LOVE ADVENTURE

LOVE ADVENTURE
Penyesalan


__ADS_3

"Salah pilih lu! Calon adik ipar dibilang cewek simpenan... Nggak trima gue! Putusin aja deh!"


"Hhhh"


Robby menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia memijit keningnya yang terasa cenat cenut. Melihat kakaknya seperti itu Maya merasa iba. Ia ikut duduk di sebelah kakaknya.


"Oke oke... Maaf ya, mungkin menurut lo gue kasar sama cewek lo... Gue bingung sebenernya. Abis, gue baru aja turun gue sapa baik-baik, gue senyumin juga malah, dia tiba tiba nyolot gitu"


Robby terkejut mendengar apa yang dikatakan adiknya. "Senyum?!?"


"Iya, emang salah? Eh dia malah nyolot pake bilang gue cewe simpenan lo pula!"


Robby tambah kaget dengan apa yang baru saja dikatakan Maya.


Apa dia udah berubah? Pikirnya senang. Mau senyum sama Nella?!? Nella kan orang baru buat dia... Ku pikir bakal pasang muka dinginnya... Tapi ternyata malah senyum... Bahkan dia minta maaf, padahal ini semua salah Nella... Nggak nggak! Gue nggak mau dia tersakiti untuk yang kedua kali sampai menghilangkan senyuman manis yang dia punya! Ucapnya dalam hati.


"Hoi, hoi, hoi! Jangan ngalamun! Kalo kesambet gue gak bisa atasin!" Ujar Maya yang sedari tadi melambai lambaikan tangannya di depan wajah sang kakak.


"Ish, pengen gua gigit tangan lo itu!" Ujar nya karena kesal dengan apa yang dilakukan Maya.


"Cih, makannya jangan ngalamun!! Kesambet beneran tau rasa!"


"Yaaa"


"Emang salah gue senyum sama pacar lo?"


"Nggak kok"


"Terus kok gitu amat nanyanya... Kayak gue gak pernah senyum aja..."


".............." Bukan nggak pernah, tapi jarang... Ucap Robby dalam hati.


"Oya, nggak mungkin dong dia tiba tiba bilang kalo gue cewe simpenan lo..."


"..........."


"Pasti ada something yang bikin cewe lo kaya gitu," ujar Maya curiga.


"Hmmm"


"Dia nanya yang aneh aneh nggak tadi? Kalo iya kemungkinan dia liat sesuatu,"


"Iya"


"Bilang apaan?" Tanya Maya kepo.


"Dia nanya apa gue beneran cinta sama gue... Aneh si, tapi gue gak ngerti kenapa," tuturnya.


"Wah, itu berarti elo nggak sadar deh dia liat sesuatu.... Tapi kenapa gue yang jadi sasaran?"


"Mmmm" Robby teringat sesuatu. "Salah gak si gue ngasi nama kontak lo Sweetie?"


"Apa!?!?" Maya kaget sekaligus jijik dengan nama yang kakaknya berikan. "Elah diganti ih! Gue jijik!"


Robby tersenyum mendengar nya. "Iyaa ntar tak ganti..."


"Pantes aja marah, lha wong nama kontak aja Sweetie... Jangan jangan elo juga belom pernah cerita sama dia kalo lo punya adek perempuan?!? Itu gak papa si... Tapi, mesti elo belom kasi tau rupa gue ke dia.... Ampe jealous gitu..."

__ADS_1


"Sebenernya gue mau kasi tau dia pas lo udah turun... Eh, gue gak nyangka dia nyolot duluan kek gitu..."


"Jangan jangan dia liat lo chat sama gue tadi.... Makannya pake tanya yang aneh aneh gara gara liat nama kontak yang lo chat..."


"Iya...."


"Sekarang lo kasi tau lewat chat dulu aja deh... Besoknya lo urus dia! Serah mau diputusin ato lanjut... Yang pasti gue bener bener gak suka kalo kalian sampe nikah, sikap dia yang sok tau gak diklarifikasi waton njeplak itu masih ada!"


Robby menyisir rambutnya pertanda ia putus asa seraya menganggukkan kepalanya. "Ya, makasi ya... Maafin dia udah ngatain kamu.."


Maya mengerti perasaan Robby yang sedang kacau ia peluk kakaknya itu.


"Iya, nggak papa... Gue dukung semua keputusan lo ambil, walaupun gue gak suka... Tapi, gue yakin itu yang terbaik..."


Robby membalas pelukan dari adiknya. "Makasi, makasi, makasi May..."


Gue tau May, lo pasti sakit ati sama apa yang dikatain Nella... Maaf... Maaf maafin gue... Ucapnya dalam hati.


Maya melepaskan pelukannya. "Dah ya gue naik... Peer gue banyak soalnya, lo juga mandi dulu sono!"


"Iyaaa sweetie" ujar Robby sambil nyengir kuda.


"Astaga By, jijik gue oy! Ga usah dipake oke! Gue bukan pacar lo!"


