
Saat siang hari, mereka pergi ke lestoran untuk makan siang karna sudah kelelahan bermain di sekolah baru Chao. Mereka masuk ke dalam lalu mengambil tempat dan memesan makanan. "apa Chao chao senang hari ini?" tanya Eveleen. "sangat senang! Chao chao punya banyak teman hari ini dan juga kami bermain bersama" ucap Chao dengan semangat menceritakannya. "hahah baguslah kalau begitu aku juga ikut senang" ucap Fabilio yang di sampingnya. "makanan datang" ucap pelayan membawa makanan pesanan mereka. "terimakasih~" ucap Chao. "sama-sama" senyum pelayan melihat gemas. "kakak cantik, apa aku mirip dengan papa?" tanya Chao tiba-tiba. "kamu sangat mirip dengan papa mu, dari segi wajah pun sama-sama tampan" pujinya. "terimakasih" ucap Chao dan di anggukkan pelayan lalu pergi melanjutkan pekerjaan.
"Chao chao kenapa bertanya seperti itu tiba-tiba?" tanya Eveleen bingung dan merasa canggung kepada Fabilio. "aku juga bingung, kenapa semua orang mengatakan kalau aku mirip dengan nya, apa aku benar-benar papa Chao chao?" ucap Fabilio menebak. "hei! jangan asal bicara!" ucap Eveleen. "bukan begitu~ aku pernah.... " Fabilio tidak melanjutkan perkataannya. "pernah apa?" tanya Eveleen. "bukan apa-apa aku hanya asal bicara" ucap Fabilio mengalihkan pembicaraan. "owh iya, aku pernah melihat mu berkelahi dengan sangat hebat, apa kamu belajar bela diri?" tanya Fabilio sambil makan. "aku belajar bela diri saat masih muda dan pernah masuk militer karna ingin ikut mendaftar dengan teman lama ku" ucap Eveleen. "juga untuk menghilang dari kekejaman bibi dan paman" batin Eveleen. "bukankah saat itu kamu masih muda?" tanya Fabilio bingung karna anak muda yang masih sekolah tidak bisa militer. "aku di terima karna kemampuan ku yang sangat hebat" ucap Eveleen. "apa kamu tidak sekolah?" tanya Fabilio. "aku sekolah, tapi pemerintah memberikan ku sekolah dua tahun di sana" jelas Eveleen.
"wow, trus bagaimana dengan teman lama mu?" tanya Fabilio. "hmm... aku tidak tau dia dimana karna dia seorang mata-mata karna aku menolak menjadi mata-mata" ucap Eveleen membuat Fabilio ingin mendengar cerita Eveleen lebih banyak. "aku dulu sangat akur dengar nya, tapi impiannya ingin menjadi mata-mata negara, salah satu dari kami harus mengalah jadi aku saja yang menyerah, tapi dia tetap sangat baik pada ku hingga saat aku sudah mengakhiri militer di sana" jelas Eveleen mengenang masa indahnya bersama teman lama. "lalu?" sangat tertarik. "lalu saat dia di tugaskan misi pertama, aku tidak bisa mendengar kabar tenang nya hingga sekarang" ucap Eveleen kecewa. "apa dia teman satu-satunya bagi mu?" tanya Fabilio. "iya, kami berteman pertama kali saat aku menolong nya saat dibuly waktu SMA kelas satu" ucap Eveleen mengingat. "hanya dia yang ada di sisi ku, dia bisa di katakan keturunan kaya" ucap Eveleen senyum mengingatnya.
__ADS_1
"saat militer pasti melihat kekerasan sangat banyak dari atasan, apa kamu tidak kambuh?" tanya Fabilio hati-hati. "ntah kenapa jika aku bersama dirinya aku tidak pernah kambuh selama dua tahun dan aku merasa dilindungi oleh nya" ucap Eveleen. "sebentar!" ucap Fabilio membuat Eveleen dan Chao kaget. "apa?! kamu membuat ku kaget!" kesal Eveleen. "apa dia pria?!" histeris Fabilio. "iya" singkat Eveleen. "seharusnya aku tidak mendengar cerita kedekatan mereka, aku menyesal" batin Fabilio. "kenapa kamu terlihat kesal? apa kamu cemburu?" ucap Eveleen asal bicara. "haha tidak mungkin aku cemburu dengan wanita seperti mu" ucap Fabilio dengan egonya. "jangan terbawa suasana ya! aku hanya asal bicara! kenapa reaksi mu berlebihan! apa kamu ingin bertengkar dengan ku?!" kesal Eveleen membuat Fabilio meneguk ludah nya.
