
Zack adalah Kahfi.
Kahfi adalah Zack.
Dia mengakui!
Tetapi satu hal ....
Ia ingin tetap menjadi Zack. Zack yang berisi jiwa Kahfi di dalamnya.
Semua menyetujui. Itu bukan hal besar. Zack atau pun Kahfi, tak ada bedanya Keduanya tetap pemilik tubuh dan jiwa yang sama.
Zack memutuskan untuk membawa Muana tinggal bersamanya, di rumah kelam yang dulu sempat ia gunakan sebagai rumah bordir.
Bisnis haram itu telah dibubarkan dari sepuluh bulan lalu, setelah Zack tak lagi mengindahkannya karena banyak hal. Sampai akhirnya ia kembali memeluk jati dirinya sebenarnya, dan memutus apa pun tentang kebodohan yang diterapkan Diraga Madewa terhadapnya.
Setahun menjalani perawatan di luar negeri yang entah di negara mana, membuat Zack mengumbar kesyukurannya hingga tak terbatas. Tuhan begitu baik mengangkat penyakitnya hingga tak berbekas, walau melalui proses yang cukup panjang dan menyakitkan.
Lalu setelah kembali negara ini, Tuhan menambahkan kembali satu anugerah teruntuknya. Yakni pertemuannya dengan Muana--ibu kandungnya.
Dan Diraga ....
"Selamat jalan, Papa. Terima kasih atas semua warna yang telah kau lukiskan dalam hidupku. Meskipun aku telah tahu tujuanmu hanya untuk memperalat dan memanfaatkanku untuk kepentinganmu, tapi aku tetap bersyukur, karena kau, aku bisa menjadi seperti sekarang. Aku bisa bersekolah tinggi, menjajak negeri orang sepuas hati, menikmati kemewahan, dan yang terakhir, aku menikmati kasih sayangmu ... Papa."
Batu nisan bertuliskan nama Diraga Madewa itu dibelai lembut telapak tangan Zack dalam posisi berjongkok menghadapnya. "Aku pasti akan sering-sering menjenguk Papa ke sini." Ia lalu bangkit dari tempatnya. Menatap sesaat batu nisan di bawahnya, kemudian berbalik badan meninggalkan tempat itu dengan sedikit perasaan hampa.
Diraga terkubur dalam pasrah di pusaranya. Perbuatan-perbuatan yang membelot dari asas kemanusiaan, telah mengantarkan orang tua itu pada segaris takdir mengenaskan--hukuman mati.
Kuburan Diraga cukup jauh dari pusat kota, karena hanya TPU itu yang mau menadah jenazahnya. Itu pun memakai biaya yang tak sedikit untuk bisa diterima. Kasus pembunuhan berantai yang telah terkuak itu membuat Diraga sulit diterima di masyarakat, walaupun telah menjadi mayat sekali pun.
Zack harus menyetir berjam-jam lamanya untuk sampai ke tempat itu. Ditambah, saat arus balik, jalan diputarkan ke rute lain, sehingga membuat perjalanan pulang Zack cukup memakan waktu.
Tangannya cukup merasa kebas bermain dengan stir dalam waktu yang cukup lama. Pinggang dan kakinya juga mulai terasa kebas. Alasan itu membuat Zack menepikan mobilnya untuk sejenak beristirahat. Ia turun dari dalam mobilnya lalu masuk ke dalam sebuah kedai kopi di pinggir jalan.
Segelas kopi dipesannya beserta sepiring kecil pisang goreng yang masih memperlihatkan kepulan asap tipis di atasnya.
Terasa tenang, meskipun cukup ramai pengunjung memenuhi hampir seluruh kursi yang tersedia di setiap sudut tempat tradisional itu. Udara sejuk karena pepohonan kelapa tinggi menjejeri sepanjang jalan di sekitarnya.
__ADS_1
Sesap demi sesap kopi itu dinikmati Zack, hingga menyisakan setengah dari volume totalnya.
"Bu! Kue-kuenya aku taruh di sini, ya!"
Seruan itu mengalihkan keseriusan Zack yang mulai mengunyah segigit demi segigit pisang goreng hangat di tangannya.
Terlihat punggung seorang wanita tengah bergerak-gerak di depan meja besar tempat barang-barang dagangan pemilik kedai--mungkin tengah sibuk menata kue-kue yang tadi dikatakannya.
"Kemana saja, Nak? Kenapa sesiang ini?" Ibu pemilik kedai menghampiri dengan gaya khasnya yang keibuan.
"Iya, Bu. Aku sedikit terlambat. Ini pun hanya sedikit kubuat. Damar sedang demam. Jadi aku sibuk mengurusinya sepanjang pagi ini," wanita itu menjelaskan.
Zack masih memperhatikan sambil sesekali menyesap sisa kopinya.
"Sudah kamu bawa ke Pak Mantri?" tanya Ibu kedai dengan raut sedikit cemas.
"Sudah, Bu. Tapi tempat prakteknya tutup. Orang-orang bilang, Pak Mantri sedang ada pertemuan di balai kota."
