
***
"Ya udah, Ama udah ngantin tuh sama Raisya, kita kapan? Laper nih perut!" Rengek Citra sambil menunjuk ke arah Ama yang berjalan bersama Raisya.
"Ya udah ayo!" Ujar Xandra sembari beranjak dari tempat duduknya, diikuti oleh teman yang lain.
***
Sesampainya di kantin Xandra and the gang menempati tempat favorit mereka.
"Buk, kayak biasa ya! Enam!" Seru Xandra dari tempat duduk mereka.
"Siap non, jeruknya pakai es nggak?"
"Gimana? Guys?"
"Es semua ajah... Gerah nih!" Ujar Nala.
"Oke deh, es semua buk! Kalo bisa cepet yah!"
"Iya non... Nggak bakal nyampe taun depan lagi" ujar Bukantin sembari mengantar pesanan mereka.
Mereka cengengesan sendiri mendengar apa yang dikatakan Bukantin.
Mereka makan sambil menikmati suasana kantin mereka dan terkadang disela dengan obrolan.
"Eh, Maya, kembaran lo mana?" Ujar Billy sambil berjalan ke arah Xandra dengan maksud mengganggu.
"....." Xandra alias Maya tetap diam tak menggubris.
Ampun nih orang, nggak di kelas, nggak di depan guru masih aja gini. Ujar Lili dalam hati. Semua yang satu meja dengan Xandra tidak menggubris kedatangan Billy. Sementara, anak lain yang sedang berada di sana kasak kusuk membicarakan mereka.
"Oh, lo udah bisu ya? Kok nggak dijawab?"
Xandra langsung membalas dengan menatap sinis.
"Uh, oh... Matanya dijaga non, kalo nggak gue colok loh!"
Semakin banyak anak yang melihat kegaduhan yang diciptakan Billy.
"Denger ya, gue nggak punya kembaran di dunia ini! Kalo masalah gue udah bisu atau belum? Gue jawab gue belum bisu! Silahkan pergi dari sini!"
"Ckckck, dari tadi di sini tho? Udah yuk, ntar di panggil sama BK lagi" ajak Bintang.
Namun, Billy tak menggubris dan malah melanjutkan aksinya.
"Dasar elo! Cewe jelek! Kaya elo tuh gada cantik cantiknya! Udah genter, Jenong tuh jidat kaya lapangan sepak bola! Kusut noh rambut lo! Perawatan sana!"
Xandra tetap duduk tenang menyimak apa saja yang sudah Billy katakan.
"Oh, iri? Pengen jadi genter juga? Itu rambut lo juga kayak lidi malah..." Hadeh, pala gue cenat cenut nahan emosi...
"Huh, siapa yang iri? Dan rambut gue ini Nambahin ke gantengan gue ngerti! Nama lo juga aneh! Cewek kok Ferdinand Mahendra? Ckckck"
Berani juga bawa bawa nama... Itu nama dikasi sama Mama Papa gue dan lo berani ngehina? Belom tau gue ni anak..... Xandra membiarkan emosi bengalir ke tangannya.... Ia berdiri... Gerakannya perlahan tapi pasti dengan senyuman kecil menghiasi bibirnya. Dan,...
Plakk....
Bughh....
Ia mendaratkan tamparan yang membekas cap tangannya dan mendaratkan sebuah bogeman mentah yang mendarat di hidung Billy sehingga ia mimisan.
Dan beranjak pergi. Sahabat nya mengikutinya dari belakang.
"Sialan lo!!!" Umpat Billy sambil beranjak bangun dengan dibantu oleh Bintang, Dimas, dan Angga, setelah tadi sempat terjatuh.
"Udah, udah mending ntar kita bolos dulu. Bin, lo masuk kelas catetin pelajaran nanti!" Perintah Angga sambil membawa Billy ke arah UKS.
"Sabar Bin," ujar Dimas sambil menepuk pundak Bintang.
Sementara itu, Bintang hanya mengangkat bahu.
Tidak ada yang tahu kalau di kantin sana ada sebuah CCTV yang tersamarkan oleh juntaian tanaman merambat yang ada di tembok kantin.
***
__ADS_1
Tidak ada juga yang tahu kalau Bu Dyah dan Pak Deny mengawasi pergerakan mereka dari ruang BK, tempat meletakkan monitor rekaman CCTV.
"Ckckck, bagus juga caranya mengendalikan emosi," ujar Bu Dyah
"Cocok jadi Ketos alias ketua OSIS, sayangnya dia udah kelas sembilan," ujar Pak Beny.
"Kenapa nggak diangkat jadi ketua basket aja?" Ujar Bu Tiwi yang sedari tadi mengawasi di tempat kejadian.
"Ah, ide bagus tuh... Biar nggak sering tawuran tuh sama SMP Dirga," ujar Pak Beny.
***
Di bangku taman belakang yang sepi...
"Sabar yah May," hibur Amara "nggak usah dimasukkin pankreas!"
Perlahan terukir senyum kecil di bibir Maya.
"Aku malah seneng, ada yang bisa dibuat nge lampyasin semua emosi ku"
Sahabat nya itu manggut manggut paham.
"May, maaf in Billy tadi ya," ujar Bintang sembari mendekat ke Maya.
"Eh, ada bawahannya nih, minggir sono kalo nggak mau mukak lo ancur!" Ujar Citra menghalangi Bintang.
"Udah, biarin aja dia kesini, yang salah kan Billy... Bukan dia, jadi nggak ada salahnya dia kesini... Iya kan?" Ujar Maya
"Tapi kan dia --"
Maya mengangkat tangannya untuk menghentikan Citra.