"kenapa kalian bertengkar di tempat umum, kalian membuat ku malu" ucap Chao membuat mereka sadar sedang berada di dekat Chao. "baikalah lanjutkan makan" ucap Eveleen. Mereka menghabiskan makanan yang da di meja lalu membayarnya dan kembali ke mobil. "papa apa aku boleh bermain ke perusahaan mu?" tanya Chao. "tentu saja jika kamu mendapatkan izin dari mama" ucap Fabilio memberikan tatapan berharap pada Eveleen. "ba-baiklah, tapi dengar apa yang di katakan papa ok" pesan Eveleen. "papa?" batin Fabilio dengan senyuman. "baik mama" ucap Chao. Fabilio pun mengantar Eveleen ke perusahaannya, "terimakasih untuk hari ini" ucap Eveleen sebelum keluar. "tidak masalah, tapi aku ingin satu hal" ucap Fabilio membuat Eveleen bingung. "apa yang kamu inginkan, aku akan berikan asal aku mampu" ucap Eveleen. "ini sangat mudah" ucap Fabilio menutup mata Chao dengan tangannya dan mengecup pipi Eveleen. Eveleen langsung mematung dan pipinya mulai merah karna tersipu malu, "terimakasih" ucap Fabilio kembali duduk seperti semula. "Ak-aku, akan turun" ucap Eveleen gugup dan keluar dari mobil Fabilio dengan cepat.
"kita akan melakukan foto produk di pantai untuk iklan majalah" ucap bawahannya. "kita akan melakukan iklan dan melakukan fotoshoot untuk mu sekalian bersama CEO XC dan CEO TBRO di pantai" jelasnya. "apa temanya?" tanya Eveleen melihat berkas. "temanya ketenangan dan kenyamanan memakai produk" jawabnya. "apa mereka sudah mengkonfirmasi?" tanya Eveleen. "sudah presdir, mereka sudah menyetujui nya dan menunggu keputusan dari kita" ucapnya. "baiklah kita terima, kapan kita lakukan?" tanya Eveleen. "bagaimana jika kita melakukannya besok dan berangkat malam ini?" tanya Jack. "buakankah ini terlalu mendadak Jack?" ucap Eveleen. "lebih cepat lebih baik karna besok jadwal mu besok kosong dan ada beberapa yang bisa di tunda" ucap Jack. "baiklah, sampaikan kepada CEO XC dan TBRO jika bisa sekarang kenapa tidak" ucap Eveleen setuju.
__ADS_1
"baik" ucap mereka. "kita akhiri rapatnya" ucap Eveleen berdiri dan pergi keluar ruangan rapat. "aku akan menyuruh seseorang untuk mempersiapkan pakaian anda" ucap Jack. "dengar kabar mereka dulu baru siapkan" ucap Eveleen. "tapi... mereka menyetujui dengan cepat presdir" ucap Jack bingung melihat iPad. "secepat itu?" Eveleen ikut bingung. "baiklah siapkan sekarang juga" ucap Eveleen. "baik" jawab Jack. Fabilio dan Leo senang karna bisa pergi ke pantai bersama Eveleen untuk mendekatinya, mereka menerima permintaan itu dengan cepat tanpa pikir panjang lagi. Malam pun sudah tiba, Chao di titipkan pada Alice untuk dua hari kedepan. "kamu jangan sampai telat datang di acara ulang tahun Chao chao" pesan Alice kepada Eveleen. "jangan khawatir, aku akan pulang sebelum acara dimulai" ucap Eveleen. "baiklah, tapi kenapa kamu juga ikut?" tanya Alice melihat Luiz sedang menunggu Eveleen di sofa.
"tentu saja untuk liburan" ucap Luiz membuat mereka menggelengkan kepala. "aku sudah bilang tidak usah ikut, tapi dia sangat keras kepala" ucap Eveleen yang tidak dipedulikan oleh Luiz. "apa sudah tidak ada yang tinggal, ayo kita berangkat" ucap Luiz berdiri dan menuju pintu utama. "baiklah aku titip Chao chao, jika ada sesuatu hubungi aku" ucap Eveleen. "jangan khawatir hati-hati di jalan, dan jaga dirimu" ucap Alice. "baiklah, aku pergi dulu" ucap Eveleen dan keluar. Barang-barang Eveleen dan Luiz sudah ada di mobil satunya, mereka berangkat dan dikemudikan oleh supir Luiz. "Luiz kamu jangan buat masalah saat tiba nanti" peringatan Eveleen. "tidak akan, aku akan menikmati liburan ku" ucap Luiz di samping Eveleen. "kamu bisa istirahat dulu, kita akan tiba 3 jam lagi" ucap Luiz menepuk pundaknya. "baiklah" bersandar di pundak Luiz dan mereka mulai tidur dengan nyenyak hingga tiba.
"Luiz, kita sudah sampai" ucap Eveleen membangun Luiz yang tidur dengan nyenyak. "kita sudah sampai?" bangunnya. "sambung tidur mu di hotel nanti" ucap Eveleen keluar. "hm" dehem Luiz dan keluar dari mobil. "tolong barang-barang nya di mobil depan" ucap Eveleen menunjuk mobil depan. "baik" ucap pegawai hotel. "mari saya antar ke ruangan anda" ucap pelayan lainnya mengantar Eveleen dan Luiz ke kamar masing-masing yang bersebelahan. "jika kamu butuh sesuatu aku di sebelah" ucap Luiz. "hm sana, aku ingin istirahat" ucap Eveleen menyuruh Luiz keluar dari kamarnya. Luiz pun pergi ke ruangannya dan kembali melanjutkan tidurnya tadi, begitupun dengan Eveleen yang sudah lelah dan mulai beristirahat.
__ADS_1