Liz Nadiah

Liz Nadiah
Sakit Berlipat


__ADS_3

Awalnya tubuh Zack Shangra hanya dibaringkan di ranjangnya sesaat setelah ia ambruk pingsan. Namun setelah lebih daru satu jam, usaha Liz Nadiah tetap tak membuahkan hasil. Pria itu tak jua sadarkan diri. Akhirnya, Liz Nadiah dan seorang pria tua pengurus taman di rumah itu, melarikan Zack Shangra ke rumah sakit terdekat menggunakan mobil sang mpunya rumah. Dan Liz Nadiah sendiri yang mengemudikannya.


Di sinilah saat ini Liz Nadiah berada.


Di dalam ruangan seorang dokter yang beberapa saat lalu menangani Zack Shangra.


"Saya juga seorang dokter. Tapi saya belum pernah melihat obat jenis itu selama saya bertugas," ungkap Liz Nadiah dengan ekspresi penasaran.


Terdengar dokter pria paruh baya itu mendesah pelan. Lalu mulai menjabarkan penjelasannya, "Setelah kami teliti ... obat ini ...."


Semakin panjang dokter pria itu menjelaskan, semakin kental keterkejutan di wajah Liz Nadiah. Obat yang dimaksud adalah obat yang ditemukan Liz Nadiah di dalam laci sebuah nakas di kamar Zack Shangra. Pembantu yang baru bekerja sebulan lamanya di rumah itu mengungkapkan, bahwa itu adalah obat pereda, setiap kali tuan mudanya mengerang kesakitan di bagian kepalanya.


Hingga kalimat terakhir sang dokter--kalimat yang menjelaskan tentang imbas dari pengonsumsian obat aneh itu pada Zack Shangra, membuat Liz Nadiah berhasil menjatuhkan air matanya. Telapak tangan kanannya bergerak terangkat untuk menutupi mulutnya yang menganga dibuai kekagetan. "Apa katamu, Dokter? Kanker otak?"


"Sehubung dengan semua hasil tindakan kami ... itu benar, Nona."


...--...



Suara tangisnya kian menderas. Ia kini terduduk di samping brankar di mana Zack Shangra terbaring dengan pejamnya. Diremasnya telapak tangan dingin pria itu penuh sesalan.


"Dulu kau bilang kita teman, Kahfi," ucap Liz Nadiah di sela isaknya, seolah tengah berbincang dengan pria itu. ".... Karena itu kau melarangku memanggilmu kakak," lanjutnya lalu mengecup dalam punggung tangan Zack Shangra. "Aku rela kau benci. Aku rela tak lagi kau anggap adik atau pun teman, asal kau sehat dan kembali menjadi dirimu sendiri."


Tak ada respon, Zack Shangra masih bergeming.


Ruangan itu terasa senyap, selain suara ventilator di sisi kiri tubuhnya yang berdecit mengiringi alunan napas pria itu.


Rasanya seperti mimpi.


Dalam siraman sendu, pintu di belakang Liz Nadiah berderak terbuka. Memutar spontan pandangan gadis itu ke arahnya. "Kau ...."

__ADS_1


Andromeda mendekatinya dengan wajah keruh. "Kau membuatku cemas setengah mati," katanya pelan namun cukup melukiskan ketegangan. Ia sudah memposisikan dirinya di samping Kekasihnya.


Liz Nadiah menyeka basahan di pipinya. "Maaf. Aku hanya tak ingin mengganggumu," terangnya seraya mengalihkan wajahnya kembali pada Zack Shangra yang masih terlihat tenang dalam lelapnya. Namun warna pucat di sekitarnya cukup melukiskan bahwa kakaknya itu tak sedang baik-baik saja. "Dari mana kau tahu aku di sini?"


Sebuah kursi lainnya ditarik Andromeda ke samping Liz Nadiah. Lalu didudukinya berdampingan. "Dari ponselmu yang kautinggalkan di rumah Zack."


Liz Nadiah nampak terkejut menatap Andromeda tak enak hati. "Maaf. Aku terlalu panik, sampai melupakan ponselku dan mengabarimu."


Andromeda tersenyum. "Tak apa. Aku mengerti." Kemudian mengalihkan wajahnya pada pria yang terbaring di hadapannya. "Ada apa dengannya?"


Mendapat pertanyaan itu, manik mata Liz Nadiah kembali membayang berkaca-kaca. Sampai akhirnya tumpah tak lagi mampu ditahannya. "Dia ...."


