
Benar-benar tak ada celah untuk melawan. Tubuh Liz Nadiah kini diseret ke sebuah ruangan lain--masih di dalam bangunan tua itu. Ia dikurung seorang diri, masih dalam keadaan tangan terikat tali ke belakang.
Di luar bayangannya, ternyata tidak semua tempat di rumah itu dalam keadaan lapuk. Satu ruang yang kini mengurungnya, cukup terasa nyaman, bersih--sudah pasti layak untuk ditempati. Di balik kaca yang terpasang di satu bagian dinding, nampak pemandangan pepohonan rindang dengan sungai kecil di bawahnya, cukup memanjakan mata.
Sayangnya, tak ada waktu bahkan untuk sekedar memuji keindahan itu. Yang harus dipikirkannya saat ini hanyalah; Bagaimana caranya keluar dari rumah tua ini? Tak ada benda apa pun yang bisa ia gunakan untuk memotong pengikat yang meliliti tangannya, selain sehelai tikar anyam yang terhampar di ubin kayu yang kini dipijaknya.
Bunyi do'a-do'a permohonan pertolongan dan perlindungan, tak henti dirapalkannya dalam hati. Semoga ada keajaiban.
Saat sebersit putus asa mulai menyapa hatinya, pintu yang mulanya terkunci itu terbuka.
Liz Nadiah memundurkan tubuhnya mengantisipasi, saat sosok Diraga Madewa muncul dengan seringai licik di wajahnya. Perlahan, pria uzur itu menekan kancing kemejanya, lalu melepaskannya satu persatu, setelah pintu dikuncinya kembali.
"Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu," kata Diraga. "Walau usiaku tak lagi muda ... tapi aku masih segar." Setelah terlepas, kemeja putih yang dikenakannya itu dilemparnya ke sembarang arah, menyisakan singlet tipis yang mencetak transparan bagian tubuhnya. "Aku masih mampu memuaskanmu," lanjutnya dengan suara berat.
Tak dipungkir, tubuh pria berumur itu masih cukup gagah untuk dikatakan uzur. Tidak terlalu tinggi, namun otot-otot di sekitaran dada dan pundaknya masih nampak kekar mempesona. Hanya sedikit kerutan di dahi, yang menjadi simbol lamanya hidup yang telah ia jalani.
Liz Nadiah semakin membesarkan kelopak matanya. Tubuhnya refleks bergeser, menyapu dinding ke samping, seolah gerakan itu bisa membuatnya terhindar dari Diraga. Lain pada kenyataannya, pria tua itu bisa saja menerkamnya detik itu juga.
Tapi ....
Diraga Madewa mengernyitkan wajahnya menatap Liz Nadiah yang kini berdiri terdiam. Ekspresi gadis itu berubah datar.
"Baiklah, aku menyerah," kata Liz Nadiah pelan. "Rasanya tidak ada gunanya aku melawan. Kau boleh menyentuhku sesuka hatimu, Tuan," lanjutnya lagi dengan raut sendu, seolah pasrah dalam tunduknya.
Pria tua itu memicingkan mata, menusuk tatapan menyelidik ke arah wanita yang sebenarnya lebih pantas menjadi anaknya. "Kau tidak sedang ingin bermain-main denganku, 'kan?"
Tunduk wajah Liz Nadiah terangkat. Kembali memandang Diraga, kali ini dengan kilat tegas, namun tetap terlihat seolah ketakutan. "Kaupikir apa yang bisa aku lakukan?"
Seketika senyuman terlukis di bibir Diraga Madewa.
Setelah beberapa waktu berhadapan dengan wanita bermental dewi itu, akhirnya, jiwa kerasnya mengelupas dengan sendirinya.
Benar, makhluk lemah, akan tetap lemah--menurut pandangan Diraga. Tetap saja wanita. Mana bisa disetarakan dengan dirinya
"Pilihan yang manis, Nona." Diraga masih memasang senyumannya. "Kalau begitu, sebagai pembuka ... bukalah kain di kepalamu itu. Aku ingin melihat bagaimana indahmu tanpa penutup itu, sebelum aku menikmati keindahan lainnya dari dirimu."
Permintaan itu cukup membuat Liz Nadiah terlonjak. Namun berusaha dibungkusnya dengan ekspresi pasrah. "Tuan!" Ia memundurkan cepat tubuhnya, saat telapak tangan Diraga mulai terangkat hampir menyentuh kepalanya.
__ADS_1
"Ada apa?" Mata Diraga kembali terpicing.
"Umm ... tolong bukakan ikatan tanganku."Liz Nadiah berbalik membelakangi, memperlihatkan kedua tangannya yang masih terikat kencang. "Ini sangat sakit."
Seulas senyum menggantikan rasa curiga Diraga Madewa. "Oh, ya. Aku sampai lupa," katanya ringan. "Kau tidak akan bisa mencengkram punggungku saat aku mengungkungmu nanti. Begitu 'kan, Nona?"
Walau dengan kaku, Liz Nadiah mengangguk. Dan perlahan, tali itu mulai mengendur, lalu ringan, kemudian ....
....
....
....
....
"TANGKAP WANITA ITUU!!!"
Suara Diraga Madewa menggaung hingga ke langit. Ia membungkuk memegangi bagian intimnya yang baru saja mendapatkan tendangan super dari Liz Nadiah, dengan wajah meringis menahan nyeri luar biasa. Pundak polosnya terlihat memerah memar, juga bagian tubuhnya yang lain--mungkin akan membiru sesaat lagi.
Liz Nadiah terus memacu langkahnya, tanpa menengok kanan, kiri dan belakang. Apa pun yang dipijaknya harus menjadi harapan ia untuk melarikan diri. Menuruni tangga, melewati lorong, berputar mencari jalan yang bisa membawanya keluar. Namun tak disangkanya lagi-lagi, bangunan lapuk ini cukup luas dan berkelok, hingga ia kesulitan meloloskan diri dari tempat menjijikan itu.
