LOVE ADVENTURE

LOVE ADVENTURE
Panci subuh


__ADS_3

Glodak... Tung... Tring... Duong...


Maya terbangun mendengar suara beruntun itu.


"Apaan si itu? Masih jam tiga pagi gini" gumamnya sambil melihat jam weker di mejanya.


"Hoahmm..." Maya menguap sambil membuka pintu kamar.


Hmmm, bangunin si Robby aja kali ya... Maya membuka kamar kakaknya*.* Berniat untuk membangunkannya supaya bisa menemaninya ke dapur mengecek sumber suara.


Cih, tidur aja masih pecicilan, bantal guling pada jatuh gini... Sprei juga acakadul gini... Ngoroknya, persis bat sama suara Piggy. Ckckck... Kasian yang jadi istrinya... Ntar satu kasur ditendangin lagi, kayak nasibnya si guling ama bantal... Maya geleng geleng melihat kakaknya. Sayang ya gue gak bawa HP... Ambil HP ah... Gue foto ntar kalo dia punya pacar gue tunjukin gimana reaksinya... Maya kembali lagi ke kamarnya untuk mengambil HP.


Maya kembali lagi ke kamar kakaknya dan memotret nya.


Hihihi, dapet...


"By, bangun dong..."


"Hmmm? Ganggu sumpa" Ujarnya dengan suara serak khasnya bangun tidur.


"Temenin gue..."


"Ngapain sih?"


"Ada suara aneh di dapur... Gedombrengan gitu... Gue penasaran"


"Ogah,"


"Takut?"


"...."


"Kok kebalik si... Harusnya gue yang takut yak..."


"Ishh, udah ayok..." Ujarnya tak mau dibilang penakut.


Sebenernya gue takut ****... Dahlah, dia kan berani... Batinnya.


Mereka pun turun ke dapur.


***


"Gelap gini..." Gumam Robby


"Hidih, ngaku aja deh kalo takut..."


"Ish..." Sialan, dia denger...


Ctak... Maya menyalakan lampu dapur.


"Astaga, pantes gedombrengan, lha wong pancinya jatoh gini..." Ujarnya


Robby mengamati sekeliling. Tubuhnya tegang, tatapannya terpaku di bawah kompor, ada dua cahaya di sebelah tabung gas.


"May, itu? Senter emang?" Sambil menunjukkan apa yang ia lihat.


"Hah?!" Maya mendekat ke arah cahaya.


Cahaya itu tiba tiba menghilang, ia melihat Robby juga sudah tidak tegang, melainkan seperti menahan sesuatu.


"Nahan apaan lo? Kentut? Lepas in aja lah, kan cuman ada gue..."


"......" Robby bergeming mengalihkan pandangannya ke arah kulkas. Astaga ternyata yang tadi itu kucing... Gitu banget ya... Susah amat nahan tawa... Bayangin reaksi dia kaget gara gara si kucing...


Tiba tiba, dikakinya ia merasa ada sesuatu yang halus sedang mengelusnya.


Huwaa...


Maya berteriak karena kaget, ia hilang keseimbangan dan terjatuh.


Bug...


Tepat di belakangnya ada sebuah panci, dan pantatnya terjebak disana.


"Bwahahahahahahhh" tawa Robby meledak begitu saja setelah tadi ia tahan.


"Elah, lo malah ketawa! Gak kasian apa? Ni pantat gue masuk panci!?! Bantuin lepasin dong By" rengek nya karena tidak bisa berdiri sama sekali.


"Huahahahahahahahahaha" tawa Robby semakin menjadi melihat Maya yang berusaha berdiri namun tidak bisa.


"Sialannnn!!! Banthuinnnn!!!" Umpat Maya "sakit ini pantat!!"


"Hah-hahah-hahaha" Tawa Robby terputus putus karena ia tertawa melihat posisi Maya yang pantatnya terjebak panci sekaligus berusaha menahannya.


"Ish, ngeselin... Udah gara gara si kucing itu gue jadi gini eh, elo malah ngetawain, sial emang" rutuk nya.


"Wkwkwk, muat ya pantat lo masuk ni panci"


"Sialan!!"


"Berarti itu pantat sama ni panci sama sama gede, hihihi" Robby cekikikan sambil membantu Maya berdiri.


"Tarikin dong pancinya!" Pinta Maya.


"Oh, kirai celananya, hehe"

__ADS_1


"Sedeng! Nggilani! Ngeres otak lo"


"Ih, bawel! Lepas in nggak ini panci?"


"Iya, tolong, susah, sakit"


Ugghhh, Robby berusaha menarik panci tersebut namun gagal.


"Ke kamar mandi aja yok,"


Mendengar ajakan tersebut Maya melotot.


"Gak usah mikir aneh aneh! Cuman mau kasi sabun biar bisa dilepasin!"


Mendengar itu Maya lega. "Weitt, gue kaga busa jalan nih, susah..."


Robby menaikkan sebelah alisnya. "Gue gendong?"


"Emang kuat? Gue dah gede"


Tanpa menggubrisnya, Robby langsung membopong Maya ke kamar mandi.


***


"Posisi lo nungging deh, biar lebih gampang!" Perintah Robby.


"Hmmm..." Sial, sial... Kemarin dikencingin anjing sekarang masuk panci... Kualat apa aku ini...


Robby memulai aksinya. Ia mengisi baskom dengan air dan mencampuri dengan sabun. Setelah itu menuangkan ke tubuh Maya.


Byurr...


"Puah, puah... Sedeng lo, dingin tauuu!!! Mana nyiramnya sampe rambut!" Omelnya.


