
"Siapa kalian sebenarnya?" Tiga kata yang terlontar dari mulut Liz Nadiah, satu detik setelah lakban di mulutnya ditarik salah seorang dari beberapa pria yang kini berdiri di beberapa titik di ruangan itu. Sebuah ruangan pengap tanpa ventilasi yang berada di dalam sebuah bangunan tua tak berpenghuni--entah di mana.
Suasana lembab dengan bau menyesakkan dari lumut dan jamur, menyeruak ke dalam penciuman Liz Nadiah saat ini.
Sedikit yang diingat wanita itu; Jalanan berundak penuh onak dan kerikil, berkelok-kelok melewati jejeran pepohonan rindang, hingga melewati sungai dangkal dengan bebatuan di sepanjangnya, menjadi rute terjal untuk sampai di tempat ini.
Yang jelas, saat ini ia berada jauh hingga melewati perbatasan kota.
Melihat tak ada raut ketakutan di wajah Liz Nadiah, cukup membuat kagum seseorang yang terduduk bersilang kaki di sebuah bangku kayu di ujung ruangan. Sebatang rokok dengan pipa hisap berukir naga, terselip di antara telunjuk dan jari tengahnya. Nampak kepulan asap mengerubungi sekitarnya.
"Aku tanya siapa kalian?! Dan apa yang kalian inginkan dariku?!" tanya Liz Nadiah lagi sedikit bertambah oktaf.
Menekan api rokoknya ke dasar meja kayu di sampingnya, hingga padam, lalu menaruhnya serampangan, pria yang tak lain Diraga Madewa itu terlihat mulai bangkit. Mendekat ke arah Liz Nadiah dengan kedua tangan diselipkan di masing-masing saku celananya.
Sepasang bola mata Liz Nadiah mengikuti gerak pria itu.
"Tenanglah, Nona. Tidak perlu takut," kata Diraga Madewa santai. Melipat tangannya di depan dada, lalu membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Liz Nadiah, menelisik. "Kau sangat manis. Wajahmu ... tak jauh berbeda dengan Kahfi."
Mendengar nama itu, degup jantung Liz Nadih sontak terlonjak. Apakah pria tua itu baru saja menyebut nama Kahfi? Apakah ia tidak salah dengar? "Kau ... tahu kakakku?" tanyanya tak menyangka.
Diraga kembali tersenyum. "Kau pasti terkejut?" Mengangkat tubuhnya kemudian berjalan menghitari Liz Nadiah yang masih diam menunggu hembusan kalimatnya selanjutnya. "Ya, aku kenal dia. Bahkan sangat mengenalnya. Ia tumbuh menjadi pria yang cerdas."
"Katakan di mana dia?!" Liz Nadiah mulai tak sabar. Sebenarnya mulutnya cukup gatal untuk tak menyebut nama Zack Shangra, namun ditahannya. Ia ingin tahu, apakah pemikirannya akan cocok dengan kenyataan yang mungkin akan diungkapkan pria tua itu sesaat lagi.
Semoga.
"Kau benar, Nona." Telapak tangan Diraga memberi gestur memerintah pada anak buahnya.
__ADS_1
Satu di antaranya bergerak tanggap. Pria kekar berkaos ketat hitam dengan kalung rantai berbandul miniatur tengkorak manusia yang mengalung di lehernya, dengan sigap menaruh kursi kayu tanpa senderan itu tepat di depan Liz Nadiah. Yang kemudian diduduki santai oleh Diraga Madewa. Sedangkan pria berkalung tengkorak itu, kembali ke tempatnya semula.
Liz Nadiah masih menunggu dengan resah.
"Keyakinanmu tentang siapa Zack, Zack Shangra, puteraku--" Diraga meralat, "Uhh, maksudku ... putera angkatku ... benar adanya." Ia tersenyum. "Zack adalah Kahfi. Dan Kahfi adalah Zack," jelasnya lagi. "Apa kau senang?"
Sepasang mata Liz Nadiah tunai membulat. Wajahnya turun merunduk menatap ubin kotor dengan debu bercampur sobekan-sobekan tripleks yang mengelupas dari langit-langit ruangan di bawah kakinya, dengan perasaan berderu. Pikirnya melayang jauh pada sosok lelaki yang ditemuinya siang tadi sebelum Andromeda.
Jadi ... dia memang Kahfi. Dia benar-benar Kahfi. Dan keyakinanku sama sekali tidak salah? Ya Allah ....
Setelah cukup ber-euforia dengan pikirannya, Liz Nadiah mulai mengangkat wajahnya. Menatap tajam Diraga Madewa yang mulai kembali menghisap rokok yang baru saja disodorkan anak buahnya.
"Lalu apa alasanmu menculikku?" Tentu alasan itu perlu diketahui Liz Nadiah. Karena ia merasa memiliki masalah apa pun dengan pria tua yang duduk di depannya itu.
Diraga terkekeh menerima pertanyaan itu. "Pertanyaan yang bagus, Nona," katanya tenang. "Karena aku tak suka bertele-tele, jadi aku akan menjawabnya sesuai yang ingin kauketahui."
