
Daun-daun berhambur ke segala arah, saat mobil itu melaju cepat seolah terburu-buru.
Di balik kemudinya, telapak tangan Andromeda bergerak seperti orang kesurupan. Wajah tampan tak manusiawi miliknya merah berpendar dalam kekesalan. Rahang mengetat, mata berkilat, juga gemeletuk gigi yang saling beradu, jelas menunjukan ia tak sedang tenang saat ini.
Ia tak mengerti, mengapa perasaan suka menjadikannya setolol itu.
Beberapa saat lalu, ia kembali mendatangi rumah Liz Nadiah. Memarkirkan mobilnya di tempat yang sama seperti yang lalu. Entah untuk apa tujuannya.
Tapi setelah melihat kenyataan tadi, ternyata kekuatan hati yang mendorongnya untuk mendatangi rumah sederhana itu kembali, adalah untuk menyadarkannya, bahwa ia harus berhenti, bahkan sebelum memulainya.
Adegan berpelukan penuh haru antara Liz Nadiah dan Kenan Lingga, masih membayang jelas di pusat pikir juga pelupuk matanya. Sedikit pun tak dipahaminya, kenapa wanita yang bahkan dari tampilannya saja pun, tak masuk kriterianya sama sekali, bisa membuatnya tersiksa sedemikian, dalam rentang waktu sesingkat itu.
Beruntung waktu menyadarkannya, sebelum ia terjebak lebih jauh dalam perasaannya.
Sebelumnya ia tak pernah jatuh cinta secepat ini. Bahkan pada wanita itu. Wanita yang pernah mengisi hatinya beberapa tahun lalu.
Roda-roda mobilnya masih bergulir di penghujung jalanan desa. Dalam gusar perasaannya, dering ponselnya berbunyi. Karena tak membawa headset, Andromeda menepikan sesaat laju mobilnya untuk mengangkat panggilan itu, demi keselamatan. "Ya, Sean."
"...."
"Iya, aku pulang sekarang."
Diletakannya kembali benda pipih itu ke dashboard mobilnya. Baru seulas telapak tangannya menyentuh perseneling untuk menjalankan kendaraannya itu kembali ....
"Keluar!!"
Kepala Andromeda bergerak mengedar. Di depan, samping kiri dan kanan pintu mobilnya, terhitung empat orang pria berpakaian hitam berjejer mengelilingi. "Siapa orang-orang itu?" gumamnya bertanya lebih pada dirinya sendiri.
"Keluar!!!" Teriakan itu semakin kencang mengudara. Bertambah dengan gedoran keras di luar kaca mobilnya.
Tanpa berpikir, Andromeda membuka pintu di sampingnya, lalu turun dengan kerutan kental di wajahnya. "Ada apa?"
BUGGG
Satu pukulan telak menghantam perutnya tanpa aba-aba. "Jika tidak ingin mati! Serahkan semua hartamu!" seru salah satu dari keempat pria itu.
BUGGG
Menyusul di bagian pundak Andromeda oleh satu pria lainnya.
Sekarang ia paham, pria-pria bringas itu ... perampok.
Tubuh Andromeda yang semula menekuk menyentuh perutnya yang terasa ngilu, kini menegak. Wajahnya berganti ekspresi. Ia menyingsing kedua lengan bajunya dengan mata berkilat merah.
Enak saja!
Selanjutnya dengan gerak cepat membabi buta, Andromeda balas mengantam manusia-manusia laknat itu tanpa ampun. Ia merasa menemukan wadah untuk melampiaskan segala amarah dari kekecewaannya saat ini.
Rambut klimisnya kini terlihat berantakan, menjuntai melewati dahinya. Pun dengan kemejanya yang mulai basah bermandi keringat. Anehnya, ia tak merasa kelelahan sama sekali, meskipun orang-orang itu cukup tangguh. Senjata-senjata recehan yang mereka gunakan untuk menyerangnya terlempar begitu saja tak berguna, setelah tepis demi tepis ia gerakan.
__ADS_1
Sungguh memukau!
Suara pintu mobil yang baru saja ditutup Andromeda dari dalam, berdebug keras. Mesin kembali berderu.
"Minggir kalian, jika tak ingin terlindas ban mobilku!" teriaknya, sedikit menyembulkan kepalanya pada kaca mobilnya yang terbuka.
Para rampok yang telah babak belur itu, berhambur terseok-terseok dengan wajah meringis menahan nyeri di sekujur tubuh dan wajah mereka. Keempatnya menyisi memberi jalan pada sang pemenang.
...***...
"Jangan banyak bertanya! Siapkan air hangat. Aku ingin mandi!"
Melihat Tuan Mudanya datang dengan wajah keruh, juga setitik darah di ujung pelipisnya cukup membuat Magda, janda 30 tahunan, asisten rumah tangga Andromeda itu, kelabakan. Antara rasa terkejut juga cemas yang terbungkus menjadi satu di wajahnya.
Seruan telak Andromeda tak dibantahnya. Ia melenggang naik menuju kamar Andromeda yang terletak di lantai dua rumah itu, dengan wajah penuh tanya yang tertahan.
Ada apa lagi dengannya? tanya hatinya yang jelas tak akan mendapatkan jawaban apa pun.
Satu jam kemudian ....
Sean telah siap dengan setelan formalnya.
"Mari Tuan Muda. Mobil sudah siap." Ia mengarahkan telapak tangannya mempersilahkan Andromeda yang telah berubah tampilan menjadi rapi dan formal seperti dirinya.
Keduanya berjalan menuju mobil lain yang biasa dikendarai Sean untuk kepentingan bisnis di halaman rumah besar Andromeda.
"Hotel Shangra Madewa," jawab Sean seraya membukakan pintu mobilnya untuk sang atasan.
