
"sebangai CEO atau mafia?" tanya Eveleen membuat Fabilio menatapnya dengan serius. "mafia" ucap Fabilio dengan menatap mata Eveleen. "benarkah? baiklah kamu sudah jujur" ucap Eveleen kembali santai ingin melanjutkan tidurnya. "hanya itu? kamu tidak marah?" tanya Fabilio bingung, padahal ia sudah menyiapkan mental jika Eveleen memarahinya. "kenapa aku harus marah jika kamu jujur" ucap Eveleen memejamkan mata. "kamu benar, tapi aku merasa aneh jika kamu tidak memarahi ku" ucap Fabilio. "sudahlah buka baju mu, apa kamu terluka" ucap Eveleen kembali duduk. "aku tidak terluka, aku memakai jubah pengaman" ucap Fabilio membuka kemejanya dan terlihatlah disana ia memekai jubah pengaman.
"syukurlah" ucap Eveleen dengan tenang. "kamu mengkhawatirkan ku?" senyum Fabilio senang. "jangan tersenyum! jika kamu membuatku khawatir aku tidak akan memaafkan mu!" peringatan Eveleen. "tenang saja, aku tidak akan terluka" ucap Fabilio melepas jubah pengamannya. Eveleen tidak melihat luka pada tubuh Fabilio, hanya saja satu bekas luka panjang yang ada di dadanya. "itu bekas luka apa?" tanya Eveleen. "ini luka saat aku kecil, tapi aku tidak terlalu ingat dari mana asalnya" ucap Fabilio menyentuh bekas lukanya. "jangan ada bekas luka lagi" ucap Eveleen turun dari ranjangnya dan mendekati Fabilio. "aku tidak bisa menjanjikan bekas luka ku bertambah, tapi tenang saja aku akan berusaha untuk tidak terluka" ucap Fabilio senyum dengan tulus.
"aku percaya" ucap Eveleen memeluk Fabilio dengan sebelah tangan. Fabilio memeluk Eveleen kembali dengan erat dan hangat walau sedang tidak menggunakan baju. "sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Fabilio yang merasa Eveleen memeluknya dengan tangan yang gemetar. "bisa bawa aku ke rumah sakit?" melepaskan pelukan. "apa kamu sakit?! wajah mu pucat dan keringat dingin mu keluar" ucap Fabilio memegang pipi Eveleen. "bisakah sekarang?" tanya Eveleen. "ayo" ucap Fabilio yang akan menggendong Eveleen ala bridal dan ingat kalau Eveleen tidak nyaman, ia langsung menggendong Eveleen ala koala lalu berlari. "siapkan mobil!" teriak Fabilio yang di dengar oleh bodyguard. "baik" langsung mempersiapkan mobil sebelum Fabilio tiba di pintu utama.
__ADS_1
"kita ke rumah sakit" ucap Fabilio duduk di samping Eveleen yang menyandarkan kepalanya di bahu Fabilio. "sakit sekali" ucap Eveleen yang membuat Fabilio makin panik. "cepat!" ucap Fabilio kepada supirnya "bertahankah" ucap Fabilio yang khawatir. Beberapa menit kemudian Eveleen dibawa ke sebuah ruangan periksa, "bisakah kamu menunggu ku di luar?" tanya Eveleen. "tapi aku tidak dilarang untuk tidak masuk, jadi aku tetap di dalam" ucap Fabilio menolak. "tapi... " ucapan Eveleen terputus. "tidak papa nona, kekasih anda boleh menemani di dalam" ucap dokter. "anda bisa duduk di sana sementara saya akan memeriksa nona" ucap dokter yang di turuti Fabilio. "aku tidak akan kemana-mana" ucap Fabilio duduk di kursi yang tersedia di ruangan itu.
Saat akan memeriksa Eveleen, tiba-tiba dokter berjalan ke arah Fabilio yang sedang bermain ponselnya. "tuan, bisakah anda untuk menunggunya di luar? saya akan melakukan sedikit terapi pikiran untuk nona" ucap dokter yang membuat Fabilio memasukkan ponselnya ke dalam saku. "kenapa? tadi kan tidak papa" ucap Fabilio. "ini untuk terapi pikiran tuan, anda jangan khawatir" ucap dokter. "baiklah lakukan yang terbaik, jika ada apa-apa pada kekasih ku kamu tidak akan selamat" ucap Fabilio mengancam. "Fabilio! apa kamu mengancam seorang dokter?! sana keluar!" marah Eveleen yang masih berbaring. "baiklah, aku akan menunggu mu di luar" ucap Fabilio langsung menurut.
