
Saat mereka ke kamar masing-masing, Eveleen menghubungi Fabilio dari kamarnya melalui ponsel. Fabilio yang melihat panggil itu saat selesai mandi pun mengangkatnya dengan senang hati dan bahagia, "Fabilio" ucap Eveleen memulai percakapan. "kenapa sayang?" ucap dengan senyuman. "kamu tidak menceritakan soal hubungan kita dengan yang lain kan?" tanya Eveleen. "belum" ucap Fabilio sambil mencari pakaiannya diruang ganti. "jangan beri tahu siapa pun" ucap Eveleen dengan hati-hati. "kenapa? apa. karna aku seorang mafia?" tanya Fabilio sedikit kecewa. "bukan! bukan begitu, hanya saja mereka pasti bakal curiga sama kamu" ucap Eveleen. "baiklah, aku bakal nurutin kamu" ucap Fabilio. "aku ingin bertemu" ucap Eveleen. "keluarlah, aku akan keluar" ucap Fabilio senang. "baiklah aku tutup dulu," ucap Eveleen mematikan panggilannya dan segera keluar setelah melihat penampilannya. "aku akan menunggu" ucap Fabilio bicara sendiri dan bersiap memakai pakaian.
Eveleen keluar dari kamarnya dengan alasan ingin mengambil air di dapur yang langsung tembus terhubung di depan meja makan. "hai" ucap Fabilio jalan kearahnya mengambil minum di samping Eveleen. "hai" seolah-olah tidak ada terjadi sesuatu pada mereka. Eveleen melihat kesekitar mereka untuk memastikan bahwa orang tidak ada di sekitar mereka. "aku merindukan mu" ucap Fabilio memeluk Eveleen dari belakang dengan bisikan ke telinga Eveleen. "apa tidak ada orang?" tanya Eveleen was-was. "tidak, hanya kita" ucap Fabilio dengan bisikan. Eveleen berputar badan dan menghadap kedepan Fabilio, "aku juga merindukan mu" ucap Eveleen membalas memeluk Fabilio. "kita jadi merasa aneh kalau diam-diam begini" bisik Fabilio. "aku suka" ucap Eveleen bisik dengan senyuman. "kenapa?" tanya Fabilio berbisik kembali. "kita bisa bicara berdekatan, Cupp... " kecupan pipi dari Eveleen setelah berbisik ke Fabilio. Fabilio hanya cengengesan menahan tawanya, "aku ingin di sini ucap Fabilio memanyunkan bibirnya dan masih memeluk pinggang Eveleen. Eveleen melihat melihat ke sekitar dahulu, setelah terlihat aman ia tersenyum dahulu dan mendekatkan wajahnya.
Cupp...
Eveleen mengecup singkat bibir Fabilio dan melihat ke sekitar kembali.
Cupp...
Cupp...
__ADS_1
Cupp...
Kecupan singkat berkali-kali dari Eveleen, Fabilio tersenyum dan menarik teguk leher Eveleen untuk menciumnya lebih lama lagi. Disamping itu Johnny keluar dari kamarnya yang merasa lapar, "aku tidak tahan lagi" ucap Johnny segera menuju ke kamar Eveleen untuk melihat keadaan Eveleen.
Tok..
tok..
tok..
"aku hanya haus, kamu ingin minum?" tanya Eveleen. "aku lapar" ucapnya melepaskan pelukannya. "mau aku buatkan makanan" tanya Eveleen. "baiklah" ucap Johnny yang setuju. Saat mereka kembali ke dapur yang langsung terhubung dengan meja makan, Johnny melihat Fabilio berdiri disana dengan wajah yang kesal. "woh?! sejakkapan kamu disana" ucap Johnny sedikit kaget. "owh, Fabilio datang untuk minum juga" ucap Eveleen. "ada apa dengan ekspresinya" ucap Johnny melihat Fabilio melihat ekspresi Fabilio begitu ingin membunuhnya. "ada apa?" ucap Eveleen menoleh menatap Fabilio dibelakangnya. "ouk!" kaget Eveleen melihat ekspresi Fabilio yang sangat sinis.
__ADS_1
"dasar gila" Johny menyingkirkan Fabilio disana agar Eveleen mendapat ruang untuk membuat makanan untuknya malam ini. "kamu bisa tunggu aku disana" ucap Eveleen menunjuk dengan bibirnya mengarah ke meja makan. "aku juga ingin" ucap Fabilio mendekati Eveleen. "buat sendiri, kenapa menyuruh Eveleen" ucap Johnny menolaknya langsung. "aku juga mau" ucap Fabilio menatap mata Eveleen yang sedang melihat ke arahnya. "tidak" ucap Johnny. "baiklah, kalian bisa duduk di sana dulu aku akan membuatkan makan malam untuk kalian" ucap Eveleen mempersiapkan bahan makanan. "kenapa kamu mau membuatkannya, dia tidak perlu" ucap Johnny. "apa?!" kesal Fabilio mengeraskan suara. "jangan bertengkar, jika kalian ingin makan duduk lah disana, kalau tidak buatlah sendiri" ucap Eveleen kesal meninggalkan mereka.
