
"Apa kau tak ingin bertanya, siapa wanita itu?"
"Apakah aku punya hak untuk itu?"
Jawaban Liz Nadiah menarik tipis senyuman Andromeda. Kedua tangannya masih sibuk mengemudikan mobilnya. "Semua yang ada dalam diriku, mulai saat ini ... akan kuserahkan sepenuhnya padamu, Nadiah." Seraya menolehkan sekilas wajahnya pada gadis di sampingnya, lalu kembali fokus pada kemudinya.
Liz Nadiah terpaku. Kalimat Andromeda terdengar aneh di telinganya. Dengan perlahan, wajahnya mulai bergerak menatap pria itu dengan raut bingung. "Apakah itu sejenis pengembanan tugas?"
Dengan sekali hentak, Andromeda menginjak pedal rem di bawah kakinya. Membuat mobil itu otomatis terhenti.
"Ada apa?!" Liz Nadiah bertanya terkejut.
Andromeda menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi, sesaat memejamkan matanya, lalu menoleh pada gadis di sampingnya yang nampak cemas menghadap ke arahnya. "Apa kau sama sekali tidak tertarik padaku, Nadiah?" Kali ini entah kenapa wajah itu terlihat serius. Tak ada setitik pun jejak menyebalkan yang seperti biasa ia tunjukkan. "Aku menyerahkan semua yang ada padaku untukmu, termasuk hatiku. Tapi kenapa kau seolah menutup mata? Dan malah menganggap yang kupasrahkan adalah sebuah tugas untukmu? Aku tulus, Nadiah. Tidak untuk membebankanmu."
Ada getaran aneh yang tiba-tiba menyapa ulu hati Liz Nadiah. Kalimat-kalimat Andromeda itu sungguh membuatnya tepekur. Rasa kesal karena ulah pria itu ketika di pusat perbelanjaan, lenyap seketika.
"Kenapa kau diam?" tanya Andromeda seraya menegakkan tubuhnya. Lalu memutar menghadap Liz Nadiah dengan ekspresi menuntut. "Apa menurutmu, aku benar-benar tak pantas untukmu?"
Degup jantung Liz Nadiah tiba-tiba berdentam sangat cepat. Tatapan Andromeda benar-benar mencongkel sisi lain dari jiwanya. "A-aku ...."
"Atau kau masih belum bisa melupakan Kenan Lingga?!"
Liz Nadiah tersentak, menyusul bingkai matanya yang turut melebar. Dari mana Andromeda tahu tentang Kenan?
"Aku pernah bertemu dengannya di kota di mana kau dan dia pernah bersama," celetuk Andromeda lagi-lagi seolah mampu membaca ekspresi lawan bicaranya. "Aku bahkan mengajaknya minum kopi dan mengobrol di sebuah tempat. Dan di detik itu juga aku menegaskan padanya ... bahwa kau adalah milikku, Nadiah."
Lebih dari sekedar cepat, detak jantung Liz Nadiah semakin bertalu-talu tak karuan. "Dari mana kau tahu bahwa dia ...?" tanyanya sekedar ingin tahu, namun tak mampu meneruskan kalimatnya karena cemas akan menyinggung perasaan Andromeda.
__ADS_1
"Dari ponselmu yang kupinjam saat aku berada di rumahmu karena kecelakaan di sungai itu. Kau ingat?" tanya Andromeda dengan suara berat. "Dan juga ...." Tatapannya pada Liz Nadiah sesaat berubah keruh. Bayangan ketika wanita yang disukainya itu berpelukan menumpahkan rindu dengan Kenan Lingga saat itu, cukup membuat ulu hatinya berdesir. "Saat kau berpelukan dengannya di halaman rumahmu."
Terlalu banyak kejutan yang dicetuskan Andromeda. Bisa-bisa Liz Nadiah benar-benar terkena serangan jantung setelah ini. "Jadi ... saat itu, kau ada di sana? Untuk apa?"
Andromeda mengangguk. Menghempaskan kembali tubuh tegapnya pada sandaran kursi. Wajahnya ia hadapkan lurus ke depan, seolah tak ingin wanita itu melihat kobaran cemburu di matanya "Aku juga tidak tahu, kenapa saat itu aku begitu ingin melihatmu. Dan sekarang aku tahu jawabannya ...." Ia diam beberapa jenak. Lalu menolehkan kembali wajahnya ke samping kiri tubuhnya, di mana Liz Nadiah menatapnya penuh perasaan. ".... Karena aku jatuh cinta padamu, Nadiah."
