Liz Nadiah

Liz Nadiah
Rumah Suram


__ADS_3

"Sean berhenti!"


Pedal rem itu diinjak Sean spontan. "Ada apa, Tuan Muda?" tanyanya dengan nada terkejut.


Andromeda bergeming. Selain kepala dan matanya yang bergerak mengedar, naik dan turun, menghadap ke luar kaca mobilnya membelakangi Sean. "Kenapa aku baru tahu, ada bangunan sebesar ini di sekitar sini?"


Sean mengambil jarak pandang yang dituju sang atasan. Membungkukan sedikit tubuh dengan mata mengamati. "Itu karena Tuan Muda baru melalui jalan ini. Setahuku ini bangunan lama, Tuan. Milik Tuan Tanah terdahulu di tempat ini."


"Benarkah?"


"Iya. Aku pernah menumpang buang air di toilet belakang di dalam sana, saat Tuan Muda hilang di perkebunan waktu itu. Sangat seram. Aku dengar dari penjaganya, di dalam sana banyak hantunya." Sean menjelaskan seringan kepalanya berpikir, diakhiri gerak bergidik membayangkan pengalamannya masuk ke rumah besar itu.


"Kau masuk ke sana saat apa?"


"Ngg ...?" Sepasang mata indah Andromeda telah sempurna memicing tajam, menatap asistennya itu. Sesaat menyadari, Sean merasa benar-benar telah salah memilih kalimat penjelas.


"Kenapa kau diam?"


"Iya, ngg ... saat Tuan Muda ...." Cengiran kuda dengan ekspresi takut menghiasi wajah pucat Sean kali ini.


"Saat aku hampir mati, begitu?" sergah Andromeda sarkas.


"Hehe." Sean beringsut perlahan. Kembali menegakkan tubuhnya di depan kemudi dengan wajah bodoh.


Andromeda mendengus sebal. "Aku berharap setan-setan di dalam rumah itu menemuimu nanti malam."


Wajah Sean melongo sekejap lalu melengos. "Kenapa isi harapanmu indah sekali, Tuan Muda?"


"Itu mungkin bualan. Lain kali ... kubenamkan kau di lumpur hidup hutan Amazon."


Sean meninggikan sedikit pundaknya mensejajari kedua rahangnya. Wajah imut hitam manisnya dibuat seolah ketakutan. "Kau sudah mirip Juragan Dahlan, Tuan Muda."


"Aku bisa lebih kejam dari Adolf Hitler."


Sebuah mobil silver merk ternama, bergerak dari arah depan. Perlahan merangkak semakin mendekat, mengusik dialog receh antara kedua pria itu.


Perhatian Andromeda dan Sean kini terpusat ke arahnya. Mobil itu terlihat berbelok memasuki gerbang setinggi tiga setengah meter di depannya.


"Jalan, Sean."


Sean mengerjap, lalu mengangguk. Mulai memainkan perannya sebagai supir tanpa menyahut apa pun lagi.


Baru saja deru suara mesin terdengar menyala, seseorang mengetuk di bagian luar kaca Andromeda. Pria dengan seragam hitam kebiruan menyerupai security.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya langsung Andromeda setelah menurunkan kaca mobilnya.


..........


..........


Cabriole, sofa mewah bergaya klasik yang terkenal pada abad ke 18 di Prancis, diduduki Andromeda berdampingan dengan Sean di dalam rumah besar yang terletak di selatan desa dan perkebunan kelapa milik Andromeda itu.


Tak disangka, bangunan yang terlihat suram dari luar, dengan tumbuhan liar merambat percaya diri di pilar-pilar juga sebagian dindingnya, seolah tak terawat, ternyata semewah dan seterang ini di bagian dalamnya.


Berbagai benda-benda antik menghiasi setiap sudut rumah.


Terlihat satu ekor harimau, satu ekor cheetah, dua ekor elang hitam dan tiga ekor simpanse, juga beberapa jenis unggas lainnya termasuk ayam hutan hasil taksidermi atau pengawetan, di dalam sebuah ruang kaca berbentuk kubus raksasa dengan aksen berbagai tumbuhan, dipercantik sedemikian rupa menyerupai alam bebas, mengisi tepat di bagian utama rumah besar itu. Seolah melihat mini Zoologi tanpa karcis dan seragam sekolah.


Sean bahkan nyaris tak mampu mengatupkan bibirnya, saking terpukau. Berulangkali kepalanya berotasi mengedar, menatap takjub seisi ruangan. Bahkan lampu gantung yang didesain melayang di atas kepalanya, membuat kedua bola matanya nyaris terpental.


Tolong, semua ini siapa yang membuat?


Sekonyol itu isi dalam pikiran Sean.


Sedangkan Andromeda hanya bergeming santai dengan kaki bersilang. Punggungnya membentur indah di sandaran sofa. Tak ada siapa pun di sekitaran mereka, selain seorang wanita pelayan yang baru saja meletakkan dua gelas minuman berwarna merah ke meja di hadapan keduanya.


Andromeda bahkan tak paham, kenapa ia dan Sean dipaksa mampir ke rumah itu, seolah tuntutan wajib sebelum berlalu melewati jalanan di depannya.


Setelah hampir lima belas menit melanglang buana dalam tanya, akhirnya, sebuah sapa mungkin akan menjawabnya.


Blazer biru beralas kaus putih, bagian lengannya digulung asal hingga ke sikut, pas membalut tubuh seorang pria dengan kisaran tinggi 170 sentimeter itu.


