LOVE ADVENTURE

LOVE ADVENTURE
Contekan


__ADS_3

"Oi, ke kamar mandi dulu ya..." Ujar Andre sembari menepuk pundak Robby.


"Ya, cepet tapi!" Bagus banget lu pergi, ni cewek makin gak mau lepas asem!!!!


"Siap, ndan!" Ujarnya sambil berlalu. Tapi, bukannya ke kamar mandi malah ia kembali duduk di meja yang tadi ia tempati sembari melihat perlakuan Lia pada Robby.


"Kalo masi bodo amat gitu ntar tak kasi cium jauh lho!" Ujar Lia.


"Sadar tempat sama status woi!!" Jawab Robby. Ia mengalihkan pandangan ke arah Andre yang tengah duduk di depan kunci motornya. Lah bukannya tadi mau ke kamar mandi?? Pikir Robby. Ia mengerutkan alis nya sesaat dan tersenyum tipis saat Andre mengambil kunci miliknya dan berjalan ke arahnya.


"Hmmm, tempat di restoran, status ku di sini pelayan, situ pengunjung..."


"Hhhhh, lo kan bukan siapa siapa gue! Pacar aja bukan, sodara juga bukan kan? Jangan harap bisa fotbar!"


"Sodara? Nggak ngerti juga... Pelit! Kalo gitu... Cup, fuhhh..." Ia cium telapak tangannya dan meniupkannya ke arah Robby.


"Anj*r, woy!! Semprul!" Umpat nya sembari menghindar dari arah tiupan cewek itu.


"Mau lagi?" Tanya Lia.


"Ckckckck, oy, ojo sibuk yang yangan wae! Sak ake sing liyane!(ckckckck, oy, jangan sibuk pacaran saja! Kasihan yang lainnya!)" Ujar Andre meledakkan mereka berdua.


"Semprul! Yang ku wae dudu! Ngaku ngaku!(Semprul! Pacar ku saja bukan! Ngaku ngaku!)" ujar Robby.


"Ra popo lho mas, aku trima dadi Yang mu...(nggak papa lho mas, aku terima jadi pacar mu...)" ujar Lia.


"Pusing woy! Dah, cabut," ujar Robby.


"Oke siap..." Besok lagi lebih cerdas ya..." Ujar Andre sambil menggoyangkan kunci yang tadi ia ambil di depan wajah Lia.


"Hhhhh, gara gara situ ambil kuncinya kan, nggak jadi kasi cium jauh lagi buat masnya tadi..." Ujar Lia sebal.


"Astaga,.... Kamu masih nggak puas?? Pfftt,..." Andre meninggalkan Lia yang tengah menggerutu kesal menyusul Robby yang sudah nangkring di atas motor kesayangannya.


"Nih," ujarnya sembari melemparkan kunci yang ia pegang ke dada Robby.


"Ouch..." Ia sedikit kaget untuk lemparan itu namun ia tetap menangkap kunci itu dan nyalakan motornya. "Makasi yaa.... Kalo tadi kamu nggak kaya gitu mungkin dia udah sukses nempel ke aku..."


"Hmmm," ini balasan ku karena udah jemput dan nggak ngebiarin aku jalan kaki... Tunggu satu kesempatan lagi kita bakal impas By... Ucapnya dalam hati.


***


Sementara di kamar Maya....


"Hoahhemm," Maya menguap dan berusaha membuka matanya yang masih terasa lengket. "Ughhh," masih menutup mata namun ia duduk dan meregangkan tubuhnya. Hal pertama yang ia pikirkan saat bangun adalah bagaimana ulangannya di hari esok. Dibukanya perlahan matanya yang terasa lengket itu dan beranjak untuk mandi. Ia memilih berendam di bathtub sambil merancang rencana untuk persiapan ulangan besok. Sudah menjadi kebiasaannya jika ia sedang memikirkan suatu rencana di kamar mandi pasti mandinya memakan waktu yang sangat lama. Hanya Tuhan yang tahu apa yang sedang ia pikirkan bersama dengan timbunan busa yang tengah ia mainkan. Mari kita tinggal kan ia berfikir sejenak.


***


Robby sudah memasuki halaman rumah Andre. Mereka disambut oleh gong gong an Cooky dan Dolly, mereka adalah sepasang anjing milik Andre.


"Makasi dah traktir sama anter gua sampe rumah..." Ujar Andre sembari mengembalikan helm yang ia pakai pada Robby.


