Liz Nadiah

Liz Nadiah
Ancaman - Tak Sengaja


__ADS_3

"Wanita itu ... adiknya Kahfi?" Diraga Madewa bergumam, menerka. Hampir 15 menit, waktu yang cukup lama untuk ia bisa mendengarkan seluruh percakapan antara Liz Nadiah dan Zack Shangra.


Diraga berdiri di samping pintu bagian luar kamar milik putra angkatnya itu. "Ini akan sangat mengancam," imbuhnya kalut. "Ingatan Zack bisa kembali pulih jika terus ditempa dengan masa lalunya seperti itu. Tidak! Itu tidak boleh terjadi." Diraga menggeleng tak terima. "Zack harus tetap menjadi Zack, putraku, robot perusahaanku."


Dengan langkah cepat ia berjalan menuju kamarnya yang terletak di sisi kanan--terhalang satu kamar lainnya, masih satu bagian di lantai dua rumah besar itu.


Sebuah telepon genggam diraihnya cepat dari atas meja kecil di samping ranjangnya. Mencari satu di antara deretan nama yang tersusun vertikal di layarnya. Tak lama ditemukannya dalam detik ketiga perhitungan waktu. Laju dihubunginya melalui sambungan telpon. "Aku butuh obat itu lagi secepatnya!" ujar Diraga Madewa setelah terdengar sahutan di seberang line panggilannya, tanpa basa-basi.


"...."


Wajahnya mengernyit kelam, mendengarkan penuturan lawan bicaranya. "Peduli setan dengan badai salju! Aku tidak mau tahu, kirimkan obat itu segera!" Dengan napas cepat bercampur emosi, ia membanting ponselnya ke atas ranjang. "Tidak akan kubiarkan siapa pun menghancurkan kejayaanku!"


Tatapan geramnya terbentur pada sebingkai photo yang terkait di satu bagian dinding kamarnya, di mana potret itu melukiskan sosok Zack Shangra dan dirinya yang tertawa bahagia di halaman depan hotel miliknya usai peresmian bangunan itu beberapa bulan lalu. "Sial! Kenapa aku bisa lupa kalau obat itu habis," katanya. Lalu melempar tatapan elangnya ke arah berlawanan. "Aku harus menyingkirkan gadis itu!"


Diraga mengetahui jelas siapa Zack Shangra. Bahkan jauh sebelum Muana mengaku dirinya sebagai ibu pemuda itu. Ia bukan orang bodoh yang mengambil tindakan serampangan.


Semua identitas lengkap pemuda itu sudah di kepalanya. Termasuk seorang adik perempuan satu ayah namun berbeda ibu dengan Zack, ia juga tahu. Tapi wujud setelah dewasa anak perempuan itu ... ia baru melihatnya saat ini. Karena saat penelusuran, Zack Shangra berstatus sebatang kara.


Dan jika benar wanita dokter itu adalah adiknya ... jelas akan menjadi ancaman bagi Diraga, juga kerajaan bisnisnya di kota itu.



Tas jinjing berisi alat-alat medis yang semula hendak digunakannya untuk pemeriksaan Zack Shangra, terayun lamban di telapak tangan Liz Nadiah. Sesaat membalik badannya, menatap gerbang yang menjulang tinggi di hadapannya itu, sendu.


Mungkin iya, dia telah salah. Terlalu cepat berasumsi jika Zack Shangra adalah Kahfi Albareeq. Tapi entah, perasaannya seolah tetap menyanggah hal itu. Ia tetap yakin, pria itu ... adalah Kahfi--kakaknya.


Tanpa sepatah kata pun, Liz Nadiah meninggalkan rumah besar itu, tak lama setelah Zack Shangra dengan nada keruh mengusirnya.

__ADS_1


Tak ada perintah dari pria itu pada pesuruhnya untuk mengantar kembali Liz Nadiah ke kediamannya. Semua menjadi kaku dalam sekejap. Kaku dalam nuansa lain--layaknya pertemuan pertama kali. Ini terlalu dalam untuk dikatakan tahap perkenalan.


Dengan langkah gontai ditinggalkan Liz Nadiah rumah megah itu. Menyusur jalanan kelabu di sore beranjak pekat hari ini. Cukup jauh kakinya merayap, juga melelahkan. Tak satu pun taksi dilihatnya lalu lalang di sekitaran area. Salahnya ia tak menggunakan aplikasi apa pun terhubung jasa angkutan online.


Seolah waktu kelam memang telah dipersiapkan untuknya hari ini, baterai ponselnya pun turut sekarat. Ia tak bisa menghubungi Qinay yang seminggu lalu baru dibelikannya sebuah ponsel.


Dalam situasi seperti ini, mengapa juga ia harus lupa membawa dompetnya.


Apa pula mau dikata!


Kumandang adzan ashar mulai menggema. Suara panggilan merdu mendayu itu terdengar keras dan cukup dekat ditangkap pendengaran Liz Nadiah. Ia memutuskan untuk mencari di mana masjid sumber adzan itu berada. Dan berhasil ditemukannya di ujung sisian jalan, yang mengarah ke jalanan kota.


Air kran cukup segar untuk melepas rasa haus dan penatnya saat ini. Menampungnya di telapak tangan yang dicekungkan layaknya mangkuk, lalu diminumnya sedikit. Selepasnya ia mulai bersuci. "Alhamdulillah," ucapnya penuh syukur. Kemudian berjalan memasuki bagian utama masjid untuk menunaikan kewajibannya.