"Karena kau ... punya potensi untuk menghancurkanku melalui Zack." Ekspresi Diraga berubah kelam. Manik matanya memerah bengis menatap Liz Nadiah, yang saat ini cukup tersentak karena mendengar jawabannya itu.
"Apa maksudmu menghancurkanmu?" Liz Nadiah kembali bertanya, semakin dirongrong rasa penasarannya.
Dengan sedikit memajukan tubuhnya, telapak tangan kanan Diraga terangkat mencengkram dagu manis wanita itu, hingga menampilkan wajah yang melengak karena terkejut. "Karena kehadiranmu di dekatnya, bisa mengembalikan ingatannya, yang sudah susah payah kujejali pendidikan yang tidak murah. Kaumengerti??!" Lalu dilepasnya cengkraman itu kasar. "Tapi kau tenang saja, Nona," lanjut Diraga lagi dengan tubuh yang kembali menegak. "Aku tidak akan membunuh atau melenyapkanmu dengan mudah."
Belum usai gulatan isi kepala Liz Nadiah tentang Kahfi yang ternyata hilang ingatan, ucapan Diraga Madewa baru saja cukup membuatnya serasa tertimpa batu besar yang menggelinding dari atas bukit. Apa yang akan dilakukan pria itu padanya?
Sayang sekali, tubuhnya terikat bersama kursi yang didudukinya, juga kakinya yang tak leluasa digerakkan karena sama-sama dililiti tali, benar-benar menyulitkannya.
"Kau sangat manis. Kulitmu juga halus dan bersih. Sepertinya anak buahku ... akan sangat terhibur melihat kau tanpa busana," ujar Diraga Madewa dengan rekah senyuman iblisnya. "Setelah aku yang lebih dulu mencicipimu tentunya."
__ADS_1
Semua pria yang terdiri dari empat orang di belakang Diraga itu, tergelak.
"Aku kedua setelah Anda, Boss." Satu pria berujar semangat.
"Aku yang paling tua, jadi aku yang duluan." Satu lainnya tak terima.
"Hey, istrimu cukup besar untuk memuaskanmu. Biarkan aku yang masih awam ini menjelajahnya lebih dulu."
Kalimat-kalimat absurd itu membuat Liz Nadiah mulai diserang putus asa. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya, berharap tali yang meliliti badannya bisa terlepas, dan ia bisa melawan para jahannam itu dengan kepal juga tendangnya.
Diraga Madewa hanya tersenyum tipis menanggapi celotehan menyenangkan para pesuruhnya.
"Tidak ada gunanya kaumelawan, Nona. Sebaiknya persiapkan dirimu untuk menyenangkanku," ujarnya karena melihat pergerakan sia-sia Liz Nadiah. Ia kembali membungkukan dirinya tepat di depan wanita itu. Jarak wajah keduanya kini nyaris terkikis.
Hembusan nafas beraroma tembakau menyeruak membentur kulit wajah Liz Nadiah. Ia beringsut spontan, memalingkan wajah ke samping kanannya dengan ekspresi meringis, tak ingin pria tua itu sampai menyentuh setitik pun bagian dari wajahnya itu.
Diraga membelotkan hadap wajahnya ke dekat telinga Liz Nadiah. Lalu berujar tepat di depan lubang pendengarannya, "Aku akan merusak diri dan juga mentalmu," sambungnya dengan suara berat menekankan. "Hingga kau gila dan kehilangan minat untuk mengusik kehidupan putraku, Zack." Lalu bangkit perlahan dengan seringainya.
Rentetan kalimat itu cukup mengerikan didengar Liz Nadiah. Sesaat memejamkan matanya, untuk mengambil satu bagian pikirnya yang mungkin bisa menjadi jalan keluar untuknya saat ini. Ia tak ingin sampai harga diri dan kehormatannya dikoyak para jahannam itu.
"Jika begitu, lebih baik kaubunuh saja aku sekarang." Dengan kilat mata teguh Liz Nadiah mengucapkan kalimat itu, seolah benar-benar siap menghadapi sakitnya kematian.
Anggap saja itu adalah sebentuk negosiasi.
Jika ia mati dengan cara dipenggal, ditembak, atau dirajam belati saat ini juga, setidaknya kehormatannya masih tetap terjaga. Dan pria tua itu bisa tetap memiliki Kahfi tanpa gangguannya. Karena bagaimana pun, menurut pandangan Liz Nadiah, meskipun cukup mengerikan dengan jiwa tiran dalam dirinya, pria di depannya ini, terlihat cukup menyayangi kakaknya. Dan itu tak terlalu buruk.
Seringai iblis kembali terlukis di wajah Diraga Madewa. Masih ditatapnya Liz Nadiah dalam posisi berdiri bersidekap tangan. "Sayangnya ... kematian terlalu pahit untuk memberi hukuman pada bentuk ancaman semanis kau, Nona."
__ADS_1