
Para CEO itu berkumpul di ruang rapat, suasana hanya hening dan Eveleen hanya menatap Fabilio yang berada di hadapannya. Sedangkan Fabilio tidak ingin melihat Eveleen sama sekali, "dia tidak ingin melihat ku" batin Eveleen. Eveleen memalingkan pandangannya dan hanya memandang pena yang ia pegang tanpa ekspresi dengan tangannya yang sudah bersarung tangan agar lukanya tidak terlihat. "sekarang ayo kita mulai" ucap Jack yang berdiri di depan untuk menjelaskan produk yang akan dikerja samakan. Setelah Jack menjelaskannya secara detail, para CEO itu mengangguk mengerti. "presdir Eveleen, apa menurut mu produk ini akan naik?" tanya Kayle. "produk ini akan naik, sesuai dengan kecanggihan zaman dan teknologi pasti para konsumen akan memilih alat yang lebih praktis dan berguna" ucap Eveleen menjawab menghadap Kayle yang mempunyai mata yang unik dan terlihat tidak asing bagi Eveleen.
"apa kamu yakin?" tanya Fabilio. "aku yakin dan sudah aku rencanakan sejak lama" ucap Eveleen tanpa melihat Fabilio. "dia tidak menatap ku" batin Fabilio kesal. "baiklah, kerja sama EYS dan KTH sudah resmi mulai detik ini" ucap Kayle yang sudah menanda tangani kontrak mereka. "semoga produk ini sukses" ucap Kayle yang berdiri. "jangan khawatir, senang bekerja sama dengan anda" jawab Eveleen yang juga berdiri. "selamat presdir" ucap Kayle yang menjulurkan tangannya. "selamat juga untuk mu presdir Kayle" ucap Eveleen berjabat tangan. "apa memakai sarung tangan sudah menjadi tren terbaru presdir?" tanya Kayle yang melihat tangan Eveleen. "hanya iseng saja" ucap Eveleen berbohong.
"dengan anda juga presdir Fabilio" ucap Kayle yang menjulurkan tangannya. "baik, semoga berjalan dengan lancar" ucap Fabilio berjabat tangan. Kayle melihat Eveleen dan Fabilio tidak berjabat tangan, Fabilio yang peka menjulurkan tangannya. "semoga berjalan lancar presdir Eveleen" ucap Fabilio. "tentu" ucap Eveleen berjabat tangan. "kalau begitu sampai jumpa" ucap Kayle yang keluar bersama asistennya.
Saat Fabilio akan pergi, Eveleen menahan tangan Fabilio. Mark dan Johnny yang tau keluar tanpa di suruh dan menutup rapat pintu itu. "biarkan aku menjelaskannya pada mu" ucap Eveleen dan Fabilio berbalik badan menghadap Eveleen. "katakan apa yang dikatakan Leo pada mu" ucal Leo. "Leo menyatakan perasaannya pada ku, tapi... " ucap Eveleen terputus. "sudah ku duga, kamu tidak perlu lagi menjelaskannya pada ku, bukankah sudah ku bilang kalau kita sudah selesai" ucap Fabilio. "aku belum selesai bicara" ucap Eveleen. "apa kamu tidak mencintai ku lagi?" tanya Eveleen. "jangan hubungi aku lagi kecuali masalah pekerjaan, karna aku sudah melepaskan mu" ucap Fabilio meninggalkan Eveleen di ruangan itu.
__ADS_1
"tunggu!" ucap Eveleen menghentikan Fabilio yang akan pergi. "bukankah semuanya sudah jelas" ucap Fabilio. "aku tidak akan memaksa mu lagi" ucap Eveleen mengeluarkan kalungnya dan nampaklah cincin yang Fabilio buang pada malam hari itu untuk Eveleen. Eveleen melepaskan cincin itu dari kalungnya dan memberikannya pada tangan Fabilio. "selamat tinggal" ucap Eveleen yang jalan mendahului Fabilio. Fabilio terdiam menadang cincin yang ada pada tangannya, "dia mencari cincin ini" batin Fabilio merasa tidak enak. Eveleen maauk ke lif dan turun ke lantai bawah keluar dari perusahaan menggunakan mobilnya. Jack yang ke kamar mandi bersama Mark tidak tau apa yang terjadi di antara mereka.
