LOVE ADVENTURE

LOVE ADVENTURE
Motor atau Sepeda?


__ADS_3

Hari berjalan lancar, hingga tak menyadari sudah seminggu lebih hukuman Maya dan Andrea sudah tidak berlaku lagi.


Pada suatu pagi yang dinginnya dapat menusuk tulang jika orang itu tidak tahan dengan udara yang dingin.


Maya sedang enak enakan meringkuk sambil bermimpi dibalik selimut tiba tiba, terdengar kegaduhan diluar kamar seperti sedang menabuh panci yang membuatnya terbangun.


"Dong, dong, dong teng, dong, tang......"


"Apa apaan si ini, mana masih jam tiga subuh lagi," ujarnya sambil melihat arloji nya yang bertengger di atas meja belajarnya.


Sementara itu, di dalam kamar Robby...


"Astaga, kenapa si ini... Kenapa pakai pukul panci segala sih..." Rutuk Robby sambil menyibakkan selimut yang tadi dipakainya untuk tidur.


Sementara itu, di sebelah kamarnya, Maya melakukan hal yang sama dan membuka pintu secara bersamaan. Serta menyembulkan kepala mereka keluar secara bersamaan.


Nena yang melihat kedua anaknya sudah bangun tersenyum sekilas. Lantas memberi isyarat pada mereka untuk turun ke ruang makan.


***


Sesampainya diruang makan mereka tidak kaget melihat ayah mereka sudah duduk di tempat biasa. Karena memang jika ada berita mendadak jam 11 malam sampai 3 pagi yang penting pasti akan ada suara pukulan panci yang menyayat telinga untuk memaksa mereka untuk keluar kamar.


"Kenapa?" Tanya Maya membuka percakapan karena kesal sudah dibangunkan dari mimpinya. Selain itu udara pagi yang dingin juga membuatnya kesal.


"Tadi, papa dapat berita dari Om Devan kalau nenek kalian sakit dan saudara yang lainnya tidak bisa pulang, dan karena mama kalian longgar jadi akan menemani nenek kalian selama satu minggu bergantian dengan tante Angga," kata Ryan menjawab anak perempuannya.


"Selain itu, aku akan berangkat hari ini jam 5 nanti dan papa juga akan tugas luar selama seminggu," Nena melanjutkan perkataan suaminya.


"Itu berarti kita bakal seminggu dirumah cuman berdua?" Tanya Robby sambil memandang adiknya.


"Yeah,... Begitulah" Maya memberi tanggapan.


"Ya sudah, kalian balik ke kamar kalian terus tidur lagi! Nanti, sarapan masih mama yang masak lanjutannya masak sendiri ya!"


"Ya..." Sahut kedua anaknya bersamaan.


Maya bangkit dan beranjak menaiki tangga meninggalkan kedua orangtuanya diikuti Robby yang mengekor di belakangnya.


***


Bukannya masuk ke kamar mereka masing masing, Robby malah terus mengekori Maya ke kamarnya. Namun, adiknya tidak menyadarinya.


"Oi"


Maya tersentak tatkala Robby memanggilnya.


"Paan? Masih jam tiga lima belas, mau ngapain?" Balasnya sambil melirik kakaknya yang sedang berdiri di ambang pintu agak dingin.


"Judes banget deh sama gua. Ntar empat hari kedepan Aku ga bisa anter sama jemput lu sekolah!"


"Hah? Terus? Gua? Ojek?"

__ADS_1


"Mmm..." Gumam Robby sambil mendekat ke ranjang adiknya.


"Kalo gue ojek uang gue gak banyak By, paling cuman bisa pagi doang, mana dari sini ke sekolah kan 18 ribu, gak lucu tau! Mana ongkos pulang nya tinggal 2 rebong lagi... Mana cukup buat pulang... Kecuali situ mau bagi duit buat aku pulang" ungkap Maya.


"Gimana kalo pake motor? Kamu kan bisa pake motor supra yang suka dipake mama"


"Huh, nggak lucu By seragam kaya aku pake motor bisa ditilang trus motor disita ato sama polisi nggak ketahuan tapi sama guru gua kena razia, mau dikemanain ni muka? Lagian emang anter gue gak bisa emang? Kan pulangnya aku masih bisa ojek, masalah makan gue bisa bawa bekal"


"Yah, jadi gini..............................," Robby menjelaskan masalahnya "yah intinya tuh beda jalur kita, dan gue sama kaya lu masuknya! Jam tujuh pagi... Kan nggak lucu tuh kita berangkat dari rumah jam enam kurang trus lo sampe di sekolah jam setengah tujuh kurang... Tapi, kalo mau ya terserah"


Hmmm... Iya juga ya... Kaga ada temen, lagian mending duit gue simpen buat beli novel baru aja... Mmm... Ato gue naik sepeda aja kali ya... Pikir Maya setelah mendengar penjelasan sang kakak yang panjang dan lebhuarrr.


"Gue pake sepeda aja deh, itung itung olah raga," kata Maya kepada kakaknya.


"Seriusan lo? Gila aja? Dari sini kesana enam kilo woy!! Kalo boong yang jujur dong!"


"Elah, mana ada sih By orang boong tapi jujur? Mbulet banget bahasanya...."


