
"Nadiah!!" teriak keras Andromeda mencegah.
"Nona, tolong jangan berlaku gegabah!" Tirta Patih menimpali.
Seolah tak ingin membuang waktu, Liz Nadiah terus berlari tanpa memperdulikan Andromeda dan Tirta yang meneriakinya. Kakinya terus dituntunnya cepat menuju arah penjara bawah tanah di mana Muana dan belasan tawanan lainnya disekap.
Bunyi dari lantai kayu yang dipijakinya cukup berdebam mengudara.
Belasan tentara dibantu beberapa polisi, sudah berpencar mengitari bangunan tua itu. Namun terlihat tak ada tanda-tanda pergerakkan apa pun dari Diraga dan anak buahnya--seperti tempat itu telah kosong.
Andromeda berlari mengejar Liz Nadiah diikuti Tirta Patih di belakangnya.
Meskipun cukup berliku, beruntung, Liz Nadiah masih cukup hafal letak ruang para tawanan itu.
"Tidak ...." Liz Nadiah menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Air matanya telah luruh berjatuhan. Hatinya berdebar lebih dari sekedar cepat. Tapak kaki yang semula diayunnya penuh semangat, kini malah terlihat ia mundurkan, seperti halnya gerakan slowmotion.
Bau amis darah menyeruak menusuk penciuman.
"Nad!" Andromeda telah berada di belakangnya. Lalu maju selangkah memposisikan dirinya tepat di samping wanita itu. Dan seketika, mata indahnya melebar menatap terkejut pemandangan di depannya. "Ya, Tuhanku!"
Pun dengan Tirta Patih. Namun karena ia seorang anggota militer, keberanian menuntunnya untuk maju mendekat pada sumber pandangan mengerikan di hadapan ketiganya. "Kita terlambat. Mereka telah dibantai," katanya menyesalkan.
Semua pintu penjara masih dalam keadaan terkunci rapi. Para tawanan itu ditembaki tanpa belas kasih. Terlihat dari beberapa bagian daging mereka yang berlubang. Paling menonjol, salah satunya ditembak tepat di bagian tengah keningnya.
Darah-darah menggenang di sekitaran mereka, tak sedikit yang terciprat tersebar di bagian dinding. Cairan-cairan pekat itu sudah nampak mengental dan mendekati kering. Mungkin mereka dibantai belasan jam lalu.
Biadab!
Dengan gerak bergetar, Liz Nadiah memaksakan kakinya mendekat ke arah Tirta Patih yang saat ini berjongkok di depan salah satu mayat yang terbujur bersimbah darah dengan mata melotot--terhalang jeruji. Liz Nadiah mengedarkan kepalanya. Mencari sosok yang memang menjadi tujuan utamanya datang kembali ke tempat itu.
"Kau menemukannya?" tanya Andromeda.
Liz Nadiah menggeleng kaku. "Dia tidak ada."
"Benarkah?" Andromeda tak percaya, kepalanya turut bergerak menelisik orang-orang tak bernyawa itu.
Sesaat terdengar Tirta Patih menghubungi seseorang menggunakan handy talky-nya.
"Kalian minggir dulu. Aku akan menembaki gemboknya," pinta pria itu setelah mengaitkan kembali alat komunikasinya ke tempatnya semula di bagian pinggang celananya.
__ADS_1
Liz Nadiah nampak ketakutan. Suara tembakan itu sungguh membuatnya semakin bertambah ngeri. Ia menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan. Matanya tertutup dengan wajah meringis. Sungguh ini bukan dunianya--terlampau menakutkan.
Melihat demikian, Andromeda menarik gadis itu ke dalam dekapnya. Menyusupkan kepalanya dalam lindungan tangannya yang ia lingkarkan di dada-- menghalangi jarak pandang juga menetralisir kengerian wanita itu atas tindakan sahabatnya. Beruntung, pelatihan menembak yang berkali-kali dijalaninya, cukup membuatnya terbiasa dengan suara menggelegar alat berpelatuk tersebut, yang juga mampu ia gunakan.
Tak lama, beberapa pria dengan seragam menyerupai Tirta Patih, telah tiba di ruangan pengap yang kini mereka tapaki itu.
"Keluarkan mereka satu persatu," perintah Tirta Patih. Pria-pria tegap berambut plontos itu cukup terkejut mendapati pemandangan luar biasa naas di depan mereka. Namun tak ada alasan untuk hanya berdiam menikmati keterkejutan. Mereka tetap harus konsisten pada tugasnya. Dengan anggukan tegas, pria yang berjumlah sekitar lima orang itu mulai sigap mengambil tindakan tanpa berkata lagi.
Jenazah-jenazah itu telah mereka keluarkan dari dalam jeruji. Lalu memasukannya satu demi satu ke dalam kantung berwarna kuning yang dikhususkan teruntuknya.
"Kenapa aku tidak menemukan ibu?" Liz Nadiah bergumam rapuh--nampak frustasi. Berdiri gusar menelisik satu persatu mayat yang tengah dimasukkan ke dalam kantungnya. Namun hingga mayat terakhir, ia tetap tak melihat Muana. "Apa yang mereka lakukan pada Ibu Muana?! Kemana mereka membawanya?!" Rasa kalut tak terperi membuat sekujur tubuhnya turut bergetar.
