LOVE ADVENTURE

LOVE ADVENTURE
°•53•°


__ADS_3

Disaat itu Fabilio dan Eveleen hanya berdua di ruangan itu sambil memakan beberapa makanan ringan, Eveleen duduk di sisi ranjang Fabilio berhadapan. "bagaimana lukamu? Apa masih sakit?" tanya Eveleen. "tidak, hanya kaki ku masih belum bisa di gerakkan" ucap Fabilio. "tapi, bagaimana bisa kamu melompat dengan ku?" tanya Eveleen ingin tau. "saat itu aku pikir jika menyusul mu ke atas mungkin aku terlambat, jadi aku coba saja pertolongan dengan melompat dengan mu menggunkan bantuan tali" ucap Fabilio. "jangan lakukan itu lagi" ucap Eveleen. "tidak, itu tidak akan terjadi lagi" ucap Fabilio. "apa kamu pernah berkelahi dengan mafia yang hebat bela diri?" tanya Eveleen. "apa kamu tau ciri-cirinya?" tanya Fabilio. "seingat ku, dia pria yang hebat bela diri, dengan mata yang cantik" ucap Eveleen. "bagaimana dengan wajahnya?" tanya Fabilio.


"aku tidak lihat, dia memakai masker" jawabnya. "jika dia memakai masker berarti dia orang ternama" ucap Fabilio membuat Eveleen memiringkan kepalnya. "maksudnya?" tanya Eveleen. "tidak ada mafia yang memakai masker jika ingin menyakiti orang yang padahal tidak ada satupun kamera disana" jelas Fabilio. "apa kamu tau! pria itu lawan pertama yang pertama kali sulit untuk dikalahkan!" semangat Eveleen. "apa lamu senang?" ejek Fabilio. "iya, tapi dia curang saat waktunya hampir habis" kecewa Eveleen. "sekali ini aku melihat wanita bodoh seperti mu" ucap Fabilio. "hei! aku tidak bodoh!" kesal Eveleen. "tentu! kamu memang bodoh! seharusnya saat itu langsung lari saat dia lengah! kamu malah menunggunya untuk berkelahi lagi" Fabilio tak menyangkanya.


"kalau begitu saat kamu sehat ayo kita bertarung" ucap Eveleen semangat. "baiklah" ucap Fabilio tersenyum. "tapi aku ingin mengakatan sesuatu pada mu" ucap Eveleen serius. "apa?" juga ikut serius. "dia tau kalau aku adalah kekasih mu, dan dia akan kembali jika aku selamat dari gedung itu" ucap Eveleen membuat Fabilio mengerutkan keningnya. "maafkan aku membuat mu masuk dalam masalah hidupku" ucap Fabilio memegang tangan Eveleen. "tidak papa, aku sudah memikirkan semuanya secara matang, ayo kita lalui bersama-sama" ucap Eveleen dengan senyuman tulusnya. "aku akan terus melindungi mu" ucap Fabilio mencium punggung tangan Eveleen. "hekhm" dehem seseorang yang masuk ke ruangan mereka. "Eh, dokter" ucap Eveleen salah tingkah melepaskan tangannya dari genggaman Fabilio. "aku datang untuk mengecek keadaan tuan Fabilio dan anda" ucap dokter jalan kearah mereka.

__ADS_1


"baik" ucap Eveleen duduk ke ranjangnya kembali. Dokter mengecek keadaan mereka satu persatu, "keadaan kalian sudah membaik, kalian juga bisa pulang dan tuan Fabilo harus mengecek kondisi kaki mu hingga gipsnya dilepas" jelas dokter. "baik, terimakasih dokter" ucap Eveleen dan Fabilio. Dokter pun kembali bekerja, "ayo kita pulang" ucap Eveleen dan ditatap Fabilio. "ayo" senyum Fabilio. Eveleen mengemaskan barang-barang mereka tanpa sepengetahuan teman-temannya, "apa kamu siap sayang" tanya Eveleen memasangkan masker dan topi untuk Fabilio agar tidak ketahuan oleh wartawan yang masih menunggu mereka.


"tentu sayang" ucap Fabilio yang sudah duduk di kusi rodanya dan di dorong Eveleen. Eveleen dan Fabilio pergi menuju pintu belakang rumah sakit tanpa sepengetahuan wartawan yang menunggu mereka di depan pintu rumah sakit, barang-barang mereka dibawakan bodyguard. Mereka masuk ke mobil dengan selamat, yang dikendarai bodyguard Fabilio. Mereka melewati para wartawan yang masih menunggu mereka disana, "sebentar" ucap Eveleen yang membuat mobil itu berhenti beberapa meter dari kumpulan para wartawan. Eveleen membuka sedikit kacanya dan mengode salah satu wartawan itu hingga melihat ke arahnya. Eveleen membuka kanya dan membuka maskernya, "itu presdir Eveleen!" ucapnya dan membuat para wartawan menengok kearah yang ditatap wartawan yang berteriak itu. "kalian harus istirahat!" ucap Eveleen dan Fabilio yang dibelakangnya hanya melambai dengan senyuman, saat wartawan itu akan berlari ke arah mereka mobil pun jalan kembali.