"tadi bilang boleh tapi sekarang tidak, awas saja jika Eveleen kenapa-napa aku akan membunuhnya" ucap Fabilio berdiri didepan pintu. Beberapa menit kemudian hatinya tetap tidak tenang hingga mendekatkan telinganya kedepan pintu agar berharap mendengar sesuatu dari luar. Saat beberapa detik ia mendekatkan telinganya, pintu pun terbuka membuat nya terkejut dan hapir jatuh. "hekhm" berusaha untuk tetap cool walau ketahuan. "tenangsaja, nona baik-baik saja selarang anda bisa menemuinya" ucap dokter. "kerja bagus" ucapnya langsung masuk ke dalam. "apa kamu tidak papa? apa perlu ruang nginap?" tanya Fabilio tetap khawatir. "tidak perlu tuan, nona baik-baik saja dan boleh pulang sekarang hanya perlu meminum obat saja" ucap dokter menyiapkan resepnya. "bagaimana baik-baik saja saat di rumah ia meminta ke rumah sakit dengan pucat mengeluarkan keringat dingin" ucap Fabilio menolak.
__ADS_1
Pagi pun sudah tiba, Johnny tidak tidur semalaman karna terus memikirkan Eveleen. "Bagaiman jika kita menyusul Fabilio ke negara YY? aku curiga dengannya" ucap Johnny yang melihat Leo berjalan meminum segelas kopi dengan dada telanjang. "curiga apanya?" tanya Leo. "kamu pikir saja, apa pergerakan Fabilio tidak mencurigakan? apa hanya perasaan ku saja?" tanya Johnny. "dia benar" batin Leo. "tidak masalah, ayo kita susul" ucap Leo segera ke ruangannya. Johnny dan Leo segera ke bandara untuk menyusul Fabilio secara diam-diam. Sudah beberapa jam mereka terbang pun sampai ke bandara negara YY, "Fabilio kami sudah sampai di negara YY" / "dimana kamu sekarang?" pesan dari Leo yang di lihat oleh Daniel yang baru saja bangun tidur. "apa?!" panik Daniel mendapat pesan itu.
drttt...
Eveleen sudah bangun dan sedang menunggu Fabilio menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Ponsel Fabilio bergetar di meja makan di dekat Eveleen, karna itu bertulisan 'D' ia mengira itu Daniel. "sayang Daniel menelfon, apa aku saja yang mengangkatnya?" tanya Eveleen. "speker sayang" ucap Fabilio yang sedang membawa makanan yang di piring. "hallo" ucap Eveleen yang membuat Daniel kaget. "presdir Eveleen?! dimana presdir Fabilio?" ucap Daniel dengan suara panik. "ada apa?" tanya Fabilio yang duduk di samping Eveleen. "tuan Johnny dan Leo sudah di negara YY tiba-tiba apa yang harus aku lakukan?" tanya Daniel. "Bagaiman dengan Luiz?" tanya Eveleen. "katanya presdir Luiz masih di negara QQ" ucap Daniel. "buat mereka menunggu ku tiga jam dengan alasan yang jelas" ucap Fabilio mematikan panggilannya. "ayo kita siap-siap dulu" ucap Fabilio.
__ADS_1
Eveleen dan Fabilio segera siap-siap dan menuju helicopter pribadi Fabilio yang sedang di persiapkan di halamannya yang luas. "aku sedang menyelamatkan Eveleen dan jangan menghubungi ku dulu" / "tunggu saja aku di rumah ****" pesan Daniel sebagai Fabilio memberikan alamat rumah Fabilio untuk berjaga-jaga. "katanya sedang menyelamatkan Eveleen, sepertinya dia menemukan Eveleen" ucap Leo membaca pesannya. "ayo kita bantu" ucap Johnny senang kalau Eveleen sudah di temukan. "kita tunggu saja di rumahnya, dia bisa melakukannya sendiri" ucap Leo menaiki mobil yang sudah di persiapkan saat mereka akan datang ke negara YY. "tapi jika Eveleen kenapa-napa bagaimana?!" ucap Johnny. "tidak akan, aku lelah ingin tidur" ucap Leo masuk ke mobil dan di ikuti Johnny. "jika Eveleen kenapa-napa aku akan adikmu" ucap Johnny mengancam. "bunuh saja dia" Leo tak peduli.
Fabilio dan Eveleen segera naik ke helicopter untuk ke negara YY, "ini tuan" ucap pembantu rumahnya yang membawakan makanan di dalam kotak. "terimakasih" ucap Fabilio menerima makanan itu dan pintu pun tertutup. "ini sarapan kita tadi?" tanya Eveleen melihat isinya. "kita tidak sempat sarapan tadi, jadi aku menyuruhnya untuk mempersiapkannya untuk kita pergi" ucap Fabilio senyum memperlihatkan giginya. "hahah, ada-ada saja" tawa Eveleen melihat kelakukan Fabilio. Mereka pun pergi menuju ke negara YY dalam 2 jam kurang perjalanan sampai. "apa sarapannya enak?" tanya Fabilio memegang tangan Eveleen saat akan turun dari helicopter. "sarapan yang enak dengan banyak pemandangan" ucap Eveleen turun. "kamu sudah tau kan apa yang akan kamu jawab jika mereka bertanya" tanya Fabilio. "tentu" memakai kacamata dengan penuh gaya.