"Tenanglah, Nadiah." Andromeda berdiri di hadapannya. Sepasang tangannya ia tempatkan masing-masing di bahu gadis itu. "Setidaknya dengan begini kau masih punya harapan ... ibumu masih hidup."
Liz Nadiah mendongak menatapnya. "Benarkah begitu?" tanyanya kalut.
Andromeda mengangguk. "Kita pasti menemukannya."
"Benar, Nona. Kami akan berusaha menemukan ibu Anda," Tirta Patih menimpali.
"Kaudengar itu?" Andromeda berusaha meyakinkannya. Setidaknya untuk saat ini, hanya ini yang bisa ia lakukan. Sedikit berharap, semoga dirinya bisa menjadi sandaran gadis itu, tidak hanya untuk saat ini ... tapi juga untuk selamanya.
Meskipun tak cukup yakin, dengan gerak kaku, Liz Nadiah menganggukkan kepalanya.
"Jangan bersedih. Mereka akan dimakamkan secara layak." Andromeda masih berusaha menenangkan. Dalam kilat tajam matanya, ia menatap sisa genangan darah di ujung salah satu jeruji dengan sorot menyala.
Ini bukan lagi bentuk kriminal, melainkan kebiadaban mutlak yang tak butuh pengampunan atas pelakunya.
Mengingat kembali wujud naas para tawanan itu, membuat Andromeda benar-benar merasa murka.
Manusia-manusia yang tidak dimanusiakan, pikirnya prihatin.
Itu jelas, karena iblis bukan tempatnya segala bentuk kebaikan. Dan Diraga Madewa ... mungkin lebih tinggi derajatnya daripada iblis.
"Kita pulang. Qinay pasti mencemaskanmu."
Dengan masih berurai air mata, Liz Nadiah duduk menghadap pemandangan di luar kaca mobil Andromeda. Mobil itu berlari semakin jauh melewati selaksa jalanan berdebu di sore menjelang malam hari ini.
Bayangan wajah prihatin juga lelah Muana, terus membayang di pelupuk matanya, seolah tak ingin pergi.
__ADS_1
"Aku tahu kau tidak baik-baik saja saat ini."
Liz Nadiah menoleh pada pria yang duduk di sampingnya, nampak serius dengan kemudinya.
"Tapi kau harus baik-baik saja," lanjut Andromeda lagi. "Jika kau lemah, kau tidak akan mendapatkan apa pun, bahkan saat kau terus merangkak. Yang ada kau akan jatuh, dan mungkin ... akan tumbang sia-sia."
Liz Nadiah masih menatapnya. "Tapi aku bahkan belum bergerak," imbuhnya lemah.
"Dan kau sudah jatuh!" Andromeda menyergah, sekilas melirik ke arah wanita itu.
Itu benar!
Liz Nadiah baru saja menemukan keluarganya. Kakak laki-laki, juga ibu yang selalu dianggapnya ibu--sama halnya ibu kandungnya sendiri. Tapi belum pun sempat ia memeluk keduanya sebagai keluarga, mereka telah menjauh, seolah waktu tak memberinya dukungan.
"Masih banyak yang harus kaulakukan, selain hanya menangisi kenyataan yang belum tentu kepastiannya," tutur Andromeda kembali.
"Maksudmu?" Liz Nadiah tak mengerti. Dipandangnya pria itu dengan tatapan bertanya.
Andromeda menepikan mobilnya. Lalu merubah posisinya menghadapkan diri ke arah gadis itu. "Nadiah, belum saatnya kau menguras seluruh air matamu hanya untuk ini. Ibumu belum tentu celaka," katanya meyakinkan lagi dan lagi. "Selain itu, masih ada Zack yang harus kau sadarkan."
Kalimat itu cukup menohok. Liz Nadiah memalingkan tatapnya ke arah telapak tangannya yang saling terkait di pangkuannya. Zack Shangra ... ah, bukan ... Kahfi! Benar, pria itu ... bagaimana cara menyadarkannya?
"Kau seorang dokter. Setidaknya kau pasti tahu, cara apa yang bisa dipakai untuk memulihkan ingatan seseorang."
Kata-kata Andromeda membuatnya tepekur. Lagi-lagi ia merasa tolol. Namun karena hal itulah, pikir Liz Nadiah tiba-tiba mengingat seseorang. "Lea!"
Andromeda mengerutkan dahi. "Siapa Lea?"
Pertanyaan itu membuat gadis itu menoleh ke arahnya. "Dia temanku," sahut Liz Nadiah. Kali ini ekspresinya terlihat sedikit berubah semangat. "Kau benar, Andro. Aku rasa Lea bisa membantuku tentang ini. Tapi ...." Dalam sekejap, kegamangan itu kembali menyergapnya.
"Tapi apa?"
Liz Nadiah nampak menundukkan kepalanya. "Bagaimana caranya aku membujuk Kahfi untuk melakukan pengobatan itu?"
Andromeda tersenyum tipis. "Untuk masalah itu ... aku akan bantu pikirkan."
Kedua tatap mereka lagi-lagi bertemu.
"Terima kasih, Andro," kata Liz Nadiah lembut.
"Tak perlu sungkan. Katakan apa pun jika kau membutuhkanku. Selama aku ada, dan selama aku mampu, aku siap membantumu."
__ADS_1
...🍁🍁🍁...