
Ada kisah yang terpaksa harus ditutup, bahkan sebelum sempat mencapai separuhnya saja.
Mata Kenan Lingga tak sedikit pun bisa dipejamkannya. Suasana malam semakin larut semakin menyembah kesunyian. Bahkan hewan-hewan nocturnal tak terdengar walau sekedar hembusan nafasnya.
Ia mengisi sebuah kamar di kediaman Liz Nadiah. Kamar itu terlihat jauh lebih nyaman dan rapi. Berbeda saat tempo lalu ketika ditempati Andromeda, karena telah usai melalui tahap renovasi beberapa waktu lalu.
Berguling ke kiri dan ke kanan, dihantam resah. Terlalu pahit menyesap kenyataan yang mungkin tak memihaknya.
Esok ia harus kembali ke kota asalnya karena tuntutan tugas yang terus menjerit memaksa disentuhnya ... tanpa Liz Nadiah.
Apakah itu artinya ... ia telah menggenggam garis takdirnya tanpa bayangan wanita itu lagi dalam hidupnya?
....
"Tidak!" elaknya menepis pemikirannya sendiri dengan gelengan tak terima. Kini ia memilih posisi duduk, bersila kaki seraya menunduk mencengkram rambut atasnya dengan kedua telapak tangan. "Aku harus tetap memperjuangkan Nadiah. Aku tak peduli dengan perjodohan sialan itu!"
Sebuah alasan klasik, yang mungkin akan menjadi bahan ejekan di jaman sekeren ini.
PERJODOHAN!
Kata tabu yang seolah mempertahankan pamornya dari masa ke masa untuk segelintir orang.
Dan itu berlaku untuk Kenan Lingga.
Peran orang tua menentukan masa depannya. Menjadi batu sandungan yang menahannya untuk menggapai apa yang terpatri dalam pengharapannya sebenarnya.
Karena itu, ia tak pernah mengungkapkan isi hatinya pada Liz Nadiah. Walaupun ia tahu, wanita itu ... pun memiliki rasa yang sama dengannya.
...-...
Pagi telah bertahta.
Jam menunjukan pukul tujuh.
Lingkaran hitam di bawah kantung mata Kenan Lingga, terlukis jelas. Hingga saat ini, tak sekedip pun lelap di susurnya.
Liz Nadiah menangkap itu. "Maap untuk ketidaknyamanan ini," ucapnya tiba-tiba, seraya mendudukan tubuhnya di seberang kursi Kenan Lingga. Sedangkan Qinay, gadis kurus naas yang kini tinggal di rumah itu, memilih kursi lainnya di samping Liz Nadiah.
"Maap? Maksudmu?" Segelas susu hangat yang baru saja dibuat Liz Nadiah, telah merapat digenggam Kenan Lingga.
"Sepertinya tempat ini tidak membuatmu nyaman untuk tidur." Liz Nadiah menyesalkan.
__ADS_1
Seulas senyuman tipis tersabit manis di bibir Kenan Lingga. "Tidak seperti itu. Rumahmu sangat nyaman. Hanya saja ... mungkin aku belum terbiasa dengan udara dingin." Satu tegukan menyisakan susu hangat itu separuhnya.
"Ya, di sini memang sangat dingin jika malam," timpal Liz Nadiah. Kepala dengan hijab dongkernya bergerak menatap ke arah luar jendela yang telah disibaknya lebar-lebar. Menampilkan suasa pagi dengan kesiur angin tipis menyejukkan. "Tapi aku suka. Di sini tenang."
Kenan Lingga tersenyum menangkap wajah teduh itu. Wajah yang menyiksanya dalam sangkar kerinduan menyesakkan. Sampai terbersitlah untaian kalimat yang semalam suntuk dipikirkannya hingga membulat menjadi segenggam tekad. "Nadiah."
Panggilan itu menarik perhatian si mpunya nama. "Ya."
Tak ada alasan untuk menunda, walau hanya sebentuk jeda, Kenan Lingga laju melontarkan segala yang telah dipersiapkannya secepat angin berlalu. "Menikahlah denganku."
Mata teduh Liz Nadiah melebar, menipiskan kelopaknya hingga nyaris terkikis. Jantungnya bertabuh melewati seharusnya. "Apa?"
Qinay turut tersentak mendengar kalimat tiba-tiba pria itu. Ia jelas tak nyaman berada dalam posisi yang sama sekali bukan scene-nya. Terlalu sensitif. "Umm, Kak Nad, Tuan Lingga, saya permisi saja," ucapnya mulai mengangkat tubuh.
"Tidak, Qinay. Sebaiknya kau tetap di sini," cegah Liz Nadiah. Baginya, cukup hanya ketika bersama Amdromeda ia dibiarkan berdua. Kini Qinay harus mengambil peran sebagai sosok ke tiga.
"Ta-tapi, Kak ...."
"Duduk kembali ke tempatmu!"
Liz Nadiah tak ingin dibantah.
Lalu dengan ragu, menempelkan kedua telapak tangannya di atas meja, Qinay menurunkan kembali tubuhnya.
"Apa maksud ucapanmu tadi, Kenan?"
