
Fabilio membeku di tempat setelah ketahuan apa yang dikatakan Eveleen kalau mereka ingin menikahi Eveleen. "hahah aku hanya bercanda lagi" ucap Eveleen membuat suasana canggung. "hahah aku juga bercanda mengambil kartunya, ambil saja kartunya" ucap Fabilio malu. "haha lagian aku punya banyak haha ambil lah" ucap Leo salah tingkah. "kalian bertingkah aneh seperti yang ku katakan adalah benar" ucap Eveleen membuat mereka kaget dan jantung mereka berdetak kencang. "tolong antar semua pakaian ini ke alamat rumah Fabilio" ucap Eveleen. "baik, silahkan catat alamat anda tuan" ucap karyawan. "baik" mencatat alamatnya. "apa ada yang ingin kalian lakukan lagi? sekarang aku harus kerja" ucap Eveleen. "tidak, aku akan mengantar mu" ucap Leo. "baiklah" ucap Eveleen keluar dari toko. Leo dan Fabilio menyusul Eveleen yang sudah di dalam mobil, "kenapa kamu mengikuti ku, sana pergi" ucap Leo mengusir Fabilio. "aku tidak bawa kendaraan" ucap Fabilio.
"pesan mobil saja, bukankan kamu kaya" ucap Leo meninggal Fabilio dan masuk ke dalam mobil. "Leo bajingan" gumam Fabilio. "kenapa Fabilio tidak naik?" tanya Eveleen. "dia masih ada urusan" ucap Leo. "owh begitu" ucap Eveleen yang percaya. Leo pun melajukan mobilnya ke perusahaan Eveleen, saat sudah sampai Eveleen berterimakasih dan melanjutkan pekerjaan nya seperti biasa bigitu pun dengan Leo. "ayah, Chao Chao akan sekolah mulai minggu depan" ucap Chao kepada Luiz mampir ke rumahnya. "benarkah? apa aku harus datang mengantar mu?" tanya Luiz. "iya! papa juga!" ucapnya semangat. "o-owh, jika sudah ada papa mu kenapa aku harus pergi juga?" patah semangat. "karna kamu ayah ku" ucap Chao membuat Luiz terharu. "baiklah" mengacak lembut rambut Chao. "jika Chao chao ingin hadiah, chao chao mau apa?" tanya Luiz. "aku ingin sesuatu yang berharga, tapi tidak tau apa" ucap Chao membuat Luiz bingung. "nanti aku akan memikirkan nya untuk mu" ucap Luiz.
Saat malam hari, Fabilio pergi menuju perusahaan TRBO tempat kakaknya bekerja. "oi" ucap Fabilio yang tidak tau cara memanggil sang kakak lagi. Saat Leo mendengar suara singkat yang tidak sopan itu pun menoleh dan terdapat lah Fabilio berdiri di depan pintu ruangannya. "Oi?!" kesal Leo yang tidak pernah mendengar panggilan itu padanya, apa lagi itu adalah adiknya yang tidak sopan. "oi" ucapnya lagi dan masuk. "apa kamu ingin mati?! aku lebih tua dari mu! Pergi!!" Leo benci orang yang tidak sopan padanya. "oi pak tua!" ejek Fabilio cengengesan. "Pergi!!" melempar barang yang ada di atas mejanya. Fabilio kaget lalu menagkis barang yang di lempar Leo. "maaf! maaf!" keluar dari ruang Leo dengan cepat. Leo sangat marah berdiri di tempat dengan wajah yang memerah.
tok... tok...
__ADS_1
"siapa?" menahan emosi. "Leo~ apa aku boleh masuk" ucap Fabilio di balik pintu, ia sangat tau kalau kakaknya adalah orang yang tau sopan santun dan membenci orang yang tidak sopan padanya. "hah~ masuk" membuang nafas dan duduk kembali. Fabilio pun mengintip terlebih dahulu untuk melihat keadaan aman lalu masuk. "aku sebenarnya tidak menyukai mu" mengambil barang-barang yang ada di lantai karna amukan Leo tadi. "aku tau" menatap laptop yang ada di depannya. "kamu juga tau kalau aku menyukai Eveleen" ucap Fabilio membuat Leo menatap dirinya. "mau minum dengan ku?" memberikan kode gaya minum. Mereka pun pergi ke bar yang mewah untuk pertama kalinya bersama, tapi Leo di sambut hangat oleh para pegawai di sana dan di antar ke ruangan VVIP. "aku sering ke sini, tapi tidak di sambut dengan ramah" ucap Fabilio santai duduk di kursi tengah. "apa mereka tidak sopan pada mu?" tanya Leo serius yang juga duduk di kursi samping Fabilio dan pelayan laki-laki menuangkan minuman untuk mereka.