"aku mendapatkan gambarnya!" ucap salah satu wartawan yang merekam Eveleen dan Fabilio yang melambai tadi dalam satu mobil. "apa mereka sepasang kekasih?" / "hah~ akhirnya mereka muncul dan kita bisa pulang" / "presdir sangat peka kalau kita menunggu mereka berhari-hari, dan muncul kalau mereka sudah pulang hari ini dengan keadaan baik-baik saja" / "presdir Eveleen menyuruh kita untuk istirahat" / "ayo kita pulang" ucap mereka lega dari tugasnya itu. "kenapa kamu harus pedulikan mereka" ucap Fabilio. "hanya kasihan, jika menunggu yang tidak pasti itu menyakitkan" ucap Eveleen sebagai orang berpengalaman. "kekasihku terlalu baik, aku sangat beruntung" ucap Fabilio mengacak lembut rambut Eveleen yang pendek darinya.

__ADS_1


drtt...


Ponsel Eveleen bergetar, "Alice?" melihat nama panggilan dari ponselnya. "hal... " ucapan Eveleen terputus seketika. "EVELEEN! KAMU SUDAH PULANG KENAPA TIDAK BILANG LADA KU!!!" teriak Alice dengan kesal. "hei! bisakah pelankan suara mu?!" kesal Eveleen memegang telinganya. "apa kamu memarahi ku?!" marah Alice. "ma-maaf sayang, maaf yaa nanti aku bakal jelasin sama kamu tunggu aku di rumah" ucap Eveleen yang membuat Fabilio bingung. "baiklah dahh~" tutup Eveleen. "apa kamu takut dengan Alice yang akan marah? wahh kamu mengesankan" ucap Fabilio tak habis pikir. "tentu saja, Alice adalah segalanya" ucap Eveleen. "apa aku bukan segalanya bagi mu? kamu tidak pernah takut pada ku" ucap Fabilio yang iri. "apa kamu cemburu dengan Alice? yang benar saja" ucap Eveleen. "tentu! aku cemburu, aku juga ingin menjadi teman lama mu, aku juga ingin tau tentang hidup mu, aku juga ingin membuat headphone untuk mu, aku juga ingin menjadi segala-galanya bagi mu, apa aku tidak boleh?" ucap Fabilio dengan cepat membuat Eveleen menatapnya heran.


"kamu ingin semuanya?" tanya Eveleen. "iya, kenapa?" dengan nada menantang. "kalau begitu, aku milik mu dan kamu milikku, katakan yang ingin kamu katakan dan aku akan menurutinya asal itu harus di ikuti" ucap Eveleen memegang tangan Fabilio. "cium aku" ucap Fabilio langsung. "di-disini?" melihat ke depan yang ada sopirnya, dan dengan pekanya bodyguard itu menutup batas antara bagian depan dan belakang agar tidak melihat apa yang terjadi di belakang. "bagaimana?" menarik pinggang Eveleen dan wajah mereka sangat dekat. "tapi... " ucapan Eveleen terputus. "lebih dekat?" tanya Fabilio yang menarik Eveleen hingga duduk di pangkuannya. Eveleen tidak bicara, ia hanya menatap mata Fabilio dan mengalungkan tangannya di leher Fabilio.

__ADS_1


"wajah mu memerah" ucap Fabilio berbisik ke telinga Eveleen. "apa kamu mu sakit?" tanya Eveleen. "tidak, bibir ku lebih sakit karna tidak mendapatkan kasih sayang" suara berat Fabilio. Eveleen mendekatkan wajahnya perlahan dan mencium Fabilio dengan lembut. Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Eveleen yang sudah di tunggu oleh Alice di teras depan. Eveleen keluar bersama Fabilio yang di bantu tongkat nya, "hai sayang" ucap Eveleen datang memeluk Alice. "aku senang kamu sudah pulang" ucap Alice membalas pelukan Eveleen. "apa kamu masih marah pada ku?" tanya Eveleen melepaskan pelukannya. "aku tidak marah, tapi kamu harus menjelaskannya kepada ku" ucap Alice. "baiklah: senyum Eveleen.


"presdir Fabilio juga kesini?" tanya Alice. "hmm begini, aku sudah memikirkan semuanya dan memutuskan untuk Fabilio tinggal di rumah kita beberapa hari kedepan" ucap Eveleen hati-hati. "kita?" ucap Fabilio. "tinggal?" ucap Eveleen. "apa kita termasuk Alice?" tanya Fabilio kecewa. "baiklah, tapi aku tidak menemani mu dan juga asisten rumah sudah ada untuk membantu mu di rumah, kamu tidak akan kesepian" ucap Alice membuat Fabilio lega. "baiklah tidak masalah" ucap Fabilio. "karna aku sudah melihat mu baik-baik saja, aku balik ke rumah ku dulu, aku akan sering mengunjungi mu dahh~" ucap Alice mengedipkan satu mata pada Fabilio dan Fabilio membalas dengan satu jari jempolnya dengan senyuman kemenangan. "kamu memang yang terbaik" batin Fabilio.


__ADS_2