
"Selamat pagi anak-anak!"
"Pagi, buuu" beragam suara menjadi satu. Ada yang enggan menjawab tapi terpaksa karena yang bertanya adalah guru BK, ada juga juga yang memang bersemangat untuk memulai hari baru seperti Maya saat ini.
"Hari ini kalian kedatangan murid pindahan dari SMP 303 Bandung!" Silahkan perkenalkan diri mu!" Perintah Bu Dyah kepada si anak baru itu.
"Hai, namaku Mayang Christian. Panggil Maya aja, aku pindahan dari 303 Bandung, ikut mama papa aku yang pindah cabang kerjaan. Rumah ku di Perumahan Brantas 12. Mohon bantuannya"
Sejak awal perkenalan, anak anak kelas IX A melirik bergantian antara Maya si tomboy dan Maya anak baru. Terutama siswa wanita. Sementara siswa pria berdecak kagum dengan kecantikannya.
"Wih, ada punya kembaran nih... Sayangnya Kembar tak seiras" celetuk Billy.
Yang langsung dibalas tatapan tajam dari bangku Maya. Teman yang mendengar cekikikan mendengar celetukan Billy. Karena perbedaan mereka, terutama perbedaan fisik.
"Ya santuy matanya!" Celetuk Billy "Huh, jadi pengen tak colok itu mata"
Maya tetap diam tak membalas sekaligus menahan emosi.
Dalam hati ia menjawab, sini colok aja ini mata biar gak liat muka jelek lo!
Di kursinya Lili membatin, Hadeh... Billy mulai lagi... Semoga aja Maya bisa tahan emosi deh...
++++++
Perbedaan Si kembar tak seiras:
* Maya si tomboy : Xandra Ferdinand Mahendra
(Dibaca: Sandra Ferdinan Mahendra)
Kulit putih agak gosong, sering terpapar sinar matahari tanpa sentuhan kosmetik.
Mata coklat
Rambut bergelombang se bahu lebih sedikit yang agak kusut di kucir tinggi.
Tinggi yang mencapai 168 lebih sedikit.
Barang bawaannya hanya dominasi warna hitam dan navy (biru dongker).
Perhiasan yang ia pakai hanya arloji hitam.
Ia mengubah nama panggilannya dari Andra menjadi Maya sejak kelas satu SMP.
Karena, semasa SD ia sering dikira laki laki dari nama panggilannya. Yah, walaupun memang kelakuannya sering membuat orang yang sudah berumur mengelus dada. Ia tidak ingin mengulang lagi apa yang ia alami saat dulu SD. Memang, saat mengisi data penting mau tidak mau ia mengisi dengan nama panggilan nya dulu. Di dalam keluarga ia tetap dipanggil Andra. Mamanya juga lebih nyaman dengan panggilan Maya, namun terkadang ia spontan memanggil Andra.
*Maya anak baru : Mayang Christian (dibaca: Mayang Kristian)
Kulitnya memang sedikit lebih gelap. Tapi itu membuatnya terlihat manis.
Mata hitam
Rambut lurus se pinggang tertata rapi tanpa cacat.
Tinggi nya 157 lebih sedikit.
Ia memakai arloji perak di pergelangan tangan kirinya dan di lehernya melingkar kalung perak dengan liontin berbentuk hati. Selain kedua benda itu, ada juga sebuah cincin bertengger di jari manis tangan kirinya.
Baginya, tak lengkap jika sekolah tanpa apa yang ia pakai.
__ADS_1
Yeah, ia memang seorang model. Bahkan sering memenangkan lomba yang ia ikuti.
++++++++
Balik lagi deh ke kelas IX A...
Bu Dyah yang memiliki pendengaran yang tajam dapat mendengar dengan jelas celetukan Billy dan tawa anak anak lainnya. Maka, ia langsung memarahi Billy dan yang masih tertawa lewat tatapan mata. Billy dan yang lain yang menerima tatapan itu langsung diam menunduk. Tentu, Maya si anak baru tidak menyadarinya.
"Baiklah, Maya silakan duduk dibangku kosong sebelah Dhea!" Sambil mengacungkan jarinya ke arah yang ia maksud.
Mendengar itu, sontak Dhea bergeser ke dekat tembok serta menggeser barang barang nya yang tercecer di meja.
Maya yang melihat pergerakan tersebut menjadi tahu siapa Dhea yang di maksud.
"Dan, pengumuman selanjutnya, Bu Tiwi akan menjadi wali kelas kalian!" Setelah memberikan berita tersebut Bu Dyah beranjak meninggalkan kelas IX A. Senyum tipis tertera di bibirnya.
Mendadak kelas menjadi ramai, dengan keluhan di mana mana...
"Hadeh... Harus banget gitu wali kita Bu Tiwi... Emang yang lain ga ada apa?" Bisik Dhea. Tapi, Maya mendengar apa yang baru saja ia katakan.
"Memangnya Bu Tiwi kenapa? Kok pada nggak suka?" Maya penasaran setelah mendengar teman teman yang lainnya ribut dan mendengar bisikan Dhea.
Yah, nanya lagi dianya... Nggak enak nih kalo nggak jawab... Gerutu Dhea.
"Ehm, ya, dia itu guru yang galak, kalau ngasi hukuman tuh ntaps... Ya, gitu lah.."
"Ooooo" Maya manggut manggut.
Hya, lucu liat dia manggut manggut gitu ih, kayak burung pelatuk, hihihi... Ujar Dhea dalam hati sambil melirik teman semejanya.
Sesaat kemudian Bu Tiwi memasuki kelas. Sontak semua terdiam.
"Bwahahahaahahaha" seisi kelas meledak tertawa melihat mereka berdua.