"tidak juga, hanya tidak seramah diri mu" ucap Fabilio. "tentu saja, bar ini milik ku" ucap Leo membuat Fabilio membulatkan mata. "apa?! Oi, apa itu benar?!" tanya Fabilio kepada pelayan itu. "benar tuan" ucap pelayan itu. "wahh" menganga tak percaya kalau Leo CEO bar juga. "aku sering pulang diam-diam untuk membuat beberapa bisnis" ucap Leo. "wahh seharusnya aku bisa minum gratis di sini" ucap Fabilio mengambil gelas yang sudah berisi itu dan memberikan kode untuk Cheers. Fabilio pun mengambil minumannya lalu melakukan Cheers dengan Fabilio dan meneguknya bersama. "kita langsung saja ke intinya kalau kita menyukai wanita yang sama" ucap Fabilio. "buakankah kamu menyukai pria" ucap Leo mengejek nya dan pelayan pun jadi kaget. "apa kamu percaya?!" tanya histeris Fabilio. "bukankah kamu yang bilang sendiri di hadapan keluarga besar" ucap Leo walau tau kalau Fabilio tidak menyukai pria. "Leo! aku ini normal! aku beri alasan itu karna tidak mau menikah!" ucapnya kesal dan meminum minuman nya.
"aku tidak yakin" ucap Leo memancing Fabilio. "terserah, yang penting aku ingin Eveleen" kembali santai. "aku juga" ucap Leo. Mereka banyak bicara dan minum terlalu banyak hingga sampai mabuk. "aku akan mendapat kan Eveleen lebih dulu" mabuk Fabilio. "kita liat saja, siapa yang akan di pilih Eveleen" mabuk Leo duduk di samping Fabilio. "apa kamu tau kalau aku sering memantau mu dari jauh" ucap Leo tidur di paha Fabilio. "kenapa kamu memantau ku" minum lagi. Pelayan itu berusaha menghentikan mereka minum terlalu banyak tapi Leo adalah atasannya. "aku khawatir pada mu kalau kamu akan hilang saat aku tidak ada" ucap Leo tanpa sadar. "Hahah apa kamu juga tau kalau aku senang saat tau kamu pulang dan datang ke perusahaan ku" ucap Fabilio. "apa aku boleh meminta nomor nona Eveleen agar menemui kalian?" tanya pelayan karna nama Eveleen sering di sebut-sebut.
"mereka minum bersama tapi terlalu banyak nona, saya sudah berusaha menghentikan nya tapi tidak bisa, aku mendengar nama nona dari mereka, jadi aku menelfon nona saja" jelas pelayan itu. "mereka sangat akur saat mabuk" batin Eveleen mengambil foto mereka. "Leo aku sangat senang saat kamu datang setelah beberapa tahun kamu meninggalkan ku" ucap Fabilio membuat Leo duduk. Eveleen hanya berdiri melihat mereka yang sedang akur dan ia tidak pernah melihat kedua CEO keras kepala ini punya sisi lain yang tertutup. "aku~ sangat ingin memeluk mu saat itu, tapi aku tidak berani" ucap Fabilio memeluk Leo dengan senyuman yang tidak pernah Eveleen lihat. Eveleen senyum dan ikut senang karna mereka sebenarnya saling menyayangi tapi tertutup karna ego yang tinggi. "Hahah aku juga" ucap Leo memeluk balik Fabilio.
