
Eveleen dibawa ke tempat dimana disana tidak ada penduduk karna tempat itu sangat dingin seperti kubub utara, hanya saja ada satu rumah mewah yang bertahan disana. Tak lain lagi, adalah rumah seorang mafia yang tidak pernah di ketahui orang-orang, itu adalah rumah pribadi seorang mafia tampan yang juga CEO dari satu negara yang sama dengan Eveleen yang bernama Kayle. Kayle adalah mafia tampan yang juga seperti Fabilio sebagai CEO, hanya saja bedanya Kayle lebih kejam dan sadis tak kenal ampun dan kesempatan kedua. Kayle dan Eveleen melakukan kerja sama yang baik, hanya saja CEO ini mendapat perintah untuk menangkap Eveleen atau membunuhnya.
Orang yang mendorong Eveleen dari gedung saat itu adalah Kayle sang mafia. Tapi saat itu ia di perintahkan untuk menangkap Eveleen hidup-hidup. Saat pernikahan itu lah ia melakukan aksinya untuk Eveleen di culik dan dibawa ke rumah nya yang terpencil dan jauh dari masyarakat.
"apa dia sudah sadar?" tanya Kayle sang mafia tampan itu. "sudah" ucap dokter terbaik didunia yang benama Jeon. Dokter yang sudah menghilang beberapa tahun yang lalu yang sempat menjadi dokter mental Eveleen. "baiklah, aku akan melihatnya" ucap Kayle yang akan masuk. "tuan saya harap anda jangan terlalu keras pada nona Eveleen, karna nona Eveleen mengalami gangguan mental yang masih membekas" pesan dokter Jeon. "aku tidak peduli" ucap Kayle tak peduli.
"apa mafia itu menculik ku? Aku harus pergi, pasti Fabilio sedang mencemaskan ku" ucap Eveleen turun dari ranjangnya dan berlari ke pintu balkonnya yang tidak memakai baju gaunnya lagi. "aku, aku ada dimana?!" kaget Eveleen yang melihat dari lantai dua kalau di sekitar nya tidak ada pemandangan maupun rumah penduduk, ia hanya melihat salju putih disertai angin kencang yang sangat dingin. "sial!" menutup pintu balkon dan berlari ke pintu keluar kamar. Saat ia membuka pintu keluar, tiba-tiba pintu itu terbuka dan Eveleen bersembunyi di belakang pintu. "dimana dia?!" ucap Kayle langsung berlari ke pintu balkon yang tidak tertutup dengan sempurna. Saat itulah kesempatan Eveleen untuk berlari keluar saat Kayle tidak melihat Eveleen di belakang pintu.
Eveleen berlari ke luar dari ruangan itu tanpa sadar kalau di depan kamarnya dijaga oleh anak buah Kayle. "apa?!" tangannya di pegang kedua anak buah Kayle. "kalian salah sasaran" ucap Eveleen beraksi mengeluarkan keahliannya. Terjadilah bangku hantam yang sangat mudah bagi Eveleen dan langsung berlari dari sana. Kayle yang mendengar suara Eveleen di luar kamar langsung bergegas keluar, ia melihat anak buahnya yang sudah terkapar di lantai. "kalian tidak berguna" ucap Kayle mengeluarkan pistolnya
Dor..
Dor..
Kayle menembak anak buahnya dan jalan menyusul Eveleen tanpa merasa bersalah, "rumah ini terlalu luas" ucap Eveleen yang merasa sangat lama mencari tangga jalan ke bawah. Saat ia melihat tangga ke bawah tanpa pikir panjang ia turun secepat mungkin, saat tiba di bawah ia melihat anak buah Kayle berdiri di setiap sisi rumah. "nona kabur!" ucap salah satu asisten rumah yang melihat Eveleen di depan tangga. "sial" gumam Eveleen membeku di tempat. Saat anak buah itu mendengar kalau Eveleen kabur langsung menoleh ke Eveleen yang membeku di tempat. "tanggakap dia!" sorak mereka berlari ke arah Eveleen.
"baiklah, aku siap" ucap Eveleen bersiap-siap dan mengepalkan tangannya. Sekitar 5 orang maju untuk menangkap Eveleen, yang lain hanya berdiri karna menangkap wanita adalah hal yang mudah pikir mereka.
__ADS_1
Brak..
Bruk..
Stash...
Dua orang jatuh kesakitan karna pukulan Eveleen yang keras, mereka terdiam dan bingung bagaimana wanita seperti Eveleen bisa membuat anak buah Kayle jatuh tank bisa berdiri lagi. "maju!" ucapnya dan 10 maju melawan Eveleen dengan tangan kosong. "ayo aku coba" ucap Eveleen menerima serangan 10 pria berbadan atles itu. Kayle yang disana hanya melihat pertarungan itu dari tangga dengan santai.
Brakk..
Dras...
Bruk...
"kita bertemu lagi presdir Eveleen" ucap Kayle yang memperlihatkan matanya yang indah tapi kejam yang pernah ia lihat di gedung saat jatuh. Eveleen jadi ingat kalau selama ini Kayle memakai soflen agar tidak ketahuan matanya yang unik akan membuatnya ketahuan dengan identitas aslinya. "apa, apa kamu yang mendorong ku dari gedung?" tanya Eveleen yang mengingatnya. "ingatan yang bagus" ucap Keyle membuat Eveleen kaget. "jangan mendekat!" ucap Eveleen mengambil pisau yang ada di lantai dan menarik asisten wanita itu ke pelukannya. "jika kamu mendekat aku akan membunuhnya" ucap Eveleen menodongkan pisau ke leher asisten itu hingga sedikit mengeluarkan darah.
