kota ini. Kita bangun hidup yang baru."
__ADS_1
...°°°...
"Kenapa dia tak menungguku?" Cukup mengecewakan bagi Liz Nadiah, saat mendengar Shinar telah pergi dari rumahnya tanpa berpamitan padanya, meskipun gadis itu telah menitipkan beberapa pesan berisi ucapan terima kasih, juga permintaan maafnya.
Bukan tentang sebait kata bertuliskan 'pamrih', bukan sama sekali. Namun setidaknya Liz Nadiah ingin mengucapkan selamat jalan, semoga bahagia, atau semacamnya secara langsung pada Shinar.
"Pria itu bilang ... penerbangan mereka sudah terjadwal pagi ini," jelas Qinay mengingat perkataan pria yang tak sempat menyebutkan nama padanya itu, beberapa saat lalu sebelum ia membawa Shinar besertanya. "Aku juga tidak paham soal itu," lanjutnya sedikit menggeleng.
"Lalu, apalagi yang diucapkannya?" tanya Liz Nadiah yang kini duduk di samping Qinay di sofa ruang tamunya.
Qinay nampak sedikit berpikir. "Dia bilang, dia beruntung menemukan Shinar lebih cepat. Jadi dia bisa membawa Shinar sebelum waktu penerbangannya tiba. Begitu katanya," tutur Qinay. "Sepertinya pria itu orang cukup penting Kak Nad." Ia menerka. "Hanya penampilannya saja yang yang sedikit ... norak."
Liz Nadiah terdiam menanggapi perkataan Qinay. Entah mengapa hatinya tak sedikit pun merasa lega mendengar bait demi bait kata yang dikabarkan Qinay tentang Shinar. Ada perasaan tak memberi dalam hatinya, tentang pria itu. Mengapa tiba-tiba datang, lalu seolah tergesa membawanya pergi. Itu terlalu aneh dan cukup mencurigakan bagi Liz Nadiah. Namun terlihat meyakinkan dalam tangkapan Qinay. Pandangan yang berlainan arah. Antara mata, dan juga hati.
__ADS_1
Ya Allah, jagalah Shinar di mana pun dia berada, harap Liz Nadiah dalam hatinya.
...****...