
Saat ini jam menunjukkan pukul 11.30 malam.
Liz Nadiah telah terbuai dalam lelap dalam posisi meringkuk, membelakangi ranjang Zack Shangra yang berjarak dua meter daripadanya.
Seuntai bayang bergerak dalam remang.
Zack Shangra sudah terduduk dengan kaki terjuntai ke lantai. Sepasang tangannya ia taruh di masing-masing kiri dan dan kanan tubuhnya--tertumpu di empuknya kasur.
"Aku tidak percaya kau adikku, Nadiah. Papa merawatku sepenuh hatinya. Papa memberikanku kehidupan luar biasa. Aku seperti Raja dalam perlakuannya. Sedangkan kau ... kau hadir di waktu yang bahkan masih seujung jariku. Mana bisa aku percaya padamu," gumam Zack Shangra panjang lebar. Matanya berkilat tajam menatap tubuh Liz Nadiah yang terbalut selimut tebal. Karena di luar, bumi tengah bermandi guyuran hujan. "Dan Muana, wanita yang kau bilang adalah ibuku ... tidak akan pernah berpengaruh apa pun padaku. Meski jutaan kali dengan tangisan darah kau berusaha meyakinkanku ... aku tetap tidak akan percaya itu!"
Tubuh tegapnya mulai terangkat berdiri. Tanpa alas, ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang Liz Nadiah. Menghitarinya, lalu terhenti tepat di hadapan wanita itu.
Dengan perlahan, Zack Shangra menurunkan tubuhnya. Berjongkok tepat di depan wajah yang terlihat damai dalam pejamnya. Jarak wajahnya dan Liz Nadiah hanya tersisa kurang dari lima puluh senti saja.
"Aku masih tidak tahu ... apa yang membuatku setertarik ini padamu," gumamnya lagi. "Shasy bahkan jauh lebih menggoda daripadamu. Tapi entah kenapa, aku merasa, kau jauh lebih pantas dari sisi mana pun untuk mendampingiku." Jemarinya kanan tangannya mulai terangkat kaku. Melakukan gerakan seolah membelai di pipi halus itu, namun sedikit pun tak disentuhnya, selain udara kosong yang menipu--dirinya sendiri.
"Mungkin dengan aku menyentuhmu, kau akan bersedia mendampingiku. Walau pun harus menghadapi besarnya amarahmu setelahnya, aku siap. Asalkan pada akhirnya ... kau mengalah untukku. Dan berada di sisiku selamanya."
__ADS_1
Ujung selimut di sisi lengan Liz Nadiah, disentuhnya. Lalu diturunkannya perlahan, hingga mendekati bagian lutut gadis itu.
Liz Nadiah bisa merasakan, namun masih dibuai lelap tidurnya. Nampak tubuhnya bergerak tipis. Dinginnya udara mungkin sedikit mengusiknya, meskipun pendingin ruangan tak dinyalakan sama sekali. Hujan deras cukup melahirkan udara menusuk yang membutuhkan kehangatan untuk setidaknya menghalau energi yang dihasilkannya.
Zack Shangra tersenyum. Wajah itu ... meskipun dalam remang, tetap terlihat manis, dan juga... menggoda. Terlebih, tubuh dalam keadaan miring yang meliuk menampilkan lekukan pinggang langsingnya, membuat pria itu mulai menyampingkan akal sehatnya. Tenggorokkannya bahkan terlihat bergerak--tanda menelan saliva yang mulai menggenang disapa gelenyaran yang membutuhkan pelepasan.
Zack Shangra mengangkat jongkok tubuhnya, lalu beralih duduk di samping Liz Nadiah yang nampak meringkuk kedinginan.
Telapak tangannya mulai terangkat nakal mengelus pinggul Liz Nadiah yang masih tertutupi longdress dan celana tidur panjangnya. Dan perbuatannya itu sukses membangunkan wanita itu dari tidurnya.
"Ka-kahfi! Apa yang sedang kaulakukan?!" Spontan ia menarik diri dan beringsut bangkit hingga membentur kepala ranjang.
Liz Nadiah cukup terhenyak. Sejenak ia mengambil napas. "Oke ... Zack. Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak beristirahat? Besok hari pertamamu kemo."
Di luar dugaan, pergerakkan Zack Shangra membuat Liz Nadiah cukup kebingungan. Pria itu maju mendekati dirinya yang jelas sudah terpojok. Lututnya bahkan telah tertekuk. Ia bisa saja lari melewati sisi lain tempat tidurnya. Namun ia tak ingin berburuk sangka terhadap kakaknya itu terlebih dahulu.
"Aku ingin anak darimu, Nadiah."
__ADS_1
DEG
Pernyataan itu sontak membulatkan mata Liz Nadiah. Jantungnya terlonjak kaget. "A-apa maksudmu, Zack?" tanyanya memastikan--mungkin saja ia salah dengar.
Zack Shangra semakin mengikis jarak di antaranya dan wanita itu. "Kumohon, Nadiah. Pindahlah ke sampingku. Tinggalkan Andromeda. Aku bisa membahagiakanmu lebih daripadanya."
Bukan lagi saatnya untuk diam mempertahankan posisi. Liz Nadiah turun secepatnya dari ranjang mini itu melalui sisi berlawanan dari Zack Shangra--sebelum kakaknya itu benar-benar menguncinya. Ia lalu menjauh mendekati pintu.
Liz Nadiah paham maksud pria itu, dan dia juga mengerti, Zack masih dalam keadaan sakit ingatan. Pria itu masih belum bisa mempercayai apa pun yang dikatakannya. "Tolong, Zack. Aku tidak berbohong! Aku ini benar-benar adikmu. Adik satu ayah denganmu!" Masih berusaha meyakinkannya.--
"TIDAK!!" sangkal keras Zack Shangra. "Ayahku Diraga! Dan akan selamanya dia!" Ia telah berdiri--menghadap Liz Nadiah yang cukup cemas menatapnya.
Kepala Liz Nadiah menggeleng tak terima. "Sadarlah, Zack. Dia itu bukan ayahmu. Dia jahat. Dia memberikanmu obat yang merusak daya ingatmu di masa lalu. Dan sekarang kau menderita penyakit itu. Itu karena efek dari obat yang dia berikan padamu! Mengertilah, Zack." Liz Nadiah memelas menatapnya.
Namun sepertinya sia-sia saja. Tatapan Zack tetap tak melunak. Langkah tegapnya mulai terayun mendekati Liz Nadiah yang semakin menunjukkan kecemasannya. "Aku tidak peduli! Untuk sekarang, aku hanya ingin kau!" Suara berat penuh penekanan itu cukup menegaskan kekeraskepalaannya.
Dan ....
__ADS_1
^^^.........^^^