
"Kita akan kemana?" Liz Nadiah bertanya dengan kening berkerut-kerut.
Setelah gadis itu menyebutkan nama Zack Shangra, tiba-tiba Andromeda bangkit dari duduk manisnya di kafe bernuansa bamboo itu. Meletakan dua lembar uang dengan pecahan terbanyak di atas meja, lalu menarik tangan Liz Nadiah dengan tergesa meninggalkan tempat itu, tanpa berkata apa pun, setidaknya sampai keduanya masuk kembali ke dalam mobil milik pria itu.
Liz Nadiah tentu terkejut. Pria songong itu, lagi-lagi berbuat seenak jidatnya.
"Ke suatu tempat ... menemui seseorang, yang semoga bisa membantumu membebaskan ibu tirimu."
Bingkai stir mulai diputar Andromeda kembali, menggerakkan persneling, lalu menginjak pedal gasnya dengan tekanan penuh. Dalam hitungan detik, mobil itu telah melejit ratusan meter dari tempat parkir di kafe yang sesaat lalu mereka jejaki.
Tak ada sahutan, angguk atau apa pun semacamnya, fokus Liz Nadiah tiba-tiba membelot dari hal yang semula ingin diketahuinya. Ia terpaku, terpana oleh sosok di sampingnya--seolah tersihir. Gerak tangkas mengemudi, kemeja biru tanpa kerapihan, juga rambut high fade yang nampak sedikit teracak menjuntai ke bagian keningnya, benar-benar memperlihatkan pesona dewa seorang Andromeda.
Hingga beberapa menit berlalu ....
"Apakah wajahku menjadi subjek fantasi liarmu?"
Ha?
"A-apa?!" Liz Nadiah terkesiap seketika. Apa katanya tadi?
"Ya, sepertinya ketampananku terlalu mubazir, jika hanya kau diamkan saja. Begitu 'kan?"
"Astaghfirullahaladziim ...."
Andromeda tersenyum geli. Sekilas wajahnya menoleh pada Liz Nadiah yang duduk di sampingnya. "Sampai istighfar. Itu artinya aku memang menggoda," katanya enteng saja. "Tenang saja, Nona Dokter, satu ciuman ... bisa kugratiskan untukmu," godanya seraya menaikturunkan kedua alisnya menatap lagi-lagi sesaat pada gadis itu.
Liz Nadiah melebarkan matanya. Si Songong ini ... apa-apaan, sih? Kenapa jadi absurd seperti itu? kata hatinya tak habis pikir.
Sepertinya ia telah salah menilai pria di sampingnya itu.
Baru sehari lalu, pria itu terlihat paripurna dalam pandangnya, ketika terlihat khusyuk dengan shalat-nya di dalam masjid. Tapi ternyata, ada jiwa lain yang menonjol secara bersamaan dalam dirinya. "Incubus."
Mulanya Andromeda diam menanggapi komentar itu, namun wajahnya secara perlahan berubah aneh. Pipinya ia buat mengembung, lalu dikempiskannya kembali. Terlihat bibirnya semakin tertarik ke samping, hingga sesaat setelahnya, terdengar gelak keras dari mulutnya.
"Dan kau tahu, aku Incubus paling tampan di seluruh dunia," tanggapnya yang tentu saja membuat Liz Nadiah semakin kalang kabut. "Dan juga ... mungkin hanya kau yang akan kujadikan korbanku!"
Liz Nadiah spontan memelototinya. "Kau ... yang benar saja!" cebiknya dengan tampang kesal.
Sial!
Mengapa juga ia harus sampai terpana seperti tadi?
Jelas-jelas pria di sampingnya itu tidak waras.
__ADS_1
Bukankah itu menyebalkan?
Lihat saja, senyuman sinting itu kembali diperlihatkan Andromeda. Pasti tidak akan beres jika sudah begini, pikir Liz Nadiah seraya menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
"Ayolah, Nadiah. Kau tidak akan menyesal karena itu." Sepertinya terlalu menyenangkan bagi Andromeda menggodanya. Lihat saja, wajah manis sederhana itu, sudah seperti sebutir cheri di atas sepotong cupcake--bukan yang berwarna hijau tentunya.
"Kau pikir aku secabul itu?" Liz Nadiah mendelik, membuang wajah ke arah berlawanan. Terlalu memusingkan menghadapi pria konyol itu, menurutnya.
"Jika hanya kautunjukan padaku, aku tidak keberatan meladenimu," kata Andromeda lagi masih belum puas sepertinya.
"Kumohon stop, Tuan Andromeda!!" Liz Nadiah mulai tak tahan.
"Hahaha." Gelak Andromeda lagi-lagi nyaring memenuhi perut robot pengangkut yang hanya seluas--bahkan tak setengah pun dari luas kamar mandinya itu. Ia bahkan sampai memberhentikan laju mobilnya di bahu jalanan, hanya sekedar untuk mengambil napas--mungkin.
Namun tak disangka, dalam sekejap, ekspresinya berubah datar. Gelak keras sesaat lalu di wajahnya, kini tak setitik pun tersisa.