"DIA DI SANA!!"
Kayu rapuh yang tak sengaja diinjak Liz Nadiah, mengundang gaduh anak-anak buah Diraga Madewa yang tengah mengejarnya malam menjelang pagi hari ini. Baru saja ia berjalan mengendap karena menangkap sosok-sosok kekar yang tengah celingukan mencari keberadaannya, terpaksa harus ketahuan karena pijak kakinya tak bisa dikondisikan.
Tanpa babibu, Liz Nadiah kembali menancap langkah cepatnya. Suara berdebam dari pijak kakinya terdengar lebih keras dari sebelumnya.
"JANGAN LARI KAU!!" Teriakan itu kembali mengudara.
Liz Nadiah terus berusaha mencari jalan keluar. Setidaknya menjauh dulu dari orang-orang itu--mungkin bersembunyi, pikirnya.
Bangunan apa ini sebenarnya? Kenapa terasa rumit? Terlalu banyak ruangan yang terkadang memaksanya kembali ke tempat yang sama. Membuatnya cukup kesulitan menghindar. Tenaganya tak cukup kuat untuk ia gunakan kembali melawan orang-orang berbadan kekar itu. Setelah sebelumnya, tiga orang berhasil ia lumpuhkan.
Kini ia menuruni sebuah tangga yang akan terhubung entah kemana lagi.
Sampai tiba-tiba, langkah cepatnya berubah melambat. Kemudian terpaku tak bergerak, setelah anak tangga terakhir berhasil dilewatinya. Matanya menatap tak percaya pada apa yang kini dilihatnya.
__ADS_1
Sekitar sepuluh banyaknya, pintu-pintu jeruji berjejer berdampingan, dengan dinding saling menyekat ruang satu dan lainnya di bagian dalam. Persis penjara-penjara bawah tanah yang sering ia lihat di televisi.
Dengan kaku dan perlahan, Liz Nadiah menggerakkan kakinya mendekati jeruji-jeruji itu. Semakin dekat, semakin terlihat jelas, di dalam ruang-ruang sempit itu
... terdapat kehidupan.
Orang-orang dengan tubuh kurus dan nampak kumal, terdiri dari laki-laki dan perempuan yang dicampur serampangan, masing-masing dua orang mengisi setiap ruangan, mereka terlihat menyedihkan. Tak satu pun mengeluarkan suara. Sebagian dari mereka nampak tertidur dengan posisi meringkuk. Sebagian lainnya terdiam, ekor mata mereka mengikuti gerak Liz Nadiah--ketakutan, seolah melihat hantu.
Ruangan itu terlalu kelam untuk bisa menangkap wajah-wajah itu dengan jelas. Satu-satunya cahaya yang dihasilkan, berasal dari bohlam kuning yang tergantung malu pada langit-langit di atas kepala Liz Nadiah.
Gadis itu menutup mulutnya tak percaya. Air matanya mulai tumpah menyeruak. Siapa mereka? Kenapa mereka bisa terkurung di sini? tanya hati Liz Nadiah.
lni terlalu kejam! Nilainya miris.
Dengan sekuat hati, ia mendekati salah satu jeruji, lalu bertanya, "Kenapa kalian bisa terkurung di sini?" Dengan suara pelan nyaris berdesis.
"Kami dihukum tanpa kesalahan."
Suara sahutan itu berasal dari jeruji deretan ke tiga dari kiri. Suara perempuan. Kening Liz Nadiah berkerut dalam menanggapinya. Ia melangkah menghampiri asal suara itu.
Sesosok wanita tua, dengan rambut ikal acak-acakan. Memakai longdress bercorak daun berlengan panjang, yang mungkin tak pernah dicuci berbulan-bulan. Liz Nadiah menurunkan tubuhnya, berjongkok di depannya. "Kenapa bisa begitu?" Ia kembali bertanya ingin tahu.
Setelah yakin bahwa gadis di depannya adalah manusia, wanita itu kembali memberi jawaban, "Sulit kami jelaskan," katanya nampak putus asa. Wajahnya terlihat merengut. Menelisik menatap Liz Nadiah, terheran. "Siapa kau, Nona? Kenapa kau ada di sini?"
"Aku diculik!" Liz Nadiah menjawab tanpa basa-basi.
Dalam sekejap, suasa berubah ricuh. Yang semula terlelap kini menegak. Para tawanan Diraga itu saling melontar beragam kalimat pada Liz Nadiah. Satu di antaranya mengucapkan, "Aku tahu kau sedang melarikan diri, Nona. Cepat pergi dari sini!"
Berbanding terbalik dengan lainnya yang meminta Liz Nadiah membantu mereka terbebas, mereka berseru tak setuju, karena menganggap gadis itu adalah harapan hidup bagi mereka.
"Dia benar, Nak. Pergilah sebelum mereka menangkapmu," ujar wanita tua itu lagi penuh harap. Ia memajukan tubuhnya lebih mendekat pada jeruji besi, hingga digenggamnya.
Kini Liz Nadiah bisa menangkap wajah lelah itu dengan jelas. Matanya seketika membulat, juga mulutnya yang turut menganga. Suara ricuh di sekitarnya tak lagi dipedulikannya. Ia dengan lekat menatap wanita tua di depannya yang terus memintanya untuk pergi secepatnya dari tempat itu, tanpa kedip.
Wajah ini ... aku tahu wajah ini ... aku ingat wajah ini ... aku mengenali wajah ini ....
"Cepatlah pergi, Nak. Selagi kau punya kesempatan!"
__ADS_1
"Ibu Muana."
..........