
Meskipun sulit, Akhirnya, Liz Nadiah mampu membujuk Zack Shangra untuk ikut bersamanya ke Kota S.
Dan di sinilah mereka saat ini, di depan halaman rumah megah Diraga Madewa.
Dengan berat hati, Andromeda melepaskan Liz Nadiah pergi ke kota itu bersama Zack Shangra, guna melakukan perawatan untuk pria itu di sana.
Ia sendiri tak bisa ikut beserta mereka, karena tuntutan pekerjaannya yang cukup padat dan tak bisa diwakilkan hanya pada Sean dan pegawainya yang lain.
"Berhati-hatilah. Jaga diri kalian baik-baik. Aku pasti akan menyusul setelah pekerjaanku selesai," kata Andromeda seraya menutup pintu mobil yang baru saja menelan Liz Nadiah di baliknya. "Kabari aku jika ada apa-apa."
Liz Nadiah menarik sudut bibirnya seraya mengangguk. "Pasti. Aku titip Kakek padamu. Ingatkan pada suster, jangan sampai vitamin dan obatnya terlewat."
Sekilas mengasak pucuk kepala Liz Nadiah yang berbalut pashmina jingga kemerahan. "Tentu, Nad."
Zack Shangra hanya tersenyum tipis memandang Andromeda. Sampai akhirnya kaca itu tertutup sempurna dan menyisakan hanya pantulan bayang Andromeda sendiri di kaca hitam itu. Ia melambaikan tangannya--cukup berat hatinya melepas wanita itu menjauh, walau masih bisa dijangkaunya.
Perjalanan berjam-jam itu dilalui Liz Nadiah dan Zack Shangra dalam diam. Bahkan supir yang mengendarai mobil itu pun, ikut terdiam. Atmosfer di dalamnya terasa mencekam.
Liz Nadiah bisa menangkap wajah muram kakaknya yang terus mengarahkan wajahnya pada kaca di sampingnya, menatap jalanan. Ia tahu, tak akan mudah bagi Zack Shangra menerima kepahitan itu untuk waktu secepat ini. Terlebih yang entah bagaimana caranya, pria itu bisa jatuh cinta padanya. Tapi setidaknya, ada dirinya yang kini menemani--sebagai seorang adik.
"Kau haus?"
Hanya sekilas Zack Shangra mengalihkan tatapnya pada Liz Nadiah, lalu kembali pada fokusnya semula--menatap jalanan berganti. "Tidak."
Begitulah sampai berulang. Pertanyaan-pertanyaan kecil dan sederhana semacam itu, hanya ditanggap Zack Shangra dengan gelengan.
Meskipun cukup mencubit hatinya, Liz Nadiah berusaha mengerti. Pria itu masih dalam keadaan hilang ingatan. Dan rasa cintanya yang tiba-tiba harus berganti peran, jelas pasti membuatnya tak nyaman.
Hampir tujuh jam berlalu ....
Mobil itu telah sampai di pelataran sebuah hotel di Kota S.
Tanpa menunggu dibukakan, Zack Shangra telah keluar lebih dulu dari dalamnya, tak ingin dianggap lemah.
Liz Nadiah hanya menatap punggungnya yang mulai memasuki bagian lobi hotel, kemudian mengekor pelan di belakangnya.
"Aku pesan satu kamar dengan dua tempat tidur."
__ADS_1
Liz Nadiah terpelongo kaget. "Sa-satu kamar? Kenapa tidak dua saja?"
"Bukankah kaubilang aku ini kakakmu? Lalu apa masalahnya?" jawab Zack Shangra tenang saja, seraya menerima satu buah cardlock dari tangan resepsionis. "Ayo."
Itu benar, Zack Shangra memang kakaknya, tapi untuk tidur dalam satu kamar meskipun dengan ranjang terpisah ... Liz Nadiah jelas tak terbiasa. Seolah tak ada opsi lain--lebih kepada tak ingin berdebat, dengan pasrah Liz Nadiah berjalan mendorong kopernya kembali mengekor di belakang pria itu.
Sekali hempas, Zack Shangra membaringkan tubuhnya pada single bad bersebelahan dengan adiknya. Matanya ia pejamkan tak peduli sekitar. Kepalanya masih cukup pening untuk melakukan berbagai hal. Sejenak tidur, mungkin bisa menghapus rasa penatnya, pikir Zack Shangra.
Sehubung adzan ashar telah berkumandang dari setengah jam yang lalu, Liz Nadiah lebih memilih membersihkan diri terlebih dahulu, lalu melaksanakan kewajibannya. Setelah itu barulah ia merebah diri, melepas penat akibat serangan macet di perjalanan, dan itu cukup membuat sekujur badannya terasa pegal.