Maya menoleh ke arah Billy.
"Masalah maaf in Billy... Aku udah maaf in dia barusan. Tapi, kalau dia ulang lagi... Aku nggak tau bakal bisa maaf in lagi atau nggak... Tapi, aku harap dia bisa pelan pelan berubah... Kaya kamu," ujar Maya
Hah, segampang itu kah maaf in Billy si berandal itu? Sangat uwu sekali hatinya.. Ujar Nala dalam hati.
Mendengar ucapan Maya, Bintang agak tersipu. Luarnya aja ya dia judes... Sebenernya baik banget... Pantes aja kalo punya sahabat mereka juga yang baik baik....
Hanya dibalas dengan anggukan.
"Balik yuk.. Uda mau bel..." Ajak Ira
Semua menoleh ke arah Maya. Sorot mata mereka meminta jawaban akan kondisinya.
Maya membalas mereka dengan sekali anggukan dan berdiri.
"Ati lo dari apa si? Segitu gampangnya maaf in orang?" Ira bertanya penasaran
"Hmmm... Dari apa ya?? Nggak tau deh, lagian sama aja kayak ati kamu kok..."
"Ampun, aku aja males ya maafin orang yang udah akut kaya Billy," sambung Citra.
"Nggak nyesek Billy bilang kaya tadi?" Tanya Lili.
"Iya tuh? Aku di posisi kamu udah marah besarr," sambung Nala.
"Cih, aku akuin mukanya termasuk ganteng... Liat kelakuannya huwekk..." Sambung Amara.
"Hmm... Masalah nyesek sama yang di katain Billy tadi emang iya si,..." Pertanyaan dan pernyataan lain bingung ia harus membalas apa. Karena ia memang sudah memaafkan Billy.
***
Mereka tiba di kelas bertepatan dengan bel yang berbunyi.
Di meja guru sudah ada orang yang menantinya.
Siapa lagi kalau bukan guru BK yang akhir akhir ini sangat rajin ke kelasnya seusai istirahat karena Billy?
"Xandra, ikut saya!"
Yah, Kemana lagi kalau bukan ruang BK, right?
Teman sekelas mereka yang mendukung Xandra saling berpandangan dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Hhhhh... Xandra menghela nafas berat dan langsung berbalik ke ruang BK.
Sambil berjalan ke ruang BK pikirannya mereka reka apa yang akan ia lakukan setelah ia dari sana.
Diapain nanti? Emang di sana ada CCTV? Kok gue pake dipanggil?
***
Setelah Xandra dan Bu Dyah keluar masuk lah guru kesayangan kelas IX A. Bu Kris namanya. Kelas mendadak riuh dengan celotehan mereka yang kegirangan.
Plok... plok...
Bu Kris meminta perhatian kelas tersebut. Yang artinya, duduk, diam, dengarkan, itu adalah isyarat khas dari guru mereka.
"Sudah cukup istirahatnya?"
"Sudahh" satu kelas menjawab dengan semangat.
Bu Kris mengetahui apa yang sedang terjadi antara Maya alias Xandra dan Billy namun pura pura tidak mengetahuinya.
"Ini, Maya kemana?"
"Hadir Bu? Kenapa saya dipanggil? Kan saya disini..." Ujar Mayang Christian
"Lah, bukannya kamu Mayang? Setahu saya nama kamu Mayang..." Ujar Bu Kris
dengan wajah polos yang membuat Mayang cemberut.
"Hahahahaha... Saya tahu kok... Dan Ibu hanya bercanda nak... Ummm, Maya yang saya maksud--"
"Si kulkas itu? Hmm lebih tepatnya sih frezer... Dia tadi di panggil sama Bu Dyah..." Ujar Valley dari singgasana nya yang berada di pojok kelas memotong Bu Kris. Dan sukses membuat semua mata mengarah padanya.
Tapi, Bu Kris tidak marah. Malah manggut manggut menerima penjelasan dari Valley.
"Lha, kalau si tengil Billy di mana?"
"Ngobatin bekas tonjokan di UKS kali Bu," celetuk Ira.
"Hmm, ya sudah biarkan dulu teman kalian itu... Sekarang, buka buku kalian halaman 125 dikerjakan di buku catatan! Rico, jaga kelas! Saya keluar sebentar,"
Karena mereka memang menghargai guru mereka yang satu itu, mereka langsung menurut untuk mengerjakan tugas yang diberikan.
***
Bu Kris meninggalkan kelas IX A menuju ke tempat yang sudah di sebutkan Ira untuk menemukan Billy.
***
"Ckckck, kegantengan lo ilang Bill!" Celetuk Angga.
"Masa? Sini coba gue pinjem kaca!"
"Nih, ngaca!" Ujar Dimas sambil menyerahkan HP yang ia bawa.
Billy mengelus pipi kanannya yang terkena tamparan Maya.
"Dasar cewek, bisa apa sih dia? Tampang jelek kaya gitu? Kelakuan sama tenaganya aja kaya cowok... Jangan jangan dia cowok tapi ganti gender..."
"Gendeng"
"Lol! Ckckck"
Dimas dan Angga gedeg melihat kelakuan Billy yang sedang mengaca.
Namun, tiba tiba pintu UKS terbuka. Mereka menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara. Mereka tidak kaget dengan kedatangan Bu Kris guru kesayangan mereka.
Sudah kuduga, cepat atau lambat pasti akan ada yang menemukan. Batin Billy.
"Billy,cepat ke ruang BK sekarang!" Perintah Bu Kris "kalian ber dua juga!"
"Lah, kita salah apa Bu?" Tanya Dimas.
"Sudah sana!"
***
__ADS_1