"Yaa, Mama Papa ada?"


"Harusnya si ada... Mau masuk dulu?"


"Iya, bentar aja..."


"Oke, aku masuk duluan ya..." Ujar Andre berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan sahabatnya itu.


Robby mengalihkan pandangannya dari Andre untuk mengelus kedua anjing yang sedari tadi mengibaskan ekornya dan menyentuhkan hidung mereka ke kaki nya.


"Lucu banget sih kalian ini... Kalau Maya liat pasti seneng deh..."


"Guk!" Dolly terlihat merespon perkataan Robby barusan.


"Kamu tau apa yang aku katain??"


"Guk! Guk! Guk!!" Cooky menggong gong meminta perhatian lebih dari Robby.


"Iyaaaaaa Cooky.... Aku nggak lupa sama kamu kok..."


"Eh, ada Robby.... Pantes ribut mereka..." Ujar Diah mama Andre yang baru saja keluar karena diberitahu oleh Andre.


"Eh, tante Diah... Hehe... Iya, tadi anterin Andre sekalian nraktir..."


"Wah, ada yang abis di traktir nih..." Ujar Dani papa Andre yang keluar dengan Andre yang mengekor di belakangnya.


"Ish, papa... Apaan si..." Ujar Andre malu.


"Lupa sama mama nih nggak dibawa in apa apa?" Ujar Diah.


"Bukannya lupa mah... Tadi tuh, ada cewe nem—"


"Andreeeeeee.... Jangan dong..." Ujar Robby memelas.


"Cewek apa lagi nih?" Ujar Dani penasaran.


"Nggak papa om... Ndre, jangan dong...." Ujar nya memelas.


"Hum? Kenapa jangan?? Lucu tauk..."


"Jang—"


"Lucu gimana? Mama mau tau dong.... Cerita in lah..." Ujar Diah.


"Ya udah lah... Nggak papa dicerita in cuman boleh kan ya aku pamit dulu?"


"Hahaha, malu ya? Ya udah sana! Om tau kok perasaan mu..." Ujar Dani.


"Lah, jangan dong... Mama mau liat muka nya nih... Seru deh kayaknya..." Ujar Diah.


Wkwkwk, ****** dah lu By... Ngakak gua liat muka lu itu... Ujar Andre dalam hati.


"Jangan sayang, anak orang lho... Kasian...." Ujar Dani mengingatkan istrinya.


"Ya sudah lah... Nggak papa deh kamu pulang..." Ujar Diah.


"Hehe, makasi om, tante, saya balik dulu... Duluan ya Ndre..."

__ADS_1


"Iya, hati hati ya! Jangan ngebut ngebut!" Ujar Dani.


"Ya om, beres..." Ujarnya dan segera mengemudikan motornya membaur dengan pengendara yang lain untuk pulang.


Sesampainya di rumah ia disambut oleh keheningan dari rumah nya yang terlihat sederhana dari luar tapi tidak saat sudah masuk ke dalam.


"May..." Robby memanggil adiknya. Karena tidak ada balasan ia panggil dengan lebih keras, "MAY!!" Masih tidak ada jawaban dari adiknya itu Robby naik ke lantai dua. Ia masuk ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengganti pakaian yang sedang ia kenakan. Setelah selesai, ia memutuskan untuk mengetuk pintu adiknya.


"Tok, tok, tok, May...." Masih tidak ada jawaban dari adiknya itu. Setelah menunggu beberapa saat ia memutuskan untuk langsung masuk ke dalam. Dan yang ia lihat hanya kamar tanpa penghuni, lampu saja tidak menyala.


"Hemat banget ya, tirai jendela gak dibuka pula... Nggak takut emang... Berasa tinggal di rumah yang nggak berpenghuni..." Gumamnya sembari menyalakan lampu kamar adiknya itu. Sementara dari dalam kamar mandi, Maya keheranan melihat lampu kamarnya yang tadi ia matikan menyala dengan sendirinya.


"Siapa di situ?" Tanya nya dengan suara yang sengaja ia buat agak berat karena takut kalau ada copet yang masuk. Robby tersentak kaget mendengar suara dari arah kamar mandi. "May..." Panggilnya.


"Robby?"


"Iya, siapa lagi emang?"


"Ealah, tak pikir copet..."


"Dasar, kebiasaan... Udah mandinya lama, pintu nggak dikunci pula..."


"Hehe, maafin... Udah pulang tho kamu?"