"Sorry sorry, kelewat..." Ujarnya


"Huh"


"Nggak di lepas nih?"


"Iya iya..."


Robby melepas panci tersebut dengan mudahnya karena sudah diberi sabun. Ia memandangi Maya.


"Hahahaha" tawanya meledak begitu saja melihat raut wajah Maya yang kesal.


"Makasi udah lepasin pancinya, udah mandi in gue juga, mana pagi pagi kek gini jadi, tolong keluar bisa?"


"Okay Okay...."


Wkwkwkwk, Maya Maya....


***


Setelah Maya selesai mandi, ia mengenakan jubah mandi yang ada dan naik ke kamarnya.


***


Ckrek...


"Robby!?! Ngapain?" Ia kaget mendapati kakaknya berbaring di kasur sambil memainkan ponsel miliknya.


"Penasaran sama cerita lo kemarin"


"Sampe nungguin gue mandi?! HP gue?" Maya meminta penjelasan


"Udah sono, ambil baju lo ganti di kamar mandi, gue tungguin... Gue dah nggak ngantuk soalnya... Oya, gue Kepo isi HP lo..."


"Huh... Yaa"


Robby membuka chat Wa milik adiknya. Ia scroll mencari kontak cowok yang mencurigakan. Tapi, nihil. Ia pindah ke You Tube penasaran dengan apa saja yang ditonton adiknya.


Astaga, isinya... Bukannya tutorial make up malah tutorial gerakan dance, buset gerakannya patah patah gitu... Emang dia bisa ya?.. Hmmm instrumen musik... Yayaya... Jerome... Turah partayana... Leonardo Edwin... Ckckck...


"Bukain apaan lo?" Ujar Maya yang sudah selesai berpakaian. Moga moga gak buka galery... Ada foto dia...


"You Tube lo... Sama sekali nggak tertarik gitu sama make up?"


"Nggak, ribet... Bedak tipis plus lip balm udah cukup... Ato malah nggak usah sama sekali" fyuh... Untung dia nggak buka galery...


"Lo liatin tutorial nge dance gitu emang lo pake?"


"Iya, gabut... Gitu deh... Gaje"


"Praktekin satu aja dong" pinta sang kakak.


"Ogah..." Jawabnya sambil merangkak naik ke kasur dan menyelimuti dirinya.


"Yah... Keren gitu gerakannya... Pengen liat langsung..."


"Keren tapi susahnya ampun..."


"Wkwkwk... Ya udah cerita in lah kemarin..."


"Ya... Jadi...." Maya menceritakan kejadiannya kekurangan duit, di kerjain, dikencingin Guguk juga.

__ADS_1


"Bwahahahahahah" tawa Robby meledak mendengar Maya menceritakan bahwa ia dikencingin Guguk. "Nggak suka kali tuh Guguk sama elo"


"Huh..."


"Eh, udah jam lima gini... Gue masak dulu... Ikut yuk.." Ajaknya.


"Yaa.." Lagian mau ngapain? Yang ada gue tidur lagi ampe siang malah berabe kalo telat sekolah...


***


"Mau masak apa?" Tanya Maya.


"Nasgor aja ya yang gampang..."


"Oke"


Robby menanak nasi terlebih dahulu, sambil menunggu ia bermain game.


"Kenapa si By, ni rumah nggak pake ART? Jadi kan nggak ribet tuh..."


"Manakutau... Tapi seingat ku dulu kita punya waktu kamu kecil..."


"O,"


"Btw lo nge lakuin apa si, perasaan kemarin lo apes gitu..."


"Nggak tau ya... Kalo emang itu kualat ya udah si... Udah kemarin... Oya, ni rumah sepi gini nggak risi lo?"


"Nggak, lo?"


"Agak risi sih... Mau nggak kita pelihara anjing?"


"Mau aja... Buat temen..."


"Adopsi aja yuk dari penampungan..."


"Penampungan?!"


"Iya, kasian mereka gak punya rumah sendiri... Punyanya rumah bareng bareng sama yang lain... Di adopsi aja..."


"Hmmm, nunggu mama papa pulang aja deh..."


"Gue nggak mau kalo ampe mereka nggak setuju..."


"Yaya..."


"Lo mau coba masak nggak?"


"Hmmm boleh... Asisten aja yah... Nggak bisa beneran gue..."


"Ya..."


Ctek, rice cooker berbunyi menandakan nasi sudah matang.


Cres, cres, cres...


Robby memotong motong bawang. Menyiapkan sosis, loncang.


"Ambilin nasinya empat porsi ya!"


"Siap"


"Kalo udah masukan mentega satu sendok makan ke wajan!"


"Yoi!"


Ctek, dong, sress....


"Ni, masukin bumbunya yang udah aku cacah!"


"Ya,"


Sreng...


"Di aduk! Jangan gosong!"


"Yaaa..."


Sreng sreng sreng...


Robby memasukkan nasi dan mengambil alih di depan wajan. Maya hanya memandangi nya. Ganteng ya... Beruntung cewek yang jadi istrinya... Udah ganteng, genter, pinter, bisa masak...


"Hoi, nggak ngalamun!! Masukan garem sini!"


"Yaa..."


Maya mengambil toples putih, menyendok dan menuangkan kedalam wajan.


Setelah diaduk beberapa saat Robby mencicipinya.


"May, lo yakin yang lo masukin garem?!?"


"Iya kok, gue yakin... Warnanya putih kan ya..."


"Oh, cobain nih!"

__ADS_1


Robby menyodorkan satu sendok nasi goreng dari wajan.


__ADS_2