"Aku baru mendengarnya. Di mana itu?"
"Itu hotel baru, Tuan Muda. Baru beroprasi sekitar satu bulan. Letaknya di ujung jalan seberang Rumah Sakit Permata di tengah kota," jelas Sean.
Andromeda hanya manggut sekilas menanggapi. Sean telah bertengger di balik kemudinya. Menyalakan mesin, lalu melaju dengan apik membelah jalanan di sore yang cukup cerah ini.
"Umm, Tuan Muda, tadi Anda kemana?" tanya Sean ingin tahu, juga sedikit ragu mengutarakannya.
Andromeda yang mulai sibuk dengan ponselnya, hanya singkat menyahuti, "Tidak semua yang kulakukan harus kauketahui, bukan?"
Seperti kecoa terinjak, Sean tak lagi menimpal kata. Salah lagi, keluh hatinya menyesali.
Selang beberapa waktu kemudian, tempat yang mereka tuju telah nampak menjulang di depan mata. Andromeda turun dengan gagah setelah Sean membukakan pintu mobilnya.
"Mana mereka?" tanya Andromeda.
Belum sempat Sean menjawab, seorang wanita bersetel kemeja putih dan span hitamnya, datang menyambut keduanya. "Tuan Andromeda?"
Andromeda mengangguk tipis dengan pulasan senyum yang juga tipis dan sekilas. Namun seribu kali lebih menawan dari jutaan pria tampan di muka bumi ini.
Tuhan, dia tampan sekali.
__ADS_1
Terpaku membisu, gadis itu adalah kesekian ribu yang terjerat pesona tak manusiawi Andromeda.
"Nona!"
Seruan kecil suara Sean membuat wanita itu mengerjap. "Ah iya, maap," ujarnya sedikit membungkuk, dengan wajah meringis menahan malu. "Kalau begitu silahkan ikuti saya. Tuan Besar sudah menunggu Anda di dalam."
Sean hanya menggeleng lucu. Sedangkan Andromeda, seperti biasa dengan paras acuhnya. Kelakuan wanita seperti itu, sudah seperti debu yang tak terlihat dalam pandangannya.
Sesampainya di sebuah ruangan, yang sepertinya memang didesain khusus untuk agenda pertemuan, Andromeda melangkah percaya diri disusul Sean di belakangnya. Wanita pekerja hotel itu telah berlalu meninggalkan area.
"Selamat datang Tuan Andromeda, Tuan Sean."
Seorang pria berusia 50 tahunan bangkit dari kursinya menyambut kemunculan Andromeda dan asistennya, dengan senyuman penuh wibawa. Di sampingnya seorang wanita cantik bersanggul modern dengan pakaian kantor minimnya, juga turut melakukan hal yang sama.
"Silahkan duduk," ucap pria tua itu lagi.
Andromeda mengangguk juga dengan senyuman. "Terima kasih, Tuan Diraga."
Ya, dialah Diraga Madewa. Pria tua pelaku bisnis kotor, yang telah memakan ratusan jiwa sebagai korbannya. Namun beberapa tahun belakangan, ia menghentikan bisnis haram penjualan organ dalam itu, karena suatu hal yang hampir menyebabkan kebocoran. Kini ia bergelut dengan investasi, dibantu Zack Shangra, putra angkatnya yang mengambil bagian mengelola hotel yang kini dipijaknya, juga beberapa klub malam di kota itu.
Satu jam dilalui dengan obrolan seputar bisnis investasi yang akan ditanamkan Diraga Madewa di perusahaan Andromeda. Keduanya terlihat bergantian menandatangani beberapa berkas. Diakhiri dengan aksi jabat tangan tanda persetujuan kerjasama itu.
Kemudian berlanjut pada sesi santap menyantap yang telah disiapkan Diraga Madewa sebagai jamuan penyambutan untuk rekan bisnis barunya itu. Andromeda tak menolak demi menghargai sebuah kerjasama.
Dalam irama denting beradu sendok dan garpu, dering ponsel Andromeda lagi-lagi berbunyi, setelah suara beberapa pesan diacuhkannya sedari tadi. Dilihatnya layar ponselnya yang masih menyala itu sesaat. Sesuai dugaannya. "Mom."
Pandangan semua orang kini tertuju ke arahnya. "Diangkat saja dulu, Tuan Andro." Diraga Madewa menyarankan.
"Baiklah. Aku permisi sebentar." Melenggang meninggalkan meja makan itu, Andromeda berjalan cukup jauh hingga melewati sebuah pintu di ujung ruangan.
Dari pintu lainnya, seseorang tiba-tiba datang dengan seruan, "Paman!" Tanpa malu, seorang gadis bergaun minim memeluk leher Diraga Madewa dari belakang. Kepalanya diposisikan di atas kepala pria tua itu.
"Jen! Kau 'kah itu?" tanya Diraga Madewa seraya mendongak memastikan terkaannya.
"Tadaaa ...!" Wanita berambut curly merah menyala itu laju berdiri merentang tangan, memberi kejutan untuk Diraga Madewa.
Sean membuang pandangannya ke lain arah, seolah jijik menatap aksi kecup peluk dua orang berjauhan generasi itu.
Dan di detik itu pula, Andromeda melangkah ringan kembali memasuki ruangan sebelumnya.
Melihat sosok itu, Diraga Madewa sontak melepas pelukannya. "Ah, Tuan Andro, kenalkan ini keponakanku ...."
Suara Diraga Madewa sepertinya tak menyesap ke dalam pendengaran juga pandangan Andromeda. Tatapannya kini lurus memusat pada wanita yang kini juga menatapnya terkesiap. Pasang mata keduanya bertemu sama-sama dalam keterkejutan.
"Jennefit Moon."
"Andromeda."
..........
__ADS_1