Anak - anak ini, berani beraninya menertawakan saya... Tiwi membatin dengan geram. Anak kelas IX A yang menyadari perubahan wajah gurunya dari datar menjadi masam. Akhirnya tawa seisi kelas mereda.
"Bu, maaf sebelumnya... Di kelas ini sudah ada dua murid yang memiliki nama yang sama. Tadi kami tertawa karena ibu memanggil Maya dan dua orang tadi menoleh secara bersamaan..." Rico angkat bicara. Sebagai ketua kelas ia tidak mau teman teman nya dihukum karena insiden tadi.
Bu Tiwi mendengar apa yang di katakan Rico mencerna sebentar.
Astaga aku lupa... Tadi kan Bu Dyah sudah bilang kalau ada murid pindahan namanya Maya juga... Ya ampun... Untung nggak kelepasan marah...
"Oh, iya.. Saya minta maaf.. Bagaimana kalau..." Belum sempat Bu Tiwi meneruskan Ama memotong.
"Buat nama panggilan aja Bu... Biar nggak ketuker..."
"Nah, baru saja saya mau ngomong kamu motong!" Ucap nya sambil memberi tatapan tajam ke arah Ama.
Maya alias Andra yang ikut merasakan tatapan gurunya berbisik "sabar Ma, semoga aja nggak kena hukuman... Lagian harusnya dia yang salah... Guru kok lupa kalau ada murid baru..."
"Iya May, makasi ya..." Membalas sambil berbisik.
Bu Tiwi mempunyai ide, ia membuka daftar presensi terbaru yang ia terima dari guru BK dan mencari nama lengkap Maya si tomboy.
Lah, kok nggak ada nama Maya yang lain selain nama si anak baru?? Bu Tiwi bertanya tanya dalam hati. Sudah ada kerutan di dahinya.
Maya yang menyadari kalau guru itu sedang mencari namanya membatin, pasti nyari namaku, Dahlah, semoga kalau diganti nggak bikin aku pusing sama pertanyaan yang nanyain aku tuh cewek ato cowok.. Akhirnya Bu Tiwi pasrah dan menghampiri Maya si tomboy.
"Maya, nama kamu yang mana sih?"
__ADS_1
"Depannya X Bu... Absen 30"
"Xandra Ferdinand Mahendra??" Wow, nama nya cowok banget... Cuman depannya doang yang cewe... Kelakuannya juga gitu pula... Batin Bu Tiwi setengah kaget.
Pertanyaan nya hanya dibalas anggukan oleh Maya.
Huh, kaget nya nggak bisa di sembunyikan ya... Batin Maya dalam hati, karena ia melihat ekspresi kagetnya sekilas.
"Okay, kalau begitu kita bisa panggil dia Maya atau Xandra," ujar Bu Tiwi sambil menunjuk ke arah Maya si tomboy. "Kalau kamu, bisakah kami panggil kamu Mayang? Biar beda?" Sambil menunjuk pada si anak baru.
Si tomboy menjawab gurunya dengan anggukan. Si anak baru juga membalas dengan anggukan. "Huh, merepotkan... Tau gitu aku masuk IX B aja..." Gerutu Mayang setengah berbisik. Sehingga terdengar oleh Dhea.
Hmmm, kayaknya dia nggak terima kalau ada yang nyamain namanya... Ujar Dhea dalam hati*.*
***
"Baiklah, mari kita lanjutkan pembelajaran hari ini...." Ajak Bu Tiwi.
Pelajaran berlangsung dengan tertib. Hingga tak terasa sudah hampir jam istirahat.
TEETtt.. TEETttt...
"Terimakasih, sudah mengikuti kegiatan pembelajaran saya... Selamat istirahat"
"Oui, genter! Ayo ngantin" ajak Ira kepada Xandra.
"Genter pala lo! Emang aku genter yang buat nyengget mangga apa?"
"Ya emang, lagian di antara kita yang bisa petikin mangga orang kan elo!"
Pletak... Xandra menjitak jidat Ira. "Ih, main tangan ya!"
"Udah, udah, kalian berdua kalo masalah mangga kalian yang paling sering manjat ya, jadi kalian tuh sama aja!" Lerai Lili.
"Enak ae sama..." Belum sempat dilanjutkan Citra memotong "udah, kalian tuh sama aja! Titik nggak pake koma! Cuman beda tinggi doang juga... Kelakuan sama aja... Sama sama malu malu in!"
"Cih, sialan lo" umpat Xandra.
"Udah udah... Debatnya selese! Ntar istirahat habis buat debat!" Lerai Nala.
"Kasian tuh Ama kegencet! Kalian nggerombol di situ nggak kasian apa?" Amara ikut nimbrung. Mereka merespon dengan melonggarkan gerombolan
"Astaga, nggak ada yang kasian sama gue apa? Kenapa cuma Ama doang? Gue lebih parah! Mana deket tembok gini nggak ada ruang buat gerak nih!!"
Mereka yang berkumpul di meja Xandra serempak menjawab "Nggak" lalu tertawa.
"Hadeh...." Ujar Xandra sambil ngelapin keringat yang menetes dari pelipis nya.
Saking sumpek nya ya... Gitu banget... Ckckck... Batin Maya yang melewati mereka.
"Misi misi aku mau mbakso, duluan ya guys!" Ucap Ama
Dan serempak menjawab "Okeee"
"Ya udah, Ama udah ngantin tuh sama Raisya, kita kapan? Laper nih perut!" Rengek Citra sambil menunjuk ke arah Ama yang berjalan bersama Raisya.
"Ya udah ayo!" Ujar Xandra sembari beranjak dari tempat duduknya, diikuti oleh teman yang lain.
***
__ADS_1