
"berikan suntik ini pada Eveleen, dia akan segera membaik dari Johnny, jangan beritau siapa pun" pesan singkat dari Johnny yang mengirim paket. "dia tau?!" kaget Leo yang tak menyangkanya kalau Johnny selama ini barada di sekitar Eveleen diam-diam. Tanpa pikir panjang lagi, Leo menunggu pintu kamar Eveleen terbuka. "apa sudah selesai, apa yang ingin aku katakan" ucap Leo di depan pintu. "masuklah" ucap Alice. "aku membawakan paket untuk Eveleen" ucap Leo. "benar, paket itu! berikan pada ku" ucap Alice mengambil dari tangan Leo. "apa kamu tau isi paket ini?" tanya Leo. "ini suntikan untuk Eveleen, paket ini selalu datang jika Eveleen sedang sakit seperti ini, tapi aku tidak tau dari siapa, beruntung nya obat ini manjur" jelas Alice yang akan menguntik Eveleen. "jadi hanya aku yang tau" batin Leo.
"apa Eveleen akan membaik?" tanya Leo. "dia akan baik-baik saja, nanti pagi dia akan seperti biasa" ucap Alice yang sudah menyuntik Eveleen. "baiklah, kalau begitu aku balik dulu" ucap Leo pamit. "jangan pergi begitu saja, kamu harus ceritakan apa yang terjadi" ucap Alice menarik Leo keluar dari kamar Eveleen. Mereka duduk dan bicara di ruang tamu, Leo menceritakan nya secara detail. "jadi Eveleen dan Fabilio putus?!" kaget Alice. "maafkan aku" ucap Leo. "makannya jelaskan langsung secara detail! kalian malah diam saat di tanya Fabilio" kesal Alice melempar batal pada Leo. "kamu menyerang ku?!" kesal Leo. "kenapa? apa aku tidak boleh?" kesal Alice. "kalau kamu bukan sahabat Eveleen pastu sudah aku pukul" ucap Leo kesal. "kalau kamu bukan manusia aku pasti akan memakan mu!" marah Alice. "aku pergi dulu, tidak akan selesai bicara dengan wanita bodoh seperti mu" ucap Leo pergi begitu saja. "kamu yang bodoh! dasar pria aneh! sikutup utara!" maki Alice.
Keesokan harinya, Eveleen sudah bangun dan melakukan aktivitas nya seperti biasa tapi suasana tidak seperti biasa. "Eveleen kamu sudah bangun? apa. kamu sudah baikan?" tanya Alice masih khawatir karna kejadian Eveleen semalam bersama Fabilio. "aku tidak papa, ayo sarapan" ucap Eveleen yang bicara seperti biasa seperti tidak terjadi masalah. "aku dengar dari Leo" ucap Alice membuat Eveleen diam sejenak. "benar aku sudah selesai dengannya, jangan dipikirkan aku baik-baik saja, tapi jangan bilang pada Chao chao dulu" ucap Eveleen meletakkan sarapan di meja.
__ADS_1
"pagi mama! pagi kakak!" ucap Chao yang datang. "pagi sayang, ayo sarapan dulu" ucap Eveleen membantu Chao duduk di bangku. "mama tadi malam apa papa melamar mu? dia bilang malam tadi akan melamar mu" ucap Chao. "iya benar, ini mama pakai cincin nya tapi kamu harus rahasiakannya dulu ya" ucap Eveleen tak ingin Chao sedih. "baik mama!" senangnya. "berarti mama dan papa sudah baikan" batin Chao. Suasana hanya hening saat makan, Eveleen juga tidak banyak bicara dan hanya bicara seadanya.
"bisakah kamu menjemput Chao saat pulang sekolah?" tanya Eveleen pada Alice. "baiklah" jawab Alice yang merasa Eveleen benar-benar tidak baik-baik saja. "dia lebih menakutkan jika terlihat baik-baik saja" batin Alice. "ayo Chao chao" ucap Eveleen yang akan mengantar Chao ke sekolah nya. "mama, apa kamu baik-baik saja? apa mama punya masalah?" tanya Chao. "tidak sayang, mama cuman memikirkan pekerjaan saja" ucap Eveleen. "mama kalau ada masalah cerita saja pada ku, aku akan mendengarkan mama" ucap Chao membuat tersenyum. "baiklah" ucap Eveleen dengan senyuman yang membuat Chao lebih baik. Beberapa menit kemudian mereka sampai di sekolah Chao dan turun, "Chao chao mama tidak bisa menjemput mu nanti, tunggu Alice di sekolah ya" ucap Eveleen. "baik mama dadah~" lambai Chao. "dahh" ucap Eveleen melambai balik.
Saat lif sudah terbuka, Eveleen tidak keluar juga dan tetap menatap kosong, Jack yang bingung melihat Eveleen yang melamun. "Presdir, presdir" ucap Jack menyadarkan Eveleen. Eveleen yang kaget seperti akan di pukuli seseorang, solah-olah ingatan masa lalunya kembali perlahan. Tangannya gemetar dan keringat dinginnya mulai keluar, "apa presdir tidak papa?" tanya Jack. "aku tidak papa" ucap Eveleen keluar dari lif yang di ikuti Jack. Sadari dari tadi Eveleen dipantau oleh seseorang di perusahaan.
__ADS_1
"presdir kami.... " ucapan pegawai itu terputus. "diam!! kalau aku bilang ulang ya ulang!" marah Fabilio. "presdir kita ada rapat dengan CEO Eveleen dan CEO Kayle" ucap Mark. "ayo kita berangkat" ucap Fabilio langsung berangkat yang di ikuti Mark dari belakang. "kalau ini pasti benar" batin Mark. Mereka segera menuju perusahaan EYS untuk rapat bersama.
Saat Eveleen duduk di kursinya hanya fokus pada pekerjaan nya hingga selesai, "Jack, kamu bisa jelaskan semuanya yang telah aku rangkum di sini dan aku tidak ingin bicara nanti" ucap Eveleen. "ba-baiklah" jawab Jack tak ingin membuat suasana Eveleen memburuk. Jack membawa kata-kata yang telah di rangkum Eveleen dan mempelajarinya, Eveleen yang selesai dengan pekerjaannya kembali melamun dengan tatapan yang kosong. Ia tampak gelisah dari gerak gerik tangan dan kakinya, "tapi tangan presdir kenapa bisa di luka seperti itu" Jack bicara sendiri yang melihat tangan Eveleen banyak luka.
Eveleen yang memakai cincin pemberian Fabilio melepaskannya kembali saat Chao sudah pergi ke sekolah. Cincin itu ia gantung di kalungnya di dalam baju, tidak ada yang mengetahui nya. "aku membencinya tapi aku juga mencintainya" batin Eveleen. "presdir sudah waktunya untuk rapat" ucap Jack. "hm" dehem Eveleen dan jalan keluar ruangannya. Para CEO itu berkumpul di ruang rapat, suasana hanya hening dan Eveleen hanya menatap Fabilio yang berada di hadapannya. Sedangkan Fabilio tidak ingin melihat Eveleen sama sekali, "dia tidak ingin melihat ku" batin Eveleen. Eveleen memalingkan pandangannya dan hanya memandang pena yang ia pegang tanpa ekspresi.
__ADS_1