
Sebelum kejadian Eveleen jatuh dari gedung, Johnny yang sedang mendapat misi kalau seorang mafia sedang berada di prusahaan TBRO, terpat saat itu ia melihat seorang wanita bergelantungan di atas gedung. Saat itulah ia menggunakan cincinnya melihat siapa orang yang da di gedung itu. "Eveleen?!" panik Johnny segera menuju gedung. Johnny melihat seseorang yang mencurigakan dengan jas biasa dan masker yang menutupi wajahnya. Saat Johnny tetap melindungi orang itu, tanpa di sengaja penjahat itu melihat Johnny dan bergegas berjalan dari gedung karna melihat cincin mata-mata yang dipakai Johnny. Johnny langsung mengejar orang itu hingga terjadilah kejar mengejar disana sampai penjahat itu mendapat jalan buntu. "beraninya mafia bodoh sepertimu menyakiti wanita" ucap Johnny.
"aku hanya menyakiti orang yang bersangkutan" ucapnya. "apa wanita itu mafia juga?" tanya Johnny. "bisa jadi, karna kemampuan bela dirinya yang sangat hebat dan juga kekasih dari Fabilio, tapi ini bukan urusan mu pergilah sebelum aku ingin membunuh mu" ucap mafia itu. "kekasih?" dada Johnny menjadi sesak seolah-olah waktu berhenti dan pikirannya menjadi kosong. Mafia itu jadi peka kalau Johnny pasti juga menyukai Eveleen, ia mendekat tapi Johnny tidak melakukan apa-apa hanya pikiran nya kosong. "jika dia selamat aku akan kembali" ucap mafia itu. "owh iya satu lagi, kalau orang yang menculik Eveleen adalah Fabilio sendiri" ucap mafia itu dengan smirik.
tashh....
Mafia itu menusuk perut Johnny dengan pisau, tapi Johnny hanya diam tak bereaksi. "selama ini hati yang aku jaga untuknya tidak berguna, aku terlalu lamban" batin dan isi pikirannya "aghh!!!" teriaknya, rasa sakit itu tidak sebanding dengan perasaan nya. Saat ia tau kalau Eveleen di bawa ke rumah sakit, ia segera ke rumah sakit untuk melihat Eveleen. "bagaimana pun kamu adalah cinta pertama ku, aku harus menjaga mu walau aku bukan pria yang akan ada di samping mu" batin Johnny yang melihat Eveleen yang belum sadar. Saat Eveleen sudah di bawa oleh Luiz, " aku berjanji akan menjaga mu dan membunuh pria yang yang melukai mu" janjinya sebelum pergi dan mulai melihat Eveleen mulai jauh. "sampai jumpa" ucap Johnny pergi. Eveleen yang baru mengetahuinya hanya bisa menangis hingga Leo bisa menenangkannnya dengan headphone.
__ADS_1
Beberapa jam setelahnya Fabilio sudah di pindahkan dari ruang operasi ke ruang yang sama dengan Eveleen, mereka berkumpul di satu ruangan yang sama. Kepala Fabilio di perban dan kakinya di gips dan bantuan oksigen yang terlihat sangat lemah. "dia terluka karna ku" ucap Eveleen yang di samping Fabilio dengan kursi rodanya. "bukan, dia hanya menyelamatkan apa yang perlu di selamatkan, jika itu orang lain pasti dia akan melakukan ghal yang sama" ucap Leo. "apa kamu tau siapa yang mencelakaimu?" tanya Luiz. "tidak tau dia memakai masker, tapi kemampuannya bela dirinya sangat hebat" ucap Eveleen. "apa kalian sempat bertarung?!" kaget Luiz. "iya, tapi katanya dia tidak punya banyak waktu untul lanjut bertarung dengan ku, dia membius tangan ku ntah bius apa yang dia pakai hingga bagian luka di lengan ku sangat sakit" jelas Eveleen. "kenapa kamu tidak langsung membunuhnya saja, kamu kan hebat bela diri" ucap Alice. "ntah kenapa aku tertarik dengan pertarungan dengannya, aku sempat menunggunya menerima telfon dan melanjutkan bertarung lagi" ucap Eveleen membuat mereka mengenga.
Pletak...
Spontan Alice dan Luiz memukul kepala Eveleen, "ak!" ringis Eveleen, Leo kaget. "apa kamu gila?!" ucap mereka serentak.
Pletak..
__ADS_1
Pletak..