Liz Nadiah cukup terkejut dengan perubahan ekspresi pria itu. Ada apa dengannya? Ia beringsut perlahan. Mamojokan tubuhnya ke daun pintu di samping kirinya.
"Aku akan berhenti menggodamu ... jika kau juga berhenti memanggilku Tuan."
...---...
Andromeda turun dari mobilnya. Diikuti Liz Nadiah yang terlihat celingukan mengamati bangunan ber-cat kuning keemasaan di hadapannya.
"Ayo masuk." Andromeda mengajak. Menunggu sejenak sampai Liz Nadiah mengimbangi posisinya. Keduanya lalu berjalan beriringan menuju pintu utama rumah itu.
Bel yang ditekan Andromeda membuahkan hasil di bunyi ketiga. Seorang wanita paruh baya berbadan kurus, dengan tinggi yang hanya sebatas dada bawah Andromeda, menggunakan setelan batik gombrang, tersembul usai membukakan pintu. "Maaf, kalian cari siapa?" tanya wanita itu seraya menelisik sepasang manusia yang menjulang di hadapannya.
"Tuanmu ada?" Andromeda balik bertanya. Tentu ia tahu, wanita itu, dilihat dari segi mana pun, sudah jelas seorang asisten rumah tangga.
"Tuan Tirta?" Wanita itu kembali bertanya memastikan.
"Memang kau bertuan pada berapa orang di rumah ini?"
Liz Nadiah menepuk lengan Andromeda sontak. Matanya sedikit memelototi. Manusia itu ... tidak bisakah bersikap lebih sopan? "Mungkin itu maksud teman saya ini. Umm ... Tuan siapa tadi yang Ibu bilang?" tanyanya dengan senyuman kaku.
"Tirta, namanya Tirta," sergah cepat Andromeda, seraya memutar malas bola matanya.
"Ouh, Tuan Tirta ... beliau baru saja keluar rumah, Tuan," kata wanita itu, sekilas menatap Andromeda, lalu menunduk kembali seolah ada ketakutan di baliknya.
"Keluar kema--"
__ADS_1
"Andro!"
Suara panggilan itu memungkas kalimat Andromeda. Semua serentak menoleh ke arahnya.
"Tirta Patih," gumam Andromeda.
Seorang pria dengan rambut cepak khas militer, berjalan mendekat ke arah tiga orang yang berkumpul di teras depan rumah, setelah memarkirkan matic-nya tepat di samping mobil Andromeda. "Sudah lama?" tanyanya pada Andromeda, dengan rekah senyum semanis gula.
"Aku tidak suka penyambutanmu!" cebik Andromeda, memasang wajah seolah jengah.
Masih dengan senyumannya, pria plontos bernama Tirta itu, sudah berdiri tepat di hadapan Andromeda. Terlihat sebuah paperbag kecil terayun di tangan kirinya. "Mungkin rasa kopiku akan membuat kau berubah pikiran, Tuan Andro."
"Dan kupastikan, tinjuku akan membuat wajahmu tak lagi sebaik itu, jika rasa kopimu ternyata tidak enak."
"Hahaha." Tirta Patih tertawa lebar menanggapi. "Apa kau cukup takut ketampananmu aku saingi?"
"Ckk, itu mustahil."
....
....
....
Dua cangkir kopi dan satu gelas jangkung orange juice telah terhidang di atas meja. Di tengahnya, brownies slice dengan taburan kacang mete, tersusun apik mengisi sebuah piring ceper yang terlihat menggugah saliva.
"Kali ini kau selamat, karena rasa kopimu cukup manis, Tirta," celetuk Andromeda setelah menyesap tipis kopi beraroma vanilla yang memang disuguhkan untuknya.
"Sayang sekali, padahal aku cukup merindukan beradu tinju denganmu," balas Tirta Patih dengan kekehannya. "Umm ... Andro, siapa nona ini?" tanya pria itu mengarahkan wajahnya ke arah Liz Nadiah, yang sedari tadi diam mengisi sofa lain di samping Andromeda.
"Oiya, perkenalkan ... dia Nadiah ... calon makmumku!"
Apa?!
Mendengar itu, Liz Nadiah hampir saja menyemburkan minuman jeruk yang baru saja diteguknya. Matanya kini menatap Andromeda melebar tak percaya.
"Benarkah?" Tirta Patih tersenyum menanggapi itu. "Kalau begitu kau beruntung mendapatkannya, Nona. Dia pria yang bisa diandalkan dalam segala hal. Aku pastikan itu."
Liz Nadiah masih memasang ekspresi terkejutnya. "Ta-tapi ...." Komentarnya bahkan nyaris tak bisa ia lontarkan.
"Ucapanku sudah tercatat di Lauhul Mahfudz. Camkan itu ... Nadiah," tutur Andromeda menatap wanita itu, seperti biasa dengan senyum menyebalkan tiada tara.
"K-kau ...."
__ADS_1
...🕊️🕊️🕊️...