Liz Nadiah

Liz Nadiah
Jawaban Kerinduan


__ADS_3

Cukup!


Ini sudah hampir dua minggu.


Kenan Lingga tak lagi bisa menahan, betapa sesaknya saat ini perasaannya. Nyaris telah tak ada celah untuk menampungnya lagi. Ia rindu, sangat rindu. Gadis itu!


Dan hari ini ... senyum sedikit menghiasi wajah tampan melayunya. Debar tak sabar menabuh kencang seisi jiwanya tanpa ampun.


Gumpalan awan terhalang kaca di sampingnya seolah meneriakinya untuk terus berjuang.


Perasaannya semakin gusar. Entah kapan pesawat yang ditumpanginya itu akan landing.


Ya, setelah melalui perjuangan cukup menguras emosi dan tenaga untuk mencari keberadaan Liz Nadiah, akhirnya pria dokter itu menemukan titik terang.


Seorang wanita paruh baya berpoles riasan tebal di wajahnya, yang berhasil ia temui kemarin sore, memberikan petunjuk tentang kampung halaman Liz Nadiah. Setelah senilai uang jatuh ke tangan wanita itu sebagai timbal balik informasi penting yang diterima Kenan Lingga tersebut.


Ditatapnya lagi-lagi sederetan kata bertuliskan nama alamat yang ia tulis di ponselnya itu. Cukup jauh dari kota asalnya. Dan sepertinya desa itu juga terpencil. Bahkan nyaris tak pernah didengarnya ada di peta.


Kenyataan yang cukup membuatnya heran. Kenapa Liz Nadiah tak pernah menceritakan tentang dari mana ia berasal. Tentang siapa keluarganya. Bahkan tentang wanita menor si pemberi informasi itu. Wanita itu mengaku adalah orang yang telah dirugikan Liz Nadiah selama gadis itu berada di kota yang sama dengannya.


Siapa sebenarnya kamu, Nadiah?


Mengapa begitu banyak rahasia yang kamu pendam?


Bergulat dengan pikirannya, Kenan Lingga memejamkan matanya yang tak sedikit pun mengantuk. Lain dengan orang-orang di sekitarnya yang bahkan terdengar sampai ada yang mendengkur.


Kembali ditatapnya gumpalan awan di luar jendela pesawat itu. Ia bertekad,


Nadiah, tunggu aku. Aku pasti menemukanmu.


Hingga dua jam kemudian ....

__ADS_1


Kursi yang berada ribuan kaki di atas ketinggian, telah berganti dengan grafitasi sempurna di badan alam. Sebuah taxi dengan aroma menenangkan, ditumpangi Kenan Lingga saat ini. Detak jantungnya semakin gusar tak beraturan. Rasanya perjalanan itu begitu lama, hingga melahap habis kesabarannya. Ia menghembuskan napas kasar, lagi dan lagi.


...***...



"Dasar tidak berguna! Enyah kau dari sini!"


Pemandangan tak manusiawi itu tertangkap mata Liz Nadiah yang baru saja keluar dari sebuah ruang kaca mesin ATM tak jauh dari tempat itu. Ia berdiri di sisi pagar besi sebuah rumah yang tidak terlalu besar di pinggir jalanan yang kini dilaluinya. Mulut dan matanya sinkron melukis keterkejutan.


Berkali tubuh kurus itu mendapatkan hantaman keras sepatu ber-hak yang dikenakan seorang wanita paruh baya berambut merah, dibantu gadis muda yang sesekali menjambak rambut wanita kurus yang bersimpuh di hadapan keduanya.


Rasanya tak tahan sepasangan kaki Liz Nadiah untuk menghampiri mereka, namun ia merasa tak punya hak untuk ikut campur dalam masalah orang-orang itu.


Seorang gadis muda. Langkah kaku dengan wajah berurai air mata itu, semakin dekat ke arah di mana Liz Nadiah berdiri. Ransel besar berwarna biru dipeluknya erat di depan dada. Sesekali kepalanya menengok ke belakang, tersirat pedih yang terlukis nyata di seluruh parasnya. Pintu kembar itu telah tertutup, setelah dibanting keras oleh kedua wanita yang tadi menyiksanya. Jelas menunjukan bahwa tak ada lagi ada celah untuk gadis prihatin itu kembali memasukinya.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Anda siapa?" tanyanya dengan suara parau. Telapak tangannya menyeka air mata di pipinya, yang tak terlihat kering hanya dengan sekilas sapuan. Ditatapnya Liz Nadiah yang juga menatapnya iba.


"Aku Nadiah. Maaf ... tadi aku tak sengaja melihat--"


"Tidak!" Gadis itu menyergah. "Tidak apa-apa. Lupakan saja. Aku pergi dulu." Dengan perlahan gadis itu berbalik badan. Menyongsong jalanan berdebu yang kini terpampang di hadapannya. Sesaat memaku diri menatap sekitar. Diremasnya erat tas yang dipeluknya, lalu berjalan memilih arah yang entah berisi tujuan atau tidak.


