
"Ampun, Tuan! Aku mohon maafkan aku!" raung pilu Muana dengan air mata yang sudah memburai di kedua pipinya, seraya menahan nyeri di sekujur tubuhnya akibat hantaman cambuk milik Diraga Madewa. Kedua tangannya terikat ke belakang dengan posisi terduduk di sebuah bangku bundar tanpa sandaran, di dalam sebuah ruangan pengap tanpa ventilasi di bagian tersembunyi di rumah itu.
"Kata maaf di mulutmu itu tidak akan bisa menolong!" hardik Diraga Madewa. Cambuk sepanjang dua meter dengan pegangan logam yang diukir membentuk kepala ular itu masih mengayun-ayun ditangannya. "Aku hanya butuh pengakuanmu. Siapa kau sebenarnya?! Kenapa kau begitu tertarik pada putraku, Zack?!"
Muana kembali terdiam. Menendang pikirnya untuk memilih sebuah jawaban.
Haruskah ia mengakuinya?
"Aaarrgghh!!"
Teriakan keras wanita itu kembali menggema, saat satu cambukan tanpa belas kasih, ditamparkan Diraga Madewa ke bagian betis Muana. "Katakan! Atau aku akan ...." Pria itu dengan wajah bengisnya, lalu melanjutkan kalimatnya, "Mencongkel ginjal dan jantungmu saat ini juga," ancamnya tepat di depan wajah Muana yang jelas terlihat menyedihkan.
"Aku ibunya!" pungkas cepat Muana mengakui, dengan mata terpejam, sebelum Diraga Madewa mendaratkan kembali cambuk setannya.
Pria psikopat itu nampak terkejut. "Katakan sekali lagi!" pintanya berat dan menekan, raut wajahnya jelas lebih menakutkan dalam pandangan Muana.
Antara rasa sakit dan takut, isakan tangis Muana semakin terdengar pilu. Dengan perlahan, sebuah anggukkan digerakannya. "Iya, Tuan. Aku yakin, Zack putra Anda itu, adalah anakku yang hilang."
"Dari mana kau menilai itu?" tanya Diraga Madewa dengan mata terpicing penasaran.
"Aku seorang ibu, Tuan. Aku mengenalnya lebih dari siapa pun." Ditatapnya wajah Diraga Madewa dengan segenap keyakinannya.
Diraga Madewa terdiam sejenak, lalu bertanya, "Jika aku katakan, Zack lahir dari rahim istriku, apa kau masih kukuh mengakuinya sebagai anakmu?"
Pertanyaan itu cukup membuat Muana terhenyak. Benar, selama ini dia hanya berkiblat pada keyakinannya tentang Zack Shangra yang menurutnya adalah putra kandungnya yang telah lama hilang. Namun pertanyaan Diraga Madewa barusan, cukup menohok perasaannya. Bagaimana kalau ia benar-benar keliru dengan keyakinannya?
__ADS_1
Untuk beberapa waktu Muana masih membeku. Sedangkan Diraga Madewa masih menunggu menatapnya dengan lipatan tangannya di depan dada.
Seperti sebuah stalakmit yang kokoh tergantung di mulut goa, Muana mulai menggerakkan bibirnya. "Tidak, Tuan! Aku yakin, Zack putramu itu adalah anakku yang hilang!" imbuhnya meyakinkan, dengan sorot berkilat teguh tak terpatahkan. Tak lagi dihiraunya rasa sakit dari buah cambukan Diraga yang telah membiru di sekujur tubuhnya. "Selain aku masih mengenali wajah anakku, Zack juga memiliki tanda lahir yang sama persis dengan putraku di bagian tengkuknya."
...**...
Mata bulat Muana semakin membulat. Sejurus pandangnya tertuju pada seorang remaja laki-laki yang jelas sangat ia kenali. Dipercepatnya langkah mengejar bocah remaja yang kini berjalan mendekati sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan di area pasar itu. Berkali-kali mulutnya berteriak memanggil nama yang diyakininya adalah putra satu-satunya yang hilang setelah tragedi kecelakaan bus itu, setahun yang lalu.
Jasad putranya tak pernah ditemukan, bahkan setelah seminggu penyusuran di area sekitar kejadian. Dari total 32 orang yang berada di dalam bus naas itu, hanya ditemukan 31 jasad, dan kesemuanya telah teridentifikasi forensik atas nama teman-teman dan pengajarnya. Sedangkan anak itu, raib entah kemana.
Dengan napas terengah, bahu yang mulai tegap itu berhasil diraih Muana. "Kahfi!"
Pria remaja setara tujuh belas tahun itu menoleh terkejut. "Ada apa, Nyonya?!"
Bulir bening mulai menitik berjatuhan dari bola mata Muana. "Kahfi ... anakku. Kau benar-benar masih hidup, Nak." Telapak tangannya mulai terangkat menyentuh pipi remaja itu.