Sepasang mata Andromeda mengikuti geraknya, yang saat ini mulai duduk mengisi cabriole tunggal di seberangnya. Ada aura luar biasa yang ditangkap Andromeda dalam diri pria itu. Senyum ramah dengan langkah santainya terasa sedikit gothic dalam kilas pandangannya. Jelas bukan karena Andromeda seorang paranormal apalagi paranoid, ia hanya sedikit pandai menilai seseatu.


"Tuan Zack Shangra." Suara Sean tiba-tiba memekik. Menggeser tatap Andromeda spontan ke arahnya.


Mata pria itu menyipit terarah pada Sean."Anda mengenal saya, Tuan?" tanyanya tak secara langsung mengakui namanya.


"Iya, saya pernah melihat Anda di hotel saat pertemuan pertama kali dengan Tuan Diraga beberapa waktu lalu. Beliau mengatakan, Anda adalah Zack Shangra, putra satu-satunya," terang Sean dengan binar seolah mendapatkan undian.


Zack Shangra tersenyum. "Papa, selalu seperti itu."


"Jadi Anda putranya Tuan Diraga?" Tubuh tegap Andromeda sedikit menegak. Silang kakinya telah diturunkan sesaat setelah suara Zack Shangra menyentaknya.


"Betul, Tuan. Saya yang saat ini mengelola hotel itu, Tuan ...."


"Andro! Panggil saya Andro," sergah Andromeda. "Saya rekan bisnis Tuan Diraga saat ini," akunya.

__ADS_1


Zack Shangra memasang senyuman penuh tanya. "Benarkah?"


"Itu betul, Tuan Zack. Papa Anda menanamkan investasi cukup besar di perkebunan milik boss saya ini!" Sean mengambil jawaban, sekilas mengarahkan wajahnya pada Andromeda sebagai gerak notifikasi, bahwa pria itu adalah atasannya.


Andromeda hanya mengangguk setipis puding slice, membenarkan.


"Wuah, kalau begitu saya tidak salah meminta Anda untuk mampir ke tempat ini," ujar Zack Shangra dengan senyum mengembang.


Selanjutnya hingga beberapa waktu, ketiganya larut dalam obrolan seputar penjamuan dadakan yang berlangsung saat ini, alasan Zack Shangra membeli bangunan tua itu, hingga tampilan aneh bagian luar bangunan yang dibiarkan suram begitu saja oleh pria dengan kepribadian sulit ditebak itu.


Semuanya cukup membuat Andromeda melupakan penilaian tak jelasnya pada Zack Shangra. Tak ada yang mencurigakan, semua alasan yang dilontar pria itu cukup bersahabat didengarnya. Zack Shangra pribadi yang sociable, asik diajak bicara, juga santai.


Sean bahkan sesekali melontarkan candaan yang membuat Zack Shangra tertawa, yang tentu saja berbalikan dengan toyoran sebal dari Andromeda. Sampai tepat di menit menjejak angka dua jam lamanya, kedatangan seseorang berhasil mengusik keseruan mereka.


Sepasang mata itu kembali dipertemukan. Halaman obrolan di kepala Andromeda bersama Zack Shangra selama dua jam itu, luruh dalam sekejap, berganti siraman senyap yang tentu saja dibungkusnya dalam raut biasa saja. Ia membuang wajah ke lain arah menghindari tatapan dalam wanita itu.


"Andro, kau di sini?"


Pertanyaan itu hanya disahut Andromeda sedingin salju, "Ya. Kaupikir kau bisa melihatku di dalam gondola di atas ketinggian Gunung Everest dari sini?"


Tak bisa menimpal, Jennefit Moon, wanita itu diam membisu di samping sepupu angkatnya.


Zack Shangra menatap kedua manusia itu bergantian melalui ekor matanya. Tubuhnya santai tersandar menyentuh sandaran sofa. Raut wajahnya bahkan datar seolah tak menanggap apa pun. Terlalu biasa baginya. Jennefit Moon bahkan mengenal baik puluhan pengusaha Eropa. Ada seulas senyuman yang bahkan tak terlihat di wajah Zack Shangra, menanggapi kalimat sarkas Andromeda untuk Jennefit Moon.


"Tuan Zack. Aku rasa aku harus pulang." Sekilas melihat arloji di tangannya. "Ini sudah hampir malam," ucap Andromeda mulai mengangkat tubuhnya berdiri. Disusul Sean yang juga melakukan hal yang sama.


"Tidakkah sebaiknya Anda menginap saja di sini?" tawar Zack Shangra turut berdiri. "Ada banyak kamar yang bisa memanjakan tubuh Anda di rumahku ini."


Andromeda tersenyum. "Tidak, Tuan Zack. Terima kasih." Tangan kanan Andromeda terjulur ke arah Zack Shangra.


"Panggil aku Zack saja. Tidak usah terlalu formal. Sepertinya usia kita setara."


"Begitu lebih baik," balas Andromeda tersenyum. "Baiklah aku permisi."


"Oke, lain kali kita lanjutkan obrolan ini."


Andromeda mengangguk dengan senyuman tipisnya menanggapi tawaran Zack Shangra. Kemudian melenggang meninggalkan tempat itu sesegera mungkin, diikuti Sean di belakangnya. Tanpa memperdulikan wanita itu.


....


Suara hentak sepatu mengudara keras berulang di belakang Andromeda, sebelum ia mencapai ambang pintu rumah besar itu. Pria itu terpaku menghentikan langkahnya sontak, dengan mata melebar.


Jennefit Moon, gadis itu berlari menghantamkan dirinya, memeluk tubuh tegap Andromeda dari belakang. "Andro! Maafkan aku. Aku mohon. Bisakah kita kembali seperti dulu lagi?"

__ADS_1


...............


__ADS_2