
Jennefit Moon masih bergeming di posisinya. Wajahnya jelas terlihat tak bersahabat--cenderung murka. Kedua telapak tangannya mengepal, hingga menampakkan untaian urat-urat di bagiannya yang menegang karena tekanannya.
Mobil Andromeda telah berlalu dari hadapannya lebih dari lima belas menit yang lalu. Pria itu meninggalkannya setelah melepas paksa pelukannya, juga mengucapkan kalimat yang sama sekali tak bisa diterima Jennefit dengan lapang. Meskipun tak secara gamblang, namun ucapan Andromeda cukup menjelaskan sebuah penolakkan juga peringatan yang di dalamnya berisi makna; 'jangan pernah menggangguku lagi'.
"Aku tidak akan menyerah, Andromeda." Kilat tajam matanya penuh ambisi. Anggap saja itu sebuah tekad. Jennefit cukup merasa rendah, terlebih oleh sesosok wanita berhijab di dalam mobilnya yang dicetuskan Andromeda sebagai calon istrinya. Mana mungkin ia bisa disetarakan dengan wanita aneh semacam itu, pikirnya congkak.
"Apa kau tidak pegal terus berdiri di tempat itu?!"
Suara bass itu menyentaknya. Jennefit Moon menolehkan kepalanya ke belakang. "Siapa, kau?!" tanyanya dengan nada ketus.
Seraya menurunkan hoodie, disusul kacamatanya, Zack Shangra tersenyum. "Apa aku cukup lain dengan tampilan seperti ini?"
"Zack!"
"Hmm."
Suara hentak heels Jennefit menggema di sekitaran. Wanita itu sedikit berlari menyongsong pria yang berdiri beberapa meter darinya itu. "Zack!" Lalu memeluknya dengan tangis yang memecah.
Seperti biasa, Zack Shangra hanya mengulas senyuman tipis. Menepuk-nepuk lembut punggung gadis itu layaknya seorang kakak menenangkan adiknya yang bersedih. "Tenang saja, Adik Kecil. Kau pasti akan mendapatkan priamu kembali. Juga aku, yang akan mendapatkan wanitaku kembali."
Sontak, Jennefit Moon melepaskan diri dari rengkuhan Zack Shangra. Kalimat pria itu terasa mengejutkannya, namun belum cukup mampu ia cerna, karena masih terdengar ambigu di telinganya. "Maksudmu, Zack?" tanyanya dengan tatapan ingin tahu.
Sesaat mengusap sisa basahan di pipi Jennefit Moon, Zack Shangra lalu berkata, "Kurasa parkiran bukan tempat yang asyik untuk mengobrolkan masalah ini. Kita ke rumahku saja."
Seminggu kemudian ....
Liz Nadiah baru saja keluar dari kamar Kakek Panca, saat Andromeda menghampirinya seraya menyodorkan sebuah paperbag dengan corak garis keemasan di sekelilingnya. "Pakailah," kata Andromeda setelah menyusupkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana.
Pria itu tampak santai dengan kaos putih bergambar donat sisa gigitan di bagian tengahnya, berpadu celana pendek coklat yang hanya sebatas lututnya.
"Apa ini?" Liz Nadiah bertanya sembari membuka tipis bagian atas benda itu, kemudian sedikit mengintipkan wajanya melalui celah yang telah dibuatnya.
"Pakai saja. Sehabis isya, atau sekitar jam 08-an, kita pergi. Ada konser grup musik pavoritku di Alun-Alun kota."
"Konser musik?" Liz Nadiah bertanya mengulang.
"Ya. Selain karena grup musik pavoritku, anggap juga ... itu sebagai permintaan maafku. Karena lagi-lagi aku belum bisa menepati janjiku, membawamu pergi menemui orang tuaku."
__ADS_1
Alasan itu menarik lengkungan tipis di bibir Liz Nadiah. "Aku masih percaya dengan adanya lain waktu. Lagipula kau tidak akan seterusnya bergelut dengan pekerjaanmu, 'kan? Tapi ...." Kali ini wajah ovalnya itu sedikit ia rengutkan.
"Tapi apa?"
".... Kenapa hadiah permintaan maafmu untukku, kau juga yang menikmati keuntungannya?!"
Sejenak Andromeda terdiam. Lalu terkekeh sesaat setelah kepalanya berhasil mencerna kalimat wanitanya itu. "Hey, bukankah kau orang yang gemar berbagi?!"
Liz Nadiah membeliak sebal. "Ya, kalau begitu selamat, kau telah sah menjadi kaum dhuafa," cibirnya.
"Hahaha!" Andromeda tergelak menanggapi. "Jika aku menjadi dhuafa, aku pastikan, seluruh mansion mewah di muka bumi ini akan aku miliki dalam sekejap, termasuk milik Bill Gates, Petra Ecclestone, juga seleb dunia lainnya, hanya dengan jentik jariku."
Benar saja, tidak akan ada kata yang tepat untuk meladeni ocehan pria konyol itu. Liz Nadiah mendengus jengah. "Baiklah, aku percaya. Semoga tanganmu kuat untuk kautadahkan sepanjang waktu sampai tujuanmu tercapai ..." Mulai melangkahkan kakinya melewati tubuh Andromeda. "... rumah sakit jiwa."