"bunuh saja" ucap Kayle memainkan ponselnya dengan santai. "dia tidak peduli" batin Eveleen menatap pintu keluar. Eveleen yang tidak bisa membunuh orang memutuskan untuk berlari ke pintu keluar yang masih tertutup, saat anak buah Kayle ingin mengejar Eveleen dihentikan oleh Kayle. "apa kamu tidak ingat Fabilio?" tanya Kayle membuat Eveleen berhenti melangkah. "bagus kalau masih ingat, satu langkah keluar dari rumah ini nyawa Fabilio melayang detik itu juga" ancam Kayle membuat Eveleen berbalik dan melihat Kayle memperlihatkan ponselnya yang disana ada vidio Fabilio yang sedang berdiri dengan baju pernikahan mereka di gurun rumput dengan menundukkan wajahnya.
__ADS_1
Eveleen yang melihatnya pun berjalan ke arah Kayle untuk melihat wajah Fabilio lebih jelas. Saat Eveleen ingin merebutnya dari Kayle, Kayle langsung menyimpan ponselnya agar Eveleen tidak bisa mengambilnya. "berikan pada ku!" ucap Eveleen yang menahan tangisnya. "apa kamu menangis?" senang Kayle menjepit dagu Eveleen dengan dua jarinya. "jangan sakiti Fabilio!" tatap tajam Eveleen. "itu tergantung pada mu" ucap Kayle smirik. "apa yang kamu inginkan?!" tanya Eveleen. "menyiksa kekasih dari Fabilio hingga mati" ucap Kayle membuang wajah Eveleen dengan dua jarinya tadi. "apa aku takut? tentu tidak kamu hanya manusia biasa yang tidak akan bisa menyiksa ku" ucap Eveleen dengan smirik.
Kayle yang kesal memperlihatkan kembali ponselnya dan memberikannya pada Eveleen yang ingin melihat Fabilio. "aku akan membuat mu tunduk di hadapan ku" ucap Kayle menelfon seseorang di hadapan Eveleen yang masih melihat vidio Kayle secara langsung. "tembak dia" ucap Kayle membuat Eveleen panik. "tidak, tidak! jangan lakukan! Jangan!" panik Eveleen teriak kepada Kayle dan melihat vidio itu. Kayle hanya tersenyum kemenangan melihat reasi Eveleen yang panik.
Dorr...
"TIDAK!!" teriak Eveleen melihat kaki Fabilio tertembak disana dan jatuh, "apa yang yang kamu lakukan!!" ucap Eveleen menarik krah baju Kayle dengan tangan yang gemetar.
Brukk....
"aghh" Eveleen dihempaskan hingga kepalanya terbentur pembatas tangga hingga mengeluarkan darah. Kayle jongkok di hadapan Eveleen dan mengapit pipi Eveleen dengan satu tangannya dengan kasar, "aku bisa saja memunuhnya jika kamu melawan ku!" ucap Kayle membuang wajah Eveleen dengan kasar dan pergi tanpa perasaan. "dasar pria berensek!" teriak Eveleen kesal membuat Kayle berhenti. Kayle berbalik dan menatap tajam Eveleen seperti akan membunuhnya. Kayle jalan ke arahnya, saat itu ia melewati Eveleen dan jalan ke arah anak buahnya.
Bruk...
Dras...
Brakk...
__ADS_1
Kayle memukul anak buahnya untuk pelampiasan karna tidak bisa membunuh Eveleen. "meringislah!!" ucap Kayle menganiaya anak buahnya di depan Eveleen. "aghh... Akkkk..." ringisnya hingga anak buahnya. "hen-hentikan!!!" ucap Eveleen panik badannya bergetar dan menguarkan keringat dingin. "meringislahh!!!" ucap Kayle yang marah. "aghh!!! Akkk!!! Aghhhhh!!!" rungisnya hingga berlutut. "hentikan!! Hentikan!!!" teriak Eveleen menutup telinganya dan berusaha naik tangga dengan jantung yang berdegup dengan kecang. Kayle tidak peduli ia tetap menyiksa anak buahnya hingga puas, Kayle juga tidak tau kalau Eveleen mempunya penyakit mental seperti ini. Eveleen berlari ke kamarnya hingga suara itu tidak terdengar lagi, saat akan ke kamar ia melihat anak buah Kayle yang sudah mati karna tembakan kepala di depan kamarnya. "ak-aku tidak bisa bernafas" ucapnya memegang dadanya dan menutup pintu kamarnya. Keringat dinginnya banyak keluar dan langsung bersembunyi di dalam lemari untuk menghilangkan penyakit mentalnya yang kambuh.
"Fabilio, tolong aku" ucap Eveleen mengeluarkan air mata. Ia memeluk melipat kakinya dan menundukkan kepala. "ak-aku harus tenang, harus tenang" menutup telinganya dengan rasa ketakutan. "dimana Eveleen tadi?" tanya Kayle kepada asisten wanita tadi. "nona kembali ke atas tadi tuan" jawabnya.