"Hehehe... Iya deh...." Robby cengengesan sendiri.


Mereka naik ke kamar masing masing. Robby segera mandi karena sekujur badannya sudah terasa risih dan lengket. Maya segera membuka tugas matematika yang diberikan Bu Ros dan segera mengerjakannya.


***


"Hih, sebel!! Ku kira dia cowo baik baik... Hiihh," keluhnya sambil sedikit menghentakkan kakinya dan membuat lantai halte yang terbuat dari besi itu bergetar.


"Kenapa tho mbak?" Tanya seorang lelaki yang sudah berumur yang heran melihat kelakuan Nella.


Ia kaget karena, baru kali ini orang yang tidak ia kenal menanyakan masalah apa yang sedang ia alami. Eh, tapi siapa tau dia bisa bantu... Dia kan udah pernah muda... Dari pada tanya sama papa mama... Tanya sama orang yang gak kenal aja... Pikirnya.


"Emm..."


"Ndak papa mbak... Lepaskan saja unek uneknya sama saya... Siapa tau saya bisa kasi solusi... Saya juga punya anak cewek seumuran mbaknya... Sambil nunggu bis juga..." Ujar lelaki itu.


Akhirnya Nella menceritakan kejadian yang ia alami saat di rumah Robby. Cukup lama, bis yang akan Nella tumpangi tak kunjung datang. Jadi, ia memutuskan meluapkan semuanya.


"Hmmm, menurut saya lebih baik kamu tanyakan siapa nama asli cewek yang dia namai Sweetie itu..." Ujar si bapak.


"Iya juga ya..." Gumamnya, akalnya mulai bekerja memikirkan kalimat kalimat yang harus ia ucapkan.


"Sudah ya mbak... Itu bis saya sudah datang... Mari.."


"Ah, ya... Terimakasih Pak... Mari...."


Lelaki itu menganggukkan kepala dan memasuki bis. Sesaat kemudian bis yang Nella tumpangi datang. Ia memasuki bis tersebut dan pulang kerumah.


***


Robby yang sudah selesai mandi terpikir untuk membuatkan adiknya makan malam dan membawakan cemilan. Ia berjalan ke dapur untuk membuat nasi goreng.


"Hiih, gak mudeng nj*r... Susah amat ni soal..." Keluh Maya. "Mintak tolong Robby dia mau gak ya..." Gumamnya.

__ADS_1


Ia masuk ke kamar kakaknya. Tapi, ia sama sekali tak menemukannya.


"Ih, ya udah deh... Kerjain sebisa gua aja..." Gerutunya dan kembali ke kamarnya.


Beberapa saat kemudian Robby memasuki kamar Maya membawa dua porsi nasi goreng. Bau nasi goreng menggelitik hidung Maya menggodanya untuk dimakan sementara perutnya bergemuruh. "Hmmm, enak By baunya...."


"Ya udah sini makan dulu..."


Akhirnya mereka makan bersama didalam kamar Maya.


"Bang...." Panggil Maya setelah mereka selesai makan.


"Hmmm"


"Bang...."


"Napa si? Mau bilang apa? Bang bang bangs*t emang nya?!?"


"Ihh, Bang..." Ucap Maya manja.


"Hmmm, biasanya klo manggil gue kaya gitu pasti ada maunya..."


"Hehehe... Bantuin gue ngerjain peer ya bang..."


Robby mengangkat sebelah alisnya "ogah"


"Tolong... Gue gak mudeng nih... Mana masih sisa sepuluh nomer dari lapan puluh nomer... Gak kasian nih?"


"Hhh ya udah... Gue kerjain di kertas coret coretan mu oke!?!"


"Yey... Makasi bang..."


Jam sudah menunjukkan pukul 21.45 WIB.


"Nih.. Tinggal lo salin!"


"Wokee, makasi ya..."


"Hmmm" ujar Robby sambil berlalu ke kamarnya.


Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur. Jemarinya menari nari lincah diatas ponselnya.


***


Nella tengah mengeringkan rambutnya. Mendengar ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk ia mengeceknya.


From: Robby My Love


Rob gans: Nell tadi itu aku mau ngomong kalo cewe yang lo bilang cewe simpenan ku itu adik aku sendiri.


Rob gans: besok 09.00, Cafe Aura, meja 05!! Gue mau ngomong!


Deg!


Membaca pesan tersebut Nella merasa dadanya tengah ditusuk. Gila, cewek itu adiknya!?! Mati aku... Mana bahasa dia udah balik ke lo gue lagi... Nggak nggak nggak.... Huwaaaaa.... Ucapnya dalam hati.


Nella menyesal dengan apa yang tadi ia ucapkan saat dirumah pacarnya. Masih baik tidak ada orang tua Robby disana. Diletakkan di mana wajahnya nanti. Yah, penyesalan selalu datang di akhir. Tidak ada yang datang di awal.

__ADS_1


__ADS_2