Saat Mark dan Johnny kembali, ia hanya melihat Fabilio berdiri tegak menatap cincin. "apa yang presdir lakukan?" tanya Mark. "wahh cincin" ucap Jack yang melihat. "apa presdir akan melamar presdir Eveleen?" tanya Mark. "kenapa Eveleen memakai sarung tangan?" tanya Fabilio. "itu bukan aksesoris, tapi tangan presdir Eveleen sedang ada banyak luka" jawab Jack. "apa karna mencari cincin ini?" batin Fabilio. "luka apa?" tanya Mark. "ntah lah, luka itu buat seperti luka goresan ntah apa" ucap Jack. "taoi dimana presdir Eveleen?" Tanya Mark. "eh iya juga, apa presdir Eveleen sudah pergi presdir?" tanya Jack. "dia sudah pergi" ucap Fabilio segera pergi. "kenapa dia meninggalkan kan ku" Jack bicara sendiri.
"Aaa!!!! hiks... " teriak Eveleen dalam mobil dan menangis dengan kencang. "kenapa dia sangat jahat pada ku hiks...kenapa.. hiks... " tangis Eveleen membawa mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.
drtt..
__ADS_1
ponsel Eveleen bergetar karna Jack sedang menghubungi nya. Eveleen yang melihatnya mematikan total ponselnya agar tidak ada orang yang mengganggunya. "kenala dia tidak bilang kalau akan pergi" ucap Jack yang tidak bisa menghubungi Eveleen. Jack pun manghubungi Alice, "ada apa" tanya Alice yang baru saja menjemput Chao. "apa presdir Eveleen sedang bersama mu nona?" tanya Jack. "tidak, bukanlah hari ini dia lergilah ke perusahaan" ucap Alice. "ada tadi tapi tiba-tiba presdir menghilang setelah selesai rapat dan tidak bisa di hubungi lagi" jelas Jack. "tunggu, tadi dia rapat? dengan siapa?" tanya Alice. "dengan presdir Fabilio dan Kayle" ucap Jack. "hah, aoa kamu meninggalkan Eveleen dan Fabilio tadi?" tanya Alice. "iya, bukankah ini bagus" ucap Jack. "mereka sedang bertengkar, baiklah aku akan mencari nya" ucap Alice menutup panggilannya.
"aku dalam masalah besar" ucap Jack yang khawatir. "Chao chao kakak akan pergi sebentar, kamu akan kakak antar ke perusahaannya ayah ya" ucap Alice yang membawa mobil. "asikk, tapi kenapa tidak ke perusahaannya papa saja" tanya Chao. "papa mu sepertinya sangat sibuk, lebih baik sama ayah dulu" ucap Alice. "baiklah" ucap Chao. Chao pun di antar ke perusahaan Luiz dan menitipkannya setelah menjelaskannya semuanya pada Luiz. "kalau begitu hati-hati" ucap Luiz. "hm" dehem Alice. Alice segera pergi dan mengendarai mobilnya ke perusahaan XC dengan perasaan yang marah dan kesal.
"aku ingin bertemu dengan Fabilio, dan katakan dari Alice" ucap Alice di loby. "baik, tunggu sebentar" ucap pegawai itu menelfon seseorang. "baiklah, presdir menunggu mu ucapnya. Alice yang sudah tau dimana keberadaan ruang Fabilio pun langsung masuk tanpa permisi. "Fabilio!" marah Alice. "ada aoa jamu mencari ku" tanya Fabilio.
pak..
__ADS_1
"pria berengsek!" tampar Alice yang di lihat Mark. "apa yang kamu lakukan!" kesal Fabilio. "aoa kamu tidak tau kalau Eveleen hampir mati karna mu semalam?! dan bisa-bisanya kamu membuat Eveleen hilang sekarang!" marah Alice. "apa maksudmu" ucap Fabilio. "Eveleen yang tubuhnya tidak bisa menahan dingin, dia berusaha mencari cincin yang kamu lempar malam itu di saat suhu sangat-sangat dingin! Eveleen hampir mati kedinginan karna mu! tangannya luka-luka karna cincin murahan itu!" marah Alice membuat Fabilio membeku merasa bersalah. "dan sekarang! Eveleen pergi ntah kemana! dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, sekarang kamu harus tanggung jawab untuk mencarinya sampai ketemu!" ucap Alice dan Fabilio langsung pergi untuk mencari Eveleen.