
Diraga Madewa terbelalak. Jantungnya berdentam-dentam keras. Ia melangkah cepat ke tepian jurang. Menatap dasar curam di bawahnya dengan tubuh gemetar tak menyangka.
"ZAAAAACKKK!!!" teriaknya membahana.
Mobil yang berisi Zack Shangra dan Liz Nadiah di dalamnya, baru saja melaju--menerjuni jurang itu.
Bagaimana Zack Shangra melakukannya?
Atas dasar apa dia melakukannya?
"Zack ...," gumamnya seraya menjatuhkan lututnya. "Zaaaaccckk!" Kemudian berteriak meraung-raung. "Tidak ...." Pundaknya sudah berguncang dalam isakan memilukan.
Meskipun Zack bukan darah dagingnya, bahkan hanya ia besarkan untuk tujuan tertentu--menjadi robot kerajaan bisnisnya, tapi ... ia juga manusia! Hati dan perasaannya masih berfungsi dengan baik--selayaknya seorang ayah.
Belasan tahun lamanya pria muda itu menemani hidupnya yang terus terang saja ... sangat kesepian. Dan itu lebih dari cukup membuatnya berarti dengan mengambil peran sebagai ayah.
Bukan pura-pura! Ia benar-benar menyayangi pria muda itu--menyayangi Zack Shangra dengan sepenuh hatinya, bukan robot yang selalu ia tekankan dalam setiap misi-misinya.
"Kenapa kau tega meninggalkan Papa, Zack!" raungnya lagi-lagi.
Di belakangnya, anak buahnya berjejer dengan kepala tertunduk dalam. Tak tahu harus apa.
Beberapa pohon serta tumbuh-tumbuhan liar lebat memenuhi tebing curam itu--menghalangi jarak pandang untuk bisa menangkap keadaan di dasarnya.
Zack Shangra dan Liz Nadiah ....
Entah mereka masih hidup atau tidak!
NGUING NGUING NGUING
Anak-anak buah Diraga Madewa nampak kalang kabut berhambur ke sana kemari hendak melarikan diri, saat suara sirine yang sepertinya berasal dari lampu mobil kepolisian, terdengar memantul-mantul di udara sekitar mereka.
__ADS_1
Sedangkan Diraga ... pria itu masih membatu di tempatnya. Terduduk lemas dengan pandangan suram. Rambut klimisnya telah teracak berantakan setelah dipautnya berulang seraya menengadah berteriak-teriak.
Perasaannya lebih dari sekedar kacau, bahkan lebih dari sakit.
Tidak!
Bukan!
Ternyata bukan seperti ini yang dia inginkan! Bukan melihat puteranya terjun dari ketinggian menantang mautnya sendiri. Ia tidak ingin Zack Shangra mati! Tidak!
Tujuannya hanya Liz Nadiah!
Tapi kenapa Zack malah dengan ringan mengorbankan dirinya hanya demi wanita itu? Apa artinya pengorbanan yang ia lakukan selama belasan tahun lamanya membesarkan pemuda itu sebagai anaknya?
Bukankah itu tidak adil?
Meskipun iya, ada keuntungan yang dipetiknya dari pengorbanan yang dilakukannya tersebut, namun kasih sayang dan perhatian yang tercurah darinya untuk anak muda itu ... nyata adanya! Tidak ada kepura-puraan.
Mustahil yang nyata!
"Jangan bergerak! Anda kami tahan?!"
Dua buah moncong senjata api milik Aparat Kepolisian, tertodong di kiri dan kanan kepala Diraga.
Pria itu hanya sekilas melirik. Namun kembali pada dunianya ... dunia yang ternyata baru disadarinya ... hanya berisi Zack Shangra di dalamnya. Ia tak peduli apa pun saat ini. Selain menginginkan dunianya kembali.
Sesakit ini rasanya kehilangan.
Dalam keadan mati rasa, tubuh Diraga diboyong polisi menuju mobil yang akan membawanya menyongsong penghakiman.
Seluruh anak buahnya sudah berhasil diringkus aparat-aparat hukum tersebut.
__ADS_1
Di saat bersamaan, Andromeda baru saja turun dari dalam mobilnya setelah terpisah cukup jauh dari iring-iringan mobil polisi karena terhalang kemacetan di pertigaan jalan.
Sepasang matanya langsung menangkap belasan pria yang dipaksa masuk ke dalam mobil tahanan yang terparkir beberapa jarak darinya. Lalu kemudian jatuh pada sosok yang saat ini tengah berjalan dengan cekal dan himpitan polisi di sisi dan kanannya.
Siapa dia?
Kenapa terlihat sehancur itu? Hati Andromeda bertanya-tanya.
Ia tak mengenali sosok itu.
"Tunggu!" Ia menghadang langkah-langkah dari tiga pasang kaki yang baru saja dihampirinya. Sean mengikuti di belakangnya dengan wajah tak tenang.
"Apa kau yang menculik Nadiah?"
Kepala Diraga terangkat lesu menatap seraut wajah yang sedikit lebih tinggi darinya itu. "Tuan Andro ...," gumamnya mengenali.
Sekejap Andromeda dan Sean beradu pandang, lantas kembali mengalihkan wajahnya mengamati pria itu dengan tatapan menelisik.
"Siapa kau?" tanya Andromeda perlu tahu.
Namun tanpa diduganya, pria itu malah tercenung memandangnya, lalu terlihat mulai menitikkan air matanya, hingga kemudian perlahan menjadi isakan. "Anakku ... Zack ... dia mati!" ujarnya setengah meracau. "Kenapa dia begitu bodoh terjun ke jurang hanya demi wanita itu."
Mata Andromeda sontak melebar. "Siapa yang kau maksud?!" tanyanya menggeram.
"ZACK! ZACK SHANGRA PUTRAKU, KAU TAHU, HUH??!" Diraga berteriak kesetanan seolah menantang Andromeda. Tubuhnya bahkan meronta-ronta kencang dari cekalan polisi. "DIA TERJUN DALAM MOBILNYA BERSAMA WANITA ITU!!!" lanjutnya kembali histeris. "Aku hanya ingin wanita itu yang mati!" Suaranya mulai melemah disertai raung pilunya. "Bukan putraku."
"Apa kau Diraga?" Sean maju bertanya mewakili sang atasan. Pria itu mengakui Zack Shangra sebagai putranya, dan itu jelas berarti ... dia adalah Diraga, bukan? Meski pun ... wajahnya jauh berbeda dari yang diketahuinya sebelum ini. Sean berasumsi layaknya seorang detektif.
Mungkin saja pria tua itu melakukan oplas, 'kan?
Andromeda membatu terkejut dengan mata membelalak, ketika jawaban pria itu menohok seisi jiwanya yang sudah berjam-jam diliputi cemas, menjadi lebih daripada itu.
__ADS_1
"YA, AKU DIRAGA! DAN PUTRAKU BARU SAJA TERJUN KE JURANG BERSAMA WANITA HIJAB SIALAN ITU!!"