
Eveleen, Luiz, dan Annabele berkumpul di ruangan Eveleen di sofanya. "apa benar Annabele sudah tiada?!" kaget Eveleen mendengar berita. "iya, dia berkelahi dengan tahanan lain" ucap Luiz. "bukankah itu bagus, tidak ada lagi yang menyakiti mu" ucap Alice. "tapi tetap saja itu terlalu mendadak" ucap Eveleen. "apa dia bilang pada mu dulu kalau mau di bunuh dan mati" ucap Alice tak percaya. "kenapa kamu bawa Headphone?" tanya Luiz melihat Headphone menggantung di leher Eveleen. "owh ini di kasih Leo tadi, bagus bukan?" pamer. "Leo?" tak percaya. "orang sombong itu memberi mu Headphone?" ucap Luiz. "siapa yang kamu bilang sombong?! dia sangat baik! dia menolongku dari Annabele tadi" ucap Eveleen. "iya sih, aku seharusnya melindungi mu" ucap Luiz menyesal. "eheiii Luiz, aku baik-baik saja" ucap Eveleen. "warnanya bagus" ucap Alice. "owh ini warna galaxy kesukaan Leo, apa kalian tau, Headphone ini belum di rilis loh! cuman ada 2 warna galaxy di dunia ini" ucap Eveleen senang.
"belum rilis? apa ini masa percobaan?" tanya Luiz. "iya, aku jadi orang pertama yang memakai Headphone canggih ini" ucap Eveleen. "katanya dua mana satu lagi" tanya Alice. "satu lagi punya dia, bukan kah produknya bagus? ini sangat modern" ucap Eveleen. "apa kamu senang?" Luiz melihat Eveleen bahagia. "hm, aku sangat senang apa lagi di memberikan nya pada ku secara gratis" senyumnya. "apa Leo menyukai mu?" tanya Alice. "hah?" bingung Eveleen. "eh liat deh, itu di bagian samping Headphone nya ada nama mu" ucap Alice tidak sengaja melihatnya. "benar, ini nama mu" ucap Luiz mendekat dan melihatnya juga. "Yaaa dia sangat baik dan pastinya dia membuat ini karna khawatir pada mu" ucap Alice. "kamu tau dari mana, jangan asal bicara" tolak Eveleen yang masih senang dengan Headphone barunya.
Tanpa Alice sadari tebakannya benar dalam waktu 24 jam tanpa tidur, Leo membuat Headphone canggih ini dengan sedetail mungkin. Kepintaran dan pemikiran Leo yang genius membuatnya karna ia selalu berfikir untuk membuat produk membantu Eveleen. Melihat Headphone seseorang dan langsung terpikir tentang trauma Eveleen yang pertama kali di mulai dengan telinga lalu mata. Untuk jaga-jaga setidaknya 70% trauma itu bisa di hindari Eveleen. Ia membuat dua buah untuk Eveleen dan satu lagi jaga-jaga produknya rusak. Dengan begitu Leo memberikan nama pada Headphone itu dengan nama Eveleen khusus untuk Eveleen seorang, tapi di satunya lagi di beri namanya sendiri Leo. Saat bodyguard itu memberi laporan tentang Alice ia sudah menyiapkan Headphone itu untuk Eveleen dan tepat waktu saat Eveleen membutuhkannya.
__ADS_1
"makanan datang" ucap Jack masuk membawa beberapa makanan enak. "siapa yang pesan?" tanya Eveleen. "aku yang pesan, ayo makan" ucap Luiz. Jack menaruh memua makanan di meja hadapan mereka, "Jack kamu ambil yang ingin kamu makan" ucap Luiz menawarkan. "baiklah, terimakasih" ucap Jack membawa satu makanan dan minuman. "makan pelan-pelan" ucap Eveleen saat Jack keluar. "Chao chao sekarang lagi apa ya?" ucap Eveleen. "dia mungkin sedang makan" ucap Luiz. "tau dari mana?" tanya Eveleen. "aku juga memesan makanan untuk nya" ucap Luiz. Mereka makan bersama dan banyak berbincang dan tertawa bersama.
Leo yang sedang mempersiapkan kotak Headphone untuk Eveleen tiba-tiba Fabilio datang dengan wajah yang datar. "apa yang kamu adalah Leo sebenarnya?" dingin Fabilio. Leo yang yang mendengar suara familiar itu langsung melengah ke belakang, "apa yang membiat mu datang adik ku" santai Leo. "kamu terlihat sangat senang, bukan seperti Leo yang bodoh itu" ucap Fabilio. "bukan urusan mu" dingin Leo dan fokus pada kotak Headphone untuk Eveleen. "apa ini kotak Headphone yang kamu berikan pada Eveleen tadi" tebak Fabilio. Leo tidak menghiraukan Fabilio dan tetap fokus hingga kotak itu terlihat sempurna, "mampir lain kali saja, aku harus pergi" ucapnya membawa kotak itu melewati Fabilio. "apa kamu menyukai Eveleen?" tanya Fabilio membuat Leo berhenti dan berbalik badan. "jika aku katakan... iya" ucap Leo membuat Fabilio berbalik badan dan mereka saling menatap tajam. "bukankah kamu juga menyukai nya?" lanjut Leo. "apa itu terlalu jelas?" smirik Fabilio.