"Chao chao baik-baik saja mama" ucap Chao yang baru masuk ke dalam ruangan mereka. "Chao chao" ucap Eveleen membuka lebar tangannya agar Chao berlari ke pelukan nya. "mama~" Chao berlari ke pelukan Eveleen. "maaf mama tidak bisa menjemput mu" ucap Eveleen. "apa mama baik-baik saja?" tanya Chao yang di pangkuan Eveleen. "mama baik-baik saja" ucap Eveleen. "tapi apa papa baik-baik saja?" tanya Chao melihat Fabilio sedang tidur berbaring. "tenang saja, papa mu akan baik-baik saja" ucap Luiz. "aku percaya pada ayah" ucap Chao. "ayah ayo kita keliling rumah sakit, aku belum pernah berkeliling di rumah sakit" ucap Chao. "ayo kalau begitu" ucap Luiz. "mama aku pergi jalan-jalan dengan ayah dulu" ucap Chao izin. "hati-hati ya" ucap Eveleen dianggukkan Chao.
Saat mereka kuluar Chao di gendong Luiz, "ada yang ingin kamu sampaikan Chao chao?" tanya Luiz yang peka. "aku tau siapa yang melakukan ini pada mama" ucap Chao. "siapa?" tanya Luiz. Mereka terus berjalan mengitari rumah sakit dan banyak berbincang hingga duduk di lestorant rumah sakit. "apa kamu sudah menheceknya?" tanya Luiz. "kemungkinan besar iya" ucap Chao. "baiklah, habiskan makanan mu dulu" ucap Luiz. sudah beberapa hari Eveleen melaksanakan pekerjaannya dirumah sakit bersama Jack, sedangakan Fabilio masih belum sadar. "sekarang presdir Eveleen dan Fabilio sedang dalam perbincangan hangat negara, saham kita tambah naik karna orang banyak berfikir kalau perusahaan kita semakin naik semakin banyak orang yang mencelakai mita" jelas Jack.
"tali ini tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan kita" ucap Eveleen. "lalu?" tanya Jack. "bukan apa-apa, apa produksi kita meningkat?" tanya Eveleen. "produk kita sudah berada di tingkat yang tinggi, kita memecahkan rekor dunia yaitu perusahaan TBRO" jelas Jack. "benarkah? wah grafik kita juga terus naik" ucap Eveleen melihat laptop nya. "selamat" ucap seseorang yang membuat mereka terkejut. "Fabilio? apa kamu sudah sadar?!" ucap Eveleen menoleh dan Jack jalan ke arah Fabilio. "naikkan kepala ranjang ku" ucap Fabilio kepada Jack. Jack menaikkan kepala ranjang Fabilio hingga Fabilio bisa duduk, "apa masih ada yang sakit?" tanya Eveleen turun dari ranjang nya "aku baik-baik saja" ucap Fabilio. Jack segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Fabilio yang baru zaja sadar.
__ADS_1
"bagaimana dokter?" tanya Eveleen. "kondisi tuan Fabilo sudah membaik, tapi tetap harus dirawat" jelas dokter. "baik terimakasih dokter" ucap Eveleen dan dokter pun keluar kembali bekerja. "kenapa dokter dari dalam?" tanya Leo yang baru saja datang. "tuan Fabilio sudah sadar" ucap dokter membuat Leo segera masuk ke dalam. Saat Leo masuk, Leo melihat Fabilio sudah sadar dan Fabilio juga melihat Leo yang baru masuk ke ruangan mereka. "hai" sapa Fabilio. "oh" ucap Leo kembali dingin. "oh? hanya itu? adikmu baru sadar dan hanya kata oh? wah kamu memang bukan kakak yang baik" ucap Fabilio. "tidak, Leo kakak yang b....." ucapan Eveleen terputus karna Leo menutup mulut Eveleen. "aku datang untuk memberi kalian makan" ucap Leo memberikan makanan yang ia bawakan.
"asikkk" ucap Jack menaruhnya ke meja dan mengeluarkannya. "wahh ini masakan rumahan, apa presdir bisa masak?" tanya Jack. "tidak, aku punya pembantu di rumah" ucap Leo yang berbohong padahal ia yang memasaknya sendiri. "enak tuh bagi dong" ucap Fabilio. "seterah aku hanya datang membawa makanan, sampai jumpa" ucap Leo keluar dari ruangan. "tapi jika tidak enak buang saja" ucap Leo sebelum tutup pintu. "apa Leo benar-benar yang membuatnya?!" kaget Eveleen. "wahh hatinya sebenarnya sangat hangat" ucap Jack. Fabilio hanya cengengesan melihat kelakuan kakaknya, "jangan memakannya sendiri! aku juga ingin mencoba!" ucap Eveleen. "ehehe maaf" ucap Jack menaruhnya di meja Eveleen dan Fabilio. "wahh kelihatannya enak" ucap Eveleen jalan ke ranjangnya kembali.