"Ya sudah. Kau cepatlah pulang! Kasian anakmu jika terlalu lama kau tinggal!" ujar Ibu Kedai seraya merogoh-rogoh isian laci di depannya. "Ini hasil penjualan kuemu yang kemarin."
Wanita itu mengangguk, seraya menerima beberapa helai uang dari tangan pemilik kedai. "Baik, Bu. Terima kasih. Kalau begitu aku permisi."
Lagi-lagi wanita itu mengangguk, namun kini dipulas senyuman tipis yang terlihat manis. Setelahnya ia berbalik badan untuk segera berlalu dari tempat itu.
Namun ....
Waktu seolah terhenti, langkah wanita itu terkunci. Sepasang matanya nampak lebar menangkap sosok yang saat ini juga menatapnya sama-sama terkejut di meja paling ujung. "Ka-kahfi," desisnya. Tubuhnya mulai bergetar perlahan dan semakin tak terkendali.
Dengan langkah gontai didampingi wajah menelisik, Zack kini telah berdiri tepat di hadapan wanita itu. "Shinar. Kaukah ini?"
Seperti menonton adegan melankolis di film-film roman, tatapan semua orang kini terjurus pada kedua manusia itu.
Shinar membekap mulutnya dengan air mata yang membentuk tangisan tertahan. Ia tak tahu harus apa. Pertemuan ini tak sedikit pun disangka-sangkanya.
Yang jelas ia ingat, bagaimana ia dan pria di depannya itu melakukan setubuh penuh gelora di siang dengan terik matahari menyengat kala itu. Keduanya tertidur setelah puas melakukan pelepasan masing-masing. Namun saat terbangun malam harinya, Shinar tak mendapati pria itu di mana pun. Ia ditinggalkan begitu saja tanpa pesan dan kejelasan.
Dengan kasar, Shinar menepis telapak tangan Zack yang nyaris menyentuh pipinya. Ia berlari meninggalkan pria itu dengan kecamuk di sekujur dadanya.
__ADS_1
"Shinaaarrr!!" Zack bergerak mengejar.
Wanita itu berlari berusaha sekencang-kencangnya untuk menghindari pria yang telah mencampakannya itu.
Tak cukup jauh. Di belakang kedai yang tadi mereka jejaki, setidaknya terhalang dua rumah penduduk, Shinar menghentikan geraknya, lalu masuk ke dalam sebuah bangunan sepetak yang menempel dengan petak lainnya bersekat-sekat--mungkin rumah kontrakan.
Namun sial! Sebelum pintu berhasil terkunci, Zack lebih dulu berhasil menahannya. "Aku mohon, Shinar. Jangan hindari aku. Biarkan aku bicara!"
Tenaga yang tak sebanding, membuat Shinar akhirnya mengalah. Telapak tangannya ia tutupkan kembali ke mulutnya untuk menetralisir suara isak tangisnya yang semakin pecah tak tertahankan.
Dan tanpa diduga Shinar, Zack menurunkan tubuhnya sekali hentak, membentuk posisi berlutut di hadapannya.
"Kau tahu ...." Zack mulai berkisah. "Selama ini aku mencarimu kemana-mana. Aku ingin bersujud di bawah kakimu seperti ini, untuk menyampaikan maafku karena meninggalkanmu begitu saja saat itu. Maaf yang mungkin tak akan pernah kau terima. Kau adalah dosa yang harus kutebus, Shinar! Aku mohon ... maafkanlah aku."
Isak tangis Shinar semakin tak terbendung. Namun belum sepatahkata pun mampu keluar dari mulutnya.
Sampai ....
Suara tangisan kecil dari dalam rumah, mengusik irama sendu keduanya.
"Damar," suara parau Shinar. Ia laju melangkah cepat menyongsong suara itu ke dalam rumah.
Seorang balita laki-laki yang mungkin belum genap berusia dua tahun, diangkat Shinar dari kasur tipisnya, kemudian digendongnya seraya menenangkan dengan nyanyian khasnya. Sekilas diusap air matanya yang ramai membanjiri pipi halusnya yang kini terlihat lebih tirus.
"Siapa anak itu?! Apa dia anakku?! Anak dari hasil percintaan yang kita lakukan?!"
DEG
Pertanyaan itu benar-benar mementalkan seisi hati Shinar. Tangisnya kembali merebak. Sampai detik ini sedari ia bertemu Zack di kedai tadi, ia belum mengucapkan sepatah kata pun menimpali kata-kata pria itu. Rasa sakit di hatinya terlalu mencekik.
Namun kediaman itu jelas dipahami Zack Shangra, mengoyak jiwanya dalam campur aduk perasaan yang menyiksa.
Mengapa demikian, karena ia tahu benar, sedari kecil Shinar bukanlah orang yang pandai bergaul--selain dengannya.
"Jadi benar ... dia anakku, Shi?!" Sebulir bening di sudut matanya menggelinding begitu saja.
Melalui perdebatan batinnya beberapa jenak, tentang sebuah keputusan, Shinar akhirnya mengeluarkan kalimat singkatnya, "Ya, Kahfi! Damar anakmu! Darah dagingmu!"
__ADS_1