
"Biar saya jalan duluan aja Pak. Dia tunggu disini satu jam...." Ujar Robby.
"Okey, silahkan jalan... Hati hati ya..." Ujar Pak Jono sembari memberikan kunci motor yang sempat ia ambil darinya.
"Ya Pak, trimakasih. Saya pamit," ujarnya sembari tersenyum ke arah Pak Jono. Tatapan meminta maaf terlihat jelas di mata Robby, dibalas dengan tatapan permusuhan oleh Andre.
Lima belas menit lamanya Andre menunggu. Ia mengamati kendaraan yang berlalu lalang rasa kantuk dan lapar mulai menghampirinya. Diamatinya keberadaan warung makan terdekat. Saat hendak berdiri tali sepatunya terlepas. Untuk menghindari kejadian memalukan ia ikat terlebih dahulu. Hingga sebuah motor berhenti di hadapannya. Dilihatnya sepatu si pengendara seperti tidak asing baginya. Ini sepatu kok kayak kenal ya... Sepatu sapa??... Satu tempat kuliah sama aku?? Atau malah satu kelas?? Malu malu in banget sampe ada yang tau aku ngemper kaya gini... Ujar Andre dalam hati.
Setelah selesai mengikat tali sepatunya ia berdiri, terlihat jelas siapa yang sedang berada dihadapannya. Dari tatapannya terpancar permintaan maaf. Ya siapa lagi kalau bukan Robby? Melihat sesosok manusia yang ada di hadapannya Andre mengangkat sebelah alisnya memberi isyarat 'kenapa?'.
"Yok cari makan dulu..." Ajak Robby.
"Ogah, kan belum satu jam... Emang kamu baw—"
"Ini udah aku bawain helm, udah ayok kita cari makan dulu baru pulang..." Ujar Robby memotong ucapan Andre.
"Ema—"
"Iya, nih aku baru mau lapor ke Pak Jono." Ujar Robby memotong ucapan Andre lagi sembari turun dari motor untuk meminta ijin pada Pak Jono.
"Halo lagi Pak, saya sudah bawa helm nih, boleh kan ya saya bawa dia pulang?"
"Lah, kok balik lagi kamu?"
"Iya, minjem helm tadi... Saya nggak mau ninggalin dia gitu aja..."
Waw, setia sekali anak ini, baru kali ini aku menemukan anak seperti ini... Pikir Pak Jono.
"Ya, sudah sana... Ndak dicari orang tua kalian... Besok jangan diulangi lagi kelakuan kalian itu! Hati hati ya!" Semoga bisa ketemu lagi, harapnya.
"Ya Pak, terimakasih." Ujar Robby sembari berjalan menghampiri motornya untuk menyerahkan helm yang ia pinjam untuk Andre.
Dia mau balik lagi jemput aku? Ini beneran? Perhatian bener... Tapi, tetep aja aku kesel sama omongan dia... Huh... Terserah deh dia mau apa... Ada saat nya aku kayak dia juga... Ujar Andre dalam hati.
"Nih, pake helm nya... Maaf ya..." Ujar Robby.
"Hmmm"
Robby menempatkan diri di sadel motornya.
"Naik!..."
Andre naik ke atas motor sahabatnya itu dengan muka datar karena masih kesal.
Karena dirasa Andre sudah siap dipacunya motor kesayangan nya itu membelah ramainya jalanan Kota Jogja.
"Mau makan apa nih?"
"......" Andre diam tak menggubris pertanyaan Robby.
"Oi, kok diem aja sih? Mau makan batu?"
"......"
Sialan, lu kira aku apaan makan batu begitu... Ujar Andre dalam hati.
"Maaf Ndre..." Ujar Robby lirih namun tetap terdengar oleh Andre.
"Hmmm"
Yah, ngambek... Tapi ngakak, kek cewe ngambeknya... Sorry bro... Pikir Robby.
"Mampir ke Mediterranea Restaurant yak... Udah deket juga ntar lagi nyampe..."
"Asem, bikin tambah laper aja... Mana aku lagi bokek lagi kalo diajak makan di sana... Padahal laper banget gini... Kalo ke tempat lain, lebih murah iya tapi bakal lebih jauh... Hhhh..." Gerutu Andre pelan hampir tak terdengar. Namun, ia tak menyadari jika sedari tadi Robby memperhatikan gerak geriknya.
Terbesit di pikiran Robby untuk men traktir sahabatnya itu.
"Aku yang bayarin..."
"Beneran???" Tanya Andre yang akhirnya merespon apa yang Robby katakan.
"Iya..."
__ADS_1
"Serius?"
"Iya Andreeeeeeeeeee"
"Tanpa syarat?"
"Nggak..."
"Hualah..."
"Hehe... Aku mau traktir kamu satu porsi plus minum doang... Kalo nambah bayar sendiri ya...."
"Halah jan, we ki njelei men, (halah kamu itu menyebalkan sekali)"
"Mau nggak nih? Kalo nggak ya tak terusan aja anter lu pulang... Duit ku juga yang melayang gak banyak... Bisa buat yang lain..."
"Au lah serah, aku mau asal lu yang bayar..."
"Hmmm emang ya... Holang kaya kok sukanya yang gratisan..."
"Pengiritan itu namanya..."
"Hish,"
"Lagian bukan aku yang kaya, emak ama bapak ku yang kaya mah..."
"Lah kan situ anaknya"
"Ada saatnya aku kaya mereka... Tapi bukan sekarang... Udah ah cepetan, laper nih"
"Akhirnya cerewet nya balik lagi,.... Ngaku juga lu kalo udah laper..."
