
Kilas balik 12 tahun yang lalu.
Bunyi sirine yang berasal dari bagian atap beberapa mobil ambulans juga aparat kepolisian, mengudara memekakkan telinga di sekitaran area terjal itu.
Jalanan berkelok yang dibangun di atas sebilah luas tebing curam, yang terhampar di bawahnya hutan dengan berbagai jenis pepohonan rindang dan menjulang, baru saja menjatuhkan sebuah bus yang mengangkut di dalamnya puluhan anak santri laki-laki dengan rentang usia 15-20 tahun beserta lima orang pengajarnya. Mereka berasal dari sebuah asrama pesantren di bagian timur kota itu.
Berdasar hasil penyelidikan polisi, mobil itu mengalami lepas kendali, setelah hujan deras mengguyur dan membuat jalanan yang terakhir mereka lalui menjadi licin, hingga berakhir naas di dasar jurang.
Seluruh penumpang dinyatakan tewas, sesaat setelah kendaraan besar itu mengalami ledakan dahsyat yang berimbas membakar cukup banyak pepohonan di sekitarnya.
Hingga sore hari, puluhan orang telah berjejal menyesaki jalanan itu. Raung tangis histeris dari keluarga korban, terdengar pilu, penuh luka hingga menyoyak perasaan.
Proses evakuasi berlangsung dramatis. Jasad-jasad dimasukkan ke dalam kantung jenazah dalam keadaan hitam mengenaskan, usai petugas berhasil memadamkan api, dibantu Tuhan dengan hujannya. Tubuh-tubuh tak bernyawa itu, tak satu pun bisa dikenali.
Dua orang polisi wanita terlihat sibuk menenangkan seorang ibu paruh baya yang terus meraung mencakar tanah di tepian jalan, menatap kepulan asap yang berasal dari bangkai mobil naas yang telah menghitam di jurang sana.
Dialah Muana!
Salah satu dari puluhan santriawan itu, adalah anak laki-lakinya satu-satunya.
...WISATA RELIGI BERUJUNG MAUT...
Deretan kata yang mengisi tajuk utama di dalam surat kabar, keesokan harinya.
..........
..........
Tengah malam, di hari kedua kecelakaan maut itu terjadi.
Pendar cahaya buram yang berasal dari sebuah senter yang disorotkan seseorang, mengedar ke beberapa arah di tempat gelap itu.
Terlihat satu orang memikul dua buah cangkul dipundaknya, dan tangan lainnya ia gunakan untuk memegang senter sebagai penerang jalan yang ditapakinya. Sedang dua lainnya bahu-membahu menyeret masing-masing satu kantung hitam yang sepertinya sangat berbobot di balik tubuhnya.
"Cepat cari tempat! Tanganku sudah pegal. Mayat sialan ini berat sekali!" keluh salah satu dari ketiga pria itu, seraya terus menyeret beban di belakangnya. Buliran peluh nampak bercucur di pelipisnya meskipun udara cukup dingin dan lembab menyelimuti sekitaran hutan.
"Diam kau! Kaupikir aku tidak berat!"
"Makanya cepat!"
Bau hangus sisa kebakaran masih terasa menyesakkan penciuman mereka.
"Cepat gali lubangnya!"
Dua kantung besar dengan beban lebih dari satu kwintal itu, digeletakan begitu saja di tanah. Dua orang dari mereka mulai sibuk mencangkul tanah yang pilih di bawah sebuah pohon besar, yang entah apa jenisnya.
...-...
Satu jam kemudian, dua kantung hitam besar berisi mayat dua orang wanita itu telah ditimbun di dalam lubang besar yang baru saja mereka gali. Dedaunan kering beserta ranting-ranting, mereka sebar di atas tumpukan tanah itu, untuk menyamarkan keadaan, agar tak ada yang curiga jika suatu waktu ada orang yang melintasi kawasan itu.
__ADS_1
"Ayo cepat pergi! Tadi siang di ujung tebing sana baru terjadi kecelakaan. Aku takut!" Salah satu dari mereka berseru.
"Jika jadi penakut, kenapa kauambil pekerjaan ini." Lainnya mencibir, seraya memikul kembali cangkul itu dipundaknya
Mereka mulai berjalan meninggalkan area itu menyusuri kegelapan yang mencekam, menuju ke tempat di mana mereka memarkirkan mobilnya di tepian hutan.
"Aku takut setan! Bukan takut mayat."
Pria di sampingnya membalas, "Kalau begitu dirimu sendiri yang kautakuti. Bukankah kita memang setan."
"Bukan kita yang setan, tapi Diraga!"
Debat kedua pria itu terhenti, setelah teman mereka yang berjalan lebih dulu, berseru, "Hey kalian berdua! Kemarilah!"
Usai saling melempar pandang, kedua pria itu laju berlari tergopoh menghampiri teman mereka yang sudah berjongkok menghadap sesuatu di depan sana.
"Ada apa?!"
"Aku menemukan orang! Sepertinya dia masih hidup."
Dengan wajah terkejut kedua orang itu ikut menyamakan posisi. "Dia seorang remaja," ungkapnya setelah membalik tubuh yang menelungkup itu. "Kenapa bisa bocah ini ada di sini?"
"Apa mungkin dia korban kecelakan maut kemarin siang itu? Denyut nadinya lemah sekali."
"Bisa jadi."
"Kita apakan bocah ini?"
