Liz Nadiah

Liz Nadiah
Tentang Pakaian Dalam


__ADS_3

Suasana di pusat perbelanjaan malam ini cukup ramai. Lalu lalang manusia beragam suku menjadi pemandangan yang cukup risih bagi Andromeda.


Sebuah masker hitam lengkap dengan kacamata berwarna senada, ia kenakan untuk menutupi wajahnya demi menghindari banyak tatap. Meskipun bukan seorang selebriti, aktor atau pun sejenisnya, paras dan porsi tubuhnya yang bersinar bak Arjuna, cukup memancing perhatian sekitar.


"Tidakkah ini terlalu banyak?"


Pertanyaan itu ditanggap Andromeda hanya dengan gedikan bahu. Telapak tangannya terus saja mengambili baju-baju yang menurutnya pantas dikenakan Liz Nadiah. Mulai dari jenis-jenis tunik, terusan dan gamis syar'i, lengkap dengan hijabnya, ia jejalkan ke dalam troli belanja yang saat ini didorongnya.


Liz Nadiah hanya mendesah pasrah. Pendapatnya selalu tak didengar. Andromeda benar-benar bertingkah layaknya suami yang mencintai istrinya setinggi angkasa. Semua ia putuskan tanpa persetujuan gadis itu. Karena Liz Nadiah terus saja menolak, dan ia tak suka itu.


"Aku suka warna itu."


Liz Nadiah membesarkan matanya, saat telunjuk Andromeda mengarah pada bra set push up berwarna millo yang terpasang pada sebuah patung di sudut toko. Wajahnya tiba-tiba memerah, menahan ... antara malu dan geram.


"Aku ambilkan, ya?"


Telapak tangan Liz Nadiah hanya menggapai udara, tubuh Andromeda telah lebih dulu menjauh sebelum ia berhasil menarik punggung bajunya.


Oh, tidak!


Dengan ringannya, Andromeda melepas pakaian dalam itu dari patungnya.


Liz Nadiah menutupi wajahnya dengan sebelah telapak tangan. Tak ingin menyaksikan polah absurd pria itu di depan sana.


Benar-benar memalukan, pikirnya.


"Bagus, 'kan?"


Dengan kaku, Liz Nadiah mengedarkan pandangnya melihat sekeliling. Semua tatapan mengarah pada Andromeda yang saat ini berdiri di depannya, memegang tanpa malu setelan pakaian dalam wanita dengan aksen berenda itu, yang juga sempat ditimang-timangnya teriring senyuman konyol. Orang-orang di sekitar termasuk pelayan toko, nampak tersenyum-senyum lucu melihat kelakuan pria itu.


"Andro." Liz Nadiah memanggilnya dengan suara pelan--nyaris berbisik.

__ADS_1


"Hmm." Dan Andromeda nampak tak terlalu menggubris. Setelah menaruh bra set tadi pada troli-nya yang mulai penuh, tangannya kini beralih pada sehelai gaun tidur transparan di sampingnya. "Hey! Bukankah ini bagus?!" serunya girang. "Kau akan sangat manis mengenakannya nanti, Nad."


Wajah Liz Nadiah semakin memerah. Ia meringis menahan malu yang telah luber akibat ulah konyol pria tak tahu malu itu. Jika tak memungkinkan menimbulkan kerusuhan, ia sudah pasti menghujani Andromeda dengan tinjuan kerasnya.


Atau ... bisa tidak ia tenggelam saja?


Kicau orang berlalu lalang semakin ramai terdengar. Meskipun wajahnya tertutupi masker juga kacamata, namun tetap saja, karisma dari suara dan senyum indahnya tak bisa menyembunyikan kelebihan tak manusiawi yang dimilikinya.


"Andro ...." Liz Nadiah mulai meradang. "Kau ini waras atau tidak?!" serunya dengan nada geram yang tertahan. "Kau lihat orang-orang itu?" Matanya bergulir kiri dan kanan, menunjukkan keadaan di sekitarnya.


Andromeda melihat ke arah Liz Nadiah, lalu memutar pandangnya ke sekeliling. "Orang-orang itu," gumamnya tak habis pikir. "Apa kalian baru melihat seorang suami memanjakan istrinya sepenuh jiwa?!" Pertanyaan setengah berteriak itu ditujukan Andromeda pada orang-orang yang memandanginya. Diantara mereka bahkan ada yang sampai mengabadikan kegiatan Andromeda melalui bidikan kameranya. "Merepotkan!" umpat pria itu sembari menarik tangan Liz Nadiah juga pegangan troli-nya bersamaan--meninggalkan tempat itu.


Liz Nadiah masih tak percaya. Pasang matanya menatap Andromeda lekat.


Apa tadi pria itu bilang? Suami ... memanjakan istri? Sepenuh jiwa? Yang benar saja!


****


Setelah membayar seluruh pakaian yang dibelinya, Andromeda mengajak Liz Nadiah masuk ke dalam sebuah kafe.


Dengan masih memasang wajah kesalnya, Liz Nadiah menyahut, "Tidak! Kelakuanmu tadi membuatku tiba-tiba kenyang!"