....


Udara semakin meredup, seiring waktu yang merangkak mendekat malam. Liz Nadiah bangkit berdiri setelah melepas dan melipat mukena yang baru saja dikenakannya. Ia berjalan menuju rak untuk menaruh kain itu kembali ke tempatnya.


Ia harus gegas, sebelum malam mendahuluinya sampai ke rumah. Ia akan mencari angkutan, ojek atau apalah semacamnya, lalu membayarkan ongkosnya setelah sampai di kediamannya, begitu pikir Nadiah.


Namun baru saja tapak kakinya mencapai ujung tirai pemisah antara tempat pria dan wanita di dalam rumah ibadah itu, matanya tercuri oleh sebuah pemandangan tak asing, di dekat pilar besar di samping kiri ruangan.


Entah mengapa, hasil penglihatan itu seketika menghangatkan hatinya. Sosok itu tengah terpejam, duduk dengan kaki terlipat apik--khas orang shalat, mengangkat kedua tangannya--berdo'a. Tak ada gerak bibir yang memperlihatkan ia tengah mengucap sesuatu. Berdo'a dengan hati ... mungkin seperti itu.


Andromeda!


Rambut pekatnya masih nampak basah, sisa sapuan air wudhu, tersisir tak cukup rapi ke belakang. Tubuh tegapnya terbalut kemeja biru tanpa dasi. Meskipun ia seorang pengusaha, tapi sepertinya ia tak cukup suka mengenakan jas atau semacamnya. Setidaknya begitu yang ditangkap Liz Nadiah acapkali bertemu pria itu.

__ADS_1


Sungguh mahakarya Tuhan yang sangat sempurna. Liz Nadiah sebenarnya cukup kagum akan kenyataan itu. Persis seperti yang katakan Qinay, pria itu memang tampan berkarisma. Namun sayang, banyak hal lain dalam diri Andromeda yang membuatnya menentang kelebihannya tersebut.


Kedua telapak tangan Andromeda mulai bergerak mengusap turun wajahnya secara perlahan. Menghayati kalimat penutupan do'anya--mungkin. Namun baru setengah tubuhnya terangkat, matanya berhasil menangkap sosok itu, ia menoleh dalam posisi membungkuk. "Nadiah." Lalu menegakkan tubuhnya sontak dengan tetap melihat ke arah gadis itu, berdiri.


Liz Nadiah mengerjap kaku, manakala ia menyadari Andromeda sudah menangkap sosoknya. Ia membuang wajah salah tingkah. Kemudian berjalan cepat meninggalkan posisinya sebelum suasana canggung tercipta di antaranya.


"Tunggu!" Andromeda melanting mengejar gadis itu yang tapak kakinya mulai mencapai anak tangga halaman masjid. "Nadiah!"


Tapi sepertinya teriakan itu tak cukup mempengaruhi langkah gegas Liz Nadiah. Terlihat sekilas membenarkan hijabnya yang terlipat disapu angin, seraya terus mempercepat langkahnya. Akan sangat rumit urusannya jika ia berurusan dengan pria itu, pikirnya.


"Hey!"


Liz Nadiah merasakan tangan kanannya ditarik, hingga membuatnya spontan berbalik mengikuti alur tarikan itu sendiri. "Apa-apaan kau ini!" serunya cukup terkejut, seraya menarik kasar telapak tangannya yang masih dalam cengkraman Andromeda.


Wajah menyebalkan Andromeda kembali terlihat. "Wajahku terlalu mahal untuk ditatap secara gratis," ujarnya mulai lagi.


"Ha?" Liz Nadiah membesarkan pupil matanya. "Apa maksudmu?"


Sepasang tangan kekar Andromeda dilipatnya di depan dada. Ia laju bergerak mengelilingi Liz Nadiah yang nampak tak sabar menunggu jawabannya, terpulas senyuman geli meresahkan.


"Kau jenis wanita tidak bertanggungjawab rupanya," imbuhnya enteng. "Setelah puas memandangiku di dalam sana, kau lari begitu saja tanpa rasa bersalah."


Wajah Liz Nadiah kini berganti ekspresi. Urat-urat emosinya mulai terlihat. "Apa katamu?" tanyanya tak terima. "Hey, Tuan! Aku tidak ada melakukan kesalahan apa pun padamu. Jangan mengada-ada. Lagipula ... tak ada yang menarik darimu. Jadi untuk apa aku memandangimu!" elaknya. "Tadi itu hanya ...."


Langkah Andromeda berhenti kembali di depan Liz Nadiah--berhadapan. Senyumnya masih apik tersungging tanpa beban. Membuat gadis itu bungkam di antara kepalanya yang masih memikirkan kelanjutan penjelasannya. "Hanya apa?"


Liz Nadiah merasa terjebak. "Hanya ... hanya tak sengaja melihatmu! Iya, begitu! Tak sengaja." Ia menjawab sekenanya, lalu memalingkan cepat wajah kikuknya ke lain arah, menghindari tatapan konyol Andromeda yang entah mengapa membuatnya malah semakin merasa tak nyaman.

__ADS_1


Andromeda terkekeh menanggapinya. Jujur saja, dalam pandangnya, saat canggung seperti itu, Liz Nadiah malah terlihat manis dengan wajah semerah tomat menahan malunya. Dan ia suka itu. "Temani aku makan."



__ADS_2