__ADS_1
"sudah cukup, aku harus membawa kalian pulang" ucap Eveleen merangkul Fabilio. "Eveleen?" tanya Fabilio yang mabuk. "tolong bawa Leo le mobil ku. "ucap Eveleen. "Eveleen! kenapa kamu jahat pada ku!" melepaskan rangkulan Eveleen. "aku jahat kenapa?" tanya bingung Eveleen. "kamu minum cofe berdua dengan Leo! dan tidak mengajak ku!" ucapnya sempoyongan dan di tangkap Eveleen agar tidak jatuh. "kenapa aku harus mengajak mu?" tanya Eveleen sambil berjalan merangkul Fabilio. "aku tidak suka kalau kamu dekat dengan Leo!" ucap nya teriak. "Fabilio! jangan berteriak!" ucap Eveleen. "Leo menyukai mu, aku juga menyukai mu, dan kami menyukai wanita yang sama" ucap Fabilio membuat Eveleen berhenti berjalan. "ka-kamu sedang mabuk, jangan asal bicara" gugup Eveleen dan kembali jalan. "akuuu mengatakan kalau aku menyukai pria di keluarga besar, dan mereka tidak mengurus ku lagi" ucap Fabilio. "ahhh aku lupa dia menyukai pria" batin Eveleen.
Mereka pun tiba di mobil Eveleen dan sudah meminta alamat rumah Leo le pelayan tadi. Eveleen mengantar sesuai tujuan hingga rumah Leo sangat modern dan estetik berwarna hitam. Eveleen merangkul mereka berdua dengan susah payah ke depan pintu, dan meletakkan Fabilio di lantai lalu menyuruh Leo membuka kata sandi rumahnya dengan beberapa angka. Saat pintu nya terbuka, Eveleen membawa mereka satu persatu ke sofa ruang tamu. "hah~ kalian sangat berat" kelelahan. "tunggu sebentar, aku akan mengecek kamar untuk kalian dulu" ucap Eveleen membuat mereka terlentang di sofa. Eveleen mencari di beberapa hari ruang di balik pintu lantai bawah, "ruangan ini terlihat baik, sepertinya ini ruang tamu" ucap Eveleen kembali ke ruang tamu dan kembali mengangkat mereka satu persatu ke kamar itu.
"hah~" kalian adalah babi gemuk!" capek Eveleen. Eveleen membuka sepatu, dasi, dan melonggarkan krah baju mereka agar terasa lebih nyaman. "apa mereka benar menyukai ku? tapi mereka terus mengatakan suka pada ku, bagaimana mungkin adik kakak ini menyukai ku" ucap Eveleen mengingat kejadian di mobil kalau mereka sedang memperebutkan Eveleen. "Hahah mungkin aku terlalu cantik" ucap Eveleen dengan percaya diri. "aku ingin mencium mu" ucap Fabilio mendekati Leo yang sedang berbaring. "apa?!" kaget Eveleen memisahkan mereka. Tapi tanpa di sadari Eveleen di tarik di atas ranjang dan berbaring di antara Fabilio dan Leo. "aishh, kalian bodoh!" kesal Eveleen duduk. "aku menyukai mu" ucap Fabilio membuat Eveleen berbaring kembali. "muach" Fabilio mengecup singkat bibir Eveleen. "aku menyukai mu Eveleen" ucap Fabilio dengan jelas dan menatap dalam mata Eveleen.
"muachhh" Fabilio mencium bibir Eveleen kembali tapi dengan lembut. Eveleen hanya mematung tak tau harus apa hingga Leo melihat mereka berciuman. "jangan mencium wanita ku!" menendang Fabilio hingga jatuh ke lantai. "Fabilio?!" kaget Eveleen. "aku menyukai mu Eveleen, muachh" Leo juga mencium bibir Eveleen dengan tiba-tiba. "apa ini?! apa aku baru saja di cium dua pria?" batin Eveleen. "hei! Eveleen milikku!" menarik kaki Leo hingga jatuh. "tidak Eveleen milik ku!" mereka bertengkar yang membuat Eveleen hilang akal. "aku bukan milik kalian!" kesal Eveleen turun dari ranjang. Fabilio dan Leo berlari ke arah Eveleen dengan memanyunkan bibir mereka, Eveleen kaget dan takut hingga menghajar kepala mereka dengan sekali pukulan keras hingga tidak sadar dan jatuh ke ranjang. "dasar pria gila!!" kesal Eveleen dan keluar dari ruangan mereka dengan perasaan kesal.
__ADS_1