
"Ini rumah siapa?" Shinar bertanya seraya memutar tubuhnya perlahan, mengedar ke sekeliling.
"Ini rumahku," sahut Kahfi singkat. "Duduklah dulu." Dirangkulnya pundak Shinar, lalu menuntunnya melangkah menuju selingkar sofa di ruang tengah rumah minimalis itu. "Aku buatkan minum sebentar untukmu." Mengulas manis senyumnya, lalu berbalik badan meninggalkan Shinar yang sudah terduduk di sofa tersebut.
"Umm ... Kahfi!"
Seruan Shinar menghentikan langkah kaki Kahfi yang baru saja mencapai ambang pintu penghubung antara ruangan itu dan sebuah dapur. "Ada apa?" tanya Kahfi menolehnya.
"Umm ...." Shinar nampak ragu untuk berbicara.
"Katakan saja." Kahfi menyambar.
"Umm ... memangnya ... jam berapa kita akan terbang ke kota itu?"
Dengan sebelah tangan terselip di saku celana, Kahfi tersenyum menatap gadis itu. "Sebentar lagi. Kita ke sini hanya untuk mengambil barang-barangku."
"Begitu." Senyuman kaku diperlihatkan Shinar. Sedikit merasa malu dengan pertanyaannya yang jelas menunjukan jika ia benar-benar tidak sabar dengan rencana pergi mereka ke suatu kota, seperti yang dikatakan Kahfi.
"Tunggulah sebentar. Aku buatkan minum dulu. Setelah itu aku akan bersiap-siap," kata Kahfi lembut dengan senyuman yang mungkin wanita mana pun akan terbius olehnya, meskipun dengan penampilan yang terlihat tak cocok dengan pribadi dan fisiknya.
"Ya." Shinar mengangguk dengan tatapan terbius.
Tak lama, Kahfi datang dengan segelas minuman berwarna jingga, dengan es batu kotak-kotak di dalamnya. Menyesuaikan udara yang cukup terik di siang hari ini. "Minumlah, aku ke dalam dulu."
Shinar hanya mengangguk. Gelas dingin itu telah mendarat di telapak tangannya. Terlihat sangat menggiurkan. Hingga menabung saliva di mulutnya. Gadis itu laju meneguknya setelah Kahfi tak lagi terlihat di hadapannya.
Selang beberapa menit.
__ADS_1
Shinar meraba tengkuknya perlahan, yang entah mengapa tiba-tiba terasa aneh. Wajahnya mengernyit merasakan hangat yang mulai menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. "Ada apa denganku?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
Dalam sekian menit, rasa hangat itu berubah menjadi panas. Panas yang semakin lama semakin terasa mencengkramnya. Seperti dahaga yang butuh air untuk menghilangkannya. Tapi di sini ... ia merasakan dahaga yang lain. Dahaga yang butuh pelepasan dalam arti....
Tanpa berpikir lagi, karena keadaan tubuh yang semakin dirasanya tak bisa dikendalikan, Shinar membuka cardigant rajut milik Liz Nadiah yang dikenakannya itu, menyisakan kaos putih ketat setelahnya. Sebuah majalah diraihnya dari atas meja, lalu digunakannya untuk mengipasi bagian tubuhnya yang gerah.
Tapi tidak! Angin yang dihasilkan majalah itu, tak sedikit pun membantu.
....
Di dalam ruangan lain di rumah itu.
Tubuh tegap yang sekarang hanya menyisakan celana panjangnya, berdiri tegak menatap pantulan bayangannya sendiri di dalam cermin, setelah kaos bercorak tak biasa yang semula dikenakannya, dilemparkannya ke sembarang arah.
Tak ada senyuman di wajahnya, selain ekspresi aneh yang sepertinya menyimpan banyak tanya. Kacamata bulat besar yang tadi menunjang penampilannya, terlihat tergeletak begitu saja di depannya. "Apa yang sebenarnya aku lakukan?" gumamnya kemudian menunduk. "Apa baiknya untukku semua ini?" Kedua telapak tangannya ia tempelkan di sisian wastafel yang kini dikiblatinya.
Detik itu pula, ingatannya kembali melayang pada kejadian sebelas tahun silam, di mana saat itu seorang ibu memanggilnya dengan sebutan Kahfi. Dan tiga hari yang lalu, saat ia mendatangi kediaman ibunya Shinar dalam rangka mencari sesuatu yang bisa ia manfaatkan dalam misinya, untuk membawa dan menyerahkan gadis itu kembali pada Nolan, ia juga menemukan nama Kahfi di dalam sebuah buku harian tulisan Shinar, lengkap dengan segala cerita pertemanan mereka.