"Cih..."
Mereka pun memasuki halaman parkir Mediterranea Restaurant. Setelah memarkirkan motor mereka berdua masuk ke dalam dan memilih tempat duduk secara acak karena sudah lapar. Andre langsung membolak balik buku menu yang ada di hadapannya. Beberapa saat kemudian, seorang pelayan yang bernama Lia menghampiri mereka.
"Mau pesen apa mas?" Ujarnya sembari terus menatap ke arah Robby.
"Biasa ngeliatin nya mbak..." Ujar Andre.
"Oi beneran nih kamu yang bayar?" Tanya Andre was was, tanpa memedulikan kehadiran Lia. Kalo aku sendiri yang bayar ntar cuman pesen minum paling murah nih... Ujarnya dalam hati.
"Iyaaaaaaaaaaaaa, takut banget sih? Jangan jangan lagi gak bawa duit nih?"
"Nggak, bawa kok..."
"Kalo bawa bayar sendiri ya! Gak jadi tak traktir..."
"Asem ik, jangan dong... Bokek nih..." Ujar Andre memelas.
"Iya, iya... Pilih aja terserah... Inget tapi! Aku bayarin klo cuman pesen satu porsi plus minum kalo nambah bayar sendiri ok!"
"Ya deh..."
Lia menahan tawanya melihat perdebatan dua laki-laki didepannya itu. Hampir ia dapat mencuri foto Robby yang sedang berdebat dengan ponsel yang ia bawa. Tapi, Robby sudah mengetahui niat itu terlebih dahulu. "Mbaknya, kalo mau ambil foto ijin! Nggak gini caranya..."
"Ah, maaf mas..."
"Woi, kasian yang jomblo Woi! Jangan pacaran mulu...." Ujar Andre yang telah selesai memilih menu dan mengalihkan perhatiannya ke arah mereka berdua.
"Wah, amin mas jadi pacar... Hehe..." Ujar Lia sambil melirik ke arah Robby. Tentunya dibalas dengan tatapan tidak suka oleh lawannya.
"Cih, kenal aja nggak... Ngada ada aja udah jadi pacar... Dah cepetan milihnya!"
"Iya, udah selesai kok... Norwegian Pizza Bar nya satu ya mbak..."
"Ah, ya... Minum nya?"
"Nggak usah..." Ujar Andre.
"Beneran ini mas? Apa gara gara saya di sini kalian jadi ngerasa seger gitu ya, jadi gak mau pesen minum..."
"Cih, nggak tambah seger tapi tambah gerah... Mana ini mata pengelihatan nya mulai rabun nih... Coba deh mbaknya nyingkir dulu, siapa tau balik lagi kaya semula..." Usir Robby secara halus tapi menusuk.
__ADS_1
"Hhh, oke dah..." Ujar Lia. Asem, emang aku apaan bikin mata rabun begitu... Untung ganteng dah... Kalo nggak, ni sepatu yang di kaki melayang deh... Batinnya.
Setelah dirasa si pelayan sudah berjalan jauh Robby bertanya pada Andre.
"Beneran gak pake minum?"
"Nggak usah..."
"Kenapa?"
"Makan aja, aku nggak haus..."
"Ya udah..."
"Lha kamu kok gak pesen apa apa?"
"Yang kamu pesen kan dua porsi... Jadi udah terwakil kan, lagian aku males ngomong sama mbaknya itu tambah lengket ntar repot..."
"Ckckck... Derita orang ganteng ya..."
"...."
Tidak butuh waktu yang terlalu lama pesanan mereka sudah datang. Namun, dengan pelayan yang berbeda dengan tadi. Kali ini laki-laki.
"Ini mas pesanannya.." Ujar si pelayan.
"Eh, yang ngelayanin ganti nih?" Tanya Robby penasaran.
"Iya, maafkan perempuan tadi itu ya... Dia anak baru di sini.."
"Ou, Yaya..." Ujar Andre.
"Apa ada pesanan tambahan?"
"Ngga ada mas, sudah... Terimakasih ya..." Jawab Robby.
"Sama sama... Selamat menikmati hidangan..."
Setelah si pelayan meninggalkan meja, mereka langsung makan dengan lahap. Hingga tak tersisa sedikit pun.
"Huah, kenyang..." Ujar Andre sembari mengelus perutnya.
"Iya... Udah yuk langsung balik aja..."
"Oke..."
Mereka berjalan ke kasir bersama untuk membayar pesanan, setelah itu mereka pulang. Akan tetapi, Robby tidak sadar telah melupakan kunci motor yang ia letakkan di meja.
"Mas, mas..." Panggil Lia.
Robby menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Kamu lagi?? Ngapa??"
"Kunci nya ketinggalan tuh..." Ujar nya sembari mengacungkan telunjuknya ke arah meja yang tadi mereka tempati.
"Oh, makasih..."
Saat ia hendak melangkah untuk mengambil kuncinya tiba-tiba Lia menghalangi langkahnya.
"Eit, eit, eit, tunggu dulu!"
"Kenapa lagi sih????"
"Ada syaratnya kalo mau ambil..."
"Apaan si, orang itu bukan kunci mu pake syarat segala..."
"Kunci itu emang bukan, tapi kalo hati kamu iya..."
"Woii, apaan dah..." Ujar sembari menepis bahu Lia yang telah menghalangi jalannya.
"Hei, fotbar dulu baru kuncinya boleh diambil!!!" Ujar Lia menarik baju yang Robby kenakan.
__ADS_1
"Ogah, ni muka mahal harganya!"
"Iih, pokoknya nggak boleh ambil kalo belom foto!"