"Apa katamu?!"
Andromeda berjalan cepat mensejajarinya.
"Tidak!"
"Memangnya kau mau punya suami sakit jiwa?"
"Heyy!!!"
BRUGGG
Pintu kamar itu ditutup keras Liz Nadiah dari dalam. "Siapa suruh kau bangga menjadi dhuafa!!"
"Kalau begitu aku tidak akan menjadi dhuafa!" teriak Andromeda masih di depan pintu kamar yang dihuni kekasihnya itu.
"Terserah kau saja! Jadi tukang cilok pun aku tak keberatan!" Dengan suara samar tersekat ruang, Liz Nadiah masih menyahuti.
Andromeda tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tukang cilok ... sekeren aku ... yang ada aku akan mati dikeroyok seluruh tulang cilok di dunia, karena cilokku yang paling laris nantinya," ia bergumam. "Tapi ... apa nama cilok di Venezuela?" tanya tololnya pada dirinya sendiri.
Ada rasa bahagia yang tidak bisa dilukiskannya dalam bentuk apa pun. Keberadaan wanita itu di dekatnya seolah menjadi warna baru yang menghapus setiap garis kelam yang pernah menaunginya sebelum itu. "Baiklah. Jam delapan. Kau harus sudah siap!" serunya lagi mengingatkan di antara senyumnya yang mengembang. Lalu melenggang meninggalkan pintu itu dengan perasaan senang yang membuncah.
.....
Suara dering ponsel Andromeda terus berbunyi hingga berulang kali. Sedangkan sang mpunya masih sibuk melengkapi tubuhnya dengan atribut yang akan ia kenakan malam ini bersama Liz Nadiah.
__ADS_1
"Pengganggu!" umpatnya.
Terpaksa, karena lagi-lagi berbunyi, benda pipih yang terus meliuk karena kekuatan vibra-nya di atas nakas itu diraih Andromeda dengan wajah kesal. "Jika itu Sean, akan kucekik dia sampai lehernya sebesar kelingkingku!"
Namun ada yang aneh. Sepertinya Sean akan selamat dari ancaman sintingnya kali ini. Cukup memantik rasa penasaran Andromeda sekaligus kehati-hatiannya. Dengan perlahan ia menggeser icon hijau di layar menyala ponselnya itu. Dan ....
"...."
Tak sampai satu menit lamanya, untaian kata yang diucapkan si penelpon, membuat ekspresi Andromeda seketika berganti menegang. "Baiklah, aku ke sana segera!"
Tanpa babibu, setelah meraih kunci mobilnya, Andromeda berlari keluar dari kamarnya. Ia menghentikan sejenak langkahnya di depan pintu kamar Liz Nadiah yang masih tertutup, seolah menimang sesuatu. Namun kembali melanjutkan langkahnya setelah kepalanya kembali beralih pada ucapan si penelpon yang jelas sangat mengganggunya. "Kukabari nanti saja." Melihat sekilas ke arah jam di pergelangan tangannya seraya menuruni tangga. "Masih satu jam lagi. Aku rasa cukup."
"Tuan Muda, Anda mau kemana?!" Sean yang baru saja keluar dari mobil lainnya, bertanya ingin tahu.
"Aku harus pergi ke suatu tempat!" jawab Andromeda tergesa sembari masuk ke dalam mobilnya lalu menutup keras pintunya.
"Tapi kemana?!" Sean mengikuti gerak mobil itu di samping kaca kemudi Andromeda yang mulai bergerak. "Aku membawa berkas yang harus kau tandatangani!"
Andromeda menurunkan kaca mobilnya--berhenti sejenak menanggapi asistennya. "Nanti saja! Aku tak akan lama," ujarnya meyakinkan. "Tapi, Sean. Jika jam 08 nanti aku belum juga kembali, tolong bawa Nadiah ke Alun-Alun kota. Aku akan temui dia langsung di sana. Dan kau ... jaga dia sampai aku datang."
Sean hanya mengangguk pasrah menanggapi perintah tuannya. Mobil Andromeda telah menghilang dari hadapannya. "Ada apa dengannya?" gumam pria muda itu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu melangkah menuju pintu dengan gedikan bahu--tak peduli.
....
Tak membutuhkan waktu lama. Mobil yang dikendarai Andromeda seperti kesetanan itu telah sampai di halaman sebuah rumah.
Kaki panjangnya berlari cepat menyongsong pintu yang telah nampak seorang wanita dengan wajah cemas--menunggunya.
"Di mana dia?!" tanya gegas Andromeda.
"Ada di dalam kamarnya, Tuan! Dia terus histeris! Kami semua tak ada yang bisa menenangkannya. Dia terus berteriak memanggil nama Anda," sahut wanita yang dari tampilannya--seorang pelayan itu seraya mengikuti Andromeda yang melanting berlari tanpa melihat ke arahnya lagi.
Sesampai dan sedapatnya ....
"JENN, APA YANG KAU LAKUKAN??!!"
-
__ADS_1