Leo hanya smirik dan pergi meninggalkan Fabilio yang masih menatap punggungnya hingga tak terlihat lagi. "apa aku sedang bersaing dengan kakak ku?" berfikir bodoh. "tidak masalah, ini bukan yang pertama kalinya" ucap Fabilio. Disaat Eveleen dan teman-teman nya sedang bicara setelah makan, tibalah Leo yang di antar oleh jack ke ruangannya. "presdir Eveleen, presdir Leo datang" ucap Jack. "owh silahkan masuk presdir Leo" ucap Eveleen merapikan meja setelah makan tadi. "maaf kami baru saja makan jadi sedikit berantakan" ucap Eveleen dan Alice membantu membersihkannya. "tidak papa, apa aku mengganggu kalian?" tanya Leo. "tidak-tidak, apa kamu sudah makan? kami bisa memesannya lagi" ucap Eveleen. "sudah, aki sudah makan" ucap Leo. "kalau begitu aku kembali dulu, bye" pamit Luiz pergi.
__ADS_1
"kurang dari 24 jam dua Headphone plus dengan desain kotaknya" ucap Leo. "apa?! secepat itu?!" kegat Eveleen. "itu hanya tiba-tiba masuk ke pikiran ku saat melihat Headphone seseorang" ucap Leo. "tidak di ragukan lagi kalau kamu sangat genius" ucap Eveleen. "kamu terlalu berlebihan" ucap Leo. "kalau begitu kamu mau teh atau kopi?" tanya Eveleen. "apa pekerjaan mu sangat banyak?" tanya Leo. "tidak juga" ucap Eveleen. "mau ke cafe?" ajak Leo. "boleh" ucap Eveleen. Mereka pergi ke cafe terdekat lalu memesan kopi dan duduk santai berhadapan. "apa kamu hebat dalam bela diri?" tanya Leo. "bisa dikatakan seperti itu?" jawab Eveleen. "apa kamu tidak mengingat ku? dulu kita pernah bertemu sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu" ucap Leo membuat Eveleen pikir panjang. "benarkah? aku tidak ingat" ucap Eveleen.
"saat itu aku di kejar beberapa preman saat hari sudah malam dan hujan, aku bertemu dengan mu saat aku terkepung di jalan buntu" ucap Leo dan membuat Eveleen ingat walau ia tidak yakin kalau itu Leo. "kita berhadapan saat aku tau itu jalan buntu, kamu awalnya memunggungiku dan aku mundur hingga kita sama-sama terkepung" jelas Leo. "saat itu kamu menyuruh ku untuk mundur dan kamu langsung menghajar mereka dengan mudah" lanjut Leo. "ap-apa kamu tidak mengingatnya?" merasa malu dan kecewa. "Haha Leo, apa itu kamu?!" ucap Eveleen yang sudah mengingatnya sejak tadi, hanya ingin mendengar cerita Leo yang panjang. "apa kamu ingat?!" tanya Leo semangat. "kamu anak yang memberikan ku plester biru di tangan ku" ucap Eveleen yang membuat Leo mengangguk kencang.
"tapi kenapa kamu sampai bisa di kejar preman?" tanya Eveleen. "saat itu bisa di katakan aku nakal dan selalu buat masalah hingga di kejar preman saat aku mengambil mainan dari adik perempuan preman itu" ucap Leo tertawa mengingat kejadian dulu. "Haha kenapa kamu mengambil mainan nya" ucap Eveleen yang merasa lucu. "aku hanya mengambil setelah itu membuangnya, tak ku sangka itu adik perempuan ketua preman itu haha" mereka tertawa bersama. "aku juga pertama kali melihat seorang anak laki-laki tidak bisa bela diri haha" ucap Eveleen. "eheii semejak aku melihat mu aku langsung khursus bela diri" ucap Leo membuat Eveleen terkekeh.
__ADS_1
"apa kamu tau, dulu kehidupan ku tidak seperti ini yang sudah bisa mendapatkan apa yang aku inginkan" ucap Eveleen membuat suasana menjadi serius. "aku juga melihatnya, kamu terlihat putus asa pada saat itu, aku mengerti perasaan mu" ucap Leo. "aku melakukan semua kejahatan agar aku dapat perhatian dari ayah dan ibu, aku mendapatkan apa yang aku inginkan, tapu tidak dengan perhatian keluarga" ucap Leo membuat Eveleen mengerti. "aku dulu juga pernah mencuri agar bisa makan, aku sering berkelahi karna aku bisa bela diri" ucap Eveleen. "aku juga pernah mencuri sesuatu yang membuat aku di pindahkan ke luar negeri" ucap Leo. "tapi... kenapa kamu sangat hebat saat bertarung, bisa membuat mereka rata dalam sekejap" kegum Leo. "aku berlatih dengan seorang atlet bela diri, dia bisa melakukan bayak hal bela diri, seperti tekondo, kung fu, karate, judo, dan benerapa aku juga belajar ahli pedang dengannya" ucap Eveleen membuat Leo menganga. "kamu mempelajari semuanya?" tanya Leo takjub. "iya" jawab polosnya. "wahh, bagaimana dengan pelatih itu sekarang?" tanya Leo membuat Eveleen murung. "dia meninggal karna sebuah penyakit, tapi aku malah frustrasi dan menyalah gunakan kehebatan itu" ucap Eveleen. "maaf aku tidal bermaksud" sesal Leo. "haha kenapa kamu meminta maaf" tawa Eveleen.
"Eveleen, aku sudah mencari mu kemana-mana hingga aku bertemu dengan mu lagi" ucap Leo. "kenapa kamu mencari ku?" tanya Eveleen bingung. "kamu cinta pertama ku" batin Leo. "hanya ingin mengatakan aku sudah bisa bela diri, dan siap untuk menjaga wanita seperti mu" ucap Leo membuat Eveleen tersenyum. "ayo kita lihat siapa yang melindungi siapa" ucap Eveleen dengan percaya diri. "baiklah, lain waktu kita buktikan" ucap Leo juga tak mau kalah. Seseorang berdiri di samping meja mereka dengan wajah yang kesal walau terlihat seperti orang bodoh bagi mereka. "Fabilio?!" serentak mereka yang baru sadar karna asik bicara.