"tidak! aku sangat lapar, aku tidaka kan bicara lagi dengannya" ucap Johnny yang benar-benar merasa lapar menahan tangan Eveleen. "apa lagi? sana keluar" ucap Eveleen kembali dengan bahan-bahan makanannya. Johnny dan Fabilio keluar dan duduk di meja makan sambil melihat Eveleen yang sedang masak si depan mereka. "dia milikku" ucap Fabilio membuat Johnny buyar dari lamunannya yang melihat Eveleen masak. "dia milikku" ucap Johnny dengan sini. "tidak, dia milikku" ucap Fabilio menatap sinis Johnny. "kamu hanya mafia lemah dan bodoh, tidak cocok dengan Eveleen" ucap Johnny menatap sinis kembali. "kamu hanya pria gila yang tidak akan bisa mendapatkan hati Eveleen" ucap Fabilio membalas. "kamu hanya pria gendut yang dikatakan Eveleen" ucap Johnny smirik. "kamu!" kesal Fabilio mengeraskan suaranya hingga di didengar Eveleen.
Eveleen yang sedang memegang pisau melihat ke arah mereka dengan tatapan mematikan, Fabilo dan Johnny yang merasakan hawa tidak menyenangkan langsung menoleh ke arah Eveleen. Eveleen menunjukkan pisau yang ia pegang ke arah mereka dengan gerakan mengancam. Mereka yang langsung takut hanya duduk dengan diam walau mata mereka masih bertemu dengan sumpahan dalam batin mereka. Beberapa menit kemudian Eveleen membawakan makanan untuk mereka berdua yang sudah menunggu, "silahkan di nikamati" ucap Eveleen meletakkan beberapa makan untuk mereka. "terimakasih" ucap Johnny dengan senyuman. "makanlah" ucap Eveleen dengan senyuman. Fabilio yang melihat mereka sangat kesal, "Eveleen" ucap Fabilio yang matap Eveleen dengan kesal. "makanlah, aku akan menemani kalian" ucap Eveleen duduk di samping Fabilio.
"apa kalian dekat? kenapa kamu duduk di samping pria bodoh itu" ucap Johnny tak suka. Fabilio menahan emosinya karna ada Eveleen yang sedang duduk di sampingnya memegang tangannya di bawah meja. "apa? kamu ingin memukul ku?" ucap Johnny menantang. "kalian harus akur, Fabilio sudah menolong ku dan aku ingin berhubungan baik dengannya" ucap Eveleen dan tangannya digenggam erat oleh Fabilio. "tetap saja dia mafia dan kamu tidak akan bisa berhubungan baik dengam mafia" ucap Johnny. "kenapa?" tanya Eveleen. "akhirnya tidak cukup baik jika kita bersama mafia seperti dia" ucap Johnny melahap makanannya. "seperti apa akhirnya?" tanya Eveleen serius. "kematian, salah satu dari kita akan mati jika berhubungan dengan mafia, dan setauku mafia dilarang berhungan atau memberikan sebuah perasaan oada seseorang, karna itu kelemahan dari mafia" ucap Johnny membuat Fabilio dan Eveleen saling tatapan. "apa maksud mu akan ada sebuah kematian dihubungan itu?" tanya Eveleen menghadap ke Fabilio yang menggelengkan kepadanya.
"makannya sudah ku bilang jangan berhungan dengan pria seperti dia" ucap Johnny menunjuk Fabilio dengan sendok. "dan mafia bisa membuatmu terluka" ucap Johnny menatap Eveleen yang mengingat Eveleen bercerita kalau ia membantu Fabilio saat melakukan misi mafianya secara diam-diam. "jangan bicara hal buruk saat makan" ucap Fabilio. "aku hanya memperingati Eveleen untuk hati-hati berhubungan dengan mafia seperti mu dan dia" ucap Johnny melihat ke belakang samping Eveleen. Eveleen dan Fabilio melihat ke belakang mereka ternyata Leo sedang berdiri mendengarkan pembicaraan mereka. "Leo?! maksudmu Leo juga mafia?!" keget Eveleen tak percaya . "aku sudah selesai, lanjutkan makan mu" ucap Johnny berdiri. Mereka langsung melepaskan genggaman agar tidak ketahuan oleh Johnny yang akan berjalan kearah Eveleen. Ia menarik tangan Eveleen yang sudah tidak di genggam Fabilio untuk segera kembali ke kamar, "kunci pintu mu karna rumah ini penuh dengan pria" pesan Johnny yang mengantar Eveleen ke kamar. "hm" dehem Eveleen yang sebenarnya ingin bertanya lebih banyak pada Johnny.
"ada apa? mau menanyakan apa? tentang mafia lagi? besok pagi kita bicarakan, tersenyum lah" ucap Johnny yang membaca pikiran Eveleen. "baiklah" ucap Eveleen dengan senyuman. "pintar, jika ada apa-apa panggil aku" ucap Johnny mengacak lembut rambut Eveleen. "aku masuk dulu" ucap Eveleen dan Johnny pun pergi setelah pintu itu tertutup sempurna. "apa itu bisa di katakan mustahil?" ucap Eveleen bicara sendiri.
__ADS_1