"Nggak nggak, lo seriusan sama apa yang lo katain?"


"Iyaaaaaa.... Udah gue mau siapin tenaga" kata Maya sambil menarik selimutnya untuk tidur kembali "o ya, gue pinjem sepeda lo ya? Punya gue remnya blong"


"Staga, ya udah, Okay deh, mpe ketemu beberapa jam lagi," ujar Robby sambil menutup pintu kamar adiknya.


Dasar Maya.... Kalau udah niat dijalanin ya... Maafin aku ya, aku beneran nggak bisa anter jemput kamu... Semoga kamu nggak kena suatu masalah...


***


Ryan, Nena, Maya, dan Robby sudah berkumpul kembali duduk di meja makan.


Ryan memakai setelan jas nya, terlihat cool sekaligus berwibawa, parasnya yang ganteng cocok dipadukan dengan setelan yang ia kenakan.


Dengan Nena di sampingnya yang terlihat cantik memukau, dengan setelannya yang bergaya casual. Mereka berdua telah siap menuju bandara, dengan kedua koper di ujung meja.


Robby sudah siap menjalani kuliahnya dengan gaya casualnya, terlihat cool sekaligus berwibawa. Ditambah lagi ia mewarisi paras ganteng papanya, gimana mau nggak klepek klepek cewek yang melihatnya.


Maya juga siap dengan seragam biru putihnya dengan rambut ia kucir tinggi. Sekalipun gayanya tomboy begitu bukan berarti ia tidak cantik. Ia mewarisi kecantikan mama nya. Ditambah bentuk badannya yang sempurna.


Mereka sarapan bersama seperti biasa. Tanpa ada yang berbicara sehingga, hanya tersisa bunyi suara alat - alat makan mereka beradu dengan piring.


***


"Dek, mama sama papa berangkat dulu ya..." Ujar Ryan sambil mengusap kepala Maya.


"Kalian baik baik di rumah. By, jagain adeknya yang bener!" Pesan Nena kepada anak laki lakinya.


"Ya mah" ujar Robby "kalian juga ati ati ya..."


"Ya, ya sudah, yuk Say..." Seraya mengajak istrinya dan melambai kepada kedua anaknya.


"Eeee... Diliat liat... Kaya orang pacaran aja mereka," sambil menatap kedua orang tuanya dengan perasaan agak jijik. Sementara kakaknya malah tertawa mendengar perkataan adiknya.

__ADS_1


"Hahahahh.. Ckckck.. Makannya kalo jadi cewek tuh yang cewek! Bukan malah ketuker jiwanya kaya lo gitu!" Sambil mendorong jidat adiknya dengan telunjuknya.


"Aishh, sakit ih," sambil mengusap usap jidatnya yang terasa agak ngilu "biar aja ketuker, bebas berkelana, wekkk"


Mereka berjalan bersama masuk kembali kedalam.


"By... Bagi gue kunci sepeda lah..."


"Hah? Oya, ntar dulu gue ambil," sambil berlalu ke rak khusus kunci.


"Cepetan By!!! Gue gak mau nyampe sekolah mandi kringet!" Ujar Maya dengan suara agak kencang agar kakaknya mendengarnya.


"IYAaa Kanjeng..." Teriak kakaknya.


"Nih, ada 3 kunci, yang perak kunci rumah, yang item kunci sepeda, talinya dua duanya nyantol di sepeda. Dan inget!! Nggak boleh nyampe ilang!!"


"Iyaaa bawell..."


"Cih, udah dipinjemin malah gitu, o ya, kalo ada apa apa sama sepedanya sementara pake duit lo ya! Punya gue tinggal jatah bensin!"


"Hadehh... Ya deh..." Ujar Maya sambil mengeluarkan sepeda ke halaman depan rumah.


***


"Noh, dibawa bekalnya! Di irit uangnya!"


"Eh, tumben lo nyiapin buat gue? Tapi, makasi, baik deh..."


"Yah, lagi tulus nih lo tanyai kaya gitu... Besok besok siapin sendiri deh..."


"Yah jangan gitu dong, zeyenk akuhh"


"Iyuhhh, huwekk... Bisa centil juga lo... Jijik banget dah"


"Yah, katanya suruh jadi cewek yang cewek, lha ini baru latian, malah gitu komennya"


"Udah, udah, lo gak mau telat kan? Gak mau kan nyampe sana mandi kringet? Sono gih berangkat duluan! Masih selo juga jalannya!" Sambil membawakan tas adiknya dan mendorong keluar.


"Ih, lo ngusir nih?" Tanya Maya sambil menahan badannya dari dorongan kakaknya sambil mengambil sepatu nya.


"Iya, kenapa?"


"Ya udah gua gak bakalan pulang ke rumah! Biar lo dimarain gara gara gak becus jagain gue. Huh," sambil mengambil tasnya dari genggaman sang kakak dan memosisikan diri di atas sepeda.


"Hih, awas aja lo kalo sampe berani beraninya ngelencer!!"


"Wlekk... Bomat... Dadah... Situ ati ati di jalan nanti... Kelarin urusannya yang bener, biar dosen lo gak kasi hukuman!" Ucap Maya sambil berlalu.


"...." Robby hanya bergeming di tempat ia berdiri.


***

__ADS_1


__ADS_2