Namun yang cukup membuatnya terkejut, photo lelaki kecil bernama Kahfi yang ditemukannya di sela buku mini itu, benar-benar mirip dirinya. Yang membedakan hanya kacamata yang tak ia kenakan, sedangkan photo Kahfi di dalam potret, nampak telah terbiasa dengan benda itu.
Lalu kemana pria kecil bernama Kahfi itu sebenarnya?
Shinar bercerita sepenggal dalam perjalanan mereka ke tempat itu, tadi. Bahwa ia tak pernah bertemu Kahfi setelah ia pindah rumah, dan bahkan setelah ia kembali lagi ke rumah asalnya. Dan dengan kaku, pria yang tak lain adalah Zack Shangra yang saat ini berperan apik sebagai Kahfi itu, berkilah dengan alasan, ia melanjutkan pendidikan di luar negeri. Dan kelakarnya itu menciptakan kerutan tebal di wajah Shinar. Gadis itu berkata, ''kehidupan ekonomi keluargamu sudah cukup banyak berubah sepertinya.''
Zack Shangra menyimpulkan dari kalimat tanggapan Shinar tersebut ... Kahfi Albareeq ... bukan berasal dari keluarga kaya seperti dirinya. Tapi kenapa bisa ia dan Kahfi begitu mirip?
Lalu wanita tua itu ... ia bahkan tak ingat lagi bagaimana wajahnya. Kenyataan ini cukup menjadi teka-teki sulit bagi dirinya.
__ADS_1
"Aaaaarrrgggg!!" Dengan rambut yang dicengkramnya dan kepala menengadah ke atas, Zack Shangra berteriak frustasi.
Hingga sebuah suara dari arah luar kamar yang saat ini dipijaknya, membuat ekspresi Zack Shangra berganti terkejut.
"Shit!" umpatnya. Ia melanting keluar dengan bertelanjang dada. Suara itu seolah menyadarkannya atas sesuatu yang telah dilakukannya beberapa saat lalu.
Terdengar pintu yang dibanting keras. Langkah tergesa Zack Shangra kini telah tiba di ruang tamu, di mana Shinar berada.
Matanya dalam sekejap membingkai lebar. Pemandangan di depannya itu membuatnya menelah ludah berkali-kali. Shinar bergerak tak nyaman ke sana kemari di atas sofa. Kaos putih yang dikenakannya telah tanggal--tergeletak di lantai.
Sekilas mengalihkan pandangnya pada jam klasik yang tersampir di satu bilah dinding di dekatnya. "Kemana Nolan? Kenapa pria sialan itu belum juga datang? Ini telah lewat satu jam dari perjanjian." Zack Shangra berkacak pinggang kebingungan.
Ya, tujuan ia menabur obat perangsang di minuman itu, tak lain adalah untuk menjerat Shinar tanpa ada penolakan yang menyulitkan dari gadis itu. Namun sampai detik ini, Nolan belum juga menunjukan batang hidungnya.
"Sial!!" umpat Zack Shangra lagi. Lenguhan dan suara berat Shinar yang terus meminta tolong, semakin mengusik kelelakiannya. Bahkan pendekar di balik celananya telah turut menegang--meminta pelepasan.
Bagaimana tidak, Shinar terus bergelinjang, berguling ke sana dan kemari. Rok selutut yang dikenakannya telah meringsut sampai ke pangkal pahanya. Menunjukan pemandangan yang lelaki mana pun jelas akan tergiur karenanya.
Demi apa pun, keadaan itu lebih membuat Zack Shangra frustasi dibanding teka-teki tentang Kahfi Albareeq. Ia membalik tubuhnya membelakangi gadis itu.
Namun tanpa diduganya, Shinar bangkit dan menarik kencang lengan kanannya, hingga ia terhuyung ke belakang.
Kekuatan obat itu membuat Shinar semakin lupa jati dirinya. Ia menciumi Zack Shangra dengan rakus, setelah mendorong tubuh pria itu ke sofa di belakangnya. Menurunkan tubuhnya dengan cepat, lalu duduk di lahunan pria itu, berhadapan.
Di tengah kuasa gairah yang memuncak, Shinar terus mencumbui bibir merah Zack Shangra lalu menjelajahnya seperti seorang pemain profesional. Mengecup dan memainkan lidahnya di bibir pria itu. Zack Shangra tak membalasnya. Masih bergeming dalam keterkejutannya.
Sampai kecupan itu Shinar turunkan ke bagian lehernya, laju semakin turun ke dada, hingga ke bagian perutnya, barulah Zack Shangra bereaksi.
__ADS_1
...---...