"Ya iyalah, sialan! Lu pikir gua arwah gitu ya! Pertanyaan kok aneh..."


"Hmmm... Bisa nggak kalo situ nggak ganggu orang lagi mikir?"


"KAREP MU!" Ujar Robby keluar sambil membanting pintu karena kesal dengan ucapan Maya. Sementara di dalam kamar mandi Maya tersenyum tipis mendengar suara kakaknya yang terlihat sangat kesal. Ia memutuskan untuk menyudahi bermalas malasan nya dan segera membilas badannya. Lalu, ia turun ke bawah menghampiri kakaknya untuk memintanya membuatkan makan malam.


"Bang...."


"Udah turun lo?"


"Udah dodol! Jelas nampak di depan mata gini masih ragu... Kalo cuman suara mah boleh lu bilang gitu..." Jawab nya kesal.


"Cih, Ngapai panggil gua Bang?"


"Hehe, tau aja..." Jawabnya manja.


"Ih, bahaya kalo udah keluar suara manja nya..."


"Bikinin makan yah... Laper nih..."


"Bukannya udah makan dua bungkus heh?"


"Kok tau???? Cenayang nih?? Bagi lah, kek mana caranya... Biar aku juga bisa..."


"Sialan, jelas jelas ada dua bungkus di tong sampah, mie di kardus juga berkurang gimana mau gak tau kalo kamu yang makan, Huh?"


"Yah, itu kan tadi bang... Udah beberapa jam lalu.... Hehe... Udah dicerna nih sama perut ku... Sekarang Dia minta asupan lagi nih..."


"Cih, dasar perut karet!"


"Biarin!"


"Asem, bodo amat lah... Tolong lah buatin... Laper lagi nih..." Pintanya memelas.


"......" Karena kasihan dengan adik nya itu ia segera meracik bumbu untuk membuat tumis kangkung kesukaan Maya. Karena ia ingin menghabiskan stok kangkung yang ada di kulkas.


"Cuman masak nasi bisa kan ya?" Tanya Robby pada adiknya.


"Bisa aja asal diawasin salah ato nggak nya ntar biar gak terlanjur..."


"Tolong kamu yang masak nasi, bisa? Biar lebih cepet makannya..."


"Wokey..."


"Jangan sampe kebanyakan air ya! Nanti jadi bubur malah repot..."


"Siap ndan!"


Setelah nasi dan tumis kangkung matang, tanpa menunggu aba-aba Maya langsung menyantapnya. "Woi, Woi! Yang masak aja belum duduk kamu udah main ambil duluan... Gedeg mertua kamu kalo gini caranya..."


"Hehe, gak tahan By...


"Dasar..."


"Dasar apaan By?"


"Dasar negara!"


"Negara apaan?"


"Negara Indonesia!"


"Indonesia apaan?"


"Indonesia maju!"


"Maju apaan?"


"Maju terus awas jatoh!"


"Jatoh ke mana By?"


"Ke.... Hati seseorang..."Fyuh, hampir aja nyeplos ke hati kamu, tapi ini adik sendiri...


"Siapa hayoooooo??..." Tanya Maya penasaran.


"Siapa ya... Yang mau nerima aja lah..."


"Hmm, aku tanyain Kak Andre nih ya..."


"JANGAN!"


"Jangan kenapa hayoooo????" Atau aku tanyain Tante Diah aja..."


"Jangan sialan! Sampe lu berani nanya gak bakal gua masakin, anter sekolah, bagi uang jajan!"

__ADS_1


"Yaelah, ya udah, kalo gitu cerita sendiri ya..." Pinta nya.


"Ya, emang kamu ada waktu buat nerima cerita panjang ku hari ini?"


"Hum, nggak juga... Besok aja gimana?"


"Nyiapin apa si? Kok kayaknya sibuk banget?"


"Kepek an* ulangan besok hehe...(contekan*)"


"Ulangan apa emang, kok ngepek?*(nyontek?*)"


"IPS, aku belajar separo, separonya dibuat kepek an..."


"Emang materinya susah? Atau kamu nya yang nggak merhatiin pas pelajaran?"


"Nggak terlalu susah, cuman banyak hafalannya aja..." Ujar Maya tanpa menjawab pertanyaan ke dua.


"Oalah, semangat deh, semoga gak ketahuan..."


"Oke..."


"Dah cepet dihabisin terus belajar!"


"Oke deh..." Jawabnya. Maya memakan makanan yang masih ada di piringnya dengan cepat. Tak sampai dua menit ia sudah selesai.