Liz Nadiah menatap semakin iba pemilik punggung dengan tulang belikat menonjol jelas itu. Gadis itu sangat kurus. Bahkan jika diperhatikan lebih dalam, kedua betisnya yang tak tertutup itu, terlihat seperti tak mampu menopang tubuhnya sendiri ... sangat kecil. Langkahnya pun terseok seolah tak memiliki energi.


"Tunggu!"


Berlari kecil menyusulnya, Liz Nadiah merasa perlu melakukan apa yang ada dalam pikirnya.


Langkah kaki si gadis terhenti. Menoleh menyambut Liz Nadiah yang kini berdiri tepat di hadapannya. "Ada apa, Nona?" tanyanya lemah.

__ADS_1


Suara gemetarnya membuat ulu hati Liz Nadiah seolah dicubit. Lantas dengan ragu ia bertanya, "Maaf, boleh aku tahu. Kau ... akan kemana?"


Gadis itu terdiam. Menunduk menatap kedua kakinya yang hanya beralaskan sepasang sandal jepit usang. Sesaat terlihat kedua matanya mulai kembali berair. "Aku tidak tahu." Ia menggeleng. "Aku tidak punya tujuan."


Mendengar jawaban itu, hati Liz Nadiah terhenyak. Mencuatkan naluri kemanusiaannya dalam sebentuk kepedulian. "Bagaimana kalau kau .... ikut aku saja."


Gadis kurus itu spontan mengangkat wajahnya. "Ma-maksudmu?"


"Ya, kau ikut aku," ulang Liz Nadiah tersenyum. "Aku hanya tinggal sendirian di rumah. Jika benar kau tak punya tujuan, kau bisa temani aku. Aku cukup kesepian."


"Benarkah itu, Nona?" Sepasang mata gadis itu terlihat berbinar, walaupun masih didominasi air mata yang merebak memancarkan segala luka di luar dan dalam dirinya.


"Hmm." Liz Nadiah mengangguk mantap.


...-...


Sepanjang perjalanan, kedua gadis yang baru saling mengenal itu terlihat akrab. Cukup cepat menyesuaikan di waktu yang bahkan sesingkat menunggui nasi matang.


Angkot yang keduanya tumpangi telah sampai di pertigaan. Sisanya akan ditempuh dengan berjalan kaki, karena jalanan menuju desa Liz Nadiah belum terjamah rute angkutan umum. Cukup jauh untuk bisa sampai ke kediamannya. Tapi juga cukup cepat saat dilalui dengan obrolan seputar alasan 'mengapa gadis kurus itu sampai terusir dari rumahnya sendiri'.


Belum pudar wajah Liz Nadiah dari raut prihatinnya karena mendengar cerita miris gadis yang kini ikut bersamanya itu, kedua matanya kini berganti melebar, mulutnya sedikit menganga tak percaya. Ia kini telah sampai di batas pekarangan rumahnya.


Sejurus pemandangan di depannya itu sontak membuat perasaan iba dan prihatin Liz Nadiah berganti keterkejutan luar biasa. Meskipun dalam posisi memunggungi, namun ia tahu ... milik siapa tubuh tegap itu. "Kenan." Suaranya terdengar seperti gumam, namun cukup keras untuk bisa ditangkap pria yang berdiri di teras rumahnya itu kini.


Kenan Lingga spontan berbalik badan. Suara halus yang bahkan hanya sebentuk kesiur itu pun, begitu jelas dikenalinya. Mata redupnya yang semula menunjukan keputusasaan karena rumah yang ditapakinya ternyata kosong, kini berbinar seketika. "Nad ... Nadiah!" Tanpa babibu, ia berlari menyongsong tubuh langsing Liz Nadiah. Tanpa perduli rasa sungkan yang dulu selalu terjaga dalam dirinya atas gadis itu.


Dengan getar hebat berisi kerinduan penuh di ujung dadanya, Kenan Lingga menggerus keyakinan Liz Nadiah yang tak pernah mengizinkan lelaki mana pun menyentuh kulitnya, walau hanya sebentuk berjabat tangan sekali pun. Ia membungkuk, menyamakan posisinya, hingga kepala mereka kini bersejajar saling terkait membelakangi. Dipeluknya gadis itu erat ... sangat erat.


Titik demi titik air mata Liz Nadiah yang jatuh di atas pundak Kenan Lingga, cukup menggambarkan perasaannya, yang jelas tak jauh berbeda dengan pria itu. Namun telapak tangannya masih tergantung di kedua sisi tubuhnya ... tak membalas pelukan Kenan Lingga.


"Aku rindu kamu, Nad. Sangat rindu." Semakin erat tubuh wanita itu direngkuhnya, Kenan Lingga tak perduli dengan sekitar, di mana beberapa orang yang melintas, menghentikan langkah mereka hanya untuk menonton adegan melankolis dirinya dan Liz Nadiah, termasuk gadis kurus yang kini berdiri di sampingnya ... menatap keduanya penuh haru.

__ADS_1


...🌸🌸🌸...


__ADS_2