Kalimat itu sontak menarik tatap Andromeda ke arah Liz Nadiah. Sebelum itu ia menurunkan masker dan kacamatanya terlebih dahulu, kemudian menaruhnya ke atas meja di hadapannya. Jelas sudah tampilan lebih dari sempurna parasnya itu.


Dengan tenang Andromeda menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Setahuku semua wanita akan senang jika mendapat perlakuan seperti yang kulakukan tadi," tuturnya dengan sorot mengamati juga seringai tipisnya.


Liz Nadiah mendongak menatapnya. "Iya, tapi tidak seberlebihan dan segila itu!" sangkalnya tak habis pikir.


"Berlebihan? Gila?" Andromeda mengernyitkan wajah. "Apanya yang gila dan berlebihan?" tanyanya sok polos.


Terdengar hembusan napas kasar dari mulut Liz Nadiah. Lama-lama aku bisa stroke mendadak jika berdekatan dengannya terus menerus, keluhnya dalam hati.

__ADS_1


Di statusnya yang bahkan belum menikah, pria itu dengan senangnya menyentuh kebutuhan pribadi wanita, bahkan dimainkan pula. Apakah itu tidak gila? Rasanya ia sendiri yang akan benar-benar gila setelah ini.


"Tidak. Tidak ada!" kata Liz Nadiah akhirnya dengan raut jengah juga pasrahnya.


"Kau jangan cemas, Nadiah. Meskipun aku gila, aku sama sekali tak berfantasi liar dengan benda-benda lucu itu tadi," ujar Andromeda kembali dengan entengnya.


Apa katanya? Benda lucu?


Liz Nadiah dengan tampang dongkolnya.


Tangan kanan Andromeda terjulur maju, meraih sepotong kentang goreng yang telah ia celupkan ke dalam sausnya sebagian, lalu dengan santainya memasukkan makanan itu ke mulutnya. "Toh, suatu hari nanti aku akan tetap melihatmu mengenakannya."


Lagi-lagi hembusan napas kasar dari mulut Liz Nadiah terdengar. "Terserah kau sajalah!" Rasanya tak akan selesai sekejap menanggapi kegilaan pria itu.


Coba lihat, ia bahkan dengan santai menyeruput minumannya setelah membuatnya tak punya wajah di depan semua orang tadi. Benar-benar tak tahu malu!


Di sisi lainnya, di mana sebuah kursi yang letaknya paling sudut di dalam kafe itu, seorang pria ber-hoody mengenakan kacamata bulat bening yang pantas menenggeri hidung mancungnya, terduduk seraya mengocek-ngocek secangkir cappuchino yang baru saja diantarkan pelayan kafe teruntuknya. Tatapannya terjurus lurus pada sepasang manusia yang masih berisik meributkan lingerie dan pakaian dalam beberapa jarak darinya.


"Jika hanya setumpuk pakaian yang kauberikan padanya, maka seluruh berlian di dunia ini, akan aku hadiahkan untuknya," gumam pria yang tak lain adalah Zack Shangra itu dengan senyuman remeh mengarah pada Andromeda. "Siapa pun kau, aku tak peduli, Andromeda. Akan aku pastikan, gaun tidur itu, hanya akan dikenakan Nadiah di depanku, bukan di hadapanmu!"


....


Terlalu lama berdekatan dengan si gila itu, membuat Liz Nadiah merasa pusing. Andromeda benar-benar bisa membuatnya sinting dalam sekejap. Ia mengajak pria itu untuk pulang sesegera mungkin setelah cukup kenyang memandanginya makan.


Keduanya kini berada di parkiran. Andromeda mulai memasukkan satu persatu kantung belanjaan yang tadi ditentengnya penuh ke dalam mobilnya. Sedangkan Liz Nadiah sudah lebih dulu menyusupkan diri ke kursi depan di samping kemudi.


Namun baru saja pintu mobil itu ditutupnya, Andromeda mendengar suara yang cukup familiar di telinganya--memanggilnya dari kejauhan. Ia lantas menoleh. "Jennefit," gumamnya setelah matanya menangkap pasti pemilik suara itu.


Dengan langkah cepatnya, wanita yang mengenakan span merah berpadu kaos putih ketat itu, berjalan menghampiri Andromeda. Suara heels yang membalut telapak kakinya cukup berdebam mengudara. "Kau di sini? Kebetulan sekali," kata wanita itu dengan senyum mengembang. Lantas tanpa malu, Jennefit Moon merentangkan tubuhnya memeluk Andromeda--erat. "Aku merindukanmu. Tolong jangan hindari aku lagi."


Andromeda yang tak sempat menghindar, hanya membelalakan matanya. Cukup tak nyaman dengan situasinya saat ini, setelah wanita itu menorehkan luka di hatinya karena memilih pergi meninggalkannya dulu.

__ADS_1


Lain daripada keduanya, Liz Nadiah yang tengah mengotak-atik ponselnya, tiba-tiba terpaku, menatap pemandangan yang tak seharusnya ia lihat di balik kaca mobil di sampingnya. Hatinya bertanya, siapa wanita itu? Apakah kekasih Andromeda?



__ADS_2