Sejenak menghimpun napas, pertanyaan Liz Nadiah membawa Kenan Lingga kembali pada alur tujuannya, "Ya, Nadiah. Sejalan ucapanku tadi. Aku ingin ... kita menikah. Aku ingin kita dikuatkan oleh ikatan," ungkapnya dengan sorot teguh menyentuh sanubari. "Aku mencintaimu, Nadiah. Sangat mencintaimu."
Setelah sekian waktu melanglang buana.
Setelah kemarau berulang digantikan hujan dan sebaliknya.
Setelah roll kisah menggulung hingga habis batasnya.
Akhirnya ... ungkapan perasaan itu didengar Liz Nadiah. Sebuah ugkapan yang selalu ditunggunya hingga menjadi bodoh.
Tapi ... kenapa semua itu baru diungkapkan Kenan Lingga, setelah ia bulat memutuskan untuk tak lagi berharap?
"Jawab, Nad."
Tuntutan itu membuatnya tersadar.
__ADS_1
Diangkatnya kembali pandang yang semula dibuangnya pada sepiring omelette bertoping kacang merah, di hadapannya.
Tegak menatap pria itu.
"Maap, Kenan. Aku tidak bisa."
Mengimbuh kalimat itu saja bahkan harus meremukkan satu bagian hati Liz Nadiah. Bukan ia tak mencintai pria itu, tapi ia tak ingin menjadi jahat, juga egois. Akan ada luka yang lebih besar, melebihi perih yang dirasanya saat ini. Malea Lupi.
Perasaan wanita itu akan lebih remuk, ketimbang perasaanya yang jelas sedari dulu hanya dibiarkan mengambang oleh Kenan Lingga. Dan ia sudah terbiasa.
"Kamu bercanda 'kan, Nad? Kamu mau 'kan menikah denganku?"
Liz Nadiah menggeleng pelan. "Tidak, Kenan. Aku benar-benar tidak bisa." Tak tertangkap sedikit pun kebohongan dari sorot matanya.
Menjejak tak percaya, jawaban itu telak menjungkirbalikan keyakinan Kenan Lingga. Wajah dan hatinya berada dalam satu fase. Dihempas, dihentak, diluluhlantakan. Ia tidak menyangka, Liz Nadiah akan semudah itu menolaknya.
"Kenapa, Nad? Kita saling mencintai. Aku tahu itu."
Kata-kata pria itu cukup membuat Liz Nadiah terhenyak. Terlambat untuk tidak mengakui. Tapi ini bukan lagi saatnya. Sejak mendapat perhatian layaknya seorang pendamping yang dilimpahkan Kenan Lingga padanya saat di kota, sejak saat itu pula, ia telah terbiasa. Terbiasa berjalan layaknya teman. Kenan Lingga tak pernah membuat pengakuan seulas pun tentang perasaannya seperti lima menit yang lalu. Dan sekarang dia datang ... seolah menggelitik keputusan yang telah dibentuknya susah payah.
"Jangan mengungkap apa pun yang tak seharusnya. Dari dulu di antara kita hanya sebatas itu," ujar Liz Nadiah, seraya membuang pandangnya ke suatu titik. Bibir dan hatinya jelas berlainan arah.
"Kak Nad, maaf, aku ke dapur dulu."
Kali ini Qinay melenggang cepat meninggalkan situasi dramatis itu, yang jelas semakin membuatnya tak nyaman.
Liz Nadiah bahkan hanya sekilas meliriknya, dengan hati gamang, tak sempurna memperhatikan gadis itu. Pikiran dan hatinya telah dilebur dalam atmosfer antara dirinya dan Kenan Lingga ... saja.
"Tapi aku cinta kamu, Nad. Maaf jika selama ini aku terus diam. Tapi aku benar-benar--"
"Cukup, Kenan!" pungkas Liz Nadiah. "Berjalanlah di jalanmu sendiri. Dan aku ... akan berjalan di jalanku."
Kenan Lingga tak mampu menyanggah apa pun. Membatu dalam ketololannya.
Terlalu lama mendiamkan wanita itu dalam ketidakpastian, hanya karena terhalang rasa hormat pada orang tuanya atas perjodohan yang mereka siapkan untuknya.
Ia memang telah memenangkan hati wanita pujaannya itu. Namun tanpa disadarinya, kedekatan yang dibumbuinya dengan perhatian untuk Liz Nadiah di waktu lalu, jelas telah menciptakan jurang dalam diantaranya, bahkan sebelum ia berusaha. Ia telah menaklukan, maka tak akan lepas, keyakinan itu menjadi boomerang yang pada akhirnya menghancurkan cintanya sendiri.
Wanita setaat itu sudah pasti mendasari keyakinannya dalam sebentuk pertalian yang diridhoi Tuhan. Ia jelas tak akan menerima, saling mencintai, namun dalam keadaan nista.
Bodoh!
__ADS_1
Kenan Lingga hanga mampu merutuk kebodohannya sendiri dalam hati. Mengapa tak sedari dulu ia menikahi Liz Nadiah, meskipun harus melalui pembangkangan keras di awal perjalanannya.
Dan sekarang ... sudah terlambat. Walau sekedar untuk menyesali.