
Saat ini Andromeda berada di sebuah rental mobil--di dekat bandara. Ia akan menyewa salah satu kendaraan tersebut untuk kepentingan transportasinya selama berada di kota ini.
Andromeda melesat pergi meninggalkan pekerjaannya yang hanya tinggal sepuluh persen saja menuju tahap selesai. Perasaan gusar semakin membuatnya nyaris gila. Liz Nadiah tak dapat dihubunginya sejak pagi tadi. Juga Zack Shangra yang lagi-lagi me-reject panggilannya.
Ada apa dengan mereka?
Merasa kesal dengan semua pertanyaannya yang tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya pria itu memutuskan untuk menyusul Liz Nadiah dan Zack Shangra ke Kota S, dengan menghibahkan sisa pekerjaannya pada salah seorang kepercayaannya terlebih dahulu--bukan Sean. Karena asistennya itu kini tengah ia jadikan pengemudi dari sebuah mobil yang baru saja mereka sewa.
Dengan kecepatan penuh, Sean memacu roda empat itu membelah jalanan, menuju hotel yang dikabarkan Liz Nadiah sebelumnya.
Tak lama berselang.
Andromeda berlari kencang setelah keluar dari dalam sebuah elevator, seolah menganggap ubin-ubin itu adalah lintasan marathon. Usai menerima informasi nomor kamar dari petugas resepsionis hotel, ia langsung melanting menujunya, diikuti Sean yang tak bercicit sama sekali--mengerti kecemasan tuannya.
Dan di sinilah keduanya berada. Di kamar hotel yang ditempati Liz Nadiah juga Zack Shangra.
Lalu saat ini ....
__ADS_1
"Apa katamu, Zack?!" Andromeda menggeram.
Zack Shangra nampak santai di posisinya--duduk bersilang kaki di sebuah sofa, dengan sebatang rokok terselip di sela jarinya. "Ya, dia pergi. Dan aku tidak tahu kemana perginya. Ponsel dan barang-barangnya bahkan dia tinggalkan di sini."
Andromeda menangkap ada yang tidak beres dari Zack Shangra. Sepasang matanya terpicing mengamati. Jika Liz Nadiah kabur ... atau sejenisnya, kenapa pria itu nampak tenang sekali?
"Apa yang sudah kau lalukan padanya?"
Pertanyaan itu berhasil menghentak sisi diam Zack Shangra. Seperti biasa, ia menunjukkan raut tenangnya. Ia mulai bangkit, lalu menuntun langkahnya menuju ambang jendela dengan gordeng yang sudah tersibak lebar. "Kau pikir, apa yang akan dilakukan seorang pria normal saat berada dalam satu kamar yang sama dengan seorang wanita? Apalagi wanita itu semanis kekasihmu," ujar Zack Shangra dengan senyum sinisnya.
Berlainan dengan ketenangan yang ditunjukkan Zack, Andromeda nampak murka dan membulatkan matanya mendengar kalimat itu. "Katakan itu tidak benar?" geramnya.
Andromeda mulai meradang. Kedua telapak tangannya telah mengepal. Namun ia masih berusaha menahan diri, sebelum semuanya jelas. "Biadab kau!"
Nampak Zack Shangra kini berbalik menghadapnya. "Kau harus menerima, Andro. Mungkin sesaat lagi, di dalam rahim Nadiah ...." Ia menyeringai. ".... Akan berkembang benih yang telah kutanam."
"Badjingan!!" teriak Andromeda murka. Dengan gerak cepatnya, ia mencengkram kerah piyama yang dikenakan Zack Shangra, hingga pria itu melengak. "Apa kau tidak sadar, dia itu adikmu, huh?!"
__ADS_1
Zack Shangra tergelak. Lalu menepis sekeras mungkin telapak tangan Andromeda dari kerah bajunya hingga terlepas. Lalu menepuk-nepuknya seolah jijik.
Saat itu juga, dalam sekejap, gelaknya telah terhenti--berganti dengan sebuah bidikan tajam menatap Andromeda. Lalu mulai merangkai kata, "Aku tegaskan padamu sekali lagi ... Andromeda! A-ku bu-kan kakaknya Na-diah!!" Seolah mendikte. "Di-a bu-kan adikku! Kau mengerti?!" serunya dengan nada menekan.
Andromeda semakin dikuasai amarah. "Katakan padaku ... di mana Nadiah?" Sekali lagi Andromeda bertanya. Ia masih berusaha menekan perasaan yang sebenarnya sangat ingin menghajar habis-habisan pria itu.
"Carilah sendiri! Bukankah kau sangat hebat, Andromeda."
Sean yang semula hanya diam menonton seteru kedua Don Juan itu, kini maju mendekat ke arah tuannya.
"Tuan Muda, aku rasa kita hanya akan membuang waktu meladeninya," bisik Sean dari balik punggung Andromeda. "Sebaiknya kita cari Nona Nadiah. Aku yakin dia belum keluar dari kota ini."
Andromeda sejenak diam mencerna saran asistennya. "Kau benar," sahutnya pelan. "Kemasi semua barang-barang Nadiah."
Sean mengangguk patuh, lalu melanting bergerak menjalankan titah Andromeda.
Zack Shangra hanya diam dengan sikap santainya--memperhatikan Sean yang mulai bekerja, melalui gerak matanya.
__ADS_1
"Jika Nadiah tak peduli padamu, kau sudah pasti habis di tanganku!" ujar Andromeda seraya berbalik badan. Ia menyadari satu hal; Zack Shangra dalam keadaan amnesia, juga sakit parah. Ia bukan seorang pecundang--menikam lawan yang tengah dalam keadaan lemah. "Ayo, Sean!" ajaknya, lalu keluar dari ruangan itu dengan langkah cepatnya tanpa menoleh lagi.