Merasa pertanyaannya tak cukup tepat, hingga membuat gadisnya menangis, Andromeda memberikan dekapan menenangkan untuk Liz Nadiah. Mengelus pucuk kepalanya penuh perhatian. "Sudah. Aku tahu pasti semua tak mudah bagimu sampai kau menangis seperti ini. Tapi jangan takut. Zack pasti bisa melewati semuanya dengan baik."


Liz Nadiah semakin sesenggukan. Dalam hal membaca ekspresi dan menelaah isi hati, mungkin Andromeda adalah ahlinya, ia mengakui. Dalam hatinya meng-amin-kan ucapan pria itu hingga berulang banyaknya. Meski semua itu belum cukup membuatnya tenang.


Di saat bersamaan, terlihat jemari Zack Shangra bergerak kecil, menyusul matanya yang terbuka dengan perlahan dan terlihat susah payah.


"Biar aku panggilkan dokter." Andromeda bergerak bangkit. Namun baru selangkah kakinya beranjak, seorang dokter masuk diikuti perawat di belakangnya, membuat kaki panjangnya urung melangkah.


Dalam beberapa menit, dokter memeriksa keadaan Zack Shangra. Liz Nadiah dan Andromeda hanya diam memperhatikan dengan raut gelisah.


"Bagaimana, Dok?" Liz Nadiah bertanya penasaran.


"Saya rasa sebagai dokter, Anda mengerti situasi ini, Nona Nadiah. Ini bukan rumah sakit besar. Jadi saya sarankan ... sebaiknya Tuan Zack dibawa ke rumah sakit yang lebih mempuni fasilitas juga tenaga ahlinya."


Setelah cukup terkejut dengan keberadaan Andromeda, Zack Shangra kini dibuat heran, mendengar penuturan dokter yang baru saja memeriksanya. Sepasang alisnya saling tertaut penuh tanya. "Apa maksud ucapanmu itu, Dokter?"


Semua tatap kini beralih ke arahnya.


"Mungkin adik Anda lebih berhak mengatakannya pada Anda, Tuan Zack," kata dokter itu seraya membetulkan sedikit tungkai kacamatanya. "Saya permisi."

__ADS_1


Adik?


Kata itu terasa begitu menusuk relung hari Zack Shangra.


Bukan itu yang dia inginkan!


Liz Nadiah melempar pandangnya pada Andromeda, seolah meminta pendapat. Meskipun nyatanya pria itu juga sama sekali tak tahu hal apa yang sebenarnya menimpa Zack Shangra, namun dengan sekilas angguknya, Liz Nadiah mengikuti meskipun cukup membebankannya.


"Katakan!" tuntut Zack Shangra. Wajahnya telah kelam seiring campur aduk perasaannya.


....


....


....


Meskipun tak banyak dan panjang--bahkan terbata, namun penjelasan Liz Nadiah cukup bisa ditangkap Zack Shangra hingga membuat keterkejutannya berkali lipat bertambah hebat. Ia membuang pandangnya ke samping berlawanan. Tak ingin dikasihani.


"Ikutlah denganku ke Kota S, Kahfi. Setidaknya di sana kau akan mendapatkan perawatan yang lebih baik. Aku memiliki beberapa kenalan di bidang penyakitmu ini sana. Juga untuk membantu memulihkan ingatanmu."


"Tidak!"


Penolakan sontak dan tanpa berpikir itu membuat Liz Nadiah semakin terluka. Andromeda merangkul dan mengelus ujung pundaknya, menenangkan.


"Jangan sia-siakan kesempatan yang setidaknya masih bisa kauambil, Zack," kata Andromeda. "Yang harus kau tinggikan ... adalah rasa syukur, bukan egomu. Bersyukur karena kau masih bisa bertemu adikmu, keluargamu yang tersisa. Walaupun aku tahu ... itu tak mudah bagimu. Terimalah kenyataan, Zack. Nadiah tak sepantasnya kaucintai sebagai seorang wanita, tapi cintailah dia ... layaknya seorang adik. Karena memang itulah kenyataannya."


Mata Zack Shangra membesar seketika. Wajahnya bergeser menatap Andromeda. Namun tak sedikit pun kata dilontarkannya. Cukup mencengangkan, bagaimana bisa Andromeda tahu, bahwa ia telah jatuh hati pada Liz Nadiah?


Tak terkecuali Liz Nadiah, yang juga sama tersentaknya dengan Zack Shangra. "Apa maksudmu, Andro?" tanyanya menatap pria itu tak mengerti.


Sejenak Andromeda terdiam. Menatap keingintahuan Liz Nadiah, lalu beralih pada Zack Shangra yang masih lekat menatapnya keruh. "Kakakmu ini ... jatuh cinta padamu, Nad."

__ADS_1


...••••...


__ADS_2