"Sini aku yang cuci aja, kamu kan udah masak..." Ujar Maya.


"Nggak usah, aku aja yang cuci... Kamu naik duluan aja..."


"Eh, nggak papa?" Tanya Maya, ia merasa tak enak karena kakaknya yang memasak ia pula yang mencuci.


"Iya, nggak papa... Udah sana... Cepet belajar! Jadi kalo bisa nggak usah pake kepek an!"


"Hehe, iya deh..." Oya, tadi kan Citra minta kerja sama sama aku pas besok ulangan... Aku terima atau nggak ya?"


"Terserah kamu aja... Tapi, emang dia nggak usaha belajar?"


"Dia nggak suka pelajarannya..."


"Bukannya kamu juga nggak suka? Tapi kamu tetep mau belajar..."


"Hmm, yah... Nggak mau aja dapet nilai paling jelek di kelas orang pinter..."


"Hadeh, kalo nggak bisa pelan pelan dong... Jangan dipaksain... Ntar nilai kamu bagus disuruh ikut lomba yang berkaitan sama itu pelajaran malah repot..."


"Eh, iya juga... Kali kali boleh kan ya..."


"Ya, aku bolehin... Tapi jangan sering sering... Ntar otak mu gak jalan... Ngandalin kepek an mulu..."


"Oke deh... Makasi ya By..." Ujar Maya. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu naik ke kamarnya.


Langsung saja ia duduk di depan meja belajarnya dan membolak balik buku IPS nya. Digunakannya konsentrasi penuh dan teknik membaca cepat untuk memahami materi yang dijelaskan Bu Tri tadi siang. Tak peduli dengan ponsel nya yang berulang kali mengeluarkan suara. Hingga arloji yang ia letakkan di hadapannya menunjukkan pukul sembilan malam.


"Fuh... Ku pikir aku nggak perlu buat kepek an..." Ujarnya, karena ia merasa sudah menguasai materi. Ditengoknya ponsel yang sedari tadi mengeluarkan suara. Jarinya bergerak naik turun membaca pesan yang tertimbun di grup kelas. Hingga sebuah pesan masuk.


From: Amara kukang


Amayay: Oi, udah baca di grup?


Xxan: Apaan? Aku blum selese baca...


Amayay: Besok ulangan matematika juga. Sial banget Bu Ros baru bilang jam segini...


Xxan: Ulangan? Seriusan??


Amayay: Iya lah, masa boong :v


Xxan: Udah ngantuk aku woy :/


Amayay: Nyebelin dah, ngasi tau kok jam segini...


Xxan: Buat kepek an aja...


Amayay: Apa itu?


Xxan: Contekan


Amayay: Rumus rumus?


Xxan: Iya... Di lipet lipet masukin ke stabilo ato di gulung di masukin ke dalam bolpen


standar...


Amayay: Astaga...


Xxan: Mau bagi tugas gak?


Amayay: Maksud?


Xxan: Kita ulangan berapa bab sih?


Amayay: 2, ohhh... Yaya... Q yg bab dua yak...


Xxan: Yey mudeng... Ok q bab satu dah... Besok kita tukeran contekan di km


mandi tengah ya...


Amayay: Ok, waktu buat ngerjain separo" ya...


Xxan: Ok, bubye... Selak ngantuk...


Amayay: Ok, Bye...


Maya memulai aksinya dalam membuat contekan. Karena sudah menjadi kebiasaan semua rumus yang dijelaskan pasti ia catat, dalam membuat contekan rumus ia tidak kesulitan. Dipotongnya kertas buku coret coretan membentuk persegi panjang, ia perkirakan semua rumus cukup untuk ia tulis di sana. Dengan lebar 3 cm, panjang 15 cm. Tidak butuh waktu yang lama untuk menyalin semua rumus. Ia lanjut membolong pulpen standar yang masih bisa berfungsi membentuk persegi panjang dengan panjang 3 cm, lebar 2 inc. Ditempelkannya ujung kanan kertas contekan ke isi pulpen, ujung kertas kiri potongan ke potongan yang ia buat. Lalu ia putar isi pulpen dan secara otomatis kertas contekan tergulung.


Hmmm, nggak bakal ada yang curiga kan ya?? Lagian ni pulpen bisa aku buat nulis... Pikirnya.


"Fyuh, beres... Ngantuk pula..." Maya memutuskan untuk naik ke kasur dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2