Dalam diam, Zack Shangra bangkit dari baringnya. Sebenarnya sejak awal ia sama sekali tak bisa menyusur lelap. Entah karena apa.
Sejenak melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya. Pukul 05.15 menjelang maghrib. Ia lalu melepas sepatu yang masih membalut sepasang kakinya. Menaruhnya ke lantai, lalu bangkit berdiri.
Tanpa suara, kaki panjangnya bergerak melangkah, mendekati Liz Nadiah yang telah berhasil mencapai alam lelapnya--meringkuk miring membelakanginya. Sepertinya AC di ruangan itu cukup dingin, Zack Shangra menyadari. Lalu dengan hati-hati dan perlahan, selimut yang terlipat di ujung ranjang Liz Nadiah, ia balutkan ke tubuh adiknya itu, memberikannya kehangatan. Liz Nadiah nampak menggeliat sekilas. Matanya masih terpejam. Selimut itu dinikmatinya dalam lelap yang menenangkan.
Zack Shangra tersenyum. Pemandangan itu terlalu indah untuk ia lewatkan. "Sampai kapan pun, kau tak akan pernah jadi adikku ... Nadiah. Kau itu milikku," gumamnya dengan sorot berubah tajam.
...----...
"Nadiah ...."
Lantas dengan tergesa, Kenan Lingga menyusun langkah cepatnya menuju koridor di mana ia baru saja melihat Liz Nadiah berjalan beberapa jarak dari posisinya. Dan ia bisa menangkap, punggung gadis itu mulai berbelok menjejaki koridor lainnya di ujung sana, beserta lelaki yang berjalan beriringan bersamanya.
Dapat!
"Nad!!" seru Kenan Lingga. Mungkin ia mulai gila, dalam hitungan detik, hanya karena melihat sosok Liz Nadiah, peraturan 'dilarang berisik' sudah ditabraknya tanpa berpikir.
Namun nihil, Liz Nadiah dan pria itu, telah lebih dulu menghilang di balik pintu elevator yang merangkap.
Sial!
....
Hanya dua kali ketukan, pintu itu telah terbuka.
Seketika dua pasang mata itu bertemu.
__ADS_1
"Nadiah ...."
Liz Nadiah tersenyum rindu menatapnya. "Apa kabar ... Lea?"
Malea Lupi masih dalam kekagetannya. "Ba-baik."
Melepaskan perasaannya, Liz Nadiah menghantamkan dirinya memeluk Malea Lupi dengan tetesan haru penuh kerinduan.
Malea Lupi membalasnya dengan kaku. Ini terlalu mengejutkan untuknya.
Sesaat setelahnya, ketiga orang itu telah berkumpul mengisi selingkar sofa di ruang kerja Malea Lupi.
"Kenalkan ... ini kakakku, Kah--"
"Zack, panggil saja, Zack!" sergah Zack Shangra cepat. Ia tak suka nama itu.
Liz Nadiah mendesah pasrah. Ia tahu pasti, Zack orang yang keras, tak akan semudah itu menaklukan pemikirannya.
Ini adalah kejutan kedua kalinya bagi Malea, setelah kedatangannya, saat ini Liz Nadiah membawa seorang pria tampan, yang ia akui sebagai kakaknya. Bagaimana bisa?
Namun tak cukup waktu untuk bergelut dengan pemikiran, dengan kaku, Malea Lupi menerima uluran tangan Zack Shangra. "Lea."
"Lea ... nama yang cantik," imbuh Zack Shangra diakhiri senyuman manisnya.
Malea Lupi mengerjap, sedikit tersihir oleh karisma Arjuna pria yang kini duduk di hadapannya itu. Ia membuang pandangannya salah tingkah. Zack shangra hanya tipis tersenyum menanggapi itu.
"Jadi begini Lea ...."
Tanpa menunggu dan mengulur waktu lagi, Liz Nadiah langsung menceritakan segala tujuannya mendatangi sahabatnya itu.
Yang kemudian disambut Malea dengan terjangan kaget luar biasa setelahnya. Ia menatap Zack Shangra prihatin. Pria sesempurna dia ... sakit separah itu.
Zack Shangra tak suka dipandang dengan wajah kasihan. Ia melempar tatapannya ke sudut lain di ruangan itu, dengan raut jengah.
"Bisa 'kan, kau membantuku, Lea?"
Tatapan Malea Lupi kembali pada Nadiah. "Aku akan coba hubungi Dokter William. Semoga dia ada waktu," katanya. "Mungkin mulai besok kita lakukan pemeriksaan mendalam."
Di luar pintu ruangan ....
__ADS_1
"Jadi ... pria itu, kakaknya Nadiah," Kenan Lingga bergumam. "Benarkah itu?"