Berlainan dengan sorot kerinduan dan bahagia Muana, bocah remaja di depannya itu, malah beringsut mundur dengan wajah mengernyit keheranan. "Kau siapa?"
Sekepal jantung Muana terlonjak bukan kepalang. Bingkai matanya kembali dibuat melebar. "Kahfi, kau tidak mengenal Ibu, Nak?" Telapak tangannya masih melayang di depan.
"Ibu? Ibu siapa? Aku tak punya Ibu. Lagipula namaku bukan Kahfi. Aku Zack, Zack Shangra!" tegas remaja itu menekankan.
Muana menggeleng dengan air mata yang telah terburai deras. "Tidak! Kau putraku! Kahfiku!" Sekilas ingatan membawa geraknya spontan meraih tengkuk pria muda itu, memastikan sesuatu.
__ADS_1
Dan benar, ia tidak keliru. Tanda biru kecil di tengkuk kiri remaja itu, jelas adalah tanda lahir milik putranya ... Kahfi Al-Bareeq. "Lihatlah, tanda biru ini. Ibu jelas mengenalinya. Ini tanda lahirmu, Nak. Kahfi anakku! Aku tidak mungkin salah! Aku ibumu, Nak!"
"Jangan mengada-ada, Nyonya! Aku bukan anakmu!" Dengan gerak cepat tanpa ampun, remaja itu membuka pintu mobilnya lalu masuk dan melaju sekencang-kencangnya. Meninggalkan Muana yang terus berteriak menyeru nama Kahfi, hingga mengundang perhatian sekitar.
Kenapa anak itu tak mengenalinya? Lututnya bergetar, Muana bahkan tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Ia terjatuh, kemudian tak sadarkan diri.
Setelah kejadian itu, tak pernah dilihatnya putranya itu di mana pun. Meski berulang kali kakinya menapak tempat yang sama, berharap Kahfinya kembali, namun hampa. Bocah itu tak pernah menampakan dirinya sekilas pun.
Hingga sebelas tahun kemudian ... Muana yang saat itu tengah bekerja sebagai penjaga toko buah di depan sebuah rumah sakit di pusat kota itu, kembali menangkap sosok yang bahkan tak sesaat pun dilupakannya. "Kahfi." Ia terperanjat.
Tak ada Ibu yang bisa melupakan anaknya, meskipun terpisah belasan tahun lamanya. Muana masih ingat, bagaimana bentuk garis wajah Kahfi Albareeq, hidung mancung dan bibir manisnya, pelipis tegasnya, dan semua detail yang ada dalam diri buah hatinya itu. Walaupun yang dilihatnya saat ini adalah Kahfi dengan porsi tubuh lebih tegap berisi, juga lebih dewasa tentunya. Ia tak mungkin salah.
Ia bangkit lalu berjalan untuk memastikan bahwa ia tak sedang bermimpi. Matanya terus mengekori sosok itu, tak peduli apa pun yang dipijaknya. Sesekali langkahnya limbung karna kaki beralas sandal jepit miliknya tersandung bebatuan bata dan sejenisnya yang masih berserak di depan proyek bangunan setengah jadi itu, namun kembali diseimbangkannya.
Hingga tanpa terasa, ia telah memasuki area bagian dalam proyek bangunan. Sedangkan sosok yang dicarinya telah raib di antara sekat ruangan, yang entah ke sebelah mana. Sayang sekali, kaki tuanya tak bisa mengimbangi langkah cepat pria muda itu.
"Maaf, Nyonya, Anda cari siapa?" Seorang pria berseragam khas pegawai proyek, dengan helm dan sepatu boots-nya, mendekat menghampiri Muana yang masih celingukan mencari. "Nyonya, saya sedang bertanya, Anda cari siapa?!"
"Ah!" Muana terperanjat, spontan mengalihkan tatapnya pada pria asing di depannya itu. "A-aku ...." Ia nampak berpikir, jika ia menanyakan nama Kahfi, sudah pasti lelaki ini tak akan mengenalinya. Ia mulai menggali pikirnya, mencoba mengingat nama yang pernah dicetuskan Kahfi Al-Bareeq sebelas tahun yang lalu. Dan .... "Zack, iya Zack," ungkap Muana semangat, setelah berhasil mengingat nama itu, walaupun tak seutuhnya. "Tapi aku lupa nama belakangnya."
Pria ber-helm kuning itu mengernyit. "Zack?" Sejurus pandangnya kini membentur anak tangga di ujung ruangan, seolah berpikir. Sampai sesaat kemudian, tatapnya beralih kembali pada Muana, setelah ia menggapai hasil kerja isi kepalanya. "Ah, mungkin maksud Anda, Tuan Zack, Zack Shangra."
"Benar, Zack Shangra. Iya dia!" Ekspresi girang Muana tak lagi mampu disembunyikannya. "Aku ingin bertemu dengannya. Dia bekerja di sini, 'kan?"
"Umm, iya. Dia pemilik bangunan ini!"
__ADS_1
...🕊️🕊️🕊️...