"Siapa yang kalian bawa?"
Pria yang tak lain adalah Diraga Madewa itu, bertanya seraya menyongsong ketiga orang suruhannya di bagian depan bangunan terpencil itu.
"Kami menemukannya di tengah hutan. Sepertinya, anak ini salah satu korban selamat dari kecelakaan bus itu, Bos." Salah satu pesuruh itu menjelaskan.
Tubuh remaja itu sudah dibaringkan di atas teras bangunan yang kini mereka pijaki. "Apakah dia masih hidup?" tanya Diraga lagi seraya menunduk menatap wajah remaja naas penuh luka dan percikan darah itu.
"Dia masih hidup, Bos. Hanya saja denyut nadinya sudah lemah. Aku pikir dia tidak akan bertahan lama."
"Benarkah?" Kening pria yang disapa 'bos' itu berkerut.
"Sepertinya begitu, Bos," balas pria pesuruh itu sekali lagi. "Umm, Bos ...." Sejenak menggantung kalimatnya.
Tatapan Diraga Madewa beralih pada pria kurus itu. "Apa?"
"Tubuh anak ini lumayan tinggi dan berisi. Sepertinya organ dalamnya lumayan juga." Wajahnya menyeringai menatap Diraga Madewa. Lalu beralih saling melempar senyum dengan kedua temannya. Seolah ide yang dicetuskannya cemerlang.
Sejenak ditatapnya ketiga wajah anak buahnya, lalu turun pada tubuh lemah yang tergolek di bawah kakinya. "Tidak! Panggilkan Dokter Wang sekarang juga di ruang bawah tanah. Suruh dia tangani anak ini sampai membaik."
__ADS_1
Ketiga pria itu terkejut. "Maksudnya ... Bos ingin Dokter Wang mengobati anak ini?" tanya salah satunya memastikan.
"Ya. Aku harus pergi sebelum pagi datang. Ingat, tiga hari lagi aku akan datang ke sini untuk melihat keadaannya. Pastikan, anak ini harus sudah baik-baik saja."
Entah apa tujuan Diraga Madewa. Yang jelas keputusannya itu cukup ditangkap tak lazim oleh ketiga pesuruhnya itu.
..........
..........
Tiga hari kemudian ....
Diraga Madewa baru saja turun dari dalam mobilnya. Menapak halaman berbatu itu dengan kepala tegak dan langkah congkaknya seperti biasa.
Satu orang pria terlihat telah menyambutnya di ambang pintu.
"Selamat sore, Bos."
"Mana anak itu?" tanya Diraga Madewa tanpa menggubris sapaan anak buahnya.
"Ada di kamar atas, Bos."
"Bagaimana keadaannya?" lanjut Diraga seraya berjalan memasuki bangunan terpencil tanpa tetangga itu.
"Sudah sedikit membaik. Hanya saja ...." Penjelasan lelaki kacung itu terhenti seolah ada hal yang mengganjal di ujung lidahnya.
"Ada apa?" Tanpa melirik, langkah kaki Diraga Madewa telah mencapai anak tangga terakhir di lantai dua bangunan itu.
"Anak itu kehilangan ingatannya, Bos."
Dan pernyataan itu sukses menghentikan ayunan tungkai kaki Diraga Madewa. "Apa katamu?" Ditatapnya wajah anak buahnya itu dengan mata terpicing.
"Benar, Bos. Bocah itu mengalami amnesia. Ia bahkan tidak ingat siapa namanya setelah sadar kemarin sore."
Tanpa bertanya lagi, Diraga Madewa bergerak cepat menuju kamar di mana anak laki-laki itu berada. Namun langkahnya terhenti saat berpapasan dengan seorang pria yang tak lain adalah dokter ahli bedah ilegal kepercayaannya, yang juga menangani bocah remaja itu, tepat di depan pintu kamar perawatan si bocah.
"Anak itu tak ingat apa pun, Tuan Diraga." Dokter pria berdarah Tionghoa bernama Wang Xian itu mencetuskan. "Sepertinya kita harus membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan kepastian tentang ingatannya."
"Aku tanya, selain ingatannya, apakah fisiknya juga terluka parah?" tanya Diraga Madewa belum menanggapi pendapat dokter itu.
"Kakinya mengalami patah tulang. Selebihnya, selain kepala, semuanya baik-baik saja. Luka-luka kecil di wajah dan tubuhnya, bisa pulih dalam waktu seminggu," Wang Xian menjelaskan.
"Apakah kakinya yang patah itu bisa normal kembali?"
"Tentu, Tuan. Tapi membutuhkan waktu yang cukup lama. Mungkin ... tiga sampai empat bulan lamanya."
"Kalau begitu dia tak perlu dirawat di rumah sakit. Aku akan mendatangkan spesialis ortopedi untuk merawatnya di rumahku."
Wang Xian cukup terkejut mendengar hal itu. "Lalu untuk ingatannya?"
__ADS_1
"Biarkan dia tak kenal siapa dirinya. Karena aku sendiri yang akan membentuk jati dirinya menjadi pribadi yang baru." Sorot tajam Diraga Madewa berkilat tak terpatahkan. Kemudian meneruskan langkah kakinya memasuki kamar di mana remaja laki-laki itu terbaring dengan mata terpejam. Ia kini berdiri tepat di samping ranjangnya.
"Mulai saat ini ... namamu ... ZACK SHANGRA."