Entah apa yang harus ia utarakan pada Andromeda, Liz Nadiah hanya mampu terdiam membisu. Ia bahkan belum mampu menelaah perasaannya sendiri. Apakah di hatinya masih ada Kenan Lingga, atau benar ... bahwa ia mulai peduli pada keberadaan pria di hadapannya itu?
"Lihat aku, Nadiah!" Dengan posisi yang masih sama, menatap wanita itu menyamping. "Aku benar-benar peduli padamu. Aku rela melakukan apa pun, asal kau mau melihatku."
Benar, Liz Nadiah berbeda!
Berbeda dengan kebanyakan wanita yang pernah dikenal dan bahkan menjalin hubungan dengan Andromeda. Seperti katakan saja ... Jennefit Moon, juga beberapa lainnya yang tak disebutkan di scene sejauh ini. Mereka lebih cenderung mengejar, juga gencar mencari perhatian pria dengan fisik nyaris sempurna itu.
Sedangkan Liz Nadiah ... dari awal pun mereka bertemu, gadis itu nampak biasa dengan sifat cueknya, seolah paras dewa juga kekayaan yang dimiliki Andromeda, bernilai kosong dan bukan apa-apa di matanya.
Dari tampilan, Liz Nadiah jelas bukanlah termasuk selera dan tipe-nya. Bahkan lebih terkesan aneh. Di usianya yang masih muda, ia lebih menyukai kesederhanaan tanpa mau repot dengan masalah fashion seperti yang biasa ditonjolkan gadis kebanyakan.
Sebagai pria macho kelas Eropa berkualitas diamond, Andromeda menyukai wanita seksi dengan wajah cantik di atas rata-rata dengan dada membusung menggoda iman.
Tapi karena pertemuannya dengan Liz Nadiah, ia menepikan pandangan tentang selera tololnya itu. Bahkan sesuatu yang sempat terkubur dalam dirinya tiba-tiba mencuat kembali ke permukaan.
Benar, Andromeda telah melupakan sesuatu hal yang seharusnya ia jadikan dasar dalam hidupnya. Pria itu mulai menyadari setelahnya, bahwa ia ... adalah seorang Muslim.
Dua hari bergumul di kediaman Liz Nadiah saat kejadian naas itu menimpanya, berkali-kali Andromeda mendapati wanita itu berdo'a khusyuk di atas sehelai sajadah. Juga lantunan ayat-ayat suci yang terdengar merdu dari bibir mungil wanita itu, menggetarkan seisi jiwanya yang kelabu. Dan Andromeda mulai terusik karenanya.
"Bisa ... kau biarkan aku mengisi hidupmu? Atau setidaknya ... beri aku kesempatan, untuk membuktikan, bahwa aku pantas untukmu."
__ADS_1
Tidak setitik pun kata mampu dilontarkan Liz Nadiah. Tatapan teduh Andromeda benar-benar telah mengunci dan membekukannya. Benarkah ia seberharga itu di mata Andromeda?
"Aku akan menyerah, jika kauputuskan memilih pria itu daripada aku, saat ini juga."
Dengan gerak lambat, Liz Nadiah menuntun kepalanya untuk menunduk. Terlihat buliran bening jatuh menimpa tangannya yang ia letakkan di atas kedua pahanya. "Meskipun separuh perasaanku masih miliknya, aku tidak akan pernah memilihnya."
Dua kalimat yang bertolak belakang. Andromeda jelas lebih menyukai kalimat yang kedua. "Kenapa?" tanya sekedar ingin tahu.
Liz Nadiah memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap pria di hadapannya itu dengan raut getir. "Apa pantas aku berbahagia di saat yang lain terluka karena itu?"
"Maksudmu?"
"Ada sebentuk hati lain yang lebih mengharapkan Kenan daripada aku, Andro."
Andromeda terdiam memandangnya, lalu menganggukkan kepalanya kaku. Dia hanya mengalah, bukan membuang perasaannya.
"Seandainya wanita itu tak ada, apa kau akan tetap memilihnya?"
"Tidak." Liz Nadiah menjawab cepat tanpa beban.
"Kenapa?"
Gulir sepasang manik mata Andromeda ditatap Liz Nadiah lekat dalam beberapa jenak. Ekspresinya sulit didefinisikan. Entah apa yang saat ini ia mainkan, pikiran ataukah perasaan.
Sampai sesaat kemudian, suara lembut wanita itu berhasil mengejutkan Andromeda, hingga memakunya dalam tatapan tak percaya